Uda Ekadj, Dalam kasus yg kita diskusikan itu "ekonomi rumah tangga" saya kita. Supaya dibedakan dengan bisnis keluarga spt keluarga Bakrie, Lippo, Kalla, ABC, dst (sebelum mereka go public).
Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: ffekadj <[email protected]> Sent: Tuesday, December 15, 2009 10:20 PM To: [email protected] Subject: [referensi] Re: ekonomi rumah tangga Pak Risfan, Pak Djarot, Pak Eko, dan rekan-rekan ysh. Sebelum menanggapi beberapa hal, saya ingin mengklarifikasi beberapa hal. Sebelumnya saya sempat bingung juga dengan penggunaan istilah, apakah lebih tepat keluarga (family) ataukah rumah tangga (household). Namun sepertinya dominan literatur menggunakan istilah 'rumah tangga', yang merupakan keluarga inti (the nuclear family). Hal ini katakanlah seperti dulu Pak Risfan melakukan survai lapangan, lalu mengetuk pintu sebuah rumah: "selamat sore, ada berapa orang yang tinggal di rumah ini?" Jadi pengertian rumah tangga adalah beberapa orang yang tinggal dalam satu rumah, dengan komposisi terstruktur seperti yang saya tuliskan terdahulu. Namun sistem administrasi kependudukan kita kelihatannya menggunakan istilah 'keluarga', seperti penggunaan 'kartu keluarga', kepala keluarga, dst. Dengan kata lain bisa saja di Kaenbaun sebuah kartu keluarga tertulis 9 orang, padahal yang tinggal di rumah itu hanya 4 orang. Dari hal ini kita bisa memahami penggunaan istilah 'rumah tangga' justru lebih tepat dan terukur untuk administrasi pembangunan dan kegiatan penelitian. Saya nemu lagi nih satu buku, judulnya "Household: Comparative and Historical Studies of the Domestic Group", editor Robert McC. Netting dkk. Isinya merupakan kumpulan hasil penelitian terpilih tentang aspek kerumahtanggaan di seluruh dunia. Ada beberapa kasus yang mirip dengan Kaenbaun, serta kasus yang diungkapkan Pak Risfan. Saya ambil satu artikel "The Urban Household in Dependent Development", karya Hackenberg dkk. Mengambil lokasi penelitian di Oaxaca City - Mexico dan Davao City - Filipina. Peneliti menguji konflik kepentingan antara 3 pihak: pemerintah, rumah tangga, dan individu. Kepentingan pemerintah adalah mengamankan kebijakannya: membutuhkan tenaga kerja terdidik dan terampil, menyediakan/memfasilitasi kawasan industri/komersial untuk kebutuhan ekonomi modern yang formal serta kepentingan pemodal pada khususnya. Rekrutmen biasanya ditujukan pada anggota-anggota rumah tangga yang potensial, dan miskin. Di lain pihak, setiap rumah tangga tentunya menginginkan suatu keutuhan dan kohesivitas. Akhirnya kepentingan pemodal selalu menang, sang anggota rumah tangga memasuki dunia pekerjaan, ada yang di kota yang sama atau di kota lain, namun mereka menempati rumah yang berbeda, atau membentuk rumah tangga tersendiri. Dalam hal ini rumah tangga asal telah kehilangan salah satu benteng pertahanan ekonominya, dan dapat menurunkan kualitas hidup rumah tangga tersebut. Namun terkadang ada juga rumah tangga yang menang. Dengan mengabaikan penawaran ekonomi modern, mereka mempertahankan keutuhan rumah tangga, apalagi effort ekonomi rumah tangga ini bertambah dengan kian besarnya anak-anak yang dapat membantu di bidang produksi. Melalui pembentukan modal bersama maka rumah tangga ini memiliki kemampuan untuk membayar pendidikan yang baik untuk anggota rumah tangga, yang akhirnya akan menarik perhatian pemerintah dan