Uda Ekadj, Pak Djarot dan rekans ysh:
 
Barangkali yang belum tersentuh dalam diskusi ini a.l. contoh spiritualitas Zen 
(bukan religi). Dalam penulisan buku "Samurai Sejati" saya banyak menemui 
referensi spiritualitas Zen yang implementasinya tercermin tidak hanya di soal 
meditasi, tapi juga seni minum teh, seni bela diri, dan...seni gardening atau 
kalau diperluas "penataan ruang".
 
Intinya, seperti beberapa kali dilontarkan Ekadj, konsep "kehampaan/ 
keheningan/ keseimbangan" yang secara sederhana dalam bahasa ruang bisa 
diartikan sebagai "menyatu/menyerah pada alam/bumi", sederhana, tidak menonjol, 
mengikuti "aliran air, arus angin" dan memperhitungkan "kekuatan api". 
Saya pikir ini konsep spiritualitas yang paling natural hubungannya dengan 
alam. Tanpa perlu mengartikannya dengan simbol-simbol artifisial dan mistik 
seperti feng-shui dst.
 
Silahkan menikmati penyatuannya dengan alam, seperti (klik): 
http://zenarchitect.com/Assets/gardens/landscape.jpg atau
http://www.civilization.ca/cmc/exhibitions/cmc/architecture/images/tour173b.jpg
 
Salam,
Risfan Munir
Penulis buku "Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati" 
(Gramedia, Nov'09)
 
 
 
 
 


--- On Fri, 12/4/09, - ekadj <[email protected]> wrote:


From: - ekadj <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: liminalitas dan ruang
To: [email protected]
Date: Friday, December 4, 2009, 7:00 PM


  




Pak Djarot, Pak Koes, dan rekan2 ysh.
Terima kasih juga atas jalannya diskusi, karena sebenarnya tanpa respon yang 
baik, tidak mungkin informasi tersampaikan dengan baik pula. Sebenarnya 
beberapa masukan dari saya tidak sebatas menjawab pertanyaan, tetapi juga 
klarifikasi terhadap banyak persoalan yang saya rasakan. Tentunya informasi 
dari Pak Djarot dkk menjadi bahan pembelajaran juga bagi saya. Jadi hubungan 
resiprokal ini hendaknya dapat kita jaga.
 
Saya tersentuh dengan apresiasi Pak Irwan, yang langsung mengingatkan saya 
kepada almarhum ayah saya (mudah-mudahan Allah swt mengampuni beliau, dan 
menyediakan tempat terbaik di sisiNya). Beliau semasa hidupnya selalu 
mengatakan bahwa tugas beliau selain menjadi imam tentara, juga menjadi 
pendeta, pastur, resi, dan biarawan. Beberapa karya beliau tentang perbandingan 
agama masih saya simpan, dan rencana suatu ketika akan saya terbitkan ulang. 
Sering kali beliau bercerita, ketika dulu pernah tinggal lama di pastoran dekat 
Muntilan untuk menyiapkan skripsi beliau yang berjudul "Hidup Suci dalam 
Christology".
 
Demikian pak, beberapa hari ini saya mau liminalitas dulu. Salam.
 
-ekadj


2009/12/5 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>


  







Pak Eka dan Sahabats,

Terima kasih atas buah-buah pencerahan yang boleh saya terima, penjelasannya 
mendalam. Tampaknya kita mulai menyentuh situasi transisi dan mungkin tentang 
ruang-ruang transisi dan meditasi. Sejauh saya tahu, tema obyek diskusi semacam 
ini semestinya menarik bagi kalangan arsitek karena akan terkait dengan desain 
ruang dalam artian yang lebih sempit-dekat (terlihat dan teraba). Saya senang 
punya sahabat yang mau berbagi sejauh ini, sebab memperkaya pemahaman saya 
sebagai arsitek. Tentu pengalaman menghayati ruang yang dikaitkan dengan 
situasi yang sangat subyektif lebih memperkaya saya, artinya panjenengan lebih 
banyak memberi daripada menerima dari saya. Apakah demikian ? 


Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com


--- On Fri, 12/4/09, - ekadj <4ek...@gmail. com> wrote:



From: - ekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Re: liminalitas dan ruang 

To: refere...@yahoogrou ps.com, im...@yahoogroups. com, alumnimuslimitb@ 
yahoogroups. com
Date: Friday, December 4, 2009, 6:46 PM


  



Pak Djarot dan rekan2 ysh.

