Pak Risfan ysh, terima kasih atas penjelasannya, tentunya ada kebaikan
dan kebajikan yang telah bapak sampaikan. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> Uda Ekadj dan Rekans ysh,
>
> Trims atas tanggapannya. Sedikit memproposionalkan, buku "Jurus Menang
dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati" itu ditujukan untuk
masyarakat umum, remaja hingga dewasa. Bukan untuk Planner semata, walau
(rahasia dapurnya) itu refleksi seorang Planner.
>
> Saya tulis di posting kemarin, terkait perlunya kesiapan Planner untuk
menghadapi berbagai jenis PERSEPSI orang yang selalu ditemui Planner
yang "multi-disiplin". Jurusnya, semua tujuannya baik, tapi tiap
disiplin punya kecenderungan. Biasanya ekonom cenderung pada
pertumbuhan. Ahli ilmu sosial dan ekolog, ilmunya cendering mengkritisi.
Kritik sosial, dampak lingkungan adalah sudut pandang mereka. Saya tidak
tahu ekonom, sosiolog, ekolog itu sekolahnnya bagaimana. Tapi sebagai
praktisi saya lihat begitu.
>
> Pertama, sebagai Planner mesti bersiap menghadapi mereka. Termasuk
menghadapi ahli teknik sipil yang kuantitatif, detail, atau arsitek yang
sebagian spt teknik sipil sebagian spt budayawan. Kalau anthropolog, di
kantor saya banyak, kebanyakan lebih cenderung mengkaji fenomena. Beda
dengan sosiolog yang pagi-pagi sudah mencium "ketidak-adilan".
>
> Tapi Planner tiap saat mesti siap ketemu berbagai PERSEPSI keilmuan
itu. Kedua, bagaimana Planner menghayati ke"multi-diplin"annya? Mungkin
kadang perlu menggunakan kacamata (persepsi) ahli teknik sipil, arsitek,
atau ekolog, ekonom, juga antropolog, sosiolog.
>
> Kembali ke buku saya, ada Bab ttg "Melepas Beban Penghambat
(Kemenangan)" intinya memaafkan masa lalu, memaafkan diri sendiri dan
orang lain. Lalu terakhir Bab "Mekar dengan Rasa Syukur" yang intinya
diilhami oleh "appreciative inquiry", suatu pendekatan psikologi sosial
untuk melihat "gelas setengah isi", daripada "setengah kosong". Ini
penting juga dalam fasilitasi/ pendampingan kepada kelompok masyarakat
atau Pemda. Kalau kita mulainya dari "identifikasi persoalan" seterusnya
akan beresiko negatif, lalu cari kambing hitam. Tapi kalau mulai dengan
"apresiasi/ identifikasi keberhasilan" yang telah mereka lakukan, maka
selanjutnya mereka bergairah mengungkapkan sukses, lalu kita pancing
"key success factor (KSF)" nya. Itulah mungkin yang disebut
good-practices atau mungkin kearifan lokal.
>
> Mengenai skenario +/- ada Bab "Menyusun Skenario", saya tulis umumnya
yang dipakai orang (Peter Scheward) ada 4, yaitu: (1) siklikal
(conjunctur kata ekonom) naik/turun secara periodik; (2) linier, satu
arah (naik terus, turun terus); (3) challenge-response, ada aksi diikuti
reaksi; (4) lane ranger, rambo - bablas saja tak peduli yang terjadi.
Ada skenario lain, seperti katastropik, dst. Skenario dibuat untuk
mengambarkan situasi mendatang dimana statistik tidak bisa, seperti
"keputusan pemimpin" atau hasil pemilu. Mudah-mudahan menjawab.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
> Pada Ming, 07 Feb 2010 10:30 CST ffekadj menulis:
>
> >
> >Pak Risfan ysh, maaf saya komentari dan belokkan sedikit ya.
> >
> >Saya tertarik dengan 'persepsi' Pak Risfan terhadap kajian ekolog dan
> >sosiolog yang terlatih melihat dampak (negatif). Kalau kajian ilmuwan
> >itu didasarkan pada survai etnografi, maka persepsi bapak menjadi
kurang
> >tepat. Berarti men-judge persepsi sosi0-kultur sebagai pandangan
> >pesimis. Namun saya setuju Pak Aby yang memberikan penghargaan kepada
> >postingan bapak ini sebagai suatu suara jujur, dan juga pesimis, di
> >tengah upaya bapak untuk mengibarkan optimisme. Jadi bagaimana
> >sebenarnya sikap perencana ini, apakah optimis atau pesimis? Atau
> >'tepu-tepu', seperti istilah yang saya dengar kemarin di Pontianak
> >sebagai 'lapis'?
> >
> >Saya buka saja satu kisah belasan tahun yang lalu, sewaktu saya
> >memperhatikan seorang rekan konsultan menyusun IKK. Dari data
penduduk
> >tahun evaluasi ditemukan trend tahun -5 dan -4 ada peningkatan sangat
> >kecil jumlah penduduk; tapi tahun -3 penduduk out-migration sampai
15%
> >(karena krismon), dan menurun pada -2 menjadi 5%, dan relatif stabil
> >pada -1. Nah dengan data ini, laju penduduk seharusnya minus, atau
> >proyeksi 20 tahun ke depan akan semakin kurang. Namun apakah 'etika'
> >kita mengajarkan sikap pesimis dalam perencanaan? Bukankah kita
> >seharusnya 'lapis' supaya ada 'kesan peningkatan' dalam pembangunan,
> >sehingga ada 'demand' lalu butuh infrastruktur dll?
