Dear Pak Fadjar & Rekans ysh

Ulasan Pak Fadjar terutama pengembangan pendidikan berbasis lokal mengingatkan 
saya pada pidato Prof. Eko saat saya di wisuda. Kalimat yang masih 'menancap' 
di otak saya kurang lebih "Kita harus mengglobal dengan semangat regional 
berbasis sumberdaya lokal. 
Sumberdaya lokal itu mencakup sumberdaya manusia, alam, budaya, 
teknologi, dan finansial." 

Namun saya memiliki beberapa catatan kecil saat saya 'jalan-jalan' ke Desa 
Serenan, Klaten. Desa ini terkenal dengan kerajinan meubel dan ukir. Potensi 
lokal ini terancam gulung tikar. Beberapa persoalan mendasar sepertinya diminat 
masyarakat Pak. Sebagai contoh di sekitar Serenan ada STM Kriya dimana salah 
satu jurusannya adalah ukir dan meubel, namun siswanya tidak lebih dari 15 
orang dan murid dari serenan sendiri cuma ada 1 orang. Padahal,  kurikulumnya 
'berjiwa lokal' karena jenis-jenis ukir yang ditawarkan bernuansa khas kraton 
solo.

Setelah kami coba telusuri ke warga ternyata mereka beranggapan "kenapa kita 
harus memasukkan anak-anak kami ke sekolah ukir & meubel, kita saja setiap hari 
sudah mempraktekkannya", logis juga saya pikir jawaban tersebut. Kemudian kami 
mencoba bertemu pengelola koperasi mencoba menggali permasalahan 'terancam 
gulung tikarnya' usaha warga. Pengelola koperasi sekaligus kepala desa ini 
menyodorkan sebuah dokumen hasil penelitian dari JICA. Singkatnya, beberapa 
rekomendasi penelitian JICA tersebut adalah (1) meningkatkan kualitas meubel 
terutama pada proses oven agar daya tahannya lebih baik, (2) Membuat ciri ukir 
dan meubel sendiri yang khas dan mencerminkan Serenan atau Solo. Dua 
rekomendasi itu dirasa cukup berat jika diterapkan, kenapa? Karena usaha 
kerajinan di Serenan bersifat demand side, kalau ada pesanan baru mereka 
membuatnya. Begitupula dengan teknik oven-nya, jika sesuai dengan rekomendasi 
JICA bisa proses oven dilakukan lebih dari 6 kali proses
 dan memakan waktu lebih dari 1 bulan.  Otomatis desain dan bahannya tergantung 
permintaan buyer. Persoalan itu yang menyebabkan hilangnya 'ciri khas' lokal 
meubel serenan yaitu (1) minat warga dan (2) ekonomi global. 

Semoga masih nyambung.

Salam
Sariff




________________________________
Dari: "[email protected]" <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kam, 13 Mei, 2010 19:25:29
Judul: Re: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia

  
Pak Risfan ysh,
 
Daripada mengkampanyekan "A Year Without Made in China" yang saya yakin susah 
banget untuk mencapai tingkatan nasional, lebih baik kita kampanyekan 
penguatansupply-chain production planning yang Pak Risfan pernah sampaikan 
sebelumnya, serta pengembangan pendidikan berbasis lokal dan pengembangan 
infrastruktur dasar plus energi, informasi, transportasi dan telekomunikasi 
dalam perencanaan pembangunan di setiap wilayah kita. Harapannya, pengembangan 
hal-hal itu bisa lebih meningkatkan indeks pengolahan dari keragaman sumber 
daya alam yang ada sehingga bisa lebih meningkatkan aktivitas ekonomi...  
Sementara itu, pentingnya pengembangan pendidikan berbasis lokal akan lebih 
meningkatkan peluang pengolahan secara lokal, serta tingkat partisipasi 
masyarakat lokal dalam industri pengolahan tsb.. Dalam pandangan saya, 
upaya-upaya seperti ini merupakan penguatan keterkaitan pertumbuhan dan 
pemerataan.  

