Bung Aby, Sejarah memang hanyalah sebuah cerita atau catatan masa lalu yang tidak bisa kita rubah lagi, namun harus juga dipahami bahwa sejarah juga memberikan dampak kepada masa kini. Apa yang terjadi kemarin, minggu, bulan, tahun, abad lalu merupakan awal dari apa yang terjadi sekarang. Kita tidak mungkin ada didunia jika tidak ada sejarah percintaan antara kedua orang tua kita, dll. Membandingkan apa yang terjadi pada masa lalu dengan masa kini memang tidak dapat kita lakukan secara kasar sebagaimana yang anda ungkapkan. Jumlah penduduk yang sangat jauh perbedaan jumlahnya, kondisi sosial dan ekonomi, faktor eksternal dan internal juga sangat berbeda. Namun perlu diingat juga pada zaman dulu Gajah Mada belum dibekali peralatan komunikasi yang super canggih sebagaimana saat ini. Untuk mengkoordinir pasukan atau kerajaan-kerajaan bawahan yang tersebar di pelosok nusantara, membutuhkan berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan untuk menyampaikan informasi. Bandingkan dengan sekarang, untuk menginformasikan kebijakan Presiden/Menteri ke seluruh Kepala Daerah diseluruh Indonesia hanya membutuhkan waktu dalam hitungan menit melalui Telepon, Fax, email, dll. Untuk mensejahterakan rakyat zaman dulu belum ada teknologi rekayasa pangan, semua dilakukan secara tradisional dan belum ada institusi pendidikan pertanian, pangan, atau apapun sebagaimana saat ini begitu banyak perguruan tinggi yang mempelajari teknologi pangan dengan kondisi tanah yang (katanya) subur, tapi beras tetap saja harus impor. Belum lagi mekanisme distribusi ke seluruh wilayah di nusantara zaman Gajah Mada untuk mendistribusikan pangan dari suatu lokasi ke lokasi lain perlu berhari-hari bahkan berbulan-bulan, sekarang teknologi transportasi dengan mudah menjangkau daerah-daerah terpencil sekalipun. Belajar dari sejarah menurut saya bukanlah untuk membandingkan kondisi pada zaman dulu dengan zaman sekarang, tetapi mempelajari filosofi dari para pelaku sejarah. Bagaimana aktor-aktor sejarah memposisikan dirinya dalam melihat potensi yang ada serta bagaimana beliau mengambil sebuah kebijakan dalam menghadapi masalah. Dari pelajaran tentang filosofi para pelaku sejarah tersebut kita dapat mengadopsikannya di dalam konteks masa kini. Semoga akan lahir Gajah Mada, Soekarno, Hatta, dan pahlawan-pahlawan lain dalam konteks masa kini untuk membangun kembali kejayaan Nusantara.
Wasalam, Iman Purwoto --- On Tue, 3/30/10, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: [referensi] Fw: Re: MAJAPAHIT, SEBAGAI NEGARA MARITIM To: "referensi" <[email protected]> Date: Tuesday, March 30, 2010, 1:35 PM --- On Tue, 3/30/10, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Subject: Re: [kebudayaan] MAJAPAHIT, SEBAGAI NEGARA MARITIM To: kebuday...@yahoogro ups.com Date: Tuesday, March 30, 2010, 6:18 AM Sebenarnya kurang enak kalau berdebat dimilis kebudayaan .....krn saya sbnrnya lbh senang menikmati saja membaca saja peristiwa2/ sejarah2 budaya dsb ......jadi mohon maaf kalau kali ini saya menanggapi.. ....... Semula saya mengira akan menikmati bacaan ttg sejarah maritim Majapahit (saja) tapi rupanya itu hanya separuh saja ... dan separuh berikutnya rupanya lbh mengemukakan tentang kritik atas kondisi memprihatinkan bangsa kit a sekarang.... ..... Maksudnya saya kira baik .....ialah ingin memberikan semangat agar bangsa kita bangkit kembali seperti pd masa jaya Majapahit dulu ......namun membandingkan Indonesia masa Majapahit dan Indonesia masa kini kok sepertinya kurang proporsional ya?......... . Setidaknya kalau jumlah penduduk ita saat ini 235juta dgn pertambahan pertahun sekitar 3.5 – 4 juta jiwa ........tapi pada tahun 1900-an atau 100-an tahun yl. ........penduduk kita barulah berjumlah sekitar 40-an