++++: Bahwa sebuah kota menjadi pusat kegiatan perekonomian tentu sudah lama diketahui umum... pertanyaannya, sampai sejauh mana? Washington DC tdk sebesar NY, Canberra pun relatif kecil... >>>>: Mas Eko yg baik…memangnya kota dgn fungsi pusat pemerintahan apkh selalu >>>>dimaksudkan akan selalu sama besarnya atau melebihi besarnya kota pusat >>>>bisnis?....... soal apakah besar atau kecil…. Washington DC benar >>>>populasinya hanya 591.833 jiwa… tapi pada hari kerja lebih dari 1 juta >>>>jiwa.. dan Washington Metropolitan Area penduduknya sekitar 5.3 juta jiwa… >>>>ke-9 terbesar di AS…… ++++: Pertanyaan kedua, kalaupun ibu kota baru tsb tumbuh pesat, apa esensinya? >>>>: setidaknya ini bukan lalu seperti warna cerita model2 pemekaran wilayah >>>>tingkat propinsi atau kabupaten apalagi kecamatan ….. dimana banyak >>>>dilaporkan hasilnya tidak memuaskan…..pdhal anggaran rutin negara jelas >>>>meningkat…… jg seperti psikologi pecah telor yg kemarin saya katakan…. Jkt >>>>akhirnya benar2 mulai diterapi dgn dekonsentrasi fungsi kegiatan…… dan >>>>bukan sekedar diterapi dgn jakartasentrisme spt subway, jalan layang tol >>>>dlm kota, 3-in-1, razia KTP…..
++++: jarak periphery ke pusat pertumbuhan semakin mendekat ini periphery yg mana? Papua dan Aceh tetap jauh dari Kuala Pembuang... >>>>:Rasanya referensinya adlh kalimat saya sbb ini : “….. Semakin banyak dan >>>>semakin tersebar merata letak (kota2) besar kita … itu sama artinya >>>>pemerataan kemajuan antar wilayah kita akan semakin baik mutunya…… krn >>>>jarak antara periferi dan pusapertumbuhan akan semakin dekat dan semakin >>>>mudah….. “. rasanya pd konteks diatas saya bicara tentang kota2 besar sbg pusat2 (jamak, ganda) pertumbuhan… dan bukan sekedar bicara ttg pusat (tunggal, singular) pertumbuhan, atau pusat pemerintahan……… kalau misalnya Kota Merdeka jadi dikembangkan (lalu menjadi kota besar)…. Periferi bukan hanya Sabang dan Merauke saja lho bos…….selain Sumba atau Kupang atau Kefamenanu….. yg namanya Sanggauledo, Nangamarakau, Putusibau, Longwanan, Longbena, Longberang, Lumbia, Nunukan dan ribuan desa lain disepanjang perbatasan Kalimantan- Malaysia sepanjang 1300km itu juga namanya periferi jg lho bos….. Jelas bhw setidaknya masyarakat pulau Kalimantan sbg periferi thd Jkt- di-Jawa yg jarak dan medannya tak kurang 750km laut akan memperoleh tambahan pusat pertumbuhan baru/ pusat layanan jasa tkt tinggi yg dekat selain mereka telah memiliki pusat2 lama spt Pontianak… Palangkaraya….Banjarmasin….. Balikpapan dan Samarinda……. Papua dan Aceh kalaupun berurusan dgn Kota Merdeka dan msh merasa bukan lbh dekat ya biarin saja… tapi kalau anda pake alasan itu…. Sebanyak 9 propinsi lain di Kalimantan dan Sulawesi (Kalbar, Kalteng, KalSel, KalTim,SulSel, SulTra, Sulteng, Gorontali Sulut akan mengatakan sebaliknya : “…...Sekarang ibukota ‘su dékaaat……..”. ++++: kalau dikatakan bahwa hal ini akan menjadi kisah sukses pembangunan di kawasan terpencil, ya selama ada uang sih apa susahnya? Dubai saja bisa jadi metropolitan dunia yg tumbuh dr gurun pasir... >>>>: Pada bagian pertanyaan ini … saya ogah berpanjang2 krn diposting sblmnya >>>>sudah saya sebutkan ttg kemungkinan tukar guling ‘separuh’ saja dari total >>>>aset departemen dan lembaga negara di Jkt sdh dapat tukaran properti dan >>>>jaringan jalan yg lumayan panjangnya di ibukota baru Kalimantan sana…..…. >>>>Dan kalau jawaban saya berikut ini dikata pokrul bambu ya saya sih mau >>>>nyerah saja nggak mau ngelawan….. tapi saya mau kembali ingatkan bhw >>>>tatkala pemerintah Indonesia masih compangcamping dan amat sangat kéré >>>>dulu… sesuai fakta sejarah… ibukota/ pusat pemerintahan telah pernah >>>>dipindahkan dari Jkt ke Yogyakarta (bahkan ke Bukit Tinggi?)…… dan kala itu >>>>nampaknya tak ada seorangpun yg katakan spt : “…. Wong negara kéré saja kok >>>>pake banyak tingkah pindah2 ibukota/ pusat pemerintahan segala”……. ++++: Saya tidak anti thd pemindahan ibu kota, selama alasannya jelas... mengambil contoh Brasilia atau KL hanya akan menimbulkan pertanyaan? Mengapa mencontoh sedikit negara yg memindahkan ibu kotanya sementara banyak negara lain ibu kotanya tidak pindah2? London, Tokyo, Paris, Berlin pun kalau bukan karena Jeman kalah PD 2 juga tdk akan dipindah ke Bonn, toh buktinya sekarang kembali lagi ke Berlin... kita pindahkan ibu kota (kalau diperlukan) karena alasan yg jelas, bukan karena negara lain sukses memindahkan ibu kotanya... Jadi apa esensinya? Sementara kita tidak sekaya Uni Emirat Arab, yg Dubai nya juga sedang digoncang krisis... mungkin lebih baik digunakan utk membangun fasilitas kesehatan atau transportasi pedesaan di NTB atau NTT agar kematian ibu dan bayi dapat dikurangi... >>>>: Pindah ibukota bukanlah jenis kerjaan iseng kenegaraan daripada nganggur >>>>kurang acara… tentu ada alasan2nya yg spesifik…. Krnnya tak semua negara >>>>perlu mikirin soal pindah atau tak pindah tanpa alasan yg kepepet….. Tak >>>>bedanya kenapa ada pasangan suami isteri yg bisa awet sampai masuk kubur.. >>>>tapi ada jg yg akadnya di Masjidil Haram lalu baru 2 bulan sdh saling >>>>kejar2an dijalan raya di Cisarua, yg perempuan terserempet jatuh, dan >>>>kisahnya berakhir sang pria tidur dipenjara……. Jadi pertanyaannya sejenis…. >>>> kenapa pasangan2 kok ada yg cerai dan kok tidak semuanya akur kumpul >>>>sampai mati?........... Tapi waduh… kelihatannya anda kok menghina amat sih ya dgn bangsa sendiri mentang2 anda lama jadi orang perancis?..... spt seolah budaya pindah ibunegeri itu mutlak milik bangsa2 negara maju dan kita ini hanya sekedar dgn mata buta mengcopynya saja dgn tanpa tahu malu…… pdhal sebelum belanda masuk ke Indonesia…. Kalau anda berkenan buka2 lagi sejarah Indonesia kuno pasca zaman neolitik….. bukankah bangsa kita sendiri walau hanya terdiri atas kerajaan2 kecil (yg kemudian besar spt Majapahit jg asalnya kecil dulu lho bos) juga sdh kenyang dgn budaya pindah ibukota kerajaan?…… SIngosari (Malang) lalu pindah ke Kediri…. Lalu ada yg bikin di Trowulan (Mojokerto)…. Lalu yg di Jawa Tengah lbh kuno pd abad VIII ada kerajaan di Borobudur/ Mendut/ Prambanan… lalu abad XIV ada Demak… lalu pindah ke Pajang (Surakarta)…. Lalu ada yg bikin baru lagi di alas Mentaok (Mataram) yg saya tak hafal tapi ibukotanya spt sesudah itu sering dipindah2kan juga antara Kotagede… Kartasura..