Milisters ysh,
Satu perbedaan besar lagi antara enjinering penataan ruang dikawasan maju dan
dikawasan tertinggal adalah .....bhw bila dikawsn maju faktor SDM (sbg faktor
utama aktivitas pembangunan) dan faktor kapital/ investment tanpa perlu
disuruh2 telah dgn sendirinya datang membanjir dari mana2 (SDM dari daerah2,
kapital dari LN/ domestik) ......lalu aktivitas mrk menyebabkan peningkatan
pesat perkembangan kota ...yg lalu krnnya PR disini perlu lbh banyak
berfungsi ‘mengendalikan’ lbh daripd ‘mendorong’ pengembangan kota
.........Sementara itu dikawasan tertinggal/ dikawasan kurang maju ...masalah
menarik kedatangan SDM khususnya SDM kelas menengah atas (dari kawasan maju)
dan masalah menarik kedatangan investasi (dlm rangka keduanya sbg komponen
utama pendorong pengembangan kota) bukanlah perkara mudah atau d/p/l itu
adalah masalah strategis yg amat sulit/ memerlukan syarat2nya yg tertentu
........ yg krn itulah maka sdh
seharusnyalah kalau disini PWK perlu meletakkan masalah ini sbg salah satu
agenda enjinering ruang yg sgt penting ....dan bukannya terus menerus
menonjolkan disini PR/ PWK lbh sbg produk legal regulatorik ......krn masalah
ruang dikawasn tertinggal tak sama atau bahkan terbalik banyak logikanya dgn
kawasan2 maju........
Krn itu sekali lagi demi utk dan karena sebab 85% kawasan tertinggal kita itu
......maka PWK sbg teknologi dan sains enjinering ruang beserta masyarakat
intelektualnya (yg semula lbh banyak berorientasi dikawasn maju 15% dgn
pengedepanan ‘pengendalian’ dan produk legal regulatoriknya) .......selain
perlu mulai lbh banyak menswitch titik berat pemikirannya kesini (kwsn
tertinggal) ......diperlukan pula switching (kebiasaan) pemikiran bhw PWK bukan
lagi sekedar masalah utama produk legal regulatorik dan sekedar masalah
enjinering ‘pengendalian’ penataan ruang yg normatip dan pasip (arogansi jg
jangan sampai dimunculkan oleh otoritas keruangan) ......krn kalau dikwsn
maju paradigmanya adlh ‘pengendalian’, shg para pemanfaat ruang (perkotaan)
lbh butuh kpd otoritas keruangan (maka aplg kalau otoritas tdk lalu cenderung
arogan)......sementara itu sebaliknya .......dikawasan tertinggal SDM unggulan
dan kapital
perkotaan tak ‘kan semudah itu datang dan beraktivitas ....walau otoritas
keruangan datang meminta sambil menyembah........