Pak Risfan ysh, terima kasih atas perawiannya, mudah-mudahan dapat menjadi perhatian bagi para pengembang mazhab. Kalau boleh saya kembangkan kriteria tersebut sebagai berikut :
- manfaat, menyangkut 2 hal: 1) dikembangkan dan diterapkan dalam berbagai lapangan penghidupan, dan 2) diikuti dan diuraikan oleh banyak ilmuwan lainnya. - kekhasan, merupakan pemikiran domestik, bersifat mandiri dan berbeda dengan berbagai pendekatan yang selama ini tersebar di lapangan ilmu pengetahuan. - konsistensi, dikembangkan secara ortogenetik yang melibatkan ilmuwan lintas-generasi. Saya kira kriteria ini juga kita terapkan dalam annual book. Sementara demikian dulu pak, dan terima kasih. Salam. -ekadj --- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote: > > Uda Ekadj dan Rekans ysh, > > Seperti pesan Pak ATA, nilai manfaat, kekhasan, konsistensi mungkin yang penting. > > Dan, tahu batasan bhw pendekatan kualitatif termasuk fenomenologi itu keampuhannya di deskripsi, tingkat komuniti. > Dia lemah daya prediksi dan preskripsi nya. Teorinya sendiri melarang pemberlakuan generalisasi. > > Jadi saya bayangkan riset fenomenologi itu untuk memehami dan memetakan relasi aktor dan manifestasi fisiknya. Dengan pengetahuan itu Planner bisa menemukan cara yang efektif untuk mengintervensinya. > > Salam, > Risfan Munir > > Pada Sab, 30 Jan 2010 03:02 CST ffekadj menulis: > > > > >Pak Risfan, 'kungkungan ilmu' sebenarnya dinafikan dalam mazhab. Namun > >hal ini menarik diulas tersendiri dan seharusnya begitu dalam Bab 1 > >Introduction pada annual book kita. Mengenai variannya, sangat > >dimungkinkan, 'mazhab Salemba' juga bicara kearifan lokal (: kultur), > >juga pastinya juga ada yang mendalami di 'jalur Ganesha'. Namun 'kunci > >Yogya' sangat menarik, mereka akan terima semua pemikiran yang > >kelihatannya mendukung pemikiran mereka; namun kalau tahu itu sebenarnya > >tidak mendukung eksistensi lokal maka mereka akan reject. Contoh seperti > >pandangan Prof Deden yang posmo namun 'taste'-nya seperti fenomenologi > >dan means-end-nya adalah back to culture; padahal posmo maupun > >fenomenologi sungguh pendekatan yang sangat berbeda. > > > >Ada satu buku yang bicara tentang paham-paham dan perbedaan metodologi, > >"History and Social Theory", karya Peter Burke (1992). Sudah ada Bahasa > >Indonesianya, "Sejarah dan Teori Sosial", dialihbahasa oleh Mestika Zed > >dan Zulfami, Penerbit Yayasan Obor, 2003. Termasuk Christaller masuk > >dalam Chicago saya temukan disitu. Salam. > > > >-ekadj > > > > > >--- In [email protected], Risfan M risfano@ wrote: > >> > >> Maksud saya Mazhab dalam ilmu Planning atau Antropologi? > >> > >> Kalau participatory planning dimana2 ada, pendekatan budaya, anthrop > >di UI, Unpad juga ada. Apa yang dari Jogja? > >> > >> Kalau memang mau dibangun apa khas filosofi, metode pendekatan, apa > >case yang bisa menunjukkan cirinya? Saya kira ini perlu dijawab biar > >diskusinya terarah. > >> > >> Salam, > >> Risfan Munir > >> > >> Pada Sab, 30 Jan 2010 02:10 CST ffekadj menulis: > >> > >> > > >> >Pak Risfan