Salam,
  

Fadjar
   

--- En date de : Jeu 13.5.10, 

Risfan M  a écrit : 

De: Risfan M 
Objet: 

Re: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia 

À: refere...@yahoogrou ps.com 

Date: Jeudi 13 mai 2010, 18h34   


Mr. Ukon n rekans ysh,   Setuju banget. Kalau kita proyeksikan ke soal belanja 
produksi nasional, pemberdayaan UKM. Mulai dari yang kecil saja, belanjaan 
sehari-hari, perlengkapan yang melekat. Kalau mikir dari yang besar jadinya 
"menuntut orang lain, pemerintah, dst". Saya baru-baru ini baca buku "A Year 
Without Made in China", yang ditulis Sara Bongiorni. Dia dan keluarga kecilnya 
(di USA) mencoba hidup tanpa mengonsumsi produk impor tsb. Susahnya setengah 
mati, karena sampai produk perlengkapan keagamaan pun yang memenuhi pasar 
produk dari sana. Yang sulit, terutama soal "harga murah" nya.    
Langkah-langkah kecil mungkin ada artinya. Kalau sandal untuk di rumah saja kan 
tak harus impor. Kalau "berdikari" kelihatannya terlalu ambisius, paling tidak 
mengurangilah, yang perlu-perlu saja. Sekarang ini masak apem, donat, cenil, 
kripik, kerak, cireng harus merk franchise dari luar. Saya tidak tahu 
resto-resto melayu yang mulai banyak itu dari negeri jiran
 atau lokal. Padahal kita semua tahu, bangkitnya Jepang karena fanatik 
"konsumsi produk sendiri".   Negara sulit menolak globalisasi, karena 
resiprositas kita butuh ekspor, tapi pribadi dan keluarga kan bisa, paling 
tidak dalam batas "kalau terpaksa saja". Small steps ....   Salam, Risfan Munir 
    --- On Thu, 5/13/10, ukonisme wrote: From: ukonisme Subject: [referensi] 
Penilaian orang Singapura terhadap Indonesia To: refere...@yahoogrou ps.com 
Date: Thursday, May 13, 2010, 5:36 AM Dari cerita seorang teman: Suatu pagi, 
kami menjemput seseorg klien di bandara. Org itu sdh tua, kisaran 60 thn. Si 
Bpk adl pengusaha asal Singapura, dgn logat bicara gaya melayu   english, 
beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda. Beliau berkata, 
"Ur country is so rich!" Ah biasa banget denger kata2 itu! Tapi tunggu dulu... 
"Indonesia doesn't need the world, but the world needs Indonesia," lanjutnya. 
"Everything can be found here in Indonesia, U don't
 need the world." "Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di 
kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is nothing, 
we can't be rich without Indonesia.. 500.000 org Indonesia berlibur ke 
Singapura tiap bulan.. Bisa terbayang uang yg masuk ke kami, apartemen2 terbaru 
kami yg beli org2 Indonesia, ga peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS 
kami, org Indonesia semua yg berobat. Trus, kalian tau bgmna kalapnya 
pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, bener2 panik. Sangat 
terasa, we are nothing. Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras. 
Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras.. 
Liatlah negara kalian, air bersih di mana2, liatlah negara kami, air bersih pun 
kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis, krn pasirnya 
mengandung permata. Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual 
cuma Rp 3.000/kg ke pabrik china, si pabrik
 jual kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya liat ini sbg peluang.. Kalian sadar 
tidak kalo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia?! Ya, karena negara 
kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya 
tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. 
Belilah pangan dari petani2 kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 
sendiri.. Tak perlu impor klo bisa produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, 
bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULES THE WORLD!!!" Powered by 
Telkomsel BlackBerry® ------------ --------- --------- ------ Komunitas 
Referensi http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links 
 

Kirim email ke