pemodal untuk bergabung dengan mereka. Demikian hal ini berputar terus-menerus, yang menunjukkan kohesivitas suatu rumah tangga senantiasa diuji. Dari studi kasus, peneliti menyimpulkan bahwa rumah tangga yang dapat mempertahankan kohesivitasnya cenderung lebih berhasil secara ekonomi dan kehidupan. Sementara demikian dulu. Salam. -ekadj --- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote: > > Pak Eko, Pak Djarot, > Â > Itu juga saya tanyakan sebelumnya. Ternyata generasi mudanya pada pindah ke kota? Jadi sebetulnya perdesaan tersebut memang tidak berkembang. Tidak bisa menghidupi jumlah penduduknya yang meningkat. Bagaimanakah nsib anggota keluarga yang ke kota? Jangan-jangan Pak Djarot meng-exclude-kan mereka dari analisisnya? > Mudah-mudahan tidak lestari di desa tapi mengirim masalah ke tempat lain? > Memang tidak harus sih satu desa menghidupi jumlah penduduknya yang berkembang, migrasi juga boleh, tapi kan harus dipersiapkan dengan baik sejak dari desanya. Bukan begitu? > Â > Pak Djarot, saya hanya ingin balance saja. Kadang apa kita tidak berfikir terlalu "priyayi", maksudnya "mengharamkan" motif ekonomi, tapi lupa bahwa "sang istri" (anggota keluarga lain) harus sembunyi-sembunyi kerja keras untuk menutupi "ongkos kemuliaan" suami yang priyayi (referensi saya novel Canting oleh Arswendo). Sehingga mungkin yang layak "dimulyakan" justru sang istri yang harus banting tulang menghidup anak-anak dan hobi suami. > D.p.l jangan-jangan warga desa studi Bapak yang begitu mulia, sesungguhnya bisa hidup karena anak-anak mereka yang di Malaysia, Singapura, Hongkong dst. (Ini tipical perekonomian desa-desa Jatim, NTB, NTT kan?) > Â > Salam, > Risfan Munir > Â > Â > Â > > > --- On Tue, 12/15/09, Eko B K ekobu...@... wrote: > > > From: Eko B K ekobu...@... > Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga > To: [email protected] > Date: Tuesday, December 15, 2009, 2:46 AM > > > Â > > > > > > > > Pak Djarot, apakah mereka tidak pernah berpikir utk menambah tenaga kerja, modal, mekanisasi pertanian dst. kemudian menjual surplus dan berorientasi laba? Saya tertarik ingin mengetahui apakah mereka tidak tertarik pd laba karena keterbatasan (tanah tdk subur, modal tidak ada, dst) atau karena secara kultur memang tidak tertarik pd laba... apakah mereka tdk terpikir bahwa dgn kemampuan ekonomi yg meningkat mereka bisa memperbaiki taraf hidup (pendidikan anak, kenyamanan, sampai naik haji)? Tks. > > Salam. > > --- On Tue, 12/15/09, Risfan M risf...@yahoo. com> wrote: > > > From: Risfan M risf...@yahoo. com> > Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Tuesday, December 15, 2009, 9:37 AM > > > Â > > > > > > > Pak Djarot, > Â > Sekarang ini banyak kajian anthropo-economy. Saya tidak tahu kubu-kubunya dimana, tapi publikasinya kayaknya kian banyak. Saya banyak mengambil manfaat waktu memfasilitasi pengembangan klaster UKM dan pengembangan ekonomi lokal di beberapa daerah. Kalau di Ekonomi, biasanya ada dibawah kajian Ekonomi Kelembagaan. > Â > Salam, > Risfan Munir > Â > Â > Â > Â > Â > Â > > > --- On Mon, 12/14/09, Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com> wrote: > > > From: Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com> > Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Monday, December 14, 2009, 11:54 PM > > > Â > > > > > > Pak Eko, tanahnya sangat luas, sebab tanah adat mereka 1000 ha hanya untuk sekitar 200 KK. Tanahnya gersang, kurang hujan, dan tenaga kerja untuk pertanian hanya seluas rumah tangga di tempat itu. Hasilnya hanya di kebun dalam satu musim tanam hanya untuk keluarga sendiri. > > Salam, > > Djarot Purbadi > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > --- On Tue, 12/15/09, Eko B K ekobu...