Thanks pak Eka atas postingnya yg mengingatkan saya ttg Papua ini. Teman teman 
milister ysh.
Apa yg saya pahami ttg wilayah ini dpt saya katakan penuh dgn tanda tanya dan 
kita hrs mengenal dgn baik dan utuh. Dgn sponsor UNDP pd tahun 1997 saya pergi 
ke bbrp negara ras Melanesia, Polinesia dan Mikronesia di Pasific. 
Kesimpulannya sama saja ruwetnya dgn Papua. Ttg Biak, mrpkn contoh yg 
menunjukan perhatian yg tdk serius dari otoritas nasional baik dimasa yl maupun 
saat ini utk mengembangkan wilayah ini. Sebetulnya kalau mau serius, pasti 
keadaannya lebih baik. Pak, terlalu panjang kalau saya ceritakan dlm milis ini. 
Penggunaan asumsi asumsi  tertentu dlm pembangunan seringkali menjadikan 
kondisi Papua msh saja memprihatinkan dan sulit maju.

Sekian dulu posting saya.

Regard
Reintje
-----Original Message-----
From: - ekadj
Sent:  12-04-2010, 17.53 
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Subject: Re: [referensi] uang



Pak BTS dan Referensiers ysh. Beberapa tahun terakhir saya memang sering
singgah ke kota ini, namun ada perbedaan mencolok pada kunjungan kemarin dan
2006. Dulu di Biak terdapat industri perikanan terbesar di Indonesia,
seperti diceritakan Pak
Rofiq<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4738>.
Pada tahun 2006 itu kawasan dan bangunan itu masih ada walau sudah kosong,
lengkap dengan pelabuhan khususnya. Kemarin saya sangat terkejut, karena
kawasan itu sudah rata dengan tanah, hancur dalam serpihan-serpihan kecil.
Kemudian juga Hotel Marau (bintang 5?) seperti disampaikan
Pak<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4702>
Nuzul <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/6973> dan
Kandipi<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5942>,
pada tahun 2006 dari udara saya lihat bangunan hotel ini masih ada, namun
kemarin tinggal serpihan demi serpihan. Mudah-mudahan Mas Reza dan Febry mau
membagi foto-foto terakhir ke milis ini. Saya hanya prihatin, demikian
drastisnya nasib investasi jutaan dollar, dan dihancurkan begitu saja dalam
serpihan-serpihan, lebih jelasnya: serpihan-serpihan kecil.

Terkait dengan penelitian Danilyn yang bapak tanyakan, sebenarnya mengambil
set di penghujung Orde Baru. Danilyn mencatat sejak awal Orde Baru, Biak
sangat dianakemaskan oleh Pemerintah, menjadi hub bagi Papua, serta memiliki
hubungan langsung dengan Amerika via Garuda. Namun segala fasilitasi dan
akomodasi itu tidak menjadikan Biak menjadi kian dekat dengan Jakarta.
Gambaran ini mewakili kondisi Indonesia Timur pada umumnya, kalau boleh saya
simplifikasi.

Perbandingan yang ekstrim adalah kasus Timor Timur. Pada tahun 1976 ketika
negeri ini dianeksasi, panjang jalan aspalnya hanya 17 km, namun ketika
lepas 1999 jalan aspal kualitas prima sudah lebih 700 km. Milyaran dollar
sudah kita keluarkan untuk membangun Timtim, dan sebagian besar malah hutang
luar negeri. Permasalahannya: kenapa? Apakah kita tidak pernah belajar dari
kesalahan pendekatan kita?

Untuk kasus Biak, Danilyn menginisiasi budaya amber (alienasi), yang sangat
cerdik dalam mensiasati keberlangsungan budaya. Pada waktu Danilyn
fieldwork, terjadi peristiwa pembakaran pasar, hanya karena masalah sepele.
Termasuk beberapa kasus lain, seperti terakhir tahun lalu ada pendudukan
bandara Kaisiepo. Dalam perspektif Danilyn, 'uang' tidak bisa menjadi
instrumen keintiman, sebagaimana didogmakan selama ini oleh masyarakat
kapital.

