Rekans,

Daripada kita memperbicangkan fatwa yg sepertinya tidak kelar2 juga, bagaimana 
kalau kita alihkan diskusi ke substansinya saja: regulasi rokok dan pengelolaan 
perbankan --yg saya rasa ini jauh lebih kuat irisannya dgn keilmuan penataan 
ruang secara khusus maupun perencanaan secara umum. 

Pertama,
Masalah rokok bagi saya adalah persoalan sangat besar:
- Bagaimana ruang ruang publik dan media sudah dijajah perusahaan rokok dengan 
iklan iklannya yg besar2 dan isi yg menyesatkan. 
- Bagaimana generasi muda dijajah kecanduan merokok, bahkan anak umur 4 tahun 
sudah merokok.  Penelitian bilang, rokok jalan yg cukup baik menuju narkoba.
- bagaimana kesehatan masy terganggu baik yg merokok maupun org di 
sekelilingnya 
- bagaimana ekonomi keluarga menengah bawah menjadi makin tak berdaya dan tak 
produktif krn konsumsi rokok.
- dll

Saya yg bukan perokok sudah teramat sering diganggu para perokok. Karena 
regulasi tak mendukung dan demi kebaikan persaudaraan, pd akhirnya saya 
seringkali hanya berakhir pada mengurut dada dan bersabar. Tapi kesabaran itu 
biasanya menjadi gemas yg tak tertahan jika yg menjadi korban adalah istri atau 
anak bayi saya.

Nah tugas kita yg bergelut di dunia perencanaan thdp soal rokok ini misalnya 
mengusulkan ide2 :
- bagaimana meregulasi rokok yg efektif
- bagaimana penataan ruang publik yg ramah bagi non perokok
- langkah langkah merelokasi usaha petani tembakau ke usaha lain
- Dll.

Kedua,
Mengenai bunga bank dan bagi hasil menarik utk didiskusikan:
- perbedaan filosifi di antara keduanya
- perbedaan teknis di antara keduanya
- hal hal apa yg membuat bunga dipandang haram dan bagaimana jalan keluarnya 
dlm bagi hasil
- dll

Soal fatwa Muhammadiyah mari kita lihat itu adalah bagian dari kepedulian 
lembaga keagamaan thdp umatnya. Karena Muhammadiyah bukan eksekutif atau 
legislatif yg punya anggaran atau menetapkan peraturan perundang2an, maka 
Muhamadiyah hanya bisa memberikan arahan pada umatnya dlm bentuk pendapat atau 
fatwa. Kita sepakat atau tidak thdp pendapat itu, seperti ditegaskan oleh Pak 
BTS, kita kembalikan ke hati nurani.

Soal teori konspirasi... Jauh bangeuutt ya... Jangan2 ini teori titipan yg 
dikembangkan cukong2 rokok.. Hehe

Salam. 


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Wed, 14 Apr 2010 12:01:29 
To: <[email protected]>
Subject: Re: Re : Bls: [referensi] Re: MASIH JUGA TDK MENGERTI MAKNA FATWA
  -MUHAMADIYAH : SETELAH ROKOK HARAM, KINI BUNGA BANK HARAM


Rekan referensier ysh, mas Ukon, mas BTS, mas Rifsan ysh.

Ada sebuah underline issue yg sebenarnya terjadi dan ini selalu enggan untuk 
dibahas.... saat ini manusia sudah cenderung berpikir pada formalitas .... 
kalau istilahnya orang yang makan sekolahan (istilah orang Jawa mangan 
sekolahan untuk yang pendidikannya bagus) ... sekarang orang cenderung pada 
pendekatan struktural dan menjauhi fungsional. 

Bikin fatwa ... terserah orang mau apa saya adalah lembaga yang berhak membuat 
fatwa.... kalau kemudian ada yang mencemooh ... kecilkan saja ukuran ... ini 
untuk lingkungan saya saja lho bukan untuk yang lain ....

Intinya adalah saya punya stempel. Saya jadi ingat jaman pertengahan dengan 
sangat berkuasanya Roma sampai dengan mengurusi aspek kehidupan bernegara. 
Munculah kemudian pemberontakan2. Mari kita sekarang kita lihat di negara kita 
... apakah bukan gejala ini mubncul dengan sangat jelas di Indonesia yang kita 
cintai ini.

Terserah sadar atau tidak ... ada sebuah platform politik yang dimasuki oleh 
temnan2 di Muhamadiah. Dan mengecap sana dan sini ini sebenarnya adalah sebuah 
konsep pelemahan dari kekuatan tradisional yang ada di Indonesia dalam gempuran 
kekuatan global yang memang mau menghancurkan kekuatan sosial budaya kita. 

Skenario (maaf saya terjebak dalam teori konspirasi) yang diambil adalah 
lemahkan legitimasi dari 2 kekuatan tradisional religi di Indonesia maka 
Indonesia akan mudah ditekuk tekuk. Mengapa demikian ... mau diakui atau tidak 
kejadian 1998 sangat mengagetkan pihak2 pemain dunia (secara terpisah saya siap 
menyampaikan datanya). Karena kebetulan saya sendiri telah diberi kesempatan 
berdiskusi dengan Duita Besar AS pada ewaktu itu di Yogya... dan platfgorm itu 
sangat jelas sekali.

Artinya, Muhamadiyah sudah terjebak dalam skenario besar pelemahan kekuatan 
tradisional bangsa ini yang sampai hari ini MASIH SUKAR DITEKUK RTEKUK OLEH 
PIHAK LUAR.

Tentang rokok dan tentang bunga hanya spot dari playing field yang besar. 
Pertaruhannya adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan kalau sudah sampai 
titik itu... saya akan mempertahankan sekuat mungkin.

Salam kebangkiutan Indonesia

Bambang sp

ps. terlalu banyak data kejadian yang menunjukkan skenario itu sudah berjalan 
lebih dari 30%. Tolong untuk teman2 referensier yang ada di Sumbar ... kejadian 
apa di pedesaan akhir2 ini, untuk referensier yang ada di Sumatera Utara apa 
yang saat ini sedang terjadi di pedesaan2.

 

Kirim email ke