Milisters ysh,
Mengembangkan wacana awal  ttg ide Komisi Nasional dikaitkan dgn penataan ruang 
kiranya perlu  dipilah menjadi ‘bab2’ terpisah spt ttg bentuk umum profil 
Komisi Nasional disatu sisi… kemudian dikaitkan dgn berbagai aspek spt teknik/ 
peraturan2 tata ruang itu sendiri dsb disisi lain, khususnya dikaitkan dgn 
lingkup agenda kerja/  kontrol Komisi Nasional dibidang itu, …..juga 
pembahasan/ uraian ttg kenapa perlu dibentuk Komnas Tata Ruang itu…….dsb dsb……
Kalau ttg bgmn cara mendirikan Komisi Nasional/ Independen ….banyak orang telah 
mengerti …. Pd umumnya rutenya ialah pertama2 ide awal dibahas dan dibuat 
setengah matang atau ¾ matang, baik oleh pihak Presiden (eksekutif) ataupun 
oleh pihak DPR (Legislatif) ataupun oleh kedua belah pihak ( dimana sebelumnya 
pembuat ide awalnya boleh siapa saja, yg lalu menyodorkannya baik kepada DPR 
ataupun kpd Presiden maupun sekaligus kepada kedua pihak)….. Setelah draft 
serta berbagai pernik revisinya baik menyangkutmenyangkut aspek hukumnya,  ttg 
program kerjanya/ anggarannya dsb saling disetujui oleh kedua belah pihak 
….maka pendirian dan pengesahan Komisi Nasional dilakukan oleh Presiden dgn 
sebelumnya DPR menyeleksi melalui fit n proper test para Komisionernya yg 
umumnya berjumlah ganjil (5,7,9)……… Komisi Nasional Independen bertanggung 
jawab kepada DPR, bukan kepada Presiden, dipilih sekitar tiap 4 atau 5 tahun 
sekali……... bekerja mengontrol
 aspek bidang khusus yg dijalankan oleh pihak eksekutif…….
Kalau disebut ttg Komisi Nasional Independen, maksudnya adlh bhw komisi itu 
dimaksudkan levelnya bersifat nasional dan dimaksudkan seharusnya sifat 
kelembagaannya adlh independen dan hanya bertanggungjawab kpd DPR sbg lembaga 
yg membentuknya…… Nama resmi yg dipakai sering hanyalah kata ‘Komisi’ saja spt 
misalnya Komisi Ombudsman, KPPU, KPI, KY dsb atau Komisi Nasional/ Komnas 
(Komnas HAM, Komnas Anak, Komnas Perempuan, KNKT dsb) dan sepertinya jarang yg 
mencantumkan kata independen didalamnya……..
Selain levelnya yg nasional, idealisme dari Komisi2 Nasional itu adlh wataknya 
yg independen, dimana diatas negara spt Indonesia yg pernah disebutkan sbg 3 
besar negara terkorup dunia tentu kata2 independen yg dimaksudkan agar dpt 
menjadi tauladan ttg good governance bisa mudah menjadi ejekan bg mereka yg 
usil, sinis atau biasa berpikir ngeres….. namun nyatanya lembaga2 tsb 
satu-persatu semakin menampakkan niatnya utk menuju cara berorganisasi yg 
bersih, seperti oknum2 didalamnya yg mencoreng namanya segera ditindak keras/ 
diajukan kepengadilan …tak sekedar menyangkut pegawai pd level bawah / menengah 
namun juga pd level komisionernya….. Irawady Yunus komisioner dari Komisi 
Yudisial yg terlibat korupsi/ KKN pengadaan lahan kantor dijatuhi hukuman 15 
tahun penjara,  Komisioner dari KPPU juga dibawa kepenghadilan, terakhir 2 
Komisioner dari Komisi Perlindungan Saksi jg ditindak keras krn kasus tiket ke 
Singapura dari Anggodo utk rencananya memeriksa
 Anggoro, jg terbaru adlh masalah seorang Direktur di KPK  yg ‘dosanya’ sekedar 
membolehkan terperiksa Wisnubroto mantan Jampidsus keluar gedung KPK melalui 
(dan mengantarnya sampai ke) pintu samping demi menghindari wartawanpun 
memperoleh sangsi, dan boleh jadi akan dikeluarkan dari KPK……….
Kalaupun bidang pembangunan ketataruangan di Indonesia memerlukan Komisi 
Nasionalmya pula… itu juga tidak berarti bahwa saat ini Komisi tsb dpt segera 
dibentuk  ……banyaknya kontroversi tajam seputar tafsir teori2 keruangan antar 
para pakar tata ruang  dan pemerhati tata ruang, serta masih banyak tercecernya 
agenda teknologi keruangan yg selain belum pernah diterapkan bahkan juga banyak 
yg belum pernah dibahas …akan membuat Komisi Nasional dibidang Tata Ruang ini 
kedodoran dan memalukan bila dipaksakan utk segera dibentuk pd saat2 ini….. krn 
itu yg diperlukan seblmnya adalah adanya suatu forum independen persiapan utk 
pembahasan berbagai aspek tata ruang shg disitu dpt diinventori berbagai aspek 
dan permasalahan tata ruang …..utk selanjutnya masalah tsb dpt 
diadministrasikan secara rapi dulu dan barulah rencana tsb diwacanakan lbh 
lanjut …utk pd tahap berikutnya lagi dpt dimatangkan, lalu disodorkan terserah 
apakah kpd DPR atau Presiden,
 atau kepada keduanya,  dan stlh melalui bbrp prosedur resmi konstitusional 
lalu dilahirkan dan bekerja ……dgn adanya wacana ttg  perlunya Komisi Nasional 
…setidaknya dimaksudkan agar para pihak menyadari bhw selama ini pembangunan 
atau kebijakan masalah ketataruangan di Indonesia berjalan tanpa memperoleh 
pengawasan/ kontrol/ koreksi/ konsultasinya yg memadai …dan itu kiranya 
merupakan salah satu sebab dari kegagalan/ kurang memuaskannya kemajuan yg 
diperoleh dari sisi pembangunan tata ruang di Indonesia……salam, aby
 
 


      

Kirim email ke