Mas Eko, Pak Djarot dan Rekans ysh,

Trims lagi. Terlepas dari istilah kembangan dalam diskusi ini yang mendistorsi, 
saya sendiri memperoleh pelajaran, a.l.:
1. Pak Djarot memperkenalkan saya dgn pendekatan Fenomenologi Arsitektur. Yang 
intinya sebelum mendisain, kenali Aktornya, Prilakunya, Manifestasi Ruangnya.
2. Menurut saya pendekatan fenomenologi itu kontribusinya di pengenalan "aktor2 
dan perilaku (relasi, preferensi atas ruang)". Tapi itu tidak perlu diartikan 
sebagai revolusi yang menggusur metode sebelumnya (yang kualitatif dan 
kuantitatif. Menambah pilihan alat lah.
3. Menurut saya fenomenologi layak untuk "memahami" dan "best-use" nya pada 
level komuniti. Kalau diterapkan pada skala kabupaten, kota sedang akan 
membutuhkan kajian per-zona, karena kalau Aktor yang diteliti 'wakil dari 
perwakilan' tentu distorsinya tinggi.
4. Pertanyaan untuk perencanaan: apakah "yang ada selalu baik untuk komunitas 
lain? untuk ke depan?" Ini sering saya alami dgn perencanaan partisipatif 
tingkat desa. Dunia mereka sebatas desanya, kadang yang dilakukan, yang diminta 
konflik dengan komunitas lainnya. Kadang praktek yang ada "tidak arif", ada 
power-abuse, posisi tetua adat, hukum adat yg tdk transparan dipakai untuk 
memperkaya diri. Siapa yang menentukan arif/tidak?
5. Sebagai perencana yang biasa dengan analisis "sosial, budaya, ekonomi, 
lingkungan", saya akan mengundang (menggunakan alat dari) Ekonom, dan Ilmu 
Kebumian untuk mengisi bagiannya.

5. Mengenai "lokal vs universal", dalam kaitan tata ruang, saya ingat bukunya 
Friedman "Territory & Function". Disitu dia tawarkan dua pilihan: gabung dengan 
sistem dunia, atau 'menutup diri'. Yang menutup diri ini dicontohkan desa-desa 
ala Mao di China. Tapi sejarah menunjukkan lain. Mungkin tinggal Burma, dan 
enclave suku terasing yang menganutnya. Seperti saya singgung di "Campursari", 
warga desa Bali di rumah/desa nya juga suka musik Dangdut. Media elektronik tak 
bisa dibendung. Lha kalau kita meneliti dgn alat fenomenologi, mendapatkan 
warga desa Bali itu lebih suka musik Dangdut, beda dengan deskripsi Bateson 
dkk, bagaimana? Fokus pada yang "arif (menurut kita)" saja, apakah tidak bias 
namanya itu. Di Sumbar, setelah Reformasi maka posisi Wali Nagari, sebagai 
bentuk kearifan lokal revitalisasi. Tapi kalau kita baca di koran-koran disana, 
kericuhan pemilihannya juga tak beda dengan Pilkada. Artinya, mau yang tradisi, 
yang baru, norma dan nilai
 universal "keadilan, meningkatkan kesejahteraan" tetap layak dijadikan tolok 
ukur.
6. Khusus mengenai "asli, pendatang". Saya tidak bermaksud ber-stigma. Tapi 
penelitian kualitatif umumnya kan "peneliti ada di dalam". Maka faktor Pak 
Djarot yang orang Jogja, sekolah, kerja dan hidup di Jogja juga ada 
pengaruhnya. Ini beda dengan posisi dan cara pandang Mas Fajar yang "anak 
pendatang, sekolah di tempat lain, kerja di tempat lain." Dalam posting 
Campursari saya contohkan kian banyaknya fenomena komunitas warga  negara hasil 
percampuran suku, dan hidupnya lebih dari 2 kali pindah tempat. Atau warga 
informal perkotaan, yang pikirannya ada di daerah asalnya, yang mungkin juga 
sudah tidak ada. Atau komunitas penghuni Rumah Susun.