Sepertinya diskusi kita bergerak ke arah 'plano-religi', mudah-mudahan seiring 
dengan waktu ada 'hidayah' yang kita terima. Saya memahami memang banyak jalan 
transendendal, karenanya terbentuk banyak agama dan keyakinan; dan dalam Islam 
sendiri terdapat beberapa mazhab, aliran, dan tarikat. Di Madinah di seberang 
Masjid Nabawi, terdapat sebuah mesjid yang bernama Al Ijabah. Diriwayatkan bila 
Rasulullah saw pernah berdoa di mesjid ini, dari 3 permintaan hanya 2 yang 
diluluskan Allah swt; dan yang ditolak adalah keinginan Rasulullah saw agar 
umatnya dapat disatukan dalam satu syariat. Sehingga syarat-syarat dalam 
syariat dapat berbeda dalam setiap agama dan mazhab. Namun benar bila perlu 
'latihan' dalam proses transendental ini, yang menunjukkan bahwa tidak ada 
proses instan dalam berkeyakinan dan berkesadaran.
 
Saya ingin meluruskan tentang liminalitas, bahwa Victor Turner dalam bukunya 
"The Ritual Process" berteori tentang adanya ritual perubahan tempat, keadaan, 
status sosial, dan umur. Teori ini berdasar penelitiannya pada suku Ndembu di 
Afrika, serta hasil penelitian Arnold van Gennep tentang 'les rites de 
passage'. Menurut van Gennep terdapat 3 tahapan dalam ritus peralihan ini, 
yaitu: ritus pemisahan, ritus perpindahan, dan ritus inkorporasi. Turner 
mengatakan liminalitas merupakan tahapan ke-2 dari 3 tahap pendewasaan van 
Gennep. Saya kembangkan pengertiannya, bahwa pada kondisi liminalitas merupakan 
kondisi seseorang dalam keadaan ambigu atau transisi, satu kaki masih di luar 
rumah satu kaki yang lain sudah di dalam rumah (ambang pintu). Biasanya terjadi 
pada anak-anak berangkat dewasa (abg), masa pertunangan, masa menerima jabatan 
baru, masa persiapan pensiun, masa memiliki anak kembar, dst. Masa-masa seperti 
ini adalah masa-masa yang sangat kritis,
 sehingga sering mengalami gangguan; dan kalau untuk suku Ndembu bentuk 
gangguannya adalah makhluk halus. Untuk mengatasinya maka dilakukan upacara 
(ritual) secara transendental, untuk meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
 
Di dalam Islam hal-hal seperti ini dilakukan juga, walau dalam pemaknaan yang 
berbeda. Misalnya kewajiban seorang ayah kepada anak sekurangnya 4 perkara: 
mengazankan/ mengiqomahkan ketika dilahirkan, mengakikahkan sebagai wujud 
syukur, memberikan nama dan mengeluarkan zakat atas rambut, mengkhitankan untuk 
anak laki-laki dan atau mengawinkan untuk anak perempuan. Setiap tahapan ini 
dilakukan walimah bila berkemampuan, yang lebih ditujukan sebagai bentuk 
syukur. Demikian juga bila akan bepergian jauh (walimatus safar), pernikahan, 
memangku jabatan/amanah, dlsb. Secara adat-budaya hal-hal seperti ini juga 
dilakukan, seperti dulu kita mengupa-upa Pak Mod kita. Saya kira juga ada 
tradisi dalam Katholik, Hindu, dan agama-agama lain; dalam bentuk berbeda.
 
Dengan demikian istilah 'liminalitas' kita terima secara generik, untuk 
menggambarkan priode kegamangan setiap manusia ketika menghadapi perobahan. 
Secara ritual Budha kita lihat seperti prosesi pencerahan mulai dari Candi 
Mendut hingga stupa Borobudur. Dalam Hindu, kalau saya lihat di Bali, yaitu 
mulai batas kesucian pura dan orientasi ruang; mungkin Pak Wayan dkk lebih pas 
menjelaskan. Untuk Katholik/Protestan seperti saya lihat di Eropah dalam disain 
kathedral dan bagian kota. Mungkin, ini bila saya berteori, dimaksudkan untuk 
memberikan kesan liminalitas yang transendental.
 
Untuk Islam sendiri masih saya mencari polanya. Satu hal yang pasti adalah 
'miqot', dalam batas-batas tertentu, dan telah ditunjukkan oleh Pak Koes 
persyaratannya. Serta pernah kita diskusikan sebelumnya dalam Jagad Jawa.
 
Demikian pak, untuk Trowulannya boleh juga tuh kapan-kapan diceritakan. Salam.

-ekadj

 








      

Kirim email ke