@yahoo. com> wrote: > > > From: Eko B K ekobu...@yahoo. com> > Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Tuesday, December 15, 2009, 12:48 PM > > > Â > > > > > > Pak Djarot, apakah hasil pangan yg dinikmati sendiri di Kaenbaun tsb bukan akibat dari lahan yg sempit sehingga tdk ada surplus (pertanian subsisten)? Apakah kalau produksi pertaniannya berlimpah dan ada surplus akan dijual juga? > > salam. > > --- On Tue, 12/15/09, Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com> wrote: > > > From: Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com> > Subject: Re: [referensi] ekonomi rumah tangga > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Tuesday, December 15, 2009, 6:38 AM > > > Â > > > > > > Pak Eka, barangkali ada pengalaman yang tidak langsung terkait dengan topik ekonomi rumah tangga, yaitu tentang ketahanan pangan di Kaenbaun. Setelah saya telusuri dan sempat dicibiri oleh evaluator laporan penelitian karena arsitek kok bicara pangan dan petanian, saya mendapat penguatan dari pandangan Prof Mubyarto soal ekonomi kerakyatan berbasis Pancasila. Beliau mengritik pandangan seorang penulis artikel, yang mengatakan bahwa orientasi pertanian adalah pada laba. Kata beliau, ini sebuah penyempitan masalah karena paradigma yang digunakan hanyalah agribisnis. Beliau menyarankan, untuk Indonesia tidak bisa hanya dengan paradigma agribisnis, sebab fenomena agriculture itu lebih luas dan terkait dengan aspek sosial, politik dan budaya. Saya lega, sebab yang terjadi di Kaenbaun lebih tepat dipandang dengan paradigma agriculture yang mengandung aspe sosial, budaya dan politik. Mengapa ? Ya, sebab hasil-hasil pangan di Kaenbaun tidak banyak yang dijual ke > luar, melainkan dinikmati sendiri warganya. > > Basis pangan orang Kaenbaun ada pada rumah bulat (gudang jagung) dan lumbung atau lopo (gudang padi, bukan beras). Jika ketahanan ekonomi nasional adalah merupakan ketahanan yang ditopang oleh unit-unit ekonomi skala yang lebih kecil hingga skala keluarga, maka persoalan ekonomi rumah tangga tidak cukup dipandang dengan kacamata ekonomi-bisnis yang hanya berorientasi laba. Apakah begitu ? > > Saya jadi mengerti, perubahan fakultas ekonomi di UGM sekarang yang menjadi "Fakultas ekonomi dan bisnis" saja tampaknya bertentangan dengan pandangan Prof Mubyarto, yang melihat fenomena ekonomi dengan kacamata yang lebih luas (ada aspek sosial, politik dan budaya, dan lainnya), bukan sekedar persoalan matematis... ...tesis saya tentang perlunya unsur "sosio" dalam setiap tema diskusi tampaknya mendapat penguatan dari Prof Mubyarto di tahun 2003. Mungkin pandangan semacam ini juga sudah ketinggalan jaman ya ? > > Salam, > > Djarot Purbadi > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > --- On Mon, 12/14/09, ffekadj 4ek...@gmail. com> wrote: > > > From: ffekadj 4ek...