Pak Yando dan Referensiers ysh. Sambil i'tikaf, kita kaji teori sedikit. Beberapa penjelasan Prof Heddy ini memantapkan beberapa pemahaman saya, khususnya mengenai fungsionalisme dan Malinowski<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/11943>; beberapa pernah kita diskusikan<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/10467>. Saya tambahkan beberapa catatan: Malinowski sendiri sebenarnya seorang matematikawan dan fisikawan, thesisnya berjudul "On the Principle of Economy of Thought". Dengan kata lain, pola pikir 'fungsi matematika' sangat mempengaruhi kajian kemasyarakatan Malinowski (di Trobriant). Kita pernah ditunjukkan oleh Pak BSP, kalau 'fungsi matematika' itu seperti persamaan A = f (x,y,z). Paradigma fungsionalisme Malinowski ini sebenarnya menjawab era organisme sebagaimana yang diungkapkan Pak Heddy, terutama menjawab evolusionisme Darwin yang pada saat itu mulai populer. Because the present is not an ansumption. Saya kutip sedikit pernyataan Malinowski: "Function, in this simplest and most basic aspect of human behavior, can be defined as the satisfaction of an organic impulse by the appropriate act. Form and function, obviously, are inextricably related to one another" (1944). Kata kunci 'organic impulse' dan 'appropriate act' menarik diperhatikan dalam merumuskan 'rencana' (modifikasi, Djoko Sujarto 1986). Salam.
-ekadj 2010/8/31 R. Y. Zakaria <[email protected]> > > Ini lanjutanya. Maaf jika terjadi penerimaan ganda. > > salam, > ryz > > ----- Original Message ----- > *From:* ahimsa putra <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Monday, August 30, 2010 5:27 PM > *Subject:* Re: [referensi] Fw: [IKA-UI] Soal Paradigma & Ethnoscience > > > > kerabat mas yando, saya lanjutkan lagi jawaban saya... > > 8) mengenai cara berfikir deduktif, menurut saya tidak harus selalu > dihubungkan dengan positivisme, dan menurut saya di dalamnya tidak > terkandung proses berfikir yang deduktif. oleh karena itu, dengan kerangka > itu saya tidak merasa bahwa kita akan terjebak pada pola pikir yang > positivistik.. walaupun ini juga tidak perlu terlalu dikhawatirkan. nah, > memang lebih tepat kalau kita bicara tentang bagaimana memperlakukan > kerangka paradigma yang saya buat. > > kerangka itu saya buat untuk memudahkan kita mengidentifikasi ada tidaknya > sebuah paradigma dalam sebuah disiplin atau cabang ilmu pengetahuan (bisa > antropologi, sosiologi, psikologi, kajian budaya, ekonomi, dan sebagainya). > dan setelah kita dapat mengidentifikasinya kita akan tahu > keterbatasan-keterbatasan dari paradigma tersebut. > 9) bagaimana membumikan atau menggunakan kerangka tersebut? saya ambil > contoh paradigma fungsionalisme. apa asumsi dasar dari aliran ini? > pertama adalah bahwa segala sesuatu itu memiliki fungsi. kalau tidak punya > fungsi, sesuatu itu tidak akan ada, tidak akan hadir. kedua, hal itu berarti > bahwa keberadaan sesuatu bisa "dijelaskan" dengan mengacu pada fungsinya. > dua asumsi dasar ini sudah cukup kiranya untuk menunjukkan bahwa > fungsionalisme memiliki asumsi-asumsi dasar. apa nilai-nilai yang ada dalam > paradigma ini? sebagai bagian dari ilmu antropologi, maka nilai-nilai dalam > paradigma ini adalah nilai-nilai keilmuan yang juga ada dalam antropologi > pada umumnya, misalnya nilai yang mengatakan bahwa penelitian yang > "objektif" adalah penelitian yang baik; ilmu pengetahuan yang baik adalah > yang dibangun dengan menggunakan prosedurr dan metode tertentu, dan > seterusnya. > > apa modelnya? modelnya atau analoginya tidak lain adalah organisme, artinya > menurut paradigma fungsionalisme, kebudayaan itu seperti organisme, karena > dengan menggunakan model ini para fungsionalis dapat berbicara tentang > hubungan fungsional antar unsur kebudayaan, sebagaimana yang terdapat dalam > unsur-unsur dari sebuah organisme (makhluk hidup). dan dengan model itu pula > seorang fungsionalis dapat menjelaskan kehadiran suatu fenomena dengan > mengacu pada fungsinya (bukankah dalam berbicara tentang jantung, paru-paru, > ginjal dalam tubuh kita, kita bicara tentang fungsi jantung, fungsi > para-paru....dan tidak berbicara tentang sejarah jantung atau sejarah > paru-paru...?). dengan begitu para fungsionalis juga dapat menghindari > penjelasan secara historis, yang menurut Malinowski dan Radcliffe-Brown > sulit atau hampir tidak mungkin diterapkan pada suku-suku-bangsa yang tidak > mengenal tulisan ataupun pernah ditulis oleh orang lain...(lihat juga kritik > Popper terhadap pendekatan sejarah...) > > nah, kelihatan kan sekarang unsur-unsur paradigma dari > fungsionalisme...kita tahu sekarang asumsinya, nilai-nilainya, modelnya, dan > begitu seterusnya sampai pada etnografinya..yang sering disebut sebagai > etnografi holistik...yang sangat berbeda dengan etnografi-etnografi yang ada > dalam buku "Manusia dan Kebudayaan Indonesia" yang diedit oleh pak Koen, > yang sebenarnya berada dalam paradigma cross-cultural comparison, yang > dikembangkan oleh Murdock...kita tahu kan, bahwa pak Koen adalah murid dan > pengagum Murdock (baca deh pidato pengukuhan pak Koen...) > > begitu mas kira-kira cara menggunakan kerangka paradigma yang saya buat > itu...dari situ kita juga tahu bahwa etnografi itu tidak bisa ujug-ujug.. > anda betul sekali. etnografi fungsional yang ditulis oleh Malinowski berawal > dari asumsi bahwa kebudayaana itu seperti organisme. agar bisa muncul > gambaran kebudayaan sebagai suatu kesatuan dari unsur-unsur yang berhubungan > secara fungsional maka etnografi harus ditulis dengan cara tertentu, tidak > "waton", tidak asal-asalan tanpa rencana. di sinilah diperlukan strategi > retorik sebagaimana yang dimaksud antropolog post-modern..dalam menulis > etnografinya Malinowski sangat sadar akan hal itu > > saya setuju aja bahwa kita perlu tandang gawe nulis etnografi, tetapi > etnografi tersebut akan menjadi lebih "powerful" kalau ditulis dengan penuh > kesadaran akan apa yang dimaksud dengan sebuah etnografi,....dan itu > berarti sadar akan asumsi-asumsi di balik penulisan sebuah etnografi..yang > berarti pula sadar akan paradigma yang membingkai etnografi yang akan > ditulis... > > begitu sobat, semoga mencerahkan dan mencerdaskan...maaf kalau masih belum > jelas betul.... > > salam antrop, > h.s.ahimsa-putra > > ------------------------------ > *From:* ahimsa putra <[email protected]> > > *To:* [email protected] > *Sent:* Mon, August 30, 2010 12:43:21 PM > > *Subject:* Re: [referensi] Fw: [IKA-UI] Soal Paradigma & Ethnoscience > > > > mas Yando dan kerabat-keribit tercinta... > > wooowww..nggak sangka diskusinya akan menjadi begini serius...saya sangat > gembira dengan respon yang ada..karena itulah yang saya cari... selama ini > saya "kesepian"...he..he..he...nggak ada "lawan" diskusi..kecuali mahasiswa > pasca antrop UGM yang beberapa di antaