Dear All,

Kemarin aku bercerita pada pak Risfan, pendekatan perilaku barangkali perlu 
dipertimbangkan dalam proses rancang-merancang sampai pada tingkat detil. Dalam 
hidup ini setiap orang punya skenario-skenario yang dimiliki. Menurut Guru 
Samurai, supaya kita tidak terjebak skenario lawan maka kita harus "menjadi 
lawan", yang artinya memahami skenario lawan kemudian dimanfaatkan. Miyamoto 
Mushashi menggunakan cara kreatif, justru dengan menggunakan cara melawan 
pakem, sebab yang penting kemenangan. Sedangkan Toyotomi Hideyoshi menggunakan 
cara kebersamaan untuk mencapai kemenangan juga. Jika kita gabungkan spirit 
keduanya, alangkah indahnya. Spirit Samurai juga bisa digunakan untuk merancang 
!!!! Ini namanya kemenangan spirit Samurai yang vernakular melawan spirit 
modernisme yang katanya ilmiah !!!!

Salam,



Djarot Purbadi

(Murid baru Samurai)


http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 1/15/10, muhammad koeswadi <[email protected]> wrote:

From: muhammad koeswadi <[email protected]>
Subject: [referensi] trotoir dan sekitarnya muspro
To: "alumni planologi" <[email protected]>
Date: Friday, January 15, 2010, 7:27 AM







 



  


    
      
      
      Pro Sahabats
 
Asw. saya baru melintasi jalan Slamet Riyadi Solo terus melewati mal 'Solo 
Square'..menuju Kartosuro. Di sisi kiri jalan utama ada jalan jalur lambat, di 
pisah tanaman pohon pelindung (jenis Filicium). Situasinya persis jalan di 
sekitar Palur yang sisi timur jalan utama ada jalur lambat. Akan tetapi jalur 
lambat di sepanjang jalan setelah Solo Square (lupa namanya, mungkin jl jend A. 
Yani), muspro alias tidak berguna sebagaimana yang direncanakan. Di Jalur 
lambat banyak lubang, tempat mangkal pickup box, truk, kendaraan rusak, kios 
PKL, sampah..dan lain2 rupa. Pengendara sepeda, sepeda motor tidak ada yang 
menggunakannya jalur lambat ini, mereka masuk di jalur cepat/utama. Para 
pedestrian lah yang akhirnya memanfaatkan jalan jalur lambat ini...sebab 
trotoirnya tidak jelas. Setting disain jalan jadi tidak karuan, tata lanskap 
kurang menarik/perawatan, pembangunan jalan (investasi pemerintah) jadi muspro. 
Muspro di sekitar trotoir juga banyak tersebar di kota besar dan di Ibukota 
Repubik ini. di Jakarta, salah satu potretnya ada di trotoir jl Raya Pasar 
Minggu (dari Pasar Minggu hingga Pancoran) yang telah beralih fungsi sebagai:
- perluasan ruang usaha toko2 di sekitarnya
- ruang parkir pengunjung toko/bengkel
- ruang meletakkan gerobak PKL (rokok, minuman, paramex dll) secara menetap
- ruang pasar loak (onderdil motor, baju bekas, macem2 ada)
- ruang kuliner jajanan dan makan duren Sumatera (@ Rp 5.000-40.000)
Para perancang trotoir memang tidak mempersiapkan hasil rancangannya bakal 
diserbu aneka fungsi tersebut. 
Mengapa kota-kota besar di negara tetangga (Kuala Lumpur, Bangkok) tidak 
memiliki rekaman kehidupan seperti di atas? Contoh di KL, sekalipun di sekitar 
Pasar Kota, misalnya pasar Chow Kit, trotoirnya tetap enak digunakan. Memang 
sesekali  di Seoul, Jeddah, ataupun Paris, ada obralan di trotoir. Mereka tidak 
menetap, tidak permanen seperti di Indonesia. Barangkali salah satu dari 
faktor utama keadaan ini adalah adanya faktor pembiaran oleh kita....Salam, 
Koeswadi JKT.
 




      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke