Rekans, pengalaman saya selama berkecimpung di daerah ... pengalaman sebaik apapun ternyata sangat tergantung kepada orang yang mengendalikan .... dan itu sangat tergantung kepada "kepentingan" dari pengendali... saat terjadi konflik dengan kepentingannya ... rusaklah semua permainan yang cantik ...
Teori yang kata orang Jawa ndakik-ndakik ternyata bukanlah sebuah jawaban. Yang penting adalah kejernihan hati dan kjemauan berbuat baik... dan sekali lagi yang penting adalah tidak terjadi konflik dengan kepentingannya. Bahkan terjadi sebuah diskusi menarik di sebuah warung cakrukan di bagian selatan Jogja, ada seorang pejabat eselon 2 yang saat ini bercita-cita hanya ingin menjadi seorang kepala desa .... dan dia benar2 ingin membuktikan bahwa hanya hati bersihlah yang menjadi penyebab semua keriuhan itu ... bukan teori yang salah dan bukan pula aturan main yang keliru ... tetapi yang penting hati yang jernih. Beranikan kita BENAR2 mau melihat diri kita secara jujur bahwa kita sudah bersih ... mungkin ini jawabannya .... tanpa menunjuk orang lain. Just I and the One. Ini hanya pengalaman saya lho ... tetapi ternyata saya juga mendapatkan dari Walikota Ambon, juga sama dengan Walikota Balikpapan, juga dengan Bupati Jembrana yang sempat ngobrol. Semoga itu tidak berarti bahwa Indonesia adalah negara jagung beleduk. Hanya sekali meledak terus kempes. Maaf saya bukanlah seorang pesimis tetapi saya harus mengakui itu sebagai sebuah kenyataan. Saya juga sudah mulai jenuh dengan seluruh teori2 yang mengajukan ini akibat itu dan itu akibat ini ... tetapi inti persoalannya tidak pernah disentuh ... yaitu diri kita sendiri. Salam bambang

