Artikel yang menarik, Mas Andria. Saya masih bingung saja, maksudnya smart capital itu apakah segebug financial capital yang dibawa investor asing yang kebetulan smart? Atau smart capital = modal sistem yang berbasis pengetahuan dan relasi kepranataan, yang mampu mengelola SDA secara cerdas? Kalau yang dimaksud itu yang pertama, saya amat menyangsikannya. Selain belum ada negara yang memikirkan negara lain seperti negaranya sendiri, belum ada investor yang berpikir seperti negara, dan lagian masih ada kendala nasionalisme di sini. Jadi kalau BKPM memaknai smart capital sebatas dibawa melalui FDI, apa tidak terlalu sederhana? Salam, Jehan
--- On Sat, 7/3/10, andria buchara <[email protected]> wrote: From: andria buchara <[email protected]> Subject: [referensi] To: [email protected] Date: Saturday, July 3, 2010, 9:59 AM Kompas - Jumat 2 Juli 2010 - Opini Membidik “Smart Capital” Oleh GITA WIRJAWAN Michael Porter, ahli strategi bisnis ternama, pernah bertanya kepada 100 mahasiswanya di Harvard Business School. Untuk memulai diskusi tentang penanaman modal asing (PMA) atau investasi asing langsung (FDI) di Indonesia, ia melempar pertanyaan: “Bila Indonesia sangat kaya dan subur sehinga apa pun yang ditanam di tanah bisa tumbuh, mengapa Negara tersebut miskin?” Jawaban yang muncul sangat beragam – dari yang ragu-ragu hingga yang terlampau yakin – mulai dari budaya korupsi, peraturan investasi yang kurang kondusif, hingga penguasaan kekayaan di segelintir orang. Di akhir diskusi, persepsi tentang Indonesia yang terbentuk di benak para calon pimpinan usaha, sama dengan persepsi umum yang ada: Indonesia adalah Negara yang terlalu berisiko untuk dijadikan tujuan usaha meskipun potensinya amat besar. Sering kali suatu observasi sederhana mengandung beragam nuansa. Namun, terkadang situasi yang misterius bisa dijelaskan dengan sangat sederhana. Jawaban dari pertanyaan Porter tersebut adalah bahwa Indonesia belum mencapai potensi ekonominya karena masih terus kekurangan smart capital. Smart capital adalah investasi yang sifatnya berjangka panjang dan bernilai tambah. Istilah smart digunakan karena para investor yang membawa modal seperti ini cukup cerdas untuk memahami bahwa untuk dapat sepenuhnya memanfaatkan potensi Indonesia, investasi yang dilakukan haruslah berjangka panjang, melaksanakan strategi yang berani, dan memberikan prioritas bagi sektor-sektor utama atau sektor-sektor dasar. Perlu diakui bahwa Indonesia adalah negara yang besar dan kompleks, dan bukan tanpa masalah. Namun, dengan kekayaan sumber daya alam (SDA), pengelolaan fiskal yang prima, sumber daya manusia (SDM) yang usianya muda dan ahli, potensi pasar dalam negeri yang besar, dan peran di tingkat global yang terus meningkat, ekonomi Indonesia telah siap untuk tinggal lnadas ke tingkat berikutnya. Di tahun 2020, produk domestik bruto (PDB) nominal Indonesia diperkirakan naik setidaknya empat kali lipat. Dengan potensi ekonomi tersebut, smart capital berupaya untuk memanfaatkan momentum ini hingga titik optimum. Namun untuk terus berinvestasi di Indonesia dalam jangka panjang, para investor harus berinisiatif dan berkomitmen untuk ikut membantu upaya pembangunan di Indonesia, termasuk menurunkan angka kemiskinan, pengangguran, dan meningkatkan daya saing. Para investor harus menanamkan modal dengan orientasi dan semangat penciptaan lapangan kerja, peningkatan taraf hidup, serta pengalihan teknologi baru dan standar internasioanal agar dipandang sebagai mitra dalam upaya mencapai kesejahteraan bersama. Kemitraan seperti ini membutuhkan visi dan strategi yang belum tentu lazim dalam praktek bisnis pada umumnya. Smart capital melihat integrasi hilir sebagai peluang untuk mencapai kemitraan tersebut. Perusahaan seringkali melakukan integrasi usaha apabila secara komersial menguntungkan. Biasanya, keputusan ini diambil oleh manajemen dengan memperhitungkan keuntungan yang diperoleh dari economies of scale. Bagi smart capital, integrasi hilir memberikan lebih dari sekesar pengurangan