ysh, sebenarnya mazhab, aliran, dll itu relatif digunakan > >> >istilahnya. Hanya dalam pendidikan PWK biasanya langsung kepada > >> >inisiasinya, dan kurang mengulas masalah tokoh, kelompok, dll. > >Seperti > >> >dalam kuliah Falsafah Perencanaan, Prof Bambang Bintoro bicara > >masalah > >> >primat kebijakan nasional vs daerah, kuliahnya Prof Tommy bicara > >masalah > >> >dependensi vs independensi vs interdepedensi (terkadang ada bicara > >> >aliran pesisir timur US), kuliahnya Prof Djoko bicara incremental vs > >> >comprehensive planning. Kalau di milis kita dulu ada debat mazhab > >> >discretionary vs regulatory system, ekonomi neolib vs bejo, nggowes > >vs > >> >ngojek, dst. > >> > > >> >Untuk mazhab LA saya kurang tahu, bisa kita tunggu penjelasannya dari > >> >Deden, Mulia, dkk. Untuk Chicago memang anti sejarah dan kearifan > >lokal, > >> >konstruktif, dan mengawali era modernisasi abad 20. Jadi mazhab Yogya > >> >adalah antitesis dari Chicago. Demikian pak. Salam. > >> > > >> >-ekadj > >> > > >> > > >> >--- In [email protected], Risfan M risfano@ wrote: > >> >> > >> >> Rekans ysh, > >> >> > >> >> Pak Eka, Pak Djarot, sebetulnya yang diomongin itu Mazhab apa sih? > >> >> > >> >> Kalau dicompare dgn mazhab Chicago, LA, itu juga mazhab apa? Selama > >> >saya sekolah PWK kok belum pernah dengar? (Yang saya ingat kok cuma > >> >kasus Land Use Plan -nya Chapin?) > >> >> > >> >> Salam, > >> >> Risfan Munir > >> >> > >> >> > >> >> Pada Sab, 30 Jan 2010 00:54 CST ffekadj menulis: > >> >> > >> >> > > >> >> >Pak Risfan dan Referensiers ysh. > >> >> > > >> >> >Saya berusaha menangkap pandangan Pak Risfan berikut, dan intinya > >> >telah > >> >> >meramaikan diskusi kita sepagi ini tentang pe-mazhab-an pemikiran. > >> >> >Sebelumnya saya menanggapi mengenai 'Barat menuduh Barat', hanya > >> >berupa > >> >> >fasilitasi pemikiran terhadap rekan-rekan yang sedang atau telah > >> >belajar > >> >> >di tempat munculnya berbagai pandangan itu; dengan berharap ada > >> >> >umpan-balik yang signifikan tentang apa yang mereka pelajari dan > >> >> >manfaatnya bagi bangsa Indonesia yang diwakili oleh 500+ peserta > >> >milis > >> >> >ini. Tidak semuanya gayung bersambut kata berjawab, sehingga dapat > >> >> >memunculkan banyak pertanyaan lain, seperti misalnya harapan itu > >> >bapak > >> >> >tuliskan dalam komentar di bawah. > >> >> > > >> >> >Berikutnya masalah sumber pemikiran, filsuf dan moralist Adam > >Smith > >> >> >malah didewakan sebagai 'dewa ekonomi', padahal dia bercerita > >tentang > >> >> >fenomena sosial dan moral. Biolog Patrick Geddes kita dewakan > >sebagai > >> >> >'dewa kota', dst. Dengan kata lain 'penafsiran' telah memegang > >> >peranan > >> >> >penting dalam mengembangkan dan menguraikan ilmu pengetahuan. > >Dalam > >> >hal > >> >> >ini sebagaimana yang bapak maksudkan: bersekutu, melakukan > >> >perlawanan, > >> >> >atau berjalan sendiri? Tapi memang begitulah caranya dinamika itu > >> >> >berjalan. Pak ATA sudah beberapa kali mengingatkan: buat teori > >> >sendiri > >> >> >untuk Indonesia! > >> >> > > >> >> >Masalah