Pak Risfan dan Referensiers ysh.

Saya berusaha menangkap pandangan Pak Risfan berikut, dan intinya telah
meramaikan diskusi kita sepagi ini tentang pe-mazhab-an pemikiran. 
Sebelumnya saya menanggapi mengenai 'Barat menuduh Barat', hanya berupa
fasilitasi pemikiran terhadap rekan-rekan yang sedang atau telah belajar
di tempat munculnya berbagai pandangan itu; dengan berharap ada
umpan-balik yang signifikan tentang apa yang mereka pelajari dan
manfaatnya bagi bangsa Indonesia yang diwakili oleh 500+ peserta milis
ini. Tidak semuanya gayung bersambut kata berjawab, sehingga dapat
memunculkan banyak pertanyaan lain, seperti misalnya harapan itu bapak
tuliskan dalam komentar di bawah.

Berikutnya masalah sumber pemikiran, filsuf dan moralist Adam Smith
malah didewakan sebagai 'dewa ekonomi', padahal dia bercerita tentang
fenomena sosial dan moral. Biolog Patrick Geddes kita dewakan sebagai
'dewa kota', dst. Dengan kata lain 'penafsiran' telah memegang peranan
penting dalam mengembangkan dan menguraikan ilmu pengetahuan. Dalam hal
ini sebagaimana yang bapak maksudkan: bersekutu, melakukan perlawanan,
atau berjalan sendiri? Tapi memang begitulah caranya dinamika itu
berjalan. Pak ATA sudah beberapa kali mengingatkan: buat teori sendiri
untuk Indonesia!

Masalah mazhab, sebagaimana saya sebutkan lebih maju dari paradigma,
namun sebenarnya juga lebih santun dibandingkan dengan pola pro-kontra
yang selama ini berkembang dalam masyarakat (akademis). Saya kurang
kompeten mengatakan, bila paradigma kurang berkembang selama ini apalagi
pada pembentukan mazhab, rujukan saya Pak Hendro
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2306> .

Mengenai 'kearifan lokal', memang banyak sekarang program dan proyek
yang menggunakan istilah itu; namun apa makna yang digunakan, setelah
saya intip, belum punya landasan akademis. Memang mengenai 'istilah'
bisa digunakan bermacam-macam, seperti contoh hikmah dari vernacularitas
yang saya temukan seminggu ini: sesuatu ketika berada di tangkai disebut
'bulir', namun ketika dipanen disebut 'padi', kemudian setelah ditumbuk
dan ditampi disebut 'beras', dan setelah dimasak dinamakan 'nasi', kalau
digoreng namanya 'nasi goreng', dan setelah dimakan dan dikeluarkan
namanya 'ampas'. Bendanya itu juga.

Tentang Mazhab Yogya, pertama ini adalah pengakuan identitas dan ada
pengumuman tentang hal itu. Saya hanya mengakui keberadaan 'identitas'.
Kedua, adalah hal ini cukup beralasan dan melalui diskusi yang panjang
pada tahun lalu. Ada konsep yang kuat dan kalau boleh dibilang sudah
mentoq, seperti kutipan
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/9026>   ini. Dalam
postingan lain, saya cari ndak nemu, ada pernyataan bila Yogya berani
menolak eksternalitas untuk mempertahankan kearifan lokalnya. Ketiga,
fenomenologi yang menjadi dasar metodologi mazhab sebenarnya juga tidak
asli pendekatan Barat, lebih pada konsep kebatinan tradisional (wening)
yang mencari jejak pada akar keilmuan modern; karena dalam ilmu
fenomenologi aslinya masih mau menerima eksternalitas. Jadi metodologi
ini tipikal in situ. Keempat, memang ada beberapa orang ahli yang
(katanya) bersepakat tentang hal itu.

