Milisters ysh,
Maaf mengulang membahas .....ttg pembangunan ‘sustainable’ city .......kalau
kita coba ikuti logika Doxiadis atau juga E. Budiharjo yg coba membagi kota
menjadi 2 elemen besar ialah ‘contain’ dan ‘container’ (Doxiadis, 1968) atau
‘city’ dan ‘citizen’ (E. Budiharjo).....bagi arsitek mungkin saja itu memadai
krn arsitek umumnya tak berurusan lbh lanjut dgn aktiviti manusia, nasib/ masa
depan penghasilannya, arah peran masa depan lbh lanjut dari sebuah kota
dsb......
Dlm kenyataannya selain terdapat ‘contain’ dan container’ atau ‘city’ dan
‘citizen’ .....bbrp hal kelewat penting (dlm pandangan perencanaan) yg
dilewatkan ditengahnya (bagi mrk mungkin tidak penting) adlh diantaranya
‘activity’ , ‘productivity’ dan ‘creativity’ ...yg brkali boleh trmasuk didlm
ketiganya ini edukasi, teknologi, inovasi, enjinering dsb)........ selain dlm
pandangan pihak lain lagi tentunya trdapat pula cara ‘pembagian’ kota yg
berbeda lagi.........
Bhw ada yg memandang “selama ini, lingkup pembangunan di Indonesia atau
mungkin bahkan sebagian besar dunia lebih berkonsentrasi pada lingkup
'container' semata yaitu wadah berupa pembangunan jalan, kawasan-kawasan
budidaya, dll...” ........rasanya banyak orang dpt menimbang bhw pandangan
tsb tidak tepat.........
Khususnya utk Indonesia ....apa yg terjadi setidaknya dlm 12 thn ini adlh
‘reformasi’ dlm banyak sendi kehidupan berbangsa dan bernegara .......demikian
banyak tatanan kehidupan yg berjalan sekian lama ini direview kembali dan
banyak yg ditata kembali........
Khususnya ttg pandangan bhw ‘pembangunan jalan’ dan ‘kawasan budidaya’ lalu
dianggap sbg ‘lbh merupakan konsentrasi pembangunan’ lalu akibatnya ‘melupakan’
pembangunan ‘contain’/ manusianya .............
Pembangunan jalan yg bisa diartikan dari yg paling rendah tingkatannya spt
pembukaan jalan baru didaerah terpencil yg dari semula tidak ada
.....peningkatan mutu ruas jalan dikota/ dikampung dari semula jalan tanah atau
jalan sekedar dikeraskan yg berdebu dikemarau dan becek dipenghujan lalu
menjadi all weather road yg terus kering, bersih dan tak berdebu baik dikemarau
maupun dipenghujan...... pelebaran jalan, pembuatan jalan tol ....peningkatan
mutu jalan yg semula tak memiliki trotoar/ pedestrian/ sidewalk dan pepohonan
pelindung serta bunga2an lalu semuanya dilengkapi ......semuanya itu justru dlm
rangka utk lbh memanusiawikan manusia .....dlm kerangka lbh membantu
mobilitas manusia agar lbh nyaman, lbh cepat dsb ....yg lalu dgn itu semangat
hidupnya, produktivitasnya ataupun kreativitasnya terus meningkat ........
Lalu ttg konsentrasi ‘lbh pd kwsn budidaya’ yg dikhawatirkan lbh dari pd
perhatian kpd contain/ manusianya? ......bgmn akan membayangkan manusia hidup
kalau ia tak memiliki pekerjaan dan penghasilan?......
Tak banyak prosentase manusia yg bekerja dan berpenghasilan lewat ‘permanent
employment’ sampai pensiun dan tutup usia ......banyak manusia yg hubungan
kerjanya tidak permanen .....bila terlambat hadir dipotong gaji .... ada yg
upahnya dibayar tepat sesuai produktivitasnya .....tak sedikit yg bekerja 3
hari nganggurnya 3 bulan dsb dsb....... jd kenapa kita tak dgn mudah mampu
merangkai hubungan erat antara kawasan budidaya dan upaya perbaikan nasib dan
karakter manusia? .......lalu agar stlh itu manusia semakin mampu bersikap
manusiawi?........
Ttg ‘pembangunan manusia’ ......kiranya dihrpkan setidaknya lbh dr 50% proses
dasarnya dibentuk dirumah tangga .....para orangtua tak hanya
bertanggungjawab melahirkan dan membesarkan anak saja ...setelah itu barulah
negara dgn model aturan dan sangsi hukum dan pendidikan umum dsb dgn berbagai
prasarana infrastruktur melakukan pembangunan karakter manusia ....... atau
kalau menurut Churchill ......kota membentuk manusia ......selain jg
sebaliknya manusia membentuk kota ........krnnya marilah tak usah ragu utk
bersama2 membangun kota dan perekonomian kota secara baik .....idealisme
lainnya pd gilirannya nyusul ganti memperoleh konsentrasi perhatian penuh oleh
kita semua .........salam,
aby