Sebagai contoh adalah penggunaan pasar di Biak, bagi masyarakat kota
merupakan tempat melakukan transaksi ekonomi serta hubungan-hubungan
sosio-ekonomi. Namun saya kaget pada waktu malam 2006 itu jalan-jalan
memutari pasar, ternyata 'aktivitas masyarakat' baru ramai mulai malam hari
di pasar, justru ketika bangunan-bangunan toko menutup pintunya. Pada waktu
tersebut 'penduduk asli' melakukan hubungan-hubungan sosial di pasar dalam
suasana yang dapat mereka pahami sendiri. Bila kita belanja di emperan,
jangan boleh menawar, karena kalau sudah menawar berarti kita telah
menempatkan posisi ekonomi pembeli-penjual yang tidak mereka sukai; dan
setelahnya kita akan dipandang sebagai 'amber' (orang asing). Perdagangan
adalah 'fenomena sosial' di Papua.

Amber tidak hanya untuk penduduk pendatang yang tidak paham dengan budaya
setempat, tetapi juga digolongkan kepada aparat Pemda yang penduduk asli
sendiri, militer, karyawan, program pemerintah, sekolah, hingga ... uang.
Demikian Danilyn.

Saya kira banyak rekan-rekan di milis ini yang bisa menjelaskan lebih baik.
Ada Pak Reintje, Kandipi, Johand, Ninik, serta ... Sutoto. Sementara
demikian dulu. Salam.

