Prof. Raden Ongkowijoyo dan milisters ysh, Hei hei hei Prof….. emangnya siapa juga ya yg ada kebakaran (jenggot?) ………samasekali nggak ada lho …….gimana sih prof……wong saya ini malah ibarat ikan yg lagi nganggur dan sdg berenang2an disungai besarnya pak Ekadj itu ……lalu tiba2 datang umpan sedap dari anda .….ya tentu saja segera saya samber dgn sukacita ……saya justru merasa tersanjung dgn umpan itu ……jadi ada kesempatan utk kita lanjut diskusi ….dan sedikit banyak itu khan bisa saja ada gunanya bukan...…. Ya prof …….tentu saja bicara planing memulai dari skala apa sajapun tentu boleh2 saja …..tak ada yg ngelarang ……..saya juga pernah (dimilis ini, 2006) sampaikan model pengembangan ruang very very bottom up abis …..pengembangan pusat desa dgn ruko desa swadaya berlantai tanah beratap ilalang sbg model pengembangan inti pusat desa bersifat urban …sehingga pusat desa mampu mengembangkan layanan bahkan 24jam dari semula hanya bbrp jam saja dipagi hari dan hanya pada hari pasaran 1 minggu 2 kali (tapi biasa …hasilnya begeming saja, tapi ya saya tak hanya monotone bicara ttg bottom up / desa saja terus)…akan tetapi …kalau memang masih ada terkandung maksud perencanaan utk membuat langkah2 yg bersifat lbh strategis berskala nasional/ regional ……yg mampu memunculkan permodelan secara nasional …..dan agar mampu mentriger pengembangan yg lbh cepat dan lbh luas ……..saya kira kebalikan dari model bottom up spt model pusat desa saya tadi …..ialah ia hrs dimulai dgn skala tertingginya kota…..ialah metropolitan …yg terkandung maksud didalamnya …agar ia mampu memunculkan dampak ganda (multiplier effect) yg lbh luas ……dipelbagai sektor … dan jangan sampai hanya pd satu dua sektor saja ….krn dgn menyangkut multisektor yg luas ……ia akan menyangkut pelibatan SDM, permodalan, teknologi dsb dari segala strata yg lbh luas dibanding bila sekedar pengembangan pd skala kecil atau aplg hanay monosektoral…………. Juga agar ia dpt menyangkut dampak mengangkat pengembangan pd kawasan belakang dari pusat pengembangan tsb yg lbh luas …dibanding apabila permainan hanya berkutat diskala kota kecil ……yg serba kurang jelas pengembangan multisektoralitasnya atau multiplier effectnya ….. yg mending2 juga kalau dinegeri kita ini sdh dpt ditunjukkan model idealnya utk agar dpt segera dibuat replikasi sebanyak2nya dimana2……….. Saya kira perlulah anda semua para perencana ingat terus pd 7 (tujuh) poin utama yg harus dijalankan atau menjadi checklist pertanyaan ….agar langkah pengembangan kota2anda itu nyambung dgn irama proses ekonomi global abad 21 ini ……dan harap jangan jawasentrisme terus ….spy nanti jangan spt katak dlm tempurung (hehe pdhal yg katak itu malah saya sendiri) ……dimana ke 7 (tujuh) poin itu ialah : 1. sbg pusat inovasi dan jasa2, termasuk jasa tingkat tinggi 2. sbgpusat kebudayaan, olahraga, entertainment, konvensi dan turisme 3. sbg pusat pendidikan, riset dan health care 4. sbg pusat (hub) transportasi dan perniagaan 5. sbg pusat manufaktur dan pengembangan teknologi 6. sbg pusat pemasaran 7. sbg pusat tenagakerja Kalau anda ingin kembangkan kota (diluar Jawa, mohon jangan ngomong jabodetabek bangsanya BSD segala itu deh, biarkan saja Jkt mau macet gak keruan, toh jkt juga egois dan tak pernah mau nyerah, tak mau berbagi sistem kota dgn daerah, biarin saja mau buat 6 jln tol inner ring dlm kota segala) ……cobalah jujur tanyakan dalam hati ……apakah proyek anda itu nanti memenuhi ke-tujuh unsur diatas atau tidak ......saya kira semakin besar lokasi kota tempat proyek anda …akan semakin besar peluang utk berkembangnya ketujuh poin diatas ……sebaliknya semakin kecil kota yg anda pilih sbg tempat proyek anda ……..anda harus akui …..akan semakin kecil pula peluang berkembangnya ketujuh poin diatas secara berbareng …atau yg berkembang paling hanya satu dua poin saja (apa manufaktur akan berkembang dikota kecil?)