mazhab, sebagaimana saya sebutkan lebih maju dari > >paradigma, > >> >> >namun sebenarnya juga lebih santun dibandingkan dengan pola > >> >pro-kontra > >> >> >yang selama ini berkembang dalam masyarakat (akademis). Saya > >kurang > >> >> >kompeten mengatakan, bila paradigma kurang berkembang selama ini > >> >apalagi > >> >> >pada pembentukan mazhab, rujukan saya Pak Hendro > >> >> ><http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2306> . > >> >> > > >> >> >Mengenai 'kearifan lokal', memang banyak sekarang program dan > >proyek > >> >> >yang menggunakan istilah itu; namun apa makna yang digunakan, > >setelah > >> >> >saya intip, belum punya landasan akademis. Memang mengenai > >'istilah' > >> >> >bisa digunakan bermacam-macam, seperti contoh hikmah dari > >> >vernacularitas > >> >> >yang saya temukan seminggu ini: sesuatu ketika berada di tangkai > >> >disebut > >> >> >'bulir', namun ketika dipanen disebut 'padi', kemudian setelah > >> >ditumbuk > >> >> >dan ditampi disebut 'beras', dan setelah dimasak dinamakan 'nasi', > >> >kalau > >> >> >digoreng namanya 'nasi goreng', dan setelah dimakan dan > >dikeluarkan > >> >> >namanya 'ampas'. Bendanya itu juga. > >> >> > > >> >> >Tentang Mazhab Yogya, pertama ini adalah pengakuan identitas dan > >ada > >> >> >pengumuman tentang hal itu. Saya hanya mengakui keberadaan > >> >'identitas'. > >> >> >Kedua, adalah hal ini cukup beralasan dan melalui diskusi yang > >> >panjang > >> >> >pada tahun lalu. Ada konsep yang kuat dan kalau boleh dibilang > >sudah > >> >> >mentoq, seperti kutipan > >> >> ><http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/9026> ini. Dalam > >> >> >postingan lain, saya cari ndak nemu, ada pernyataan bila Yogya > >berani > >> >> >menolak eksternalitas untuk mempertahankan kearifan lokalnya. > >Ketiga, > >> >> >fenomenologi yang menjadi dasar metodologi mazhab sebenarnya juga > >> >tidak > >> >> >asli pendekatan Barat, lebih pada konsep kebatinan tradisional > >> >(wening) > >> >> >yang mencari jejak pada akar keilmuan modern; karena dalam ilmu > >> >> >fenomenologi aslinya masih mau menerima eksternalitas. Jadi > >> >metodologi > >> >> >ini tipikal in situ. Keempat, memang ada beberapa orang ahli yang > >> >> >(katanya) bersepakat tentang hal itu. > >> >> > > >> >> >Saya kira ini sedikit penjelasan tentang pengenalan saya terhadap > >> >mazhab > >> >> >ini. Mohon koreksi dan tuntunan dari para sesepuh. Sementara > >demikian > >> >> >dulu. Salam. > >> >> > > >> >> >-ekadj > >> >> > > >> >> > > >> >> >--- In [email protected], "risfano" risfano@ wrote: > >> >> >> > >> >> >> Uda Ekadj dan Rekans ysh, > >> >> >> > >> >> >> Menurut saya Uda Eka yang selalu menulis nama Faucault, Bateson, > >> >etc > >> >> >apakah juga bukan "Barat menuduh Barat". > >> >> >> > >> >> >> Persoalannya menurut saya bukan Barat vs Lokal. Itu persoalan > >beda > >> >> >paradigma.Sesungguhnya dua kubu berlawanan itu (ada juga sih > >proyek > >> >> >bersamanya), adalah kubu Fakultas Ekonomi vs FISIP, Fakultas Ilmu > >> >> >Budaya. > >> >> >> > >> >> >> Murid-murid