Pak Sarif dan Referensiers ysh. Saya tertarik dengan uraian industri perabotan di Serenan ini, walau belum sempat ke lokasi. Tertarik karena sepertinya produksi ini mampu masuk ke pasar internasional, dan sangat dinamis dengan 'selera konsumen', serta mulai berkompetisi secara kualitas. Dengan adanya keahlian yang dimiliki warga setempat, dapat menjamin kontinuitas berproduksi. Selain permasalahan pemasaran sebagaimana yang diungkapkan, tentunya dalam rangka kualitas juga perlu memperhatikan bahan, model, motif, dll. Mudah-mudahan juga ada penelitian ke arah itu. Untuk masalah pemasaran, seharusnya ada rantai di tengah yang bekerja secara fair. Sepertinya akan diterobos melalui koperasi, namun terkendala dengan faktor manajemen. Saya sebenarnya agak meragukan aspek mediasi ini, karena ada 'hubungan langsung', yang menyebabkan produksi dan kualitas kurang terkontrol, sehingga bisa merugikan produsen. Pola ini ditemukan juga seperti di Tegal Alang Bali dan Tanah Abang Jakarta. Mudah-mudahan mediator atau eksportir kita bisa lebih inisiatif, kreatif, dan cerdas dalam memasuki pasar internasional. Salam.
-ekadj 2010/5/18 Sariffuddin <[email protected]> > > > Bpk Risfan,Pak Fajar, Pak Aunur dan Refensiers > > Saya sependapat dengan Pak Risfan dan Pak Fajar bahwa pengrajin tidak harus > menghasilkan karya yang selalu bercorak khas daerah mereka. Berkarya sesuai > dengan permintaan pasar juga perlu dilakukan untuk tetap bertahan dan > tentunya mengembangkan usaha. Contoh Pak Fajar di Australia, sebenarnya > sudah banyak diterapkan oleh beberapa pengrajin terutama para pengumpul dan > eksportirnya. Bahkan para pengrajin sepertinya sudah hafal mengenai desain > produk dari setiap buyer. Mereka bisa menjelaskan secara detail dan runtut > bagaimana produk pesanan Eropa, Amerika, Jepang dan tempat-tempat lain. > Bahkan saat proses pengangkutan meubel ke peti kemas, mereka (pengrajin > lain) sudah bisa menebak pesanan dari mana. Selain itu, sepertinya pembagian > tugas menurut buyer juga telah terbentuk di Serenan. Sebagai contoh untuk > pemesanan dari Perancis maka exportirnya si-A dan kelompok pengrajinnya si B > dan seterusnya. Seperti penjelasan Pak Risfan bahwa saat ini banyak order > yang hanya mengirimkan sketsa dan dikirim melalui internet. Dulu Kompas > (tanggal dan tahunnya saya lupa pak) juga pernah memberitakan bahwa pengguna > MMS terbanyak di Indonesia adalah Jepara, itu karena pesanan dan sampel > produk mereka kirim melalui MMS tersebut. Penggunaan teknologi informasi > sepertinya juga sudah diterapkan. > > Sedikit perbincangan saya dengan ketua paguyuban sekaligus ketua koperasi > pengrajin, permasalahan utama yang mereka hadapi adalah (1) Akses modal > usaha dan (2) Manajemen Bisnis. Mungkin permasalahan modal usaha sudah > menjadi berita umum para pengusaha kecil bukan hanya di Serenan. Namun untuk > Serenan, sepertinya ada persoalan ketidak seimbangan antara > pengumpul/exportir dengan para pengrajin. Ada fenomena pengrajin memberi > modal kepada para pengumpul/exportir dan bukan sebaliknya. Setiap ada order > dari buyer yang masuk ke para pengumpul/ exportir diteruskan ke para > pengrajin. Buyer memberikan Down Payment tetapi tidak diteruskan ke > pengrajin (hanya mandeg di pengumpul). Kenapa? > > Order tersebut di teruskan ke para pengrajin, mereka mencari modal sendiri > dan membuat pesanan sesuai sketsa yang telah diberikan. Setelah jadi, produk > diserahkan ke pengumpul dan di export. Para Pengrajin dibayar setelah ada > pembayaran penuh dari buyer. Kondisi seperti ini terjadi setelah krisis > global beberapa tahun