Judul nya ada link yg bisa di klik
-K-



Pedal Powered BikeBerry


-----Original Message-----
From: <[email protected]>
Date: Wed, 16 Dec 2009 10:44:01 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Fwd: Ibukota INdoneSia PIndaH ???

Mas Koko
Mohon Mas Koko membagi info pranala sumber berita ini dong, Mas...
Saya senang sekali kalau memang benar ada rencana seperti ini...
 
Salam,
 
Fadjar Undip
 


--- On Thu, 12/17/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:


From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: [referensi] Fwd: Ibukota INdoneSia PIndaH ???
To: [email protected]
Date: Thursday, December 17, 2009, 12:36 AM



FYI,
benarkah?

===========









Subject: Berita Terkini. Heboh Habizzz....
 
Jumat, 04 Desember 2009
Inilah Rencana SBY Tentang Pemindahan Ibukota Negara Indonesia dari Jakarta 


SBY tengah memikirkan lokasi baru pusat pemerintahan. Kalau seperti Malaysia 
itu tanggung dan tidak sepenuh hati. Cuma 40 km. Sehingga sebagian tidak pindah 
rumah dan akhirnya jadi jauh dan macet.

Harusnya seperti Brazil yang memindahkan ibukotanya begitu jauh dari Rio de 
Janeiro ke Brasilia, atau Amerika Serikat dari New York ke Washington DC, 
Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn 
ke Berlin.

Karena jauh akhirnya pada pindah rumah. Kalau dekat, misalnya di Jonggol atau 
Sentul, niscaya orang Tangerang, Bogor, Jakarta, Bekasi, Depok tetap tinggal di 
rumahnya dan berkantor di ibukota baru. Jalan jauh dan kemacetan pun terus 
berlangsung.

Pemindahan Ibukota Negara Indonesia dari Jakarta

Pertama-tama kita harus sadar bahwa pemindahan ibukota dari satu kota ke kota 
lain adalah hal yang biasa dan pernah dilakukan. Sebagai contoh, Amerika 
Serikat pernah memindahkan ibukota mereka dari New York ke Washington DC, 
Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn 
ke Berlin, sementara Brazil memindahkan ibukotanya dari Rio de Janeiro ke 
Brasilia. Indonesia sendiri pernah memindahkan ibukotanya dari Jakarta ke 
Yogyakarta.

Over Populasi (Jumlah penduduk melebihi daya tampung) merupakan penyebab utama 
kenapa banyak negara memindahkan ibukotanya. Sebagai contoh saat ini Jepang dan 
Korea Selatan tengah merencanakan pemindahan ibukota negara mereka. Jepang 
ingin memindahkan ibukotanya karena wilayah Tokyo Megapolitan jumlah 
penduduknya sudah terlampau besar yaitu: 33 juta jiwa. Korsel pun begitu karena 
wilayah kota Seoul dan sekitarnya jumlah penduduknya sudah mencapai 22 juta. 
Bekas ibukota AS, New York dan sekitarnya total penduduknya mencapai 22 juta 
jiwa. Jakarta sendiri menurut mantan Gubernur DKI, Ali Sadikin, dirancang 
Belanda untuk menampung 800.000 penduduk. Namun ternyata di saat Ali menjabat 
Gubernur jumlahnya membengkak jadi 3,5 juta dan sekarang membengkak lagi hingga 
daerah Metropolitan Jakarta yang meliputi Jabodetabek mencapai total 23 juta 
jiwa.



Jadi pemindahan ibukota bukanlah hal yang tabu dan sulit. Soeharto sendiri 
sebelum lengser sempat merencanakan pemindahan ibukota Jakarta ke Jonggol.

Kenapa kita harus memindahkan ibukota dari Jakarta? Apa tidak repot? Apa 
biayanya tidak terlalu besar? Jawaban dari pertanyaan ini harus benar-benar 
tepat dan beralasan. Jika tidak, hanya buang-buang waktu, tenaga, dan biaya.