juta jiwa........ dan pada abad 14 atau 600-an tahun yl kita bisa bayangkan berapa jumlah pendudk ‘Indonesia’ kala itu ......apakah ada 10 juta jiwa?....... . jangan2 juga tidak nyampe segitu ........siapa tahu baru sekitar 2juta jiwa saja?....... .... Bgmn Majapahit/ Gajahmada ‘menguasai’ / ‘mempersatukan’ nusantara sangatlah berbeda konteks dan kondisinya dgn bgmn angkatan 45 ‘memerdekakan’ nusantara ...........lawan dari Gajahmada adalah suku2 ‘bangsa sendiri’ .......yg belum tentu juga asalnya ‘lawan’ .....sambil berupa kerajaan2 kecil skala kampung/ kecamatan dgn jumlah penduduk tak banyak dan persenjataan serba sederhana ......lalu jangan2 tanpa sebab juga tiba2 main diserang begitu saja oleh gajahmada utk ‘disatukan’ dalam wadah ‘nusantara’ ........ Sementara itu angkatan 45 maupun angkatan2 sebelumnya seperti sejak angkatan 1928 hrs berjuang ‘membebaskan’ nusantara dari cengkeraman Belanda dlm kondisi persenjataan kita amat primitip dan Belanda dgn persenjataan lengkap serta modern...... . Kemudian ketika ‘nusantara’ (dgn jumlah penduduk tak sebanyak sekarang) disatukan oleh gajahmada ........mereka kala itu tidak diperas habis ......pd masa itu yg namanya kebutuhan hidup juga tidak seberat sekarang ....kala itu (masa majapahit) pastilah tidak ada SPP utk anak sekolah ..dan para orangtua tidak harus dibebani biaya utk anak harus kuliah di PT serta transport sehari2 .....hrs bayar listrik, telpon dsb......ingin punya rumah ya tinggal menebang pohon lalu mendirikannya ...tidak perlu uang muka KPR segala ....... Sementara itu ‘nusantara’ yg berhasil dibebaskan oleh angkatan 45 ....keadaannya sudah kurus kering bekas dijajah belanda 350 tahun ditambah dihisap habis oleh jepang 3.5 tahun .......lalu masih juga ditambah dibuat porak poranda selama 33 tahun oleh orba ........dan sekarang dgn susah payah sdg terus dicoba utk disejahterakan kembali ....... Krn yg lebih fair adalah brkali kita kenang saja Majapahit kita dulu sbg warisan sejarah..... ..dan kita optimis saja (sambil semuanya kerja keras) mudah2an pembangunan serta segala bentuk reformasi dipelbagai bidang/ sektor kehidupan kita sekarang ini dpt berhasil baik dan rakyat kembali sejahtera ........yg ukuran2nya tentu serba beda dgn masa majapahit kita dulu .........salam, aby --- On Mon, 3/29/10, Renny <masm...@ymail. com> wrote: From: Renny <masm...@ymail. com> Subject: [kebudayaan] MAJAPAHIT, SEBAGAI NEGARA MARITIM To: kebuday...@yahoogro ups.com Date: Monday, March 29, 2010, 2:21 AM MAJAPAHIT, SEBAGAI NEGARA MARITIM oleh Renny Masmada Majapahit pada abad 13-15 terbukti (pada zamannya) mampu menjawab kebutuhan masyarakat luas sampai ke pelosok negeri. Hal yang menarik untuk dikaji adalah bahwa keberhasilan itu salah satunya dengan menerapkan sebuah ideologi yang sangat berharga yaitu persatuan bangsa yang diambil dari akar falsafah Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa yang tertuang dalam kitab Sutasoma karya Rakawi Tantular. Dengan sangat cerdas Gajah Mada sebagai Mahapatih Amangkubumi mampu mengapresiasikan amanat kebhinnekaan itu dengan menetapkan Negara saat itu sebagai Negara Bahari, negara maritim, sebagai konsep strategis bangsa. Kemampuannya menangkap kekayaan bangsa sebagai negara rantai mutu manikam yang dikelilingi perairan luas, Gajah Mada, dengan sangat brilian menetapkan setidaknya tiga hal pada saat dia menduduki jabatan Mahapatih Amangkubumi, yaitu: Menjadikan Sumpah Amukti Palapa sebagai landasan Garis Besar Perencanaan Strategis Negara dalam melakukan kebijakan Persatuan Bangsa dengan salah satunya menetapkan garis demarkasi, heterogenisasi demografi, peta geografi dan geologi Nusantara Raya seperti yang tertuang dalam Sumpah Amukti Palapa yang diucapkannya di paseban agung Majapahit