7. Fenomenologi, seperti saudaranya Ethnography tentu bisa dipakai secara 
praktis untuk memahami perilaku stakeholders dan manifestasi ruangnya. Buku 
ethnography yang saya baca digunakan untuk memahami perilaku konsumen produk 
ttt untuk menyusun strategi marketing. Contohnya bagaimana sih orang menikmati 
teh botol: minum langsung? pakai gelas? di rumah, kantor, jalan? dst. Contoh 
lain "bisnis rias pengantin", bagaiman perilaku keluarga penyewa: siapa 
pengambil keputusan? suka tradisional atau modern? tradisional etnik mana? 
karakter sang mempelai? dst. Kesimpulan saya, alat analisis, ya alat lah. Tak 
lebih, tak kurang, dan tak hars disakralkan.
8. Untuk menulis buku, mempromosikan "mazhab" mungkin yang baik adalah 
menunjukkan contoh-contoh kasus penerapan, dari mereka yang pernah 
menerapkannya. Juga tidak harus menyerang metode lainnya yang mungkin 
kegunaannya.

Salam,
Risfan Munir



Pada Sab, 30 Jan 2010 16:57 CST Eko B K menulis:

>Pak Risfan ysh.,
>
>Menurut saya juga begitu pak, model2 tsb memang upaya memahami fenomena bukan 
>utk direplika menjadi rencana... lebih panjang lebarnya pendapat sy ada di 
>posting yg sy kirim beberapa menit sebelum bapak mengirim email di bawah ini 
>hehe...
>
>salam...
>
>--- En date de : Sam 30.1.10, Risfan M <[email protected]> a écrit :
>
>De: Risfan M <[email protected]>
>Objet: Bls: [referensi] Re: Mazhab Yogya- mahzab atau jualan scholarship?
>À: [email protected]
>Date: Samedi 30 Janvier 2010, 23h43
>
>
>
>
>
>
>
> 
>
>
>
>  
>
>
>    
>      
>      
>      Mas Eko dan Rekans ysh,
>
>
>
>Trims, atas pencerahannya soal Chicago Bulls vs LAkers. Ya, saya masih ingat 
>Park n Burgess, lalu Soja sesekali.
>
>
>
>Tapi itu debat akademis yang mengcounter pendapat sebelumnya. Tapi  masing2 
>kan bukan yang membentuk urban ecology. Hanya mencoba memahami fenomena yang 
>ada dengan alat masing2. Apakah mereka Geografer, lalu sosiolog, dan penantang 
>anthropolog?
>
>
>
>Biar tidak tegang 'from Chicago to LA' sebaiknya nge-blues lewat "Route 66". 
>
>
>
>Salam,
>
>Risfan Munir
>
>
>
>Pada Sab, 30 Jan 2010 07:13 CST Eko B K menulis:
>
>
>
>>Pak Risfan dan rekan2 ysh.,
>
>>haha betul Pak Risfan, memang kita perlu berdiskusi dgn dasar pengertian yg 
>>sama...
>
>>Saya kira mahzab Chicago yg dibicarakan Pak Djarot dan Pak Deden tidak lain 
>>dari urban/human ecology yg dikembangkan oleh sosiolog2 Univ Chicago seperti 
>>Robert Park dan Ernest Burgess... adapun mahzab LA yg berkembang kemudian 
>>dipelopori oleh geograf2 LA seperti Edward Soja (UCLA) dan Michael Dear 
>>(USC)...
>
>>mahzab Chicago sudah lama dikenal dan diakui sgt penting kontribusinya dlm 
>>urban sociology/studies walaupun telah lama dianggap mati, dan orang2 mahzab 
>>LA mengklaim bahwa pemikiran mereka yg posmodernist menantang mahzab Chicago 
>>yg modernist... dan seperti mahzab Chicago yg mengambil terrain nya di 
>>Chicago, maka group LA terrain nya di LA...
>
>>Tapi beberapa scholar seperti Mark Gottdiener berpendapat bahwa berbeda dgn 
>>mahzab Chicago yg diakui kontribusinya thd scholarship, maka mahzab LA ini 
>>lebih pd pelabelan utk kepentingan "jualan scholarship" ...scholarship 
>>menjadi komoditas dagangan... argumen Gottdiener antara lain bahwa fenomena 
>>perkotaan yg terjadi di LA ini bukan unik hanya di LA dan teori2 tsb bukan 
>>hanya dikembangkan oleh geograf2 LA, dan beberapa teori bahkan dikembangkan 
>>di luar LA seperti oleh Harvey, Lefebvre, dan Castells...( kalau kita baca 
>>buku2 Soja misalkan, maka memang terlihat bahwa dia banyak mengutip Lefebvre, 
>>Castells, dan Harvey)...