Pertama kita harus sadar bahwa ibukota Jakarta di mana lebih dari 80% uang yang 
ada di Indonesia beredar di sini merupakan magnet yang menarik penduduk seluruh 
dari Indonesia untuk mencari uang di Jakarta. Arus urbanisasi dari daerah ke 
Jakarta begitu tinggi. Akibatnya jika penduduk Jakarta pada zaman Ali Sadikin 
tahun 1975-an hanya sekitar 3,5 juta jiwa, saat ini jumlahnya sekitar 10 juta 
jiwa. Pada hari kerja dengan pekerja dari wilayah Jabotabek, penduduk Jakarta 
menjadi 12 juta jiwa.

Jumlah penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diperkirakan 
sekitar 23 juta jiwa. Padahal tahun 1986 jumlahnya hanya sekitar 14,6 juta jiwa 
(MS Encarta). Jika Jakarta terus dibiarkan jadi ibukota, maka jumlah ini akan 
terus membengkak dan membengkak. Akibatnya kemacetan semakin merajalela. Jumlah 
kendaraan bertambah. Asap kendaraan dan polusi meningkat sehingga udara Jakarta 
sudah tidak layak hirup lagi. Pohon-pohon, lapangan rumput, dan tanah serapan 
akan semakin berkurang diganti oleh aspal dan lantai beton perumahan, gedung 
perkantoran dan pabrik. Sebagai contoh berbagai hutan kota atau tanah lapang di 
kawasan Senayan, Kelapa Gading, Pulomas, dan sebagainya saat ini sudah 
menghilang diganti dengan Mall, gedung perkantoran dan perumahan.

Hal-hal di atas akan mengakibatkan:

1.       Jakarta akan jadi kota yang sangat macet
2.       Dengan banyaknya orang bekerja di Jakarta padahal rumah mereka ada di 
pinggiran Jabotabek, akan mengakibatkan pemborosan BBM. Paling tidak ada 
sekitar 6,5 milyar liter BBM dengan nilai sekitar Rp 30 trilyun yang dihabiskan 
oleh 2 juta pelaju ke Jakarta setiap tahun.
3.       Dengan kemacetan dan jauhnya jarak perjalanan, orang menghabiskan 
waktu 3 hingga 5 jam per hari hanya untuk perjalanan kerja.
4.       Stress meningkat akibat kemacetan di jalan.
5.       Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) juga meningkat karena 
orang berada lama di jalan dan menghisap asap knalpot kendaraan
6.       Banjir dan kekeringan akan semakin meningkat karena daerah resapan air 
terus berkurang.
7.       Jumlah penduduk Indonesia akan terpusat di wilayah Jabodetabek. Saat 
ini saja sekitar 30 juta dari 200 juta penduduk Indonesia menempati area 1500 
km2 di Jabodetabek. Atau 15% penduduk menempati kurang dari 1% wilayah 
Indonesia.
8.       Pembangunan akan semakin tidak merata karena kegiatan pemerintahan, 
bisnis, seni, budaya, industri semua terpusat di Jakarta dan sekitarnya.
9.       Tingkat Kejahatan/Kriminalitas akan meningkat karena luas wilayah 
tidak mampu menampung penduduk yang terlampau padat.
10.    Timbul bahaya kelaparan karena over populasi dan sawah berubah jadi 
rumah, kantor, dan pabrik. Saat ini pulau Jawa yang merupakan pulau terpadat di 
dunia 7 x lipat lebih padat daripada RRC. Kepadatan penduduk di Jawa 1.007 
orang/km2 sementara di RRC hanya 138 orang/km2. Tak heran di pulau Jawa banyak 
orang yang kelaparan dan makan nasi aking.

Untuk itu diperlukan penyebaran pusat kegiatan di berbagai kota di Indonesia. 
Sebagai contoh, di AS pusat pemerintahan ada di Washington DC yang jumlah 
penduduknya hanya 563 ribu jiwa. Sementara pusat bisnis ada di New York dengan 
populasi 8,1 juta. Pusat kebudayaan ada di Los Angeles dengan populasi 3,9 
juta. Pusat Industri otomotif ada di Detroit dengan jumlah penduduk 911.000 
jiwa.

Di AS kegiatan tersebar di beberapa kota. Tidak tertumpuk di satu kota. 
Sehingga pembangunan bisa lebih merata.