berdasarkan konsep dasar yang dicanangkan oleh Sri Kertanagara, raja terakhir Singasari. Dalam hal ini, Gajah Mada dengan cerdas mampu memanfaatkan kekacauan dalam negeri Cina saat itu untuk meminta dukungan penuh dari Kaisar (dinasti Yuan) yang sedang berseteru dengan Hung Wu (yang kelak menggantikan kedinastian Yuan dengan dinasti Ming yang sangat populer itu) di Cina bagi terlaksananya program persatuan Nusantara. Dan Cina saat itu memberikan restu melalui Adityawarman pada dua kunjungan politiknya ke Cina pada tahun 1325 dan 1332. Membentuk Angkatan Laut yang selama ini belum dimiliki Majapahit secara terorganisir dengan baik yaitu Jaladi Bala sebagai kesatuan militer elit yang disiapkan menjaga seluruh perairan Nusantara dengan cara: - merekrut prajurit/pasukan secara besar-besaran sekaligus memberikan pendidikan dan pelatihan berdasarkan sumber yang diadaptasi dari Sriwijaya yang terbukti mampu menjadi kerajaan besar di lautan pada zamannya - mengadakan dan membangun seluruh fasilitas yang dibutuhkan seperti kelengkapan persenjataan dan kapal-kapal militer - menciptakan kebijakan, perundangan dan job-description yang sangat jelas terhadap seluruh kesatuan militer saat itu, bersama-sama dengan Bhayangkara dan produk-produk hukum lainnya Menetapkan Selat Malaka dan pelabuhan besar lain seperti Tuban, Gresik dan lainnya menjadi pelabuhan internasional sebagai pintu perdagangan mancanegara. Hal ini terbukti sangat ampuh, Majapahit berkembang sangat pesat. Selat Malaka menjadi pelabuhan besar dunia. Sebagai warisan bangsa, sampai saat ini Selat Malaka tercatat sebagai pelabuhan teramai di dunia. Saat itu seluruh rakyat secara merata hidup berkecukupan, sejahtera, gemah ripah loh jinawi. Kekayaan alam, budaya dan corak agama menjadi mutu manikam yang sangat agung merasuk ke dalam setiap jiwa masyarakat Nusantara Raya. Nelayan dan Petani hidup berkecukupan dan mampu menjual hasil produksinya sampai ke mancanegara. Perekonomian tumbuh sangat cepat. Perkembangan peradaban mampu mencerdaskan bangsa dari rakyat biasa sampai bangsawan secara signifikan. Namun sekarang, lebih dari enam ratus tahun kemudian, bangsa kita seperti bangsa yang baru lahir, tak mampu memahami kekayaan sumber daya sehingga menjadi bangsa tertinggal. Bangsa miskin yang dipenuhi oleh ketidakpercayaan diri menghadapi masa depan. Sebagian masyarakat hidup dalam keterpurukan ekonomi dan sama sekali tak mampu mengapresiasikan budaya dan peradaban besar yang pernah dimilikinya jauh sekian ratus tahun lalu. Sementara budaya korupsi seperti menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap inchi urat nadi bangsa. Para petinggi negara sibuk memikirkan diri dan golongan/partai politiknya. Untuk itu tak segan rakyat dijadikan barang dagangan yang dijual dengan harga murah, bahkan dipaksa untuk tetap menjadi bodoh, robot, mesin pintar yang sebenarnya bodoh karena tak mampu menciptakan kecerdasan untuk dirinya sendiri. Sebagai indikasi, 22% penduduk Indonesia yang hidup di pesisir saat ini masih sangat konservatif. Dan mencirikan masyarakat tradisional dengan kondisi strata sosial ekonomi yang sangat rendah. Sensus tahun 1990 menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan, bahwa 79,05% tenaga kerja perikanan dan nelayan tradisional tidak tamat SD. Hal di atas jelas memberikan gambaran nyata betapa bangsa kita nyaris kehilangan jati diri sebagai bangsa besar yang sebenarnya memiliki potensi kelautan tak terbatas. Namun, ketidakmampuan pemerintah memfasilitasi dan memberikan potensi hidup bagi lebih dari 230 juta rakyat untuk hidup layak telah memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan di segala sektor. Rakyat tak lagi mampu menangkap nilai-nilai hakiki berkemanusiaan. Salam Nusantara..!