>
>>Jadi tidak aneh kalau Pak Risfan belum pernah dengar ttg kedua mahzab tsb, 
>>karena yg satu sudah lama mati (Chicago) dan yg satu lagi hanya klaim 
>>sekelompok scholars (LA)...
>
>>ini juga yg membuat saya heran ketika permasalahan perkotaan di Indonesia 
>>dikaitkan dgn mahzab Chicago dan LA....
>
>>salam..
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>--- En date de : Sam 30.1.10, Risfan M <risf...@yahoo. com> a écrit :
>
>>
>
>>De: Risfan M <risf...@yahoo. com>
>
>>Objet: Bls: [referensi] Re: Mazhab Yogya- FE vs FISIP/FIB vsPWK
>
>>À: refere...@yahoogrou ps.com
>
>>Date: Samedi 30 Janvier 2010, 8h39
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>> 
>
>> 
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>  
>
>>
>
>>
>
>>    
>
>>      
>
>>      
>
>>      Rekans ysh,
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>Pak Eka, Pak Djarot, sebetulnya yang diomongin itu Mazhab apa sih?
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>Kalau dicompare dgn mazhab Chicago, LA, itu juga mazhab apa? Selama saya 
>>sekolah PWK kok belum pernah dengar? (Yang saya ingat kok cuma kasus Land Use 
>>Plan -nya Chapin?)
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>Salam,
>
>>
>
>>Risfan Munir
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>Pada Sab, 30 Jan 2010 00:54 CST ffekadj menulis:
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>>
>
>>
>
>>>Pak Risfan dan Referensiers ysh.
>
>>
>
>>>
>
>>
>
>>>Saya berusaha menangkap pandangan Pak Risfan berikut, dan intinya telah
>
>>
>
>>>meramaikan diskusi kita sepagi ini tentang pe-mazhab-an pemikiran. 
>
>>
>
>>>Sebelumnya saya menanggapi mengenai 'Barat menuduh Barat', hanya berupa
>
>>
>
>>>fasilitasi pemikiran terhadap rekan-rekan yang sedang atau telah belajar
>
>>
>
>>>di tempat munculnya berbagai pandangan itu; dengan berharap ada
>
>>
>
>>>umpan-balik yang signifikan tentang apa yang mereka pelajari dan
>
>>
>
>>>manfaatnya bagi bangsa Indonesia yang diwakili oleh 500+ peserta milis
>
>>
>
>>>ini. Tidak semuanya gayung bersambut kata berjawab, sehingga dapat
>
>>
>
>>>memunculkan banyak pertanyaan lain, seperti misalnya harapan itu bapak
>
>>
>
>>>tuliskan dalam komentar di bawah.
>
>>
>
>>>
>
>>
>
>>>Berikutnya masalah sumber pemikiran, filsuf dan moralist Adam Smith
>
>>
>
>>>malah didewakan sebagai 'dewa ekonomi', padahal dia bercerita tentang
>
>>
>
>>>fenomena sosial dan moral. Biolog Patrick Geddes kita dewakan sebagai
>
>>
>
>>>'dewa kota', dst. Dengan kata lain 'penafsiran' telah memegang peranan
>
>>
>
>>>penting dalam mengembangkan dan menguraikan ilmu pengetahuan. Dalam hal
>
>>
>
>>>ini sebagaimana yang bapak maksudkan: bersekutu, melakukan perlawanan,
>
>>
>
>>>atau berjalan sendiri? Tapi memang begitulah caranya dinamika itu
>
>>
>
>>>berjalan. Pak ATA sudah beberapa kali mengingatkan: buat teori sendiri
>
>>
>
>>>untuk Indonesia!
>
>>
>
>>>
>
>>
>
>>>Masalah mazhab, sebagaimana saya sebutkan lebih maju dari paradigma,
>
>>
>
>>>namun sebenarnya juga lebih santun dibandingkan dengan pola pro-kontra
>
>>
>
>>>yang selama ini berkembang dalam masyarakat (akademis). Saya kurang
>
>>
>
>>>kompeten mengatakan, bila paradigma kurang berkembang selama ini apalagi
>
>>
>
>>>pada pembentukan mazhab, rujukan saya Pak Hendro
>
>>
>
>>><http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/2306> .