kemarin. Ketua pengrajin menuturkan bahwa: dulu > (sebelum krisis) kita bekerja 1 bulan bisa untuk makan 6 bulan, tapi > sekarang kita kerja 1 bulan baru terima gaji 2 bulan lagi dan itu sudah > habis untuk menutup hutang selama 2 bulan sebelumnya . Kenapa itu terjadi? > mereka menjelaskan kalau dulu buyer datang langsung ke Serenan, melihat, > menawar dan membayar beberapa persen sebagai bentuk kesepakatan kemudian > setelah jadi dikirim. Namun saat ini, karena order dikirim melalui sketsa > internet terkadang banyak permintaan yang tidak tercantum sehingga saat > dikirim ke buyer banyak yang tidak cocok dan akhirnya dikembalikan. Hal ini > yang mendasari > kenapa DP di tahan oleh para pengumpul. Menurut para pengumpul, DP tersebut > biasanya untuk ongkos kirim. > > Permasalahan itu juga yang mendasari kenapa para pengumpul tidak memberikan > DP/ Modal awal kepada para pengrajin. Melihat hal tersebut sepertinya sistem > informasi belum sepenuhnya bisa memberikan solusi bagi strategi bisnis para > pengrajin. > > Kedua, Strategi Bisnis? > Permasalahan permodalan yang kurang berimbang tersebut mendorong para > pengrajin kecil membentuk koperasi. Mereka berharap koperasi itu menjadi > sarana pemasaran dan perusahaan yang dikelola bersama oleh masyarakat. > Dengan dibentuknya koperasi itu, mereka berharap bisa lebih mudah > mendapatkan modal dari perbankkan meskipun kenyataannya juga mengalami > kesulitan. Permasalahan yang dihadapi adalah (1) Bank belum yakin dengan > kredibilitas Koperasi mengingat pengalaman tertulisnya belum ada (berdiri > tahun 2007) (2) Pengelola koperasi itu sendiri bisa dikatakan tidak ada, > kebanyakan warga hanya tamatan SMP dan SMA. Jika mereka di serahi > tanggungjawab untuk mengelola koperasi, mereka ketakutan. Ungkapan yang > menarik dari Pak Lurah adalah Kalau mereka disuruh pegang tatah untuk > mengukir atau membuat mebel dijamin tidak akan melintir tapi kalau disuruh > pegang pulpen, tangan mereka akan terkilir . Melihat hal itu, sepertinya > pendidikan manajemen bisnis perlu > diterapkan dan bukan hanya pelatihan teoritis semata tetapi justru lebih ke > prakteknya. Mungkin konsep Stage seperti di Perancis bisa diterapkan? > > Semoga masih nyambung dan mohon pencerahannya > > Salam > Sarif > > Pada Sen, 17 Mei 2010 21:52 CDT > [email protected]<efha_mardiansjah%40yahoo.com>menulis: > > > >Pak Aunur Rofiq, Pak Risfan dan sahabats referensiers, > > > >Saya sependapat dengan Pak Aunur, bahwa pengembangan ekonomi lokal tidak > harus produk khas lokal. Tetapi saya mencatat bahwa banyak kabupaten yang > mengalami pertumbuhan industri tinggi, namun juga mengalami peningkatan > angka kemiskinan. Kondisi yang terjadi di beberapa kabupaten ini menunjukkan > bahwa peningkatan aktivitas industri tidak berbanding lurus dengan > pengentasan kemiskinan atau pengurangan angka kemiskinan. Hal yang saya > amati adalah industri-industri yang terkembangkan tersebut adalah industri > yang kurang memiliki backward linkages dengan hasil-hasil aktivitas lokal, > yang umumnya produk-produk pertanian. Tanpa adanya keterkaitan kuat antara > industri-industri yang ada dengan produk-produk lokalnya, maka kelihatannya > trickling down effects dan pemerataan pembangungan tidak dapat berjalan > dengan baik. > > > >Melengkapi tantangan yang dilontarkan oleh Pak Risfan, dari sudut pandang > ini, saya juga ingin melontarkan salah satu tantangan besar dalam > pembangunan ekonomi lokal kita, yaitu bagaimana mengembangkan kegiatan > industri yang memanfaatkan hasil-hasil pertanian setempat. Saya rasa > peningkatan rantai proses produksi terhadap produk-produk pertanian kita di > banyak kabupaten, sangat diperlukan tidak saja untuk memberi nilai tambah > tetapi juga untuk memberikan jaminan pemasaran yang lebih baik bagi produk > pertanian setempat, yang ujungnya bisa jadi dapat menjadi salah satu > alternatif bagi pengentasan kemiskinan baik di pedesaan maupun di wilayah > perkotaannya. > > > >Beberapa kali saya pernah melihat bagaimana berkuintal-kuintal bawang > merah dibuang di Jalan Raya Pantura Brebes, tomat atau wortel di buang di > jalan di Kuningan, dan lain sebagainya, yang konon katanya dilakukan sebagai > protes akibat anjloknya harga di saat panen. Terkadang saya berpikir, tidak > adakah pihak yang ingin memanfaatkan besarnya potensi produksi bawang merah > di Brebes dan sekitarnya dengan membangun industri acar (acar bawang, acar > bawang mentimun dsb)? Bukankah industri acar bawang seperti itu bukan > merupakan industri yang membutuhkan keahlian tinggi, sehingga bahkan > industri kecil atau mikro pun bisa melakukannya? Untuk kasus bawang merah di > Brebes, bukannya industri rakyat unggulannya, yaitu telor asin, lebih > membutuhkan tingkat keahlian yang lebih tinggi..? Bukankah apabila dilakukan > pembuatan acar bawang dalam botol, maka pemasarannya bisa dilakukan > berdampingan dengan telor asin..? Mengapa pemda setempat tidak mengupayakan > pengembangan > > industri semacam itu..? > > > >Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, terkadang, juga sering muncul di > pemikiran saya bagi hasil produksi padi. Mengapa petani selalu menjual > padinya dalam bentuk karungan besar tak terpilih (bulk)? Mengapa tidak > dikembangkan upaya penyaringan untuk bisa mendapatkan harga yang lebih > tinggi, dengan misal memisahkan padi setidaknya menjadi kategori utuh, pecah > 20%, dsb..? Mengapa tidak dilakukan pengepakan 1 kiloan, 5kiloan, atau 10 > kiloan supaya mendapat harga yang lebih baik..? > > > >Mohon pencerahan, Pak.. > >Terima kasih sebelumnya. > > > >Salam, > > > >Fadjar > > > > > > > >--- En date de : Mar 18.5.10, Aunur rofiq > ><[email protected]<aunurrofiqhadi%40yahoo.com>> > a écrit : > > > > > >De: Aunur rofiq <[email protected] <aunurrofiqhadi%40yahoo.com>> > >Objet: Re: Re : Bls: [referensi] Penilaian orang Singapura terhadap > Indonesia > >À: [email protected] <referensi%40yahoogroups.com> > >Date: Mardi 18 mai 2010, 8h13 > > > >Bung Risfan, Fajar dan rekans > >Pembicaraan pengembangan ekonomi lokal yang sangat menarik, tapi sayang > "ladang amal perencana" ini tidak banyak diminati oleh referensiers. Saya > merasa mendapat pencerahaan yang banyak dari pak Risfan, karena saat ini > kebetulan diberi tugas untuk mengembangkan "pusat inovasi" UMKM. rasanya > klop! . Saya beberapa bulan ini banyak berkeliling ke berbagai daerah untuk > melihat UMKM. ternyata unggulan daerah (local champion) seperti disebut > oleh bung Risfan "christine hakim", Zulaikha, Bolu Meranti dll hanya dari > satu perusahaan belum pada suatu klaster, yang kaitan ke depan maupun ke > belakangnya tidak begitu terasa. Namun diakui bahwa perusahaan tersebut > mampu membawa "nama" daerah, seperti warungnya Bu Rahayu di kota madiun yang > menyediakan pecel pincuk, ternyata mampu memuaskan pelanggan dari luar > madiun. Tetapi I-cell yang dikembangkan oleh ATMI dan Jokowi memang beda > pendekatan, mereka tidak mengembangkan produk lokal, tetapi mengembangkan > perusahaan > > lokal. dengan produk yang laku di pasar. > >Bung Fajar, pengembangan ekonomi lokal tidak harus produk khas lokal, > tetapi bagaimana menumbuhkan perusahaan lokal menjadi mampu bersaing. Salam > >Aunur Rofiq >