Saya kira ini sedikit penjelasan tentang pengenalan saya terhadap mazhab
ini. Mohon koreksi dan tuntunan dari para sesepuh. Sementara demikian
dulu. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote:
>
> Uda Ekadj dan Rekans ysh,
>
> Menurut saya Uda Eka yang selalu menulis nama Faucault, Bateson, etc
apakah juga bukan "Barat menuduh Barat".
>
> Persoalannya menurut saya bukan Barat vs Lokal. Itu persoalan beda
paradigma.Sesungguhnya dua kubu berlawanan itu (ada juga sih proyek
bersamanya), adalah kubu Fakultas Ekonomi vs FISIP, Fakultas Ilmu
Budaya.
>
> Murid-murid Adam Smith dkk ada di FE, murid-murid Marx, Faucault, dkk
(maaf sebetulnya saya tidak tahu) ada di FISIP, FIB. Di antara mereka
tidak ribut, karena sudah berjalan puluhan tahun sehingga 'sepakat'
memahami "ilmuku is ilmuku, ilmumu is ilmumu." Kita sebagai Planner
(yang belajar ekonomi, budaya setelah S2/S3) sebaiknya "memanfaatkan"
hasil-hasil pemikiran mereka, jangan justru terjebak dalam "kutukan"
ilmu mereka.
>
> Dunia mengenal pasang surut, "what goes up, must come down", begitu
kata syair lagu soul Spinning Wheel. Era sebelum kemerdekaan (30an,
40an) Dunia Ketiga disemarakkan ideologi nasionalisme, sosialisme, anti
kapitalis. Setelah Era kemerdekaan (50an, 60an) era konsolidasi negara
baru, lalu pembangunan (ekonomi).
>
> Di negara kita, sewaktu berjuang semuanya sepertinya satu tujuan, tapi
awal 60an, politik jadi panglima, geger terus, pawai terus, "perut
diganjal gombal (pidato)". Paro kedua mulai pembangunan ekonomi. Memberi
makan 180 juta penduduk, menciptakan lapangan kerja, tentunya perlu
"visi, misi yang pasti, persatuan, kestabilan", apalagi waktu itu
ancaman sparatis masih laten bisa terjadi. Era pembangunan menjalankan
misinya. Dan selanjutnya "kekuasaan" yang terlalu kuat menimbulkan ekses
"KKN". Maka kondisi menjadi matang untuk bangkitnya era baru, Era
Reformasi.
>
> Perlawanan atas "kekuasaan model Orde Baru" menguatkan ide reformasi,
demokratisasi, desentralisasi. Di bidang kebijakan publik, perencanaan,
FISIP/FIB membawa angin baru pula. Dan, ternyata tidak tipikal
Indonesia. Gejala "anti rasionalisme ekonomi, anti globalisasi" ini
rupanya juga gejala global. Buktinya terjadi dimana-mana.
>
> Masalahnya tetap: bagaimana memberi makan, lapangan kerja, tempat
tinggal layak, bagi 250 juta manusia Indonesia ini.
>
> Sekali lagi, kita Planner/Arsitek, pinter-pinter lah "memanfaatkan",
jangan kena "kutukan" ilmu ekonomi (kapitalis) atau ilmu sosial (ist),
atau sinkretisme, pemujaan masa lalu. Orang FE dan FISIP/FIB saja yang
ilmunya jelas bertentangan rukun-rukun saja.
>
> "Rational Planning Method" (RPM), katanya terlalu mekanistik,
kuantitatif, deterministik gantinya diharap ganti dengan yang
"partisipatif, berbudaya, mengandung kearifan lokal". Saya kira gak gitu
lah. Masing-masing punya ruang geraknya masing-masing. Kita Planner
sebaiknya bisa menggunakan keduanya sesuai kebutuhan. RPM, lebih tepat
untuk skala luas, pendekatan partisipatif berbasis komunitas kebanyakan
dibangun dari pengalaman di level community.
>
> Salam,
> Risfan Munir


Kirim email ke