Milisters ysh,
Serba sebaliknya dari apa yg ada dikawasan maju .....dikawasan tertinggal,
PWK selain perlu lbh berunjuk gigi dgn aspek enjineringnya berupa karya2
nyata lbh drpd ‘karya2 abstrak’ aspek legal regulatorik serta
'pengendalian'nya ......otoritas, akademisi dan profesional PWK juga perlu
membalikkan sikapnya dari yg biasanya menjadi pihak yg dibutuhkan .....agar
menjadi pihak yg ramah dan persuasif kpd para investor, SDM kelas menengah ...
juga perlu lbh mengakrabkan diri dgn dunia/ psikologi industri,
kewiraswastaan/ entrepreneurship pada umumnya serta manufaktur pd khususnya
........oleh krn walau pedoman dasarnya tetap sama ialah RTRWN, RTRW, RPJM dsb.
namun paradigma ‘pedoman kerja nyata’ hari2 utama PWK dikawasan tertinggal
lalu utamanya bukan lagi sbg ‘regulator’ (dgn seperangkat alat2 hukum,
perundangan dan peraturan) ........ namun terbalik menjadi ‘kreator’ bahkan
‘organizer ’ ......dimana krn itu PWK perlu tak hanya terpaku kaku pd
singkatan2 akrab dan ‘sakral’ hari2 spt RTRWN, RTRW, RPJM dsb itu ....namun
perlu lbh mengakrabkan diri dgn singkatan2 baru aneh, rada longgar, asing, dan
liar berikut ini :
........(1) REMSDM atau rencana ‘enjinering ttg bgmn memigrasikan SDM kelas
menengah atas’ dari kawasan maju utk diupayakan ditarik/ didorong pindah
menuju kawasan tertinggal (atau = enjinering bgmn memindahkan manusia SDM
kelas menengah dari habitat lama yg nyaman dikawasan maju pindah ke habitat
baru yg serba tertinggal) ...... utk ini kaitan kebutuhan yg tak terpisahkan
adlh pekerjaan dan gaji yg tetap tinggi yg ini dpt dijawab dgn industri
manufaktur dan lingkungan/ arsitektur serta infrastruktur kota yg relatif
lengkap...............
........(2) REPIKM atau rencana enjinering utk mendorong penanaman/
pemindahan sebagian investasi dari kegiatan2 (industri 2) memimpin yg memusat
dikawasn maju agar memindahkan sebagian kecilnya saja (shg samasekali tak
mengganggu kinerja totalnya) kekawasan tertinggal ...........sbg ujung tombak
pemicu aktivitas awal dikawasan tertinggal (diperlukan seleksi, bukan asalkan
sebarang industri yg tak meyakinkan potensinya lalu disuruh pindah) .... ini
berkait erat dgn poin (1) diatas
..........(3) REUPKB atau rencana enjinering utk mengupayakan berkembangnya
kota2 besar/ utama dikawasan tertinggal agar menjadi kota2 besar yg dinamis,
menjadi kota utama bisnis dan berperan penuh sebagai bagian dari ‘mesin
pertumbuhan dan mesin perekonomian nasional kita ....... poin (3) ini
diperuntukkan kpd poin (1) dan jelas tak terlepas dari aspek penggalakan
arsitektur dan lingkungan serta upaya agar kota2 utama diwilayah tertinggal
juga a.l. dpt lebih bertampang kota modern/ internasional .....dgn atribut yg
mudah dikenali dan disukai para bisnisman spt ttg perlu adanya (sebanyak2)
pencakar langit dan berbagai atribut2 lain pd umumnya ttg kota modern) agar ia
semakin menarik bagi investasi baik oleh domestik maupun asing ........
Dgn demikian jelas bhw bbrp kata2/ kalimat2 kunci paradigma Penataan Ruang
dikwsn tertinggal yg adalah sekitar 85 % wilayah nasional kita adalah al.
........ (1) ‘penggalakan’ enjinering pembentukan ruang kota (besar) yhg
konkrit lbh utama daripada pedoman ‘pengendalian’ PR berupa produk legal
regulatorik, normatif dan pasif dan abstrak
.......(2)enjinering utk memigrasikan SDM kelas kreatif/ kelas menengah/ kerah
putih/ intelektual sbg kandidat pelaku utama perekonomian maupun sosial budaya
kawasan
.......(3)enjinering filialisasi industri memimpin/ enjinering persemaian
industri manufaktur shg kawasan tertinggal berangsur menjadi lbh maju krn
berkembangnya budaya industri manufaktur perkotaannya sbg dasar pengtgerak
multiplier effectsektor lainya yg luas
........(4)enjinering ttg proyeksi pengembangan desain serta size kota2
tertentu terbatas sbg titik berat konsentrasi tapak pengembangan enjinering
migrasi SDM unggulan dan enjinering trans-investasi dari kawasan
maju.............agar kota2 besar tertentu dikawasn tertinggal menjadi kota2
besar yg vital dan maju
.........(5) janganlah terlampau terpaku terus kpd masalah tataruang
nonperkotaan spt a.l. masalah tumpangtindih kehutanan dan agrikultur, perusakan
lingkungan dan semacamnya ......krn itu bukanlah satu2nya agenda ter
penting tata ruang diwilayah .........dan perlu diingat bhw luas tapak utk
ruang kota2 besar dikawasan tertinggal hanyalah amat sangat kecil prosentasenya
(<3%?) dibanding total luas wilayah dari kawasan2 tertinggal kita
itu......namun demikian fungsinya sbg penggerak dinamika eksosbud diwilayah
amatlah sangat vital luar biasa .......dan selama ini amat sangat dijauhi, tak
dipahami dan krnnya diterlantarkan.........salam,
aby