……..itu sebabnya saya selalu lbh banyak tawarkan utk kembangkan kota2 metropolis (diluar jawa) yg dinamis (yg ada sekarang jg msh loyo) ….nanti kota2 dan kawasan belakangnya akan terus berkembang …...dn perkembangan kota2 metropolitan yg dinamis diluar jawa akan kompatibel dgn perekonomian global abad 21 ini ……dan itu jelas amat memperkuat sistem perkotaan nasional kita yg integratif ……jadi mohon, tolonglah agr kita ini pantas berdiri dgn pede dlm pergaulan global gitu loh ....trims dan salam, aby --- On Sat, 8/21/10, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Subject: Re: Tgp Bls [referensi] Banjarmasin Sungai Besar To: [email protected] Date: Saturday, August 21, 2010, 10:58 PM Maaf saya baru baca balasan Eyang Aby ysh, Tampaknya eyangku ini kebakaran karena saya singgung soal istilah Metropolitan dan counter magnetnya.... Maaf eyang, cucunda ini tidak bermaksud menyudutkan eyang, apalagi saat ini sedang puasa...wah bisa dosa besar. Cucunda ini juga sangat menikmati berperahu menelusuri sungai Kenneth di Reading, berekreasi tepi sungai di kota Brisbane, Cambridge, ataupun menapaki tepi sungai Cheonggyecheon dan berbagai kawasan publik (termasuk cucu) di Seoul yang dengan berani menggantikan sungai kumuh dan jalan tol setempat. Yang menjadi masalah bukan soal sungai-sungai tersebut ada di kota seukuran Metropolitan dsb. namun pendekatan bahwa Metropolitan atau counter magnet merupakan awal dari pengembangannya. Maksudnya, tidak perlu harus mulai dengan kebijakan terhadap skala kota "Metropolitan" (penduduk 1 juta jiwa) baru kita menilai pantas bertindak. Atau bertujuan membuat kota "counter magnet" sebagai motivasinya. Apalagi dengan kenyataan "kemerdekaan" akibat "reformasi" pemerintahan kota dan kabupaten yang dianut akhir-akhir ini. BSD dilahirkan berdasarkan konsep ke"mandiri"an, sebagai sangahan terhadap konsep perumahan partial, atau kota satelit dari Koa besar induk, namun perkembangannya ternyata tetap seperti bentuk-bentuk permukiman yang semula disanggahnya. Lippo Karawaci yang "berniat" mengambil alih peran kota di LN sebagai daya tarik tempat tinggal kelompok masyarakat kelas dan bergaya hidup tertentu sebagai basis pengembangannya ternyata juga tidak mampu mengembangkan kesejahteraan masyarakat sekitar semula, lebih dari peningkatan beban lingkungan yang diakibatkannya setiap hari. Bahkan Depok yang sudah lewat batas kependudukan 1 juta bahkan diperkirakan mendekati 2 juta jiwa dalam beberapa dekade mendatang masih belum cukup "berubah" menuju keperkembangan yang diharapkan. Padahal ada berbagai masukan dari berbagai warga setempat (termasuk dari UI) dan dukungan DPRD serta pusat sejak sebelum dan awal perubahan statusnya menjadi "kota" untuk mengembangkan konsep Timur-Barat lebih daripada sekadar bermain-main dengan jalan Margonda saja. Padahal pada awalnya warga setempat, LSM dsb telah