Kalau difasilitasi dan diseriusi, mungkin bisa jadi leading industri manifacture yang bisa disemai.... Hehhehehehe Salam Dwiagus
------------------- Menjadi Tuan di Rumah Sendiri http://m.kompas.com/news/read/data/2010.07.04.09112839 KOMPAS.com - Pernah membeli frame sepeda merek favorit, seperti Scott, Kona, Mustang, Genesis, Wheeler, atau Raleigh UK langsung dari luar negeri? Ah, bisa jadi produk itu buatan Sidoarjo, Jawa Timur. Apa pasal? Ternyata, beberapa seri tertentu dari frame-frame tersebut dibuat oleh PT Insera Sena di Sidoarjo. Insera ini lebih dikenal sebagai produsen sepeda Polygon. ”Kami memproduksi 65 persen sampai 75 persen untuk ekspor ke berbagai negara, sisanya untuk konsumsi dalam negeri,” kata Zendy Renan, Manajer Penelitian dan Pengembangan Polygon. Salah satu produksi mereka adalah Scott Mountain. ”Ada 60 tipe yang kami produksi per tahunnya dari total 100-150 tipe di dunia. Jadi, kalau Anda beli frame Scott asli dari luar negeri, kemungkinan itu frame buatan kami,” kata Zendy. Sayangnya, kita tidak bisa membeli frame buatan Scott langsung dari Polygon karena produksi frame tersebut langsung diperuntukkan Scott internasional. Dari total ekspor itu, 5 persen sampai 10 persen ternyata menggunakan brand Polygon. Penetrasi ekspor tercatat setidaknya sampai ke lima benua dan 30 negara. ”Ekspor kami di antaranya ke Malaysia, Singapura, Korea, Thailand, Ceko, dan Australia,” kata Zendy. Salah satu bisnis utama Insera memang di bidang pembuatan frame dengan kapasitas sehari berkisar antara 1.000 dan 1.500 frame per hari. ”Bahan steel sudah tersedia di dalam negeri, tetapi untuk bahan aluminium masih impor,” kata Zendy. Inilah yang membuat frame dengan bahan aluminium jauh lebih mahal. Taruhlah dibandingkan dengan Taiwan, negara yang sudah dikenal jago membuat frame, karena mereka didukung industri bahan baku. ”Dari Taiwan saja ada empat sampai lima vendor yang memasok bahan ke kami. Andaikan di dalam negeri sudah tersedia, pasti harga frame aluminium juga lebih murah,” kata Zendy. ”Sampai sekarang, Polygon masuk 30 besar dunia. Mungkin Indonesia bisa nomor satu asal semua komponen mendukung. Kita punya kelebihan unik antara topografi dan biaya produksi. Artinya, untuk bisa eksis, kita tak harus memproduksi massal, tetapi harga sudah masuk, produksi skala menengah,” kata Zendy. Insera Salah satu ekspor sepeda dengan merek Insera adalah ke Finlandia. Ya, ternyata Insera ini merek salah satu sepeda di Finlandia. Lho, bukannya Insera itu diambil dari PT Insera Sena, kepanjangan dari Industri Sepeda Surabaya dan Sena yang merupakan tokoh pewayangan? ”Memang iya. Namun, dulu customer pertama kali Insera Sena itu orang Finlandia. Mereka mau buat sepeda, tetapi belum punya merek. Akhirnya, kita usulkan mereknya Insera. Sampai sekarang brand Insera ini masih dipakai dan merupakan brand ternama nomor dua di sana,” kata Zendy. Hingga kini, Insera Sena masih konsentrasi untuk pembuatan frame. Komponen lain, seperti ban dan velg atau rim, masih didatangkan dalam bentuk jadi karena infrastruktur belum mendukung. ”Di sini hanya merakitnya,” kata Zendy. Di Asia Tenggara, kompetitor Insera Sena dari sisi kualitas justru datang dari Vietnam. ”Dari sisi kuantitas, kompetitor kita Thailand, di sana ada Bangkok Cycle yang produksi per tahunnya mencapai 1 juta unit, sementara dari kami total produksinya 250.000 per tahun,” kata Zendy. Jika sebelumnya lebih banyak melayani pesanan desain dari luar negeri, sejak tahun 2001 Insera sudah memiliki lembaga riset tersendiri. Sejak itu, beberapa desain asli mereka mulai muncul di pasaran. ”Kita mendapat ide-ide segar soal desain dari banyak sumber, misalnya dari berbagai kompetisi yang kita gelar, dari respons pasar, dari atlet, dan juga melihat langsung fenomena di lapangan,” katanya. ”Waktu kita keluarkan desain sepeda hybrid, itu cuma gara-gara lihat seorang bapak gendut main mountain bike di jalan raya. Kami akhirnya membuat sepeda hybrid yang nyaman dikendarai di jalan raya,” kata Zendy. Ceruk pasar Walaupun industri sepeda dalam negeri sudah mulai mencipta desain dan tren sendiri, menurut dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Dudy Wiyancoko, hal itu masih belum cukup. ”Masih ada kecenderungan produsen sepeda kita lebih mementingkan berjualan sepeda daripada menciptakan tren. Padahal, masih banyak ceruk pasar sepeda yang tak tergarap,” kata Dudy, yang beberapa tahun terakhir menginisiasi lomba desain sepeda bertaraf nasional dan internasional, bekerja sama dengan Polygon ini. Beberapa di antaranya adalah sepeda yang cocok untuk petani atau untuk pedagang keliling bersepeda. ”Sampai sekarang, petani kita masih mengandalkan sepeda ontel tua atau sepeda sejenis buatan China,” kata dia. Selain diisi produk China, ceruk pasar itu juga diisi oleh pembuat sepeda skala kecil, misalnya Muhammad Taufiq (47), pemilik bengkel las di Kediri, Jawa Timur, yang mahir membuat sepeda berbagai jenis, mulai dari ontel, BMX, lowrider, fixie, balap, hingga sepeda gunung. Tak hanya meniru desain-desain yang ada, dia juga membuat dan merancang sendiri sepeda. ”Yang pesan sepeda dari hampir seluruh daerah di Indonesia. Satu bulan bisa buat hingga 30 sepeda. Biasanya mereka bawa gambar sendiri, tetapi kadang saya yang membuatkan desainnya untuk mereka,” kata mantan atlet sepeda Kediri, yang sudah membuat sepeda sejak tahun 1985 ini. Berbeda dengan industri mobil, di mana Indonesia hanya menjadi pasar dan bisa dikata sudah terlambat untuk mengatasi ketertinggalan teknologinya yang berkembang pesat, di bidang industri sepeda kita sebenarnya masih bisa mengejar. Karena teknologi sepeda, menurut Dudy, cenderung sederhana. ”Bahkan, untuk desain dan tenaga terampil, kita termasuk terdepan,” kata Dudy. Jadi, bolehlah kiranya kita berharap pada tahun-tahun mendatang Indonesia bisa berjaya di bidang industri sepeda sehingga bisa menopang para pesepeda yang makin marak saja.... (Amir Sodikin/Ahmad Arif) »»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot Teruuusss...!!! ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

