Setuju. Permainan politik dan sepak bola banyak kemiripan. Tujuan sama2: 
POSISI, UANG. 
Yang dijual: permainan seru, laga bagi penonton.

Ada permainan on-field, off-field. Ada yang ditonton di lapangan. Ada yang di 
luar lapangan (jual beli pemain, pelatih, main mata).

Nama Tim, warna (ideologi, kelompok) bisa me ji ku hi bi ni u. Bisa 
belang-belang. Jadi pemain bisa gonta-ganti warna kaos (ideologi) sesuai warna 
club.

Para Pemain ada yg lugu pake teknik murni. Ada yg pintar pakai strategi 
off-field: kasak-kusuk antar klub, koar2 di media untuk psy-war, promosi diri, 
mancing gosip dgn seleb cantik.

Dibalik itu semua ada bandar-bandar yang bisa mengatur siapa kawan, siapa 
lawan, kemana arah permainan.

Dan, Penonton, sebagian lugu, mencoba menganalisa dgn lugu, ada yang melihat 
ini sbg permainan POSISI/ KEKUASAAN, UANG yang abadi (sejak Habil n Qabil atau 
Kane n Abel). untuk memicu andrenaline. Tentu selalu ada mayoritas Penonton 
fanatik, hooligans yg siap kepuk-keprukan demi warna kaos dan simbol-simbol 
(kebangsaan, ideologi, kelompok, dan ILUSI lain) di belakangnya. Sepak bola 
adalah BISNIS BESAR, politik lebih besar lagi. Dimana-mana di dunia ini sama, 
beda kehalusannya saja, kejelian pakai pasal-pasal aturan, ketahuan atau tidak. 
Ada pemenang, menang setengah, pecundang, berkorban, dikorbankan, dst.
Ada kampanye, tentu ada sponsor. Ada sponsor, ada utang budi, obligation, 
konsekuensinya mesti ada balas budi. Fair menrut logika, bisa beda dgn fair 
menurut aturan main. Begitukah? Tentu itu ilusi/fiksi pesimistis saja. Jadi, 
lebih optimis lah. Perubahan selalu terjadi, besar atau kecil, cepat atau 
lambat.

Salam,
R Munir

Pada Rab, 12 Mei 2010 11:07 CDT [email protected] menulis:

>Tapi di politik kan orientasi tim nya ndak jelas mas, mana kita tahu yg sedang 
>giring bola sedang mengincar goal yang mana, pemainnya juga ndak jelas berada 
>di tim yg sebelah mana ! Celakanya lagi wasit juga jadi pemain dan pemain juga 
>jadi wasit plus komentator  bagi pemain yg lain.  Cakep !
>Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
>-----Original Message-----
>From: iman Purwoto <[email protected]>
>Date: Wed, 12 May 2010 11:27:13 
>To: Planologi<[email protected]>
>Subject: [referensi] Sepak Bola Politik
>
>Politik bagaikan sebuah pertandingan Sepak Bola. Setiap orang memainkan 
>peranannya masing-masing.
>Para elit politik dengan berbagai tingkah dan polahnya layaknya Ronaldo 
>menggocek bola melewati lawan mempermalukan lawan yang di perdayainya dan 
>mencetak gol serta merayakan gol dan kemenangan dengan suka cita.
>Para pengamat politik tidak ubahnya sebagai komentator yang merasa lebih 
>pintar dan benar dari para pemain yang ada dilapangan, mengomentari setiap 
>kesalahan yang dilakukan oleh para pemain bola.
>Para Simpatisan partai politik tidak ubahnya penonton sepak bola dengan 
>fanatiknya yang terkadang berlebihan datang ke stadiun dengan tujuan satu 
>menyaksikan Tim yang diidolakannya harus menang.
>Para cukong makelar kasus atau apapun namanya sebagai orang yang bisa mengatur 
>tingkah laku para elit politik tidak ubahnya sebagai pelatih yang dengan jitu 
>meramu taktik dan menginstruksikan tingkah laku para pemain di lapangan.
>Aparat penegak hukum layaknya wasit yang memimpin pertandingan dan menegakkan 
>keadilan di lapangan.
>Sepak bola yang dibarengi dengan sportifitas sungguh indah......... 
>Sayang sebagaimana carut marut sepak bola Indonesia, mungkin seperti itu juga 
>wajah dunia Politik di negeri yang kita cintai ini (setidaknya sebagaimana 
>yang diopinikan oleh media masa)
>Siapa diri kita.... merepresentasikan apa kita????..................
>
>
>
>      



      

Kirim email ke