>
>>
>
>>>
>
>>
>
>>>Mengenai 'kearifan lokal', memang banyak sekarang program dan proyek
>
>>
>
>>>yang menggunakan istilah itu; namun apa makna yang digunakan, setelah
>
>>
>
>>>saya intip, belum punya landasan akademis. Memang mengenai 'istilah'
>
>>
>
>>>bisa digunakan bermacam-macam, seperti contoh hikmah dari vernacularitas
>
>>
>
>>>yang saya temukan seminggu ini: sesuatu ketika berada di tangkai disebut
>
>>
>
>>>'bulir', namun ketika dipanen disebut 'padi', kemudian setelah ditumbuk
>
>>
>
>>>dan ditampi disebut 'beras', dan setelah dimasak dinamakan 'nasi', kalau
>
>>
>
>>>digoreng namanya 'nasi goreng', dan setelah dimakan dan dikeluarkan
>
>>
>
>>>namanya 'ampas'. Bendanya itu juga.
>
>>
>
>>>
>
>>
>
>>>Tentang Mazhab Yogya, pertama ini adalah pengakuan identitas dan ada
>
>>
>
>>>pengumuman tentang hal itu. Saya hanya mengakui keberadaan 'identitas'.
>
>>
>
>>>Kedua, adalah hal ini cukup beralasan dan melalui diskusi yang panjang
>
>>
>
>>>pada tahun lalu. Ada konsep yang kuat dan kalau boleh dibilang sudah
>
>>
>
>>>mentoq, seperti kutipan
>
>>
>
>>><http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/9026>   ini. Dalam
>
>>
>
>>>postingan lain, saya cari ndak nemu, ada pernyataan bila Yogya berani
>
>>
>
>>>menolak eksternalitas untuk mempertahankan kearifan lokalnya. Ketiga,
>
>>
>
>>>fenomenologi yang menjadi dasar metodologi mazhab sebenarnya juga tidak
>
>>
>
>>>asli pendekatan Barat, lebih pada konsep kebatinan tradisional (wening)
>
>>
>
>>>yang mencari jejak pada akar keilmuan modern; karena dalam ilmu
>
>>
>
>>>fenomenologi aslinya masih mau menerima eksternalitas. Jadi metodologi
>
>>
>
>>>ini tipikal in situ. Keempat, memang ada beberapa orang ahli yang
>
>>
>
>>>(katanya) bersepakat tentang hal itu.
>
>>
>
>>>
>
>>
>
>>>Saya kira ini sedikit penjelasan tentang pengenalan saya terhadap mazhab
>
>>
>
>>>ini. Mohon koreksi dan tuntunan dari para sesepuh. Sementara demikian
>
>>
>
>>>dulu. Salam.
>
>>
>
>>>
>
>>
>
>>>-ekadj
>
>>
>
>>>
>
>>
>
>>>
>
>>
>
>>>--- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" <risf...@... > wrote:
>
>>
>
>>>>
>
>>
>
>>>> Uda Ekadj dan Rekans ysh,
>
>>
>
>>>>
>
>>
>
>>>> Menurut saya Uda Eka yang selalu menulis nama Faucault, Bateson, etc
>
>>
>
>>>apakah juga bukan "Barat menuduh Barat".
>
>>
>
>>>>
>
>>
>
>>>> Persoalannya menurut saya bukan Barat vs Lokal. Itu persoalan beda
>
>>
>
>>>paradigma. Sesunggu hnya dua kubu berlawanan itu (ada juga sih proyek
>
>>
>
>>>bersamanya) , adalah kubu Fakultas Ekonomi vs FISIP, Fakultas Ilmu
>
>>
>
>>>Budaya.
>
>>
>
>>>>
>
>>
>
>>>> Murid-murid Adam Smith dkk ada di FE, murid-murid Marx, Faucault, dkk
>
>>
>
>>>(maaf sebetulnya saya tidak tahu) ada di FISIP, FIB. Di antara mereka
>
>>
>
>>>tidak ribut, karena sudah berjalan puluhan tahun sehingga 'sepakat'
>
>>
>
>>>memahami "ilmuku is ilmuku, ilmumu is ilmumu." Kita sebagai Planner
>
>>
>
>>>(yang belajar ekonomi, budaya setelah S2/S3) sebaiknya "memanfaatkan"
>
>>
>
>>>hasil-hasil pemikiran mereka, jangan justru terjebak dalam "kutukan"
>
>>
>
>>>ilmu mereka.