Indonesia juga harus begitu. Semua kegiatan jangan terpusat di Jakarta. Jika 
tidak, maka jumlah penduduk kota Jakarta akan terus membengkak. Dalam 10-20 
tahun, Jakarta akan jadi kota yang mati/semrawut karena jumlah penduduk yang 
terlampau banyak (saat ini saja kemacetan sudah luar biasa).

Biarlah Jakarta cukup menjadi pusat bisnis. Untuk pusat pemerintahan, sebaiknya 
dipindahkan ke Kalimantan Tengah.


Kenapa Kalimantan Tengah? Kenapa tidak di Jawa, Sulawesi, atau Sumatra?



Pertama Jawa adalah pulau kecil yang sudah terlampau padat penduduknya. Luas 
pulau Jawa hanya 134.000 km2 sementara jumlah penduduknya sekitar 135 juta 
jiwa. Kepadatannya sudah mencapai lebih dari 1.000 jiwa per km2. Apalagi pulau 
Jawa yang subur dengan persawahan yang sudah mapan seharusnya dipertahankan 
tetap jadi lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan di Indonesia. Kalau 
dipaksakan di Jawa, maka luas sawah akan berkurang sebanyak 50.000 hektar! 
Produksi beras/pangan lain akan berkurang sekitar 200 ribu ton per tahun! 
Indonesia akan semakin kekurangan pangan karenanya. Selama ibukota tetap di 
Jawa, pulau Jawa akan semakin padat dan pembangunan tidak tersebar ke seluruh 
Indonesia. Jawa sudah kebanyakan penduduk/over-crowded!

Ada pun pulau Sumatera letaknya relatif agak di Barat. Dengan jumlah penduduk 
lebih dari 42 juta, pembangunan di Sumatera sudah cukup lumayan.

Sulawesi dengan luas 189.000 km2 dan jumlah penduduk sekitar 15 juta jiwa masih 
terlalu kecil wilayahnya. Sumatera dan Sulawesi adalah pulau yang subur dan 
cocok untuk pertanian. Jadi sayang jika pertumbuhan jumlah penduduk dipusatkan 
di situ. Belum lagi kedua wilayah ini rawan dengan gempa bumi dan tsunami.

Ada pun Kalimantan luasnya 540.000 km2 dengan jumlah penduduk hanya 12 juta 
jiwa. Pulau Kalimantan jauh lebih luas dibanding pulau Jawa, Sumatera, dan 
Sulawesi dan jumlah penduduknya justru paling sedikit.



Di pulau Kalimantan juga tidak ada gunung berapi dan merupakan pulau yang 
teraman dari gempa. Sementara di pesisir Kalimantan Tengah yang berbatasan 
dengan Laut Jawa juga ombak relatif tenang dan aman dari Tsunami. Ini cocok 
untuk jadi tempat ibukota Indonesia yang baru.

Sebaliknya Jakarta begitu dekat dengan gunung Krakatau yang ledakkannya 30 ribu 
x bom atom Hiroshima dengan tsunami setinggi 40 meter. Efek ledakan Krakatau 
terasa sampai Afrika dan Australia. Sekarang gunung Krakatau yang dulu rata 
dengan laut telah “tumbuh” setinggi 800 meter lebih dengan kecepatan “tumbuh” 
sekitar 7 meter/tahun. Sebagian ahli geologi memperkirakan letusan kembali 
terulang antara 2015-2083. Jadi Jakarta tinggal “menunggu waktu” saja…

 

Keep it on screen - think before you print



This e-mail and any information contained are confidential and legally 
privileged. It is intended solely for the use of the individual or entity to 
whom it is addressed and others authorized to receive it. If you are not the 
intended recipient, you are hereby notified that any disclosure, copying, 
distribution or taking any action in reliance on the contents of this e-mail is 
strictly prohibited and may be unlawful. If you have received this e-mail in 
error, please notify us immediately by responding to this e-mail or by 
telephone MedcoEnergi IS Division Helpdesk on +62 21 83991234 then delete this 
email including any attachment(s) from your system. MedcoEnergi does not accept 
liability for damage caused by any of the foregoing. This e-mail is from PT 
MedcoEnergi Internasional Tbk and Subsidiaries, having Registered Address at 
The Energy 52nd floor, SCBD Lot 11A, Jakarta 12190, Indonesia.






      

Kirim email ke