-ekadj


2010/4/12 Bambang Tata Samiadji <[email protected]>

>
>
>   Pak Eka, kalau tahun 1990-an saya pernah ke Biak. Secara kasat mata,
> tidak ada perbedaan mencolok Biak dengan daerah lain. Saya koq nggak percaya
> pada sekitar tahun itu uang menjadi tidak penting dan tidak berpengaruh, dan
> belum menjadi 'instrumen keintiman dalam berbangsa'. Justru ketika  di sana
> saya banyak melakukan transaksi dengan masyarakat Biak dan kenyataannya
> lebih "mata duitan" daripada di Jawa. Bagaimana mungkin dikatakan uang itu
> tidak penting?
>
> --- Pada *Ming, 11/4/10, - ekadj <[email protected]>* menulis:
>
>
> Dari: - ekadj <[email protected]>
> Judul: [referensi] uang
> Kepada: [email protected], [email protected]
> Tanggal: Minggu, 11 April, 2010, 2:55 PM
>
>
>  Referensiers, tidak saya tujukan khusus, hanya sekedar omongan saja, dan
> abaikan.
> Saya baru pulang dari Nabire-Biak. Selama perjalanan ada dua artikel Danilyn
> Rutherford <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/10425> yang
> saya baca, terlepas dari buku sebelumnya: "Intimacy and Alienation: Money
> and the Foreign in Biak" (2001) dan "the white edge of the margin:
> textuality and authority in Biak, Irian Jaya, Indonesia" (2000). Sebenarnya
> isinya seputar penelitian yang telah dituliskan dalam buku terdahulu (1992),
> dengan beberapa penekanan topik.
>
> Saya sedikit tertarik dengan artikel pertama, mengutip Edward Soja yang
> selalu dirujuk EkoBK itu: "geography, is a historically constituted, spatial
> and social distribution of wealth, power, and point of view". Kemudian
> Danilyn menyimpulkan di akhir artikel: "Capitalism generates concrete and
> imaginary geographies; yet, neither these spaces nor these visions are
> hermetically sealed. ..... If Biak myth turns awareness of the alienating
> power of currency into a wishful dream of utopia, 
> Simmel<http://tech.groups.yahoo.com/group/futurologi/message/420>'s
> model turns it into a nightmare."
>
> Sedikit yang saya tangkap: mata uang telah menjadi 'instrumen pemersatu
> bangsa', secara geografis, dan juga 'instrumen pembangunan'. Namun Danilyn
> yang muridnya Turner dan Parsons itu cukup pandai meramu, dalam kasus budaya
> alienasi (amber) di Biak sekurangnya sampai era 1990an, uang menjadi tidak
> penting dan tidak berpengaruh, dan belum menjadi 'instrumen keintiman dalam
> berbangsa'. Sehingga perlu kearifan dari 'kekuasaan' untuk merumuskan format
> persatuan dan pembangunan secara lebih bijak. Salam.
>
> -ekadj
>
>
>  2010/4/11 Eko B K <ekobu...@yahoo. 
> com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
> >
>
>>
>>     Pak BTS ysh.,
>>
>> Kira2 apakah manusia modern bisa terlepas dr sistem perbankan/keuangan
>> konvensional?
>>
>> Bukan hanya penggunaan jalan tol, mulai dr sisir, jam tangan, pakaian,
>> sepatu, sabun, buku, dll termasuk komputer yg kita pakai saat menulis email
>> di milist ini adalah produk2 yg perusahaan2nya pasti memanfaatkan
>> perbankan/keuangan konvensional. .. Kalaupun se-Indonesia hanya menggunakan
>> sistem perbankan/keuangan syariah, tetap saja kita tdk memproduksi sendiri
>> semua barang2 kebutuhan kita...
>>
>> mungkin memang perlu kita tanyakan kembali ke hati nurani kita yg
>> terdalam...: )
>>
>> salam..
>>
>> --- En date de : *Dim 11.4.10, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo.
>> com <http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>>*a 
>> écrit :
>>
>>
>> De: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. 
>> com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
>> >
>> Objet: Re: Bls: [referensi] Re: MASIH JUGA TDK MENGERTI MAKNA FATWA
>> -MUHAMADIYAH : SETELAH ROKOK HARAM, KINI BUNGA BANK HARAM
>> À: refere...@yahoogrou 
>> ps.com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
>>
>> Date: Dimanche 11 avril 2010, 10h14
>>
>>
>>     Bung Kuswanto, terima kasih atas fatwanya. Satu hal  saya tidak
>> sependapat dengan Anda bahwa perbankan konvensional dengan sistem bunga
>> dipengaruhi oleh kekuasaan sebagaimana dalam alinea terakhir Anda tulis :
>> "Kalo di tanya hampir semua negara di dunia menggunakan bank dengan system
>> bunga bukan berarti sistemnya baik dan mendatangkan manfaat tetapi lebih
>> kepada pengaruh kekuasaan terhadap penerapan system".
>>
>> Sejak dulu, sistem perbankan di dunia ini baik dalam teori dan prakteknya
>> bersifat independen dan tidak terpengaruh oleh kekuasaan (baik kekuasaan
>> Pemerintah maupun pemilik modal). Bila ada unsur kekuasaan ikut mempengaruhi
>> sistem perbankan, maka justru akan menghancurkan sistem perbankan itu
>> sendiri (kita punya pengalaman krisis tahun 1997/1998 yang lalu). Jadi tidak
>> benar kalau penguasa itu bisa mengambil keuntungan - ekslusif - dari sistem
>> perbankan - konvensional. Di Indonesia sendiri sejak berdirinya Bank
>> Indonesia tahun 1953 memang kurang independen sehingga sering menganggu
>> iklim moneter waktu itu. Tapi sejak tahun 1999, Bank Indonesia sudah
>> independen, sama dengan bank-bank sentral lainnya di dunia.
>>
>> Juga soal negara itu maju itu menurut saya bukan karena sistem perbankan
>> dengan sistem bunganya. Tak da kaitan. Toh yang menerapkan non-bunga
>> (non-riba) juga belum menunjukkan sebagai negara berprestasi (maju).
>>
>> Kadang tergelitik juga pemikiran... yang mengharamkan bunga bank apakah
>> juga mengharamkan hasilnya, .... misalnya apakah juga mengharamkan pemakaian
>> jalan tol karena jelas pembangunan jalan tol itu menggunakan sindikasi bank
>> yang sarat menggunakan sistem bunga/kupon konvensional yang riba. .....
>> Eh... tiba-tiba diingatkan oleh Bung Ukon:".. tanyalah pada hati
>> nuranimu..."
>>
>> Thanks. CU. BTS.
>>
>>
>>
>

Kirim email ke