Terima kasih Pak Eka atas tanggapannya.
Kebetulan kami beberapa kali berdiskusi dengan kawan-kawan soal pengembangan 
jejaring perumahan dan pembanguan perkotaan (housing and urban development) 
untuk memperkuat pengembangan sistem perkotaan yang lebih mampu merespons 
perkembangan kebutuhan dan dinamika pelaku (produsen maupun konsumen) 
perkotaan. Issue ini telah pula diartikulasikan secara lebih strategik oleh 
Wapres dalam Kongres Fiabci di Bali hari ini.

Lebih baik nanti saja kita telusuri hal-hal tersebut selama ngumpul di Solo. 
Kami hanya terlibat di sedikit kegiatan bersama Pak Jokowi di antaranya 
pengembangan fasilitas pembiayaan lokal untuk slum upgrading dan community 
mapping untuk menunjang proses musrenbang. Keduanya akan menjadi bahan 
kunjungan lapangan di hari kedua penyelenggaraan APMCHUD (23 Juni 2010). 

Yang diharapkan oleh teman-teman di pemerintahan (terutama: Kemenpera, KemenPU, 
Bappenas) adalah program yang kongkrit pada saat Indonesia menjadi Ketua 
APMCHUD untuk dua tahun ke depan. Sementara ini teman-teman berharap Indonesia 
dapat berperan sebagai Pusat Pembelajaran dan Pengelolaan Pengetahuan di bidang 
Perumahan dan Pembangunan Perkotaan, mengingat pada tahun 1953 kita pernah 
dipercaya untuk mengelola Pusat Perumahan untuk Kawasan Asia Pasifik (Regional 
Housing Center) di Bandung.

Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah mengingat bangsa kita relatif kurang rajin 
memelihara arsip: dokumentasi, laporan, buku, majalah dll, sehingga banyak 
rekam jejak perkembangan perumahan dan pembangunan perkotaan kita relatif tidak 
banyak yang bisa kita dapatkan saat ini. Mudah-mudahan dengan adanya prakarsa 
ini teman-teman yang selama ini menyimpan dan memelihara dengan baik berbagai 
sumber informasi dan pengetahuan yang selama ini tidak diketahui rimbanya, juga 
buat generasi muda (khususnya mahasiswa) yang juga akan berkumpul di Solo dalam 
Youth Urban Forum dapat lebih bersemangat dalam mendokumentasi berbagai 
penelitian, action research, praktik unggulan dll untuk mengawali "kesadaran 
baru" dalam membangun perumahan dan perkotaan kita ke depan. 
   
Demikian, mohon maaf jika terkesan sok tau, saya hanya mencoba 
mengartikulasikan apa yang telah dirembuk bersama teman-teman.
 
Salam hormat,
Dodo Juliman 


________________________________________
From: [email protected] [[email protected]] On Behalf Of - 
ekadj [[email protected]]
Sent: Monday, May 24, 2010 6:06 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Jumpa Solo

Salam kenal untuk Pak Dodo, sudah sering dengar namanya pak, namun belum pernah 
jumpa. Diharapkan bapak juga "bicara" dalam diskusi kita untuk berbagi 
perspektif. Mengingat rupanya ada gawean Habitat di Solo, rasanya Jumpa 
Solo-nya bisa kita adakan berbarengan, bagaimana Pak Rofiq, Pak Risfan, dkk? 
Saya juga pengen dengar komentar Pak H. Aby nih. Salam.

-ekadj
2010/5/24 Dodo Juliman <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Pak Rofiq dan Pak Eka,
Kenalkan, nama saya Dodo Juliman. Saya tsalah satu anggota milis ini yang setia 
"mendengarkan" diskusi Bapak-Ibu sekalian.. Saya juga akan ada di Solo mulai 
tanggal 20-26 Juni yad. Saya sangat senang kalau diberi kesempatan untuk 
bertemu dengan teman-teman referensiers. Saya dapat dihubungi di no 
08112200560. Sampai bertemu di Solo dan wedangan bersama Pak Jokowi yang baru 
terpilih kembali menjadi Walikota Solo.

Salam hangat,
Dodo Juliman
________________________________________
From: [email protected]<mailto:[email protected]> 
[[email protected]<mailto:[email protected]>] On Behalf Of - 
ekadj [[email protected]<mailto:[email protected]>]
Sent: Sunday, May 23, 2010 7:56 PM
To: [email protected]<mailto:[email protected]>
Subject: [referensi] Jumpa Solo

Pak Rofiq ysh, menarik sekali tawarannya untuk kopi darat di Solo, terutama 
suguhannya. Mudah-mudahan duren Lampung juga lagi musim. Kalau waktunya pas, 
saya kira banyak yang bisa ikutan, kira-kira weekend pak? Kita perlu tahu juga 
Referensiers yang domisili di Solo, siapa saja ya? Kalau Pak Djarot sudah ok, 
Pak Risfan bagaimana? Siapa lagi bisa ikutan?

-ekadj

2010/5/23 Aunur rofiq 
<[email protected]<mailto:[email protected]><mailto:[email protected]<mailto:[email protected]>>>


Pak Eka,
Kalau ingin bicara hubungan antara borjuis, keruangan, nilai lokal, 
tradisional,.pasar..........lebih enak kalau kita kopi darat di Solo bisa 
diskusi dengan Jokowi sambil makan sego liwet dan wedang uwuh. Saya rasa akan 
banyak yang dateng......bulan Juni gimana?