… Surakarta atau Yogyakarta… Mungkin juga Srivijaya juga pernah juga memindahkan ibukota kerajaannya….. belum lagi Samudera Pasai… yg di Kalimantan? … Sulawesi?.... Rumah2 tangga rakyat biasa saja jg akrab dgn masalah kepindahan rumah…. Kucing saja kalau anaknya belum genap sebulan jg sering memindah2kan sarang/ anak2nya bbrp kali ke bbrp tempat….… kenapa urusan kita ini jadi seolah aneh dan ajaib?......... ++++: Jadi apa esensinya? …. ++++: Pd dasarnya yg bapak ajukan adalah hipothesis bahwa polycentricity itu merupakan jawaban bagi kesenjangan wilayah...ini pandangan yg cukup umum, namun sayangnya pandangan ini tidak didukung oleh basis teori yg memadai (Evert Meijers banyak menulis ttg ini, misalkan di: http://www.francoan geli.it/Riviste/ Scheda_Riviste. asp?IDArticolo= 33745&Tipo=Articolo% 20PDF >>>>: Map kalau salah, saya mengamati anda kelihatannya amat sangat tergantung >>>>betul pada teori2 orang lain sehingga terlihat amat gamang dan gagap ketika >>>>hrs mengaplikasikan atau mengartikulasikan semua teori yg sudah anda >>>>genggam itu utk implementasi diwilayah2 negeri sendiri (sekedar krn extra >>>>hati2 dan amat takut salah?:)…… Anda terlihat amat sangat hormat dgn papers2 dari orang2 asing itu seolah sampai ketitik2 dan koma2nya anda serap semuanya ………. Sementara itu skali lagi kelihatannya anda kok sangat menghina, anggap enteng dan merendahkan papers bangsa sendiri ya?..... kalau anda berkenan baca kembali dgn bener dan saksama blog dari yg empunya posting ttg kepindahan ibukota ala SBY itu … disitu bukankah anda dapat baca dgn amat lengkap semua alasan2nya….. baik alasan geologis.. alasan demografis.. alasan ekologis.. alasan psikis… dsb dsb….. berikut dibawah saya sampaikan salinannya dgn sedikit editingnya, tanpa gambar dan saya tambah nomor2 spy dpt lbh mudah dibacanya…..salam, aby Lampiran edited: 4/12/2009 Rencana SBY Ttg Pemindahan Ibukota Negara dari Jkt 1. SBY tengah memikirkan lokasi baru pusat pemerintahan. Kalau seperti Malaysia itu tanggung dan tidak sepenuh hati. Cuma 40 km. Sehingga sebagian tidak pindah rumah dan akhirnya jadi jauh dan macet. Harusnya seperti Brazil yang memindahkan ibukotanya begitu jauh dari Rio de Janeiro ke Brasilia, atau Amerika Serikat dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin. 2. Pmindahan ibukota dari satu kota ke kota lain adalah hal biasa dan pernah dilakukan. Sbg contoh, AS pernah memindahkan ibukota mereka dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin, Brazil memindahkan ibukotanya dari Rio de Janeiro ke Brasilia. Indonesia sendiri pernah memindahkan ibukotanya dari Jakarta ke Yogyakarta. 3. Over Populasi (Jumlah penduduk melebihi daya tampung) merupakan penyebab utama kenapa banyak negara memindahkan ibukotanya. Sebagai contoh saat ini Jepang dan Korea Selatan tengah merencanakan pemindahan ibukota negara mereka. Jepang ingin memindahkan ibukotanya karena wilayah Tokyo Megapolitan jumlah penduduknya sudah terlampau besar yaitu: 33 juta jiwa. Korsel pun begitu karena wilayah kota Seoul dan sekitarnya jumlah penduduknya sudah mencapai 22 juta. Bekas ibukota AS, New York dan sekitarnya total penduduknya