>
>>
>
>>>>
>
>>
>
>>>> Dunia mengenal pasang surut, "what goes up, must come down", begitu
>
>>
>
>>>kata syair lagu soul Spinning Wheel. Era sebelum kemerdekaan (30an,
>
>>
>
>>>40an) Dunia Ketiga disemarakkan ideologi nasionalisme, sosialisme, anti
>
>>
>
>>>kapitalis. Setelah Era kemerdekaan (50an, 60an) era konsolidasi negara
>
>>
>
>>>baru, lalu pembangunan (ekonomi).
>
>>
>
>>>>
>
>>
>
>>>> Di negara kita, sewaktu berjuang semuanya sepertinya satu tujuan, tapi
>
>>
>
>>>awal 60an, politik jadi panglima, geger terus, pawai terus, "perut
>
>>
>
>>>diganjal gombal (pidato)". Paro kedua mulai pembangunan ekonomi. Memberi
>
>>
>
>>>makan 180 juta penduduk, menciptakan lapangan kerja, tentunya perlu
>
>>
>
>>>"visi, misi yang pasti, persatuan, kestabilan", apalagi waktu itu
>
>>
>
>>>ancaman sparatis masih laten bisa terjadi. Era pembangunan menjalankan
>
>>
>
>>>misinya. Dan selanjutnya "kekuasaan" yang terlalu kuat menimbulkan ekses
>
>>
>
>>>"KKN". Maka kondisi menjadi matang untuk bangkitnya era baru, Era
>
>>
>
>>>Reformasi.
>
>>
>
>>>>
>
>>
>
>>>> Perlawanan atas "kekuasaan model Orde Baru" menguatkan ide reformasi,
>
>>
>
>>>demokratisasi, desentralisasi. Di bidang kebijakan publik, perencanaan,
>
>>
>
>>>FISIP/FIB membawa angin baru pula. Dan, ternyata tidak tipikal
>
>>
>
>>>Indonesia. Gejala "anti rasionalisme ekonomi, anti globalisasi" ini
>
>>
>
>>>rupanya juga gejala global. Buktinya terjadi dimana-mana.
>
>>
>
>>>>
>
>>
>
>>>> Masalahnya tetap: bagaimana memberi makan, lapangan kerja, tempat
>
>>
>
>>>tinggal layak, bagi 250 juta manusia Indonesia ini.
>
>>
>
>>>>
>
>>
>
>>>> Sekali lagi, kita Planner/Arsitek, pinter-pinter lah "memanfaatkan" ,
>
>>
>
>>>jangan kena "kutukan" ilmu ekonomi (kapitalis) atau ilmu sosial (ist),
>
>>
>
>>>atau sinkretisme, pemujaan masa lalu. Orang FE dan FISIP/FIB saja yang
>
>>
>
>>>ilmunya jelas bertentangan rukun-rukun saja.
>
>>
>
>>>>
>
>>
>
>>>> "Rational Planning Method" (RPM), katanya terlalu mekanistik,
>
>>
>
>>>kuantitatif, deterministik gantinya diharap ganti dengan yang
>
>>
>
>>>"partisipatif, berbudaya, mengandung kearifan lokal". Saya kira gak gitu
>
>>
>
>>>lah. Masing-masing punya ruang geraknya masing-masing. Kita Planner
>
>>
>
>>>sebaiknya bisa menggunakan keduanya sesuai kebutuhan. RPM, lebih tepat
>
>>
>
>>>untuk skala luas, pendekatan partisipatif berbasis komunitas kebanyakan
>
>>
>
>>>dibangun dari pengalaman di level community.
>
>>
>
>>>>
>
>>
>
>>>> Salam,
>
>>
>
>>>> Risfan Munir
>
>>
>
>>>
>
>>
>
>>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>    
>
>>     
>
>>
>
>>    
>
>>    
>
>>
>
>>
>
>> 
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>  
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>
>
>>      
>
>
>
>
>
>    
>     
>
>    
>    
>
>
> 
>
>
>
>  
>
>
>
>
>
>
>      


      

Kirim email ke