Hehe jadi rame jg ya soal kebon binatang ini. Tp semestinya kalau Tempo ga perlu diributin menggunakan gambar babi, ya biarin aja bung ical pake idiom tikus, lumba2 atau apapun deh...
Jd inget lagu iwan fals, dunia politik katanya memang dunia binatang, dunia hura hura para binatang... Jd barangkali dlm konteks ini bung ical jujur.. Asik Nggak Asik Karya : Iwan Fals ( Album Manusia Setengah Dewa 2004 ) Dunia politik penuh dengan intrik Cubit sana cubit sini itu sudah lumrah Seperti orang pacaran Kalau nggak nyubit nggak asik Dunia politik penuh dengan intrik Kilik sana kilik sini itu sudah wajar Seperti orang adu jangkrik Kalau nggak ngilik nggak asik Rakyat nonton jadi supporter Kasih semangat jagoannya Walau tau jagoannya ngibul Walau tau dapur nggak ngebul Dunia politik dunia bintang Dunia hura hura para binatang Berjoget dengan asik Dunia politik punya hukum sendiri Colong sana colong sini atau colong colongan Seperti orang nyolong mangga Kalau nggak nyolong nggak asik Rakyat lugu kena getahnya Buah mangga entah kemana Tinggal biji tinggal kulitnya Tinggal mimpi ambil hikmahnya Dunia politik dunia bintang Dunia pesta pora para binatang Asik nggak asik Dunia politik memang asik nggak asik Kadang asik kadang enggak disitu yang asik (katanya) Seperti orang main catur Kalau nggak ngatur nggak asik Pion bingung nggak bisa mundur Pion pion nggak mungkin kabur Menteri, luncur, kuda dan benteng Galaknya melebihi raja Raja tenang gerak selangkah Sambil menyematkan hadiah Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Sariffuddin <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 6 Jul 2010 12:37:19 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re : [referensi] Analogi Tikus Gambarkan Imajinasi dan Lingkungan Seseorang Jadi Kebun Binatang deh. Nuwun, Sarif ________________________________ De : Nur Hidayat <[email protected]> À : [email protected] Envoyé le : Mar 6 juillet 2010, 9h 41min 29s Objet : RE: [referensi] Analogi Tikus Gambarkan Imajinasi dan Lingkungan Seseorang Kurang satu yang belum dipakai politisi kita: Kancil (Pilek) :-D Nuwun, NH Sent from my mobile device, powered by www.seblak.net. - original message - Subject: [referensi] Analogi Tikus Gambarkan Imajinasi dan Lingkungan Seseorang From: [email protected] Date: 06:07:2010 9:10 AM Cicak, buaya, kebo, celeng, tikus. Lengkaplah sudah. Salam, CA Source: http://m.detik.com/read/2010/07/06/073802/1393568/10/analogi-tikus-gambarkan-imajinasi-dan-lingkungan-seseorang?991101605 --begins-- Analogi Tikus Gambarkan Imajinasi dan Lingkungan Seseorang Laurencius Simanjuntak : detikNews detikcom - Jakarta, Usai heboh cicak versus buaya dan babi, publik kini kembali disuguhankan fabel episode baru. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mengimbau kader partainya belaku seperti tikus, tidak langsung menggigit, tapi mengendus lebih dulu sebelum menggigit. Sastrawan yang juga penulis naskah lakon 'Republik Reptil', Radhar Panca Dahana, menilai pemilihan kata oleh seseorang menggambarkan, discourse, lingkungan, imajinasi, cara berbuat dan juga tujuan seseorang. "Pemimpin mengatakan tikus, sementara tikus itu perlambang sebuah kebusukan, kemunafikan, kelicikan dan simbolisasi sebagai koruptor. Betapa pemimpin itu pendek imajinasinya, kering imajinasinya, kotor kepala dan pikirannya. Bahkan sampai mengimbau," kata Radhar saat berbicang dengan detikcom, Selasa (6/7/2010). Radhar menilai tikus bukanlah bintang yang dalam dunia fabel mewakili derajat kemuliaan. Karenanya, tidak pantas untuk menggambarkan realitas kehidupan manusia dengan tikus. "Ini menunjukkan rendahnya apresiasi kita terhadap manusia, rendahnya kemanusiaan manusia menunjukkan merosotnya keadaban publik kita," kata Radhar. Pemilihan kata tikus ini, kata Radhar, juga tak ubahnya istilah cicak dan buaya yang dipopulerkan oleh Komjen Pol Susno Duadji. "Kalau menyebut buaya, ya dia identik dengan buaya, licik, ganas," kata dia. Sikap reaktif kepolisian terhadap cover majalah Tempo yang bergambar celengan babi, dinilai Radhar, juga menunjukkan ketidaksehatan berpikir. Pada celengan babi, polisi dinilai cenderung menekankan pada aspek binatangnya ketimbang bendanya (celengan). "Celengan ya celengan, kenapa harus diasosiasikan dari kebinatangannya. Tapi karena pikiran yang sempit, maka ia melecuti kata bendanya dan mengambil kata sifatnya. Itu kebodohan," tegasnya. --ends-- BebasOrba® TaatPajak® AntiLumpur®