memberi masukan yang cukup positif bagi perkembangan kota baru tersebut. Bukan skala kota ataupun kebijakan pusat yang memunginkan suatu perubahan perkembangan suatu kota atau wilayah, namun gerak dari warga pemukim di dalam setiap bentuk permukiman tersebut yang memungkinkan suatu perubahan terjadi. Dan gerak dari dalam dari berbagai pihak tersebut tidak dapat tumbuh hanya dengan perdebatan ilmiah ataupun politis yang bersifat kritis ataupun revolutif. Perlu pendekatan soaial-budaya atau psiko-antropologis baik melalui program-program nyata kemasyarakatan ataupun kegiatan-kegiatan pemicu yang "layak jual" di mata masmedia, masyarakat awam ataupun penggemar kebijakan populer lainnya. Nah, disitulah contoh "sayembara" saya masukkan. Sayembara, kalau cukup tepat sasaran dan kelola, mempunyai potensi mempengaruhi cara pandang masyarakat, bahkan berdasarkan kondisi yang semula tidak diperhitungkan. Sayembara dapat bukan hanya berupa gambar-gambar indah yang cuma jadi hiasan dinding. Ia dapat disertai usulan investasi dari tim peserta (designer + developer) yang dapat dilaksanakan ataupun ditingkatkan menjadi suatu kegiatan pembangunan nyata. Sesungguhnya juga saran-saran populer lain yang mudah diterima perlu dilakukan; mungkin berkembang menjadi kesepakatan informal yang mungkin justru menarik untuk menggerakkan investor kecil, menengah hingga besar lokal hingga nasional, bahkan dari LN. Semua yang formal mulai dari informal. Asalkan diantisipasi secara sinergik (perlu pelopor, apalagi yang muda-muda, plus dunia pendidikan yang lebih berkelanjutan), suatu yang kecil namun bermakna dapat berkembang menjadi besar dan berhasil guna secara lebih luas (Butterfly effect). Saya rasa banyak contoh yang membuktikan potensi tersebut. Sebaliknya, tanpa kemampuan untuk menggerakkan hati para pemangku kepentingan yang potensial, banyak "kebijakan" dan "proyek" yag berhenti ditengah jalan atau bahkan mengalami "keguguran" karena hanya berada di atas meja para "ahli" saja, yang mungkin sudah pindah jabatan atau "hoby". Akhir minggu lalu saya baru menikmati sajian awal mahasiswa K2N yang baru pulang dari 10 pulau terluar. Sungguh mengharukan, bagaimana mereka yang muda-muda dan semula cuma kenal kota besarnya mampu dengan penuh ceria dan motivasi berintegrasi dan memicu masyarakat lokal, bahkan yang paling terpencil, melalui modifikasi rencana semula, berubah bersama ke kondisi baru dengan melakukan kegiatan-kegiatan sederhana untuk menjadi lebih kreatif atau produktif. Informasi lain dari para fasilitator pendamping, walau di luar program pokok, justru lebih bersifat strategis; terutama terkait kepada apa yag terjadi dan perlu dikembangkan dalam upaya memperbaiki kelemahan yang ada dan meningkatkan ketahanan negara kita di perbatasan "terpencil" tersebut. Kalau membandingkan dengan kondisi masyarakat negara tetangga, yang kadang hanya selangkah melewati patok perbatasan, istilah "terpencil" tersebut tidak perlu terjadi. Pada lokasi (terpencil?) yang relatif sama, masyarakat negara tetangga dapat jauh lebih sejahtera daripada bangsa kita..... Perlu program yang lebih mendasar dan strategis dalam menyiapkan beranda depan negara ini, di darat maupun di laut, agar tanah-air NKRI dapat tetap berkelanjutan. Mari kita bina "mimpi" menjadi "kenyataan", tidak saja di milist ini namun juga di dunia nyata. Salam, ATA