biaya operasional. Dengan meningkatnya jumlah usaha pendukung domestik, semakin banyak jumlah lapangan kerja yang tercipta dan semakin besar nilai pajak yang diperoleh negara, integrasi hilir juga mengurangi biaya transaksi. Perusahaan yang melakukan integrasi kegiatan usahanya dari hulu ke hilir, terutama di saat supremasi hukum masih belum matang, secara implisit mendapatkan perlindungan yang mencakup pula perpanjangan kontrak dan hubungan pembeli – pemasok karena kehadiran mereka dianggap penting bagi pertumbuhan ekonomi negara yang bersangkutan. Investor Mitra Penting Goal Smart capital juga membawa tekonologi baru dan meningkatkan kemampan manajerial tenaga kerja local. Pemilik smart capital menyadari bahwa agar bisa bersaing secara global, suatu negara membutuhkan SDM yang berkualitas dan memiliki basis dan sistem peningkatan efisiensi. Ini pada akhirnya akan mendorong transisi ekonomi ke arah ekonomi berbasis pengetahuan (Knowledge based economy), yang amat penting bagi inovasi industry dan penciptaan nilai tambah selanjutnya. Integrasi hilir, transfer teknologi, dan penggunaan standar internasional bisa meningkatkan nilai seluruh pemangku kepengtingan SDA Indonesia, yang saat ini merupakan sumber devisa yang utama. Indonesia selama ini mengekspor komoditas dalam bentuk mentah, dan kemudian mengimpor barang jadi dengan harga yang lebih mahal. Nilai yang terbuang sia-sia amatlah besar. Sebagai ilustrasi: para penghasil kakao di Indonesia bias memperoleh penghasilan hingga sembilan belas kali lebih besar apabila mereka bias mengintegrasikan usaha dan meningkatkan kapasitas produksi. Untuk komoditas bauksit, nilai tambah dari integrasi bias mencapai tiga puluh kali. Sudah menjadi pengetahuan umum di seluruh dunia bahwa apa yang secara fisik diperoleh dari bumi merupakan milik masyarakat. Smart capital melindungi kepentingan investor dengan menunjukkan kepada negara lokasi investasi bahwa tidak terjadi erosi nilai di dalam sektor SDA mereka. Smart capital melihat bukan hanya SDA, tetapi juga peluang yang bias memberikan nilai tambah yang besar di sektor apapun. Di Indonesia, sektor dasar seperti pendidikan dan kesehatan – amat penting untuk pembangunan SDM – amatlah menjanjikan. Indonesia memiliki penduduk yang berusia muda dan terus bertambah, dan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan mereka, permintaan akan layanan pendidikan dan kesehatan yang baik akan meningkat pula. Setiap tahunnya, Indonesia kehilangan sekitar 1 miliar dollar AS dari sektor kesehatan karena banyak penduduk Indonesia yang mencari layanan medis di Malaysia dan Singapura. Smart capital bisa melihat peluang ini dan berupaya menanamkan modal mereka di sektor kesehatan dan di sektor penunjang lainnya. Yang tidak kalah pentingnya, smart capital berpandangan jauh ke depan. Masalah perubahan iklim adalah persoalan yang nyata, jelas, dan perlu diwaspadai. Indonesia saat ini adalah penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia. Saat ini, Indonesia banyak mendapatkan dukungan dari negara donor untuk terus melakukan upaya guna mengatasi perubahan iklim. Smart capital melihat besarnya kemauan politik pemerintah untuk mengatasi masalah ini sebagai peluang untuk menciptakan nilai yang besar, melalui kolaborasi yang erat. Smart capital adalah upaya yang strategis, inventif, inklusif, dan berorientasi masa depan. Inilah yang dibutuhkan Indonesia untuk mengubah citra sebagai negara miskin. Smart capital membantu akselerasi pembangunan dan menjadikan investor sebagai mitra penting pembangunan yang akan mendapatkan keuntungan berlipat dengan mengambil visi yang berjangka panjang, berorientasi pionir, dan komprehensif terhadap prospek ekonomi di Indonesia. Gita Wirjawan Kepala badan Koordinasi Penanaman Modal -- Best regards, andriaBUCHARA Indonesia Investment Coordinating Board Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Email: [email protected] alt. e-mail: [email protected] Web: www.bkpm.go.id ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