mencapai 22 juta jiwa. Jakarta sendiri menurut mantan Gubernur DKI, Ali Sadikin, dirancang Belanda untuk menampung 800.000 penduduk. Namun ternyata di saat Ali menjabat Gubernur jumlahnya membengkak jadi 3,5 juta dan sekarang membengkak lagi hingga daerah Metropolitan Jakarta yang meliputi Jabodetabek mencapai total 23 juta jiwa. 4. Jakarta di mana lebih dari 80% uang yang ada di Indonesia beredar di sini merupakan magnet yang menarik penduduk seluruh dari Indonesia untuk mencari uang di Jakarta. Arus urbanisasi dari daerah ke Jakarta begitu tinggi. Akibatnya jika penduduk Jakarta pada zaman Ali Sadikin tahun 1975-an hanya sekitar 3,5 juta jiwa, saat ini jumlahnya sekitar 10 juta jiwa. Pada hari kerja dengan pekerja dari wilayah Jabotabek, penduduk Jakarta menjadi 12 juta jiwa. Jumlah penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diperkirakan sekitar 23 juta jiwa. Padahal tahun 1986 jumlahnya hanya sekitar 14,6 juta jiwa (MS Encarta). Jika Jakarta terus dibiarkan jadi ibukota, maka jumlah ini akan terus membengkak dan membengkak. Akibatnya kemacetan semakin merajalela. Jumlah kendaraan bertambah. Asap kendaraan dan polusi meningkat , udara Jkt sdh tidak layak hirup lagi. Pohon-pohon, lapangan rumput, dan tanah serapan semakin berkurang diganti aspal dan lantai beton perumahan, gedung perkantoran dan pabrik. Berbagai hutan kota atau tanah lapang di kawasan Senayan, Kelapa Gading, Pulomas, dan sebagainya saat ini sudah menghilang diganti dengan Mall, gedung perkantoran dan perumahan. Hal-hal di atas akan mengakibatkan: 1/. Jakarta akan jadi kota yang sangat macet 2/. Dengan banyaknya orang bekerja di Jakarta padahal rumah mereka ada di pinggiran Jabotabek, akan mengakibatkan pemborosan BBM. Paling tidak ada sekitar 6,5 milyar liter BBM dengan nilai sekitar Rp 30 trilyun yang dihabiskan oleh 2 juta pelaju ke Jakarta setiap tahun. 3/. Dengan kemacetan dan jauhnya jarak perjalanan, orang menghabiskan waktu 3 hingga 5 jam per hari hanya untuk perjalanan kerja. 4/. Stress meningkat akibat kemacetan di jalan. 5/. Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) juga meningkat karena orang berada lama di jalan dan menghisap asap knalpot kendaraan 6/. Banjir dan kekeringan akan semakin meningkat karena daerah resapan air terus berkurang. 7/. Jumlah penduduk Indonesia akan terpusat di wilayah Jabodetabek. Saat ini saja sekitar 30 juta dari 200 juta penduduk Indonesia menempati area 1500 km2 di Jabodetabek. Atau 15% penduduk menempati kurang dari 1% wilayah Indonesia. 8/. Pembangunan akan semakin tidak merata karena kegiatan pemerintahan, bisnis, seni, budaya, industri semua terpusat di Jakarta dan sekitarnya. 9/. Tingkat Kejahatan/Kriminali tas akan meningkat karena luas wilayah tidak mampu menampung penduduk yang terlampau padat. 10/. Timbul bahaya kelaparan karena over populasi dan sawah berubah jadi rumah, kantor, dan pabrik. Saat ini pulau Jawa yang merupakan pulau terpadat di dunia 7 x lipat lebih padat daripada RRC. Kepadatan penduduk di Jawa 1.007 orang/km2 sementara di RRC hanya 138 orang/km2. Tak heran di pulau Jawa banyak orang yang kelaparan dan makan nasi aking. 