Dear Pak Dwiagus, Mbak Fransisca, dan rekan-rekan. Saya sepakat dengan budaya bersepeda ini. Mohon juga ditambahkan keterangan dan analisis mengenai kebutuhan jalur khusus, lebar dan disain, bicycle park, dll. Termasuk bila berlokasi di perumahan, komersial, lintasan padat, dll, termasuk toleransi sharing untuk track-nya, apakah bisa bersamaan dengan sepeda motor dll. Kita butuh kesamaan standar untuk ini. Aplikasi untuk RDTR kelihatan sulit, mungkin bisa di PZ (1:5000?), juga pada rencana jaringan jalan. Salam.
-ekadj --- In [email protected], "Benedictus Dwiagus S." <bdwia...@...> wrote: > > Bahkan banyak dari kita masih terjebak pemikiran bahwa "sepeda" hanya layak sebagai alat olahraga saja. Bukan alat transportasi alternatif. Padahal nature-nya sepeda khan dia alat membawa orang dan barang dari satu titik ke titik tujuan, thus artinya itu dia alat transportasi. Apakah sepeda onthel yg dibuat tahun2 lalu dibuat utk olahraga? Tidak lah. Utk transportasi tentu saja. > Sama seperti motor dan mobil. Naturenya dan fitrahnya alat transportasi. Walaupun Motor dan mobil pun jadi alat olahraga. Tp fitrahnya ya alat transportasi. Sepeda juga gitu, fitrahnya adalah alat transportasi. Kalaupun itu jadi alat olahraga , tentu saja kita jangan lupa fitrahnya itu. > > Tapi dari kita sendiri kadang meminggirkannya... > Lupa dengan fitrahnya itu... > > > Kalau masalah tukang ojek, tentu saja masalah lain. Masalah pemberdayaan ekonomi dstnya. > Bisa kita bahas dalam thread lain tentu saja. > > Salam kring-kring > Dwiagus > > From: Harya Setyaka harya.sety...@... > Sent: Saturday, December 12, 2009 10:35 PM > To: [email protected] > Subject: Re: [referensi] jalur sepeda? > > > > > > > Tks Mas Dwiagus.. > Atas pranala (link) yg membuka wawasan.. > > > Kita sering kurang percaya diri menghadapi 'kenyataan' 'kebiasaan masy/gaya hidup'.. > Padahal credo nya planner adalah "physical determinism" : yg mempostulatkan bahwa intervensi fisik dapat merubah perilaku.. > Plus kita bumbui sedikit dengan micro-economics; bagaiman perilaku konsumen terhadap sinyal2 harga.. > > Perilaku masyarakat Belanda bersepeda bukan kehendak supranatural atau 'dari sono nye'.. > Bersepeda di Belanda adalah perilaku logis menghadapi lingkungan fisik dan kebijakan fiskal: harga BBM.. > > Orang Belanda di Jogja cenderung naik kendaraan bermotor; sewa kijang kapsul atau taxi.. Di kawasan wisata nge-becak (lebih bernilai tourism daripada angkutan).. > Sebaliknya orang Jogja di Belanda ya nggowes.. Kecuali ikut rombongan plesir dinas yg niscaya di-entertain KBRI Amsterdam.. > > GDP/capita Belanda 30x lipat Indonesia.. Kalao soal daya beli tentu orang Belanda rata2 bisa beli lebih dari 1 motor.. > tapi orang Jogja milih beli motor daripada sepeda yg lebih murah.. > > Sekarang ada realita baru yg belum terjamah planner: dalam 5 tahun terakhir: minat berspeda meningkat tajam.. > > Sayangnya pendidikan kebijakan transportasi kita sangat bias terhadap mobil.. Coba tanya orang PU Bina Marga bagaimana mereka mendekati permasalahan transportasi? Kapasitas jalan diukur dari kemampuannya mengangkut mobil.. > Apa ada mata kuliah yg membahas bagaimana merancang suatu pemukiman yg ramah sepeda? > Di arsitektur&planologi pun diajari standar ketersediaan ruang parkir mobil dalam pembangunan gedung maupun kawasan.. Tidak ada standar mengenai parkir sepeda.. Itu masih dianggap aksesoris.. > > > (Kira2, bagaiman Lefebvre&Bordieu menjelaskan ini...) > > > Salam, > -K- > > > > > > > > Pedal Powered BikeBerry