Salam
Aunur Rofiq


________________________________
From: - ekadj 
<[email protected]<mailto:[email protected]><mailto:[email protected]<mailto:[email protected]>>>
To: 
[email protected]<mailto:[email protected]><mailto:[email protected]<mailto:[email protected]>>
Sent: Sun, May 23, 2010 8:58:14 AM

Subject: Re: [referensi] la pensée bourgeoise



Pak Risfan ysh. Saya kira memang ada perubahan pola pemasaran produk, kalau 
dulu ada galeri-galeri yang mengumpulkan produk dari perupa sekitar, dan 
tentunya ada proses seleksi kualitas. Sekarang siapa pun bisa membuka galeri 
sendiri, sehingga membiarkan konsumen memilih sendiri kualitas produknya. Ini 
juga menjadi rekreasi belanja tersendiri. Namun implikasi keruangannya cukup 
luar biasa untuk wajah Bali hari ini.
Kalau untuk Asmat, bentuk pemasarannya dilakukan setahun sekali, yaitu setiap 
minggu kedua Oktober. Pada waktu itu puluhan wisatawan datang dari seluruh 
dunia, dan banyak yang menggunakan kapal pesiar. Karena jumlah produknya 
sedikit, dilakukan dengan sistem lelang.
Produksi di Asmat tidak bisa ditingkatkan, karena jumah perupa yang semakin 
sedikit, juga ketersediaan kayu-besi yang semakin terbatas. Dan yang 
terpenting: perupa tidak bisa dipacu untuk berproduksi, mungkin karena seni 
sebagai ekspresi jiwa itu.
Mungkin disini kita dapat melihat perbedaan antara masyarakat borjuis dan 
tradisional itu secara kontras. Keduanya memiliki basis materialisme yang sama 
yaitu 'structure in place'. Namun praxis untuk berproduksi, modus transformasi 
alam tergantung pada instrumen dan teknologi, ditambah oleh Pak Risfan: pasar. 
Hanya pragmatisme borjuis terhadap alam juga berpengaruh pada pragmatisme 
kulturnya. Borjuis berproduksi karena hubungan ekonomi: exchange dan 
utilitarian, dan membangun sekat yang tegas dan panjang produsen-konsumen. 
Tradisional berproduksi karena hubungan sosial, memahami alam sebatas kebutuhan 
sendiri, dan kalau ada pertukaran kembali kepada semiotika sosial.
Sementara demikian pak. Salam.

-ekadj


2010/5/23 Risfan M <risf...@yahoo. 
com<mailto:[email protected]<mailto:[email protected]>>>


Uda Eka dan Rekans ysh,

Saya memahami kemirisan Anda soal komersialisasi karya seni. Di kalangan 
perencana pariwisata, budayawan ini juga merisaukan. Dilematis.

Idealnya biarkan keaslian karya Asli dari suku Asli tetap asli. Ritme hidup dia 
juga tetap asli.
Tapi, kalau Anda tahu bahwa karya Asli itu di pasar ternyata harganya mahal dan 
Anda membiarkan suku Asli itu tidak tahu , apalagi mereka secara ekonomi IPM) 
terbatas. Maka membiarkan mereka tidak masuk sistem ekonomi, bisa dibilang 
tidak fair juga. Dan, praktiknya kebijakan pemerintah (diluar kontrol kita) 
membuka peluang itu.

Tapi mengajari mereka terjun bebas ke sistem ekonomi memang beresiko: memudaran 
keaslian berganti motif komersial; kedua akan memicu eksploitasi. Untuk inilah 
maka penguatan Cluster/sentra /kelompok diperlukan agar bargaining position 
mereka (mikro-kecil) naik, dan ada keseimbangan informasi (harga, kualitas).

Kecuali kalau (omongan negarawan ini) negara ini betul2 menganut faham Negara 
Sejahtera, dan mampu konsisten memberi jaminan sosial yang wajar bagi tiap 
warganya. Orang air saja mesti beli, rumah sakit atau sekolah mendiskriminasi 
orang tak mampu, kok seniman, suku Asli, gak boleh jualan karya seninya.

Saya jadi ingat potongan syair Rendra yang juga mengritik bisnis Pariwisata di 
satu daerah. Intinya digambarkan seorang wisatawan perempuan bilang ke 
suaminya, Well, look John, mereka asli ya. Tanpa baju manjat pohon kelapa. 
Eksotis ya seperti monyet. Ayo kita foto.

Pak Eka, debat seni untuk seni vs seni bertendens (sekarang komersial) 
sepertinya juga abadi. Seingat saya Bagong K (bapaknya Butet dan Jadug) dan 
Garin yang ambil jalan tengah. Mengambangkan yang seni banget (klasik, 
eksperimental) dan yang pop (komersial?) .

Yang penting keseimbangan informasi diperjuangkan. Jangan seperti praktik 
pembangunan kota. Kepada warga pemilik tanah Pemda bilang ini kepentingan umum 
, tutup mata bahwa begitu prasarana dibangun para pengembang menikmati gain 
harga tanah puluhan kali. Karena itu menurut saya Planner juga mesti tahu 
dinamika harga tanah, supaya bisa menjembatani kepentingan masing-masing pihak.

Kembali ke supply-chain, idealnya produsen A, B, C, .....tahu di proses X nanti 
harga jualnya berapa (walau kasar) dan tiap jenjang porsinya berapa, apa 
kriteria mutunya, sehingga dia bisa menaikkan posisinya.

Salam,
Risfan Munir
www.wilayahkota. blogspot. com<http://www.wilayahkota.blogspot.com/>







------------------------------------

Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke