Pak Aby dan Rekans ysh,
 
Maaf temans, reply saya muncul berulang, terputus lagi, maklum tadi ngirimnya 
sambil nyetir...
 
Trims tanggapannya. Memang dalam ilmu PWK ada yang namanya Teori Lokasi (dulu). 
Itu mempelajari pola sebaran pertumbuhan/  perkembangan kota/wilayah.
Basisnya adalah potensi geografis (SDA, aglomerasi yang sudah ada, dst) dengan 
pola dan perilaku kegiatan (ekonomi, sosial) yang berproses di atasnya. Kalau 
dianalogikan dengan Teknik Sipil mungkin itu Mekanikanya. Engineering dengan 
struktur tertentu bisa memanipulasi (memodifikasi) mekanika, tapi tak bisa 
melawan hukumnya.
 
Begitu pula engineering PWK (kalau disebut begiu), tidak bisa melawan hukum 
teori lokasi. Dengan ilmu perencanaan bisa memanfaatkan, memodifikasi tapi 
tidak bisa melawannya. (Silahkan klik www.urbaneconomic.blogspot.com) 
.Seandainya ahli PWK itu ada Einstein nya, dia juga tak akan bisa membangun 
kota seperti New York di kutub utara, kecuali kota laboratorium yang 
resourcesnya disubsidi dari luar (tidak natural, tidak sustainable).
 
Jakarta meneruskan Batavia/Sundakelapa, Singapura meneruskan temuan Raffles, 
keduanya berbasis lokasi muara sungai, dan letak strategis. Begitu juga Medan, 
Palembang, Surabaya, Pontianak, Makassar, Jayapura. Kota pedalaman karena 
exploatasi SDA sekitarnya, seperti Bandung, Magelang, Malang, dst. Kota-kota 
baru di luar itu adalah kota pertambangan (enclave) atau kawasan exploatasi SDA 
lainnya.
 
Kalau disebut tantangan barangkali adalah bagaimana menstabilkan perkembangan 
wilayah Batam dan Kepri, Kalimantan Timur, dan mendorong pertumbuhan 
(permukiman) di Papua dan Irjabar. Batam dan Kepri garis depan di IMT-GT itu 
sekarang mengalami keterbatasan tenaga listrik, mungkin juga air, dst (Bang 
Nuzul). Itu mengatasinya bagaimana. Dan, ini masalah infrastruktur wilayah atau 
nasional. Juga kawsan tambang dan SDA lain bagaimana setelah depositnya menipis.
 
Dimana batas kompetensi PWK, dimana dukungan-dukungan sektoral, investasi 
ssata, masyarakat, dimana dukungan policy, kebijakan pertanahan, fiskal, 
keimigrasian, dst. Dalam hal ini perlu disadari seorang Perencana tidak bisa 
berdiri sendiri. Yang namanya komprehensif dan koordinatif, sepertinya perlu 
diperjuangkan lewat ruang-ruang pengambilan keputusan, antar kementerian, 
legislatif, advokasi lewat media, massa, dst. Tidak bisa lagi menyikapi PWK ala 
sayembara desain kota, dengan Computer Aided Design yang canggih, terus semua 
sektor diminta mendukung. 
 
Satu kenyataan yang perlu dicermati, untuk membangun jalan regional saja, 
Pemerintah menunjuk Pengelola Jalan Tol, yang lalu mengundang konsorsium 
investor. Lalu Menteri PU jadi ikut bicara soal nilai dolar untuk menentukan 
kenaikan tarif. Ini menunjukkan era yang sudah berubah, termasuk siapa yang 
membangun kota. Begitu pula yang terjadi di Kementerian Perumahan, sebagai 
pembina REI, juga Kementerian Perindustrian, juga Perdagangan sebagai pembina 
anggota Kadin. 
Maksud saya, pembagian peran Regulator dengan Operator yang kian jelas, 
termasuk juga dalam pembangunan permukiman.
 
Dengan demikian, penggunaan istilah "engineering" (design) PWK tetapi 
mengenyampingkan peran operator pembangun (kebanyakan swasta) itu menurut 
kontradiktif. Kalau mau engineering, ya operator yang menjadi sasaran, yang 
sekarang banyak dilimpahkan ke swasta. 
Kalau fokus ke peran pemerintah, ya lebih banyak bicara PWK dalam konteks 
public policy. Karena nyawa kota itu tergantung dari berbagai sumber daya, 
prasarana/utilitas dan kegaitan (ekonomi) manusianya, yang membutuhkan peran 
pemerintah sebagai regulator.
Maaf kalau ada salah kata.
 
Salam,
Risfan Munir
 
www.service2delivery.blogspot.com
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


--- On Sat, 5/8/10, Risfan Munir <[email protected]> wrote:


From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: Tgp 2: [referensi] Re: (7) PWK/ Planologi Sbg Enjinering Penataan 
dan Pembentukan Ruang
To: [email protected]
Date: Saturday, May 8, 2010, 9:32 PM


Pak Aby dan Rekans ysh,

Trims tanggapannya. Memang dalam ilmu PWK ada yang namanya Teori Lokasi (dulu). 
Itu mempelajari pola sebaran pertumbuhan/  perkembangan kota/wilayah.
Basisnya adalah potensi geografis (SDA, aglomerasi yang sudah ada, dst) dengan 
pola dan perilaku kegiatan (ekonomi, sosial) yang berproses di atasnya. Kalau 
dianalogikan dengan Teknik Sipil mungkin itu Mekanikanya. Engineering bisa 
memanipulasi (memodifikasi) mekanika, tapi tak bisa melawan hukumnya


      

Kirim email ke