> >
> >Sebenarnya saya melihat ada dua hal dalam pesimisme ini pak. Pertama,
> >perlu pengajaran tentang 'jurus kalah' atau 'jurus legowo' dalam
> >merencana.
> >
> >Kedua, perlu pengembangan skenario persepsi pesimistik dalam
membangun,
> >seperti bisa mengandalkan self-sufficient
> ><http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1487> -nya Toro,
atau
> >self-help <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/876> -nya
Pak
> >Wawo, atau 'ekonomi bejo' yang pernah kita diskusikan. Jadi seperti
> >memandang permasalahan kita di Jakarta contohnya, sejauh Ratu Adil
dan
> >Godot belum hadir, tetap akan selalu menjadi masalah. Atau ada rekan
di
> >milis ini yang menjadi Parikesit?
> >
> >Sementara demikian dulu pak. Salam.
> >
> >-ekadj
> >
> >
> >--- In [email protected], Risfan M risfano@ wrote:
> >>
> >> Pak Djarot dan Rekans ysh,
> >>
> >> Terima kasih atas apresiasinya. Mudah2an saya tidak terlalu percaya
> >atau GR dengan itu. Buku Samurai Sejati itu memang saya tulis
sebagian
> >besar sbg refleksi pengalaman mPlanning.
> >> Terutama sebagai konsultan kita tiap waktu menemui bowheer yang
> >berbeda, ketemu forum presentasi, seminar, workshop dengan orang
dengan
> >latar belakang macam2. Umumnya semua logika benar, tapi PERSEPSInya
> >beda.
> >> Cara pandang instansi ke-PU-an, Kemdagri, Pemda, Swasta, UKM, tentu
> >beda-beda, dan logic masing2 benar, karena Misi lembaganya memang
> >begitu.
> >> Apalagi tiap orang itu ilmu sekolahnya juga beda. Insinyur Sipil
biasa
> >detail, full rasional. Arsitek kadang rasional, tapi kadang muncul
sisi
> >senimannya, argumen kreatif. Ecolog, Sociolog yang terlatih melihat
> >dampak (negatif). Ekonom yang gandrung pertumbuhan, efisiensi dan
value
> >for money. Kadang ketemu birokrat full yg normatif tapi sangat
> >birokratis, kadang akademisi full, dst. Dan sebagai Planner
(celakanya)
> >harus presentasi di depan mereka semua. Apalagi sebagai konsultan hak
> >bicaranya juga sering dibatasi "harga diri" bowheer (yang can do no
> >wrong).
> >> Inilah seni memenangkan PERSEPSI, terhadap lingkungan, juga diri
> >sendiri.
> >>
> >> Tentu saja bagi yang bukan konsultan bermain PERSEPSI ini juga
> >penting, karena Planning selalu multi sektor, selalu melihatkan
> >'pertarungan' kepentingan antar instansi. Dan itu adalah wajar,
karena
> >semua literatur Kebjakan Publik di dunia juga mengisahkan pertarungan
> >kepentingan antar instansi (pemerintah), memperjuangkan misi, rebutan
> >kewenangan, ego sektoral, sulitnya koordinasi, dst.
> >> Bagaimana pula kita memperjuangkan agar ide TATA RUANG juga
PERKOTAAN
> >juga KELAUTAN masuk dalam benak pengambil keputusan, serta
masyarakat.
> >> Seperti kata pakar marketing Al-Ries, "We are living in the battle
of
> >perception, not product".
> >>
> >> Salam,
> >> Risfan Munir
> >>
> >>
> >> Pada Sab, 06 Feb 2010 14:02 CST Djarot Purbadi menulis:
> >>
> >> >Pak Risfan memang hebat !
> >> >
> >> >Pak saya masih terus belajar dan melatih jurus-jurus Samurai
Sejati
> >di buku hadiah dari Bapak itu. Saya sudah merasakan manfaatnya dan
yakin
> >sangat membantu saya dalam menghadapi "pertarungan" di segala medan
dan
> >skala pertempuran untuk "menang" sejati, yaitu berkembang bersama
> >sahabat-sahabat saya. Terima kasih atas berkah pencerahan yang boleh
> >saya terima lewat kepiawaian Pak Risfan !!!
> >> >
> >> >Salam,
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >Djarot Purbadi
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> >> >
> >> >http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> >> >
> >> >http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
> >> >
> >> >--- On Sat, 2/6/10, Risfan M risfano@ wrote:
> >> >
> >> >From: Risfan M risfano@
> >> >Subject: [referensi] Buku [1 Attachment]
> >> >To: "referensi" [email protected],
[email protected]
> >> >Date: Saturday, February 6, 2010, 5:22 PM
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> > [Attachment(s) from Risfan M included below]
> >> >
> >> >
> >> > Rekans ysh,
> >> >
> >> >Maaf numpang pesan. Untuk menjawab pertanyaan dari beberapa
Mahasiswa
> >dan Alumni PL-ITB dan rekan lainnya mengenai Buku saya, terutama yang
> >menyangkut Materi Presentasi saya yl,
> >> >A.l. menyangkut topik: From Good to Great, Merangkai Skenario
Menang,
> >Memainkan Keajaiban Mesin Waktu, Mata Elang dan Mata Cacing,
> >Berkompetisi dengan Berkoalisi (Coopetition) . Buku tersebut telah
ada
> >di TB Gramedia di seluruh tanah air.
> >> >Berikut saya attached Review Buku tersebut di madia massa Jurnal
> >Nasional, silahkan klik attachment.
> >> >Semoga menjawab pertanyaan dan bermanfaat.
> >> >
> >> >Salam,
> >> >Risfan Munir
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >> >
> >>
> >
> >
>



Kirim email ke