Adam Smith dkk ada di FE, murid-murid Marx, > >Faucault, > >> >dkk > >> >> >(maaf sebetulnya saya tidak tahu) ada di FISIP, FIB. Di antara > >mereka > >> >> >tidak ribut, karena sudah berjalan puluhan tahun sehingga > >'sepakat' > >> >> >memahami "ilmuku is ilmuku, ilmumu is ilmumu." Kita sebagai > >Planner > >> >> >(yang belajar ekonomi, budaya setelah S2/S3) sebaiknya > >"memanfaatkan" > >> >> >hasil-hasil pemikiran mereka, jangan justru terjebak dalam > >"kutukan" > >> >> >ilmu mereka. > >> >> >> > >> >> >> Dunia mengenal pasang surut, "what goes up, must come down", > >begitu > >> >> >kata syair lagu soul Spinning Wheel. Era sebelum kemerdekaan > >(30an, > >> >> >40an) Dunia Ketiga disemarakkan ideologi nasionalisme, sosialisme, > >> >anti > >> >> >kapitalis. Setelah Era kemerdekaan (50an, 60an) era konsolidasi > >> >negara > >> >> >baru, lalu pembangunan (ekonomi). > >> >> >> > >> >> >> Di negara kita, sewaktu berjuang semuanya sepertinya satu > >tujuan, > >> >tapi > >> >> >awal 60an, politik jadi panglima, geger terus, pawai terus, "perut > >> >> >diganjal gombal (pidato)". Paro kedua mulai pembangunan ekonomi. > >> >Memberi > >> >> >makan 180 juta penduduk, menciptakan lapangan kerja, tentunya > >perlu > >> >> >"visi, misi yang pasti, persatuan, kestabilan", apalagi waktu itu > >> >> >ancaman sparatis masih laten bisa terjadi. Era pembangunan > >> >menjalankan > >> >> >misinya. Dan selanjutnya "kekuasaan" yang terlalu kuat menimbulkan > >> >ekses > >> >> >"KKN". Maka kondisi menjadi matang untuk bangkitnya era baru, Era > >> >> >Reformasi. > >> >> >> > >> >> >> Perlawanan atas "kekuasaan model Orde Baru" menguatkan ide > >> >reformasi, > >> >> >demokratisasi, desentralisasi. Di bidang kebijakan publik, > >> >perencanaan, > >> >> >FISIP/FIB membawa angin baru pula. Dan, ternyata tidak tipikal > >> >> >Indonesia. Gejala "anti rasionalisme ekonomi, anti globalisasi" > >ini > >> >> >rupanya juga gejala global. Buktinya terjadi dimana-mana. > >> >> >> > >> >> >> Masalahnya tetap: bagaimana memberi makan, lapangan kerja, > >tempat > >> >> >tinggal layak, bagi 250 juta manusia Indonesia ini. > >> >> >> > >> >> >> Sekali lagi, kita Planner/Arsitek, pinter-pinter lah > >> >"memanfaatkan", > >> >> >jangan kena "kutukan" ilmu ekonomi (kapitalis) atau ilmu sosial > >> >(ist), > >> >> >atau sinkretisme, pemujaan masa lalu. Orang FE dan FISIP/FIB saja > >> >yang > >> >> >ilmunya jelas bertentangan rukun-rukun saja. > >> >> >> > >> >> >> "Rational Planning Method" (RPM), katanya terlalu mekanistik, > >> >> >kuantitatif, deterministik gantinya diharap ganti dengan yang > >> >> >"partisipatif, berbudaya, mengandung kearifan lokal". Saya kira > >gak > >> >gitu > >> >> >lah. Masing-masing punya ruang geraknya masing-masing. Kita > >Planner > >> >> >sebaiknya bisa menggunakan keduanya sesuai kebutuhan. RPM, lebih > >> >tepat > >> >> >untuk skala luas, pendekatan partisipatif berbasis komunitas > >> >kebanyakan > >> >> >dibangun dari pengalaman di level community. > >> >> >> > >> >> >> Salam, > >> >> >> Risfan Munir