@gmail. com> > Subject: [referensi] ekonomi rumah tangga > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Monday, December 14, 2009, 11:26 PM > > > Â > > > Pak Onnos dkk ysh. > > Sebagai selingan saja dari diskusi transportasi dan borjuasi, memang > saat ini kemiskinan perkotaan telah dikenali melalui banyak variabel, > tidak hanya dengan banyaknya pengamen di persimpangan jalan atau > meluasnya permukiman kumuh, bisa juga dengan maraknya iklan kredit di > koran PosKota-nya Pak Eko, ojeknya Pak Harya, ngojek karena > ketidakcukupan gaji formal walau di atas umr-nya bapak, kelambanan > ekonominya Pak Ibenk, dlsb-nya. > > Saat ini saya sedang baca buku "The Household Economy: Reconsidering the > Domestic Mode of Production". Pendahuluannya sih menarik, disebut bila > bidang ekonomi rumah tangga ini meliputi cakupan aktivitas yang sangat > luas, lebih riil dan terukur, dan saat ini menghadapi tekanan yang berat > dari ekonomi politik. Jadi sebenarnya ada diskursus baru yang > menghadapkan ke gelanggang: Ekonomi Rumah Tangga vs Ekonomi Regional > (Pak Eko) + Ekonomi Kawasan (Pak Aby) + dkk. Atau kalau ada yang mau > menggabungkan semuanya menjadi sinergi atau menjadi Ekonomi Bejo (Pak > BSP & BTS). > > Sedikit saja dari bagian awal, aspek kerumahtanggaan meliputi: anggota > dan komposisi rumah tangga, aktivitas produksi dan pembagian kerja, > aktivitas konsumsi dan pertukaran inter- dan intra- rumah tangga, dan > pola kedaulatan rumah tangga. Beberapa pertanyaan menarik dilempar, > seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh rumah tangga, bagaimana > mereka menanggapi kondisi yang di luar kendali mereka, siapa yang > memperhatikan mereka, dan bagaimana orang luar membantu menyelesaikan > masalah mereka? > > Sementara demikian dulu pak. Salam. > > -ekadj > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Sugiono Ronodihardjo sugiono_r@ ..> > wrote: > > > > > > Betul bung Ekadj, dipangkalan ojek dekat rumah saya juga ada pak guru > yang 'ngojek', biasanya dia mulai kerja setelah jam sekolah. Pernah saya > ajak ngobrol, katanya hanya sambilan buat tambahan belanja dapur. > Fenomena ini menarik karena 'ojek' ternyata dapat jadi lapangan kerja > alternatif sektor informal dibidang transportasi yang mengurangi > pengangguran. Keinginan rekan-2 untuk menggalakkan 'bersepeda' sih > sah-sah saja, tetapi masalah mendasar 'tingginya tingkat kemiskinan' > terutama di perkotaan, mungkinkah kita lupakan ? > > > > Wassalam, > > > > Onnos > > > > > > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > From: 4ekadj@ > > Date: Sun, 13 Dec 2009 15:11:40 +0000 > > Subject: [referensi] Re: jalur sepeda? > > > > > > > > > > > > > > Selain 'ojek', ada lagi istilah lain yang muncul bersamaan, yaitu > > 'ngojek'. Kurang tahu bagaimana caranya pembentukan istilah. Pelakunya > > bukan lagi ex-buruh atau pekerja pemula, tapi juga ada yang kepala > > sekolah. Menarik juga pak kalau disurvey, apakah ekses dari kemiskinan > > perkotaan? Salam. > > > > -ekadj > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Harya Setyaka" harya.setyaka@ > > wrote: > > > > > > soal ojek: kita survey kecil2an saja; apakah para ojek itu memang > > bercita-cita jadi ojek? > > > Sya mencatat ojek itu mulai menjamur pada saat krisis 1999.. > > > Ojek itu ex-buruh.. Ojek itu masalah pengangguran, yg perlu solusi > > dalam konteks pengangguran. . > > > Sepeda itu solusi transportasi hijau.. Mengobati masalah ojek dengan > > solusi transportasi salah obat jadinya.. > > > > > > Salam, > > > -K- >

