Terus terang ak bingung deh...dari kesempatan awal forum ini di sebut forum 
bebas. Tapi sepertinya harus di batasi dengan kalimat "Lalu saya sebagai 
pembaca berucap dalam hati: kalau isinya cuma itu, ngapain ngereplay, menuh2in 
inbox saja" kalimat yang mengarah pada ekslusifisme. Saya sngat mengagumi pak 
BTS dan pak Ukon walau tidak pernah ketemu hanya membaca dari tulisan2 bapak 
berdua. Tapi dalam hal ini saya kurang sependapat dengan bahasanya menurut saya 
kurang menunjukkan "emphaty". Kerelaan hati kita untuk melihat inbox kita 
beratus2 bahkan beribu2 inbox ucapan duka tidak sebanding dengan kdukaan 
keluarga mereka di tinggalkan orang yang di cintai. Bahkan emphaty sekarang 
menjadi bagian penting dari perencanaan wilayah loh. 
Setahu saya "empahty" itu merupakan bagian penting dari seorang planner. Dengan 
emphaty kita bisa mendengarkan dan mengetahui apa yang diinginkan dari 
sekelompok resident terhadap neighborhood mereka. Karena planning sudha 
bergeser paradigmanya dari sekedar "planner membawa rencana dari pkiran utopis" 
kemudian menerapkkan rencana itu di sebuah wilayah kepada planner itu membantu 
masyarakat menciptakan lingkungan  yang nyaman buat mereka. Jadi Emphaty itu 
sangat penting guna mendengarkan pendapat orang2 awam meskipun terkadang 
terlihat bodoh bagi kita. 
Sya berpikir positif bahwa Pak BTS dan Pak Ukon bermaksud agar kita para milis 
melakukan sesuatu secara nyata untuk didiskusikan di milis misalnya kita adakan 
tahlilan bersama, ato iuran untuk membantu keluarga yang di tinggalkan ato 
sejenis aksi nyata dari sebuah simpati.  Kalo yang itu mungkin koordinator bisa 
mempertimbangkan,


Terima kasih,

--- On Thu, 3/4/10, ukonisme <[email protected]> wrote:

From: ukonisme <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: berita duka,.. untuk siapa?
To: [email protected]
Date: Thursday, March 4, 2010, 12:16 PM















 
 



  


    
      
      
      












Mohon izin ikut urun rembuk,

Apa yg menjadi sorotan pak BTS itu menurut saya lebih pada etika bermilis. Saya 
memberikan ilustrasi meskipun tidak persis sama: Ibarat si A yang membalas 
email si B yang panjang berargumen, tapi si A hanya membalasnya dengan: "saya 
setuju..." Lalu saya sebagai pembaca berucap dalam hati: kalau isinya cuma itu, 
ngapain ngereplay, menuh2in inbox saja.

Mengenai email berantai ungkapan duka cita, bagi saya sendiri itu merupakan 
sesuatu tradisi yang baik dalam kita bermilis. Kepedulian kita tentu tak hanya 
bisa nampak dlm bahasa lisan atau tindakan tp antara lain juga bisa 
diekspresikan dlm bahasa tulis, sekalian mengingatkan diri sendiri bahwa kita 
semua ini juga fana adanya.

Namun sayang jika isi email dukacita itu hanya sekedar : "saya juga ikut 
berbela sungkawa" dan sejenisnya. Alangkah lebih baiknya jika di samping 
ungkapan duka cita tsb sang penulis email jg menambahkan dengan misalnya 
mengulas kebaikan2 almarhum semasa hidup, karya2nya, pengalaman personal kita 
dgn almarhum yg menggugah yg layak dibagikan ke pembaca lain, dll. Dengan itu 
saya yakin posting duka cita menjadi lebih bermakna.

Salam. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®From:  "ffekadj" <4ek...@gmail. com>
Date: Thu, 04 Mar 2010 10:42:38 -0000To: <refere...@yahoogrou ps.com>Subject: 
[referensi] Re: berita duka,.. untuk siapa?

 



    
      
      
      

Pak BTS ysh, saya kira kita merupakan keluarga besar, yang memiliki

keterkaitan satu sama lain. Apakah dalam profesi, seperguruan, semeja

dalam perundingan, pernah satu angkot ke Dago, penyimak yang baik,

penanggap yang santun, dll. Kehadiran seseorang dalam kehidupan, walau

sekilas telah memberikan makna simbolik tertentu, yang dapat kita

tempatkan di dalam hati sebagai: teman, saudara, murid, seteru, pacar,

junior, orang yang dituakan, musuh, dst. Karena simbol-simbol ini

berinteraksi dalam berbagai makna, maka secara tidak disadari telah

terbangun jembatan semiotik. Hal ini tidak bisa dihilangkan begitu saja

walaupun maut memisahkan, sehingga ada pepatah yang mengatakan: harimau

mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan budi. Maksudnya agar

'kesan' atau makna semiotik dapat dikembalikan pada posisi manusia yang

dha'if.