5. Untuk itu diperlukan penyebaran pusat kegiatan di berbagai kota di Indonesia. Sebagai contoh, di AS pusat pemerintahan ada di Washington DC yang jumlah penduduknya hanya 563 ribu jiwa. Sementara pusat bisnis ada di New York dengan populasi 8,1 juta. Pusat kebudayaan ada di Los Angeles dengan populasi 3,9 juta. Pusat Industri otomotif ada di Detroit dengan jumlah penduduk 911.000 jiwa. 6. Di AS kegiatan tersebar di beberapa kota. Tidak tertumpuk di satu kota. Sehingga pembangunan bisa lebih merata. Indonesia juga harus begitu. Semua kegiatan jangan terpusat di Jakarta. Jika tidak, maka jumlah penduduk kota Jakarta akan terus membengkak. Dalam 10-20 tahun, Jakarta akan jadi kota yang mati/semrawut karena jumlah penduduk yang terlampau banyak (saat ini saja kemacetan sudah luar biasa). Biarlah Jakarta cukup menjadi pusat bisnis. Untuk pusat pemerintahan, sebaiknya dipindahkan ke Kalimantan Tengah. 7. Kenapa Kalimantan Tengah? Kenapa tidak di Jawa, Sulawesi, atau Sumatra? Pertama Jawa adalah pulau kecil yang sudah terlampau padat penduduknya. Luas pulau Jawa hanya 134.000 km2 sementara jumlah penduduknya sekitar 135 juta jiwa. Kepadatannya sudah mencapai lebih dari 1.000 jiwa per km2. Apalagi pulau Jawa yang subur dengan persawahan yang sudah mapan seharusnya dipertahankan tetap jadi lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan di Indonesia. Kalau dipaksakan di Jawa, maka luas sawah akan berkurang sebanyak 50.000 hektar! Produksi beras/pangan lain akan berkurang sekitar 200 ribu ton per tahun! Indonesia akan semakin kekurangan pangan karenanya. Selama ibukota tetap di Jawa, pulau Jawa akan semakin padat dan pembangunan tidak tersebar ke seluruh Indonesia. Jawa sudah kebanyakan penduduk/over- crowded! 8. Ada pun pulau Sumatera letaknya relatif agak di Barat. Dengan jumlah penduduk lebih dari 42 juta, pembangunan di Sumatera sudah cukup lumayan. Sulawesi dengan luas 189.000 km2 dan jumlah penduduk sekitar 15 juta jiwa masih terlalu kecil wilayahnya. Sumatera dan Sulawesi adalah pulau yang subur dan cocok untuk pertanian. Jadi sayang jika pertumbuhan jumlah penduduk dipusatkan di situ. Belum lagi kedua wilayah ini rawan dengan gempa bumi dan tsunami. Ada pun Kalimantan luasnya 540.000 km2 dengan jumlah penduduk hanya 12 juta jiwa. Pulau Kalimantan jauh lebih luas dibanding pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi dan jumlah penduduknya justru paling sedikit. 9. Di pulau Kalimantan juga tidak ada gunung berapi dan merupakan pulau yang teraman dari gempa. Sementara di pesisir Kalimantan Tengah yang berbatasan dengan Laut Jawa juga ombak relatif tenang dan aman dari Tsunami. Ini cocok untuk jadi tempat ibukota Indonesia yang baru. Sebaliknya Jakarta begitu dekat dengan gunung Krakatau yang ledakkannya 30 ribu x bom atom Hiroshima dengan tsunami setinggi 40 meter. Efek ledakan Krakatau terasa sampai Afrika dan Australia. 10. Sekarang gunung Krakatau yang dulu rata dengan laut telah “tumbuh” setinggi 800 meter lebih dengan kecepatan “tumbuh” sekitar 7 meter/tahun. Sebagian ahli geologi memperkirakan letusan kembali terulang antara 2015-2083. Jadi Jakarta tinggal “menunggu waktu” saja…