Bagaimana menempatkan interaksi antar individu ini, katanya sih,

diajarkan melalui pelajaran etika dan moral, sebagian besar di antaranya

terangkum dalam norma agama, seperti dalam Islam disebut dengan akhlaq.

Semua pelajaran itu mengajarkan tentang kerelaan dan keikhlasan dalam

hubungan antar manusia, karena relasi semiotik sangat mampu

menggerak-gerakkan hati manusia. Ketika kita berhadapan dengan Sang

Khalik, sebenarnya kita mengharapkan status ikhlas dan fitri yang

terlepas dari berbagai prasangka manusia dan hal-hal keduniawian

lainnya. Karena itu biasanya siapapun yang sudah merasakan dekatnya

ajal, selalu berkebiasaan meminta maaf, yang maksudnya: mengharapkan

keikhlasan dari siapapun yang pernah terkait dengannya baik langsung

maupun langsung. Bagi kita yang tidak tahu kapan datangnya ajal,

dituntun untuk selalu meminta maaf dan memaafkan serta membangun

keikhlasan, karena yang namanya ajal adalah tidak terduga. Karena itu

biasanya bagi keluarga almarhum, selalu memintakan maaf dari khalayak,

bilamana ada salah-laku yang kurang berkenan; dan bila adapun

hutang-piutang agar diselesaikan sebelum sang mayit masuk ke alam kubur.

Sejak ayah saya meninggal 3 tahun yang lalu, sampai sekarang bila

bertemu dengan orang-orang pernah dekat atau mengenal beliau, saya

selalu memintakan maaf dan mohon keikhlasan untuk almarhum.



Bagi kita yang pernah kenal dengan almarhum, adalah pada tempatnya untuk

memaafkan dan mengikhlaskan, dan kalau dapat mendo'akan almarhum supaya

dapat diampunkan, diterima amalnya, dan Sang Khaliq berkenan

menempatkannya di tempat terbaik. Memang hal ini bisa kita lakukan di

dalam hati, namun lebih baik bila dilisankan atau dinyatakan, sehingga

selalu terukir dalam ingatan, dan menjadi pelajaran hidup juga bagi kita

di dunia ini. Fenomena menyampaikan ungkapan itu di milis memang

merupakan fenomena baru, dari ritual nyata masuk ke dalam ritual maya.

Sebagai moderator sulit juga untuk menghempang gejala ini, karena

memiliki landasan wasilah serta dasar moral dan etika.



Jadi demikian pak, saya hanya meneruskan dari pengamatan, dan tentunya

tidak ada maksud lain. Mudah-mudahan ada guru di milis ini yang berkenan

memberikan pandangan yang mencerahkan. Saya mohon maaf dan keikhlasan

pak bila ada hal-hal yang kurang berkenan. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Bambang Tata Samiadji <btsamiadji@ ...>

wrote:

>

>

> Dear all.

> Â

> Kalau ada anggota milis yang mendahului kita, ada rasa duka 

mendalam. Oleh karena anggota milis yang anggota buaanyak, seringkali

tidak mengenal secara pribadi dan tidak kenal muka. Jadi bingung

bagaimana mengekspresikan rasa duka itu. Biasanya anggota milis

menyatakan rasa empati itu dengan menulis "turut berduka cita" dengan

doa-doa khusus bagi keluarganya dan diakhiri dengan kata AMIN. Kalau

semua anggota milis ingin menyatakan rasa dukanya lewat milis, kapan

selesainya?

> Â

> Apakah itu efektif (ada sambung rasa)? Sementara yang meninggal pasti

tidak bisa membaca, keluarganya juga tak mungkin buka milis, kalaupun

buka juga tidak tahu siapa yang ikut berduka. Jadi yang tahu cuma

anggota milis saja... atau semacam unjuk rasa saja di antara anggota

milis sendiri... tapi tak ada hubungannya dengan yang berduka.

> Â

> Pak Mod, mungkin ada cara yang lebih  mengena.

> Â

> Thanks. CU. BTS.

> Â

> Â Â

>

> --- Pada Kam, 4/3/10, Wanto None kus_...@... menulis:

>

>

> Dari: Wanto None kus_...@...

> Judul: Re: [referensi] berita duka

> Kepada: refere...@yahoogrou ps.com

> Tanggal: Kamis, 4 Maret, 2010, 2:49 AM

>

> Meski tidak mengenal beliau, tapi hati ini turut berduka. Hanya doa

semoga arwah beliau di terima disisiNya. amin





    
     

    










    
     

    
    


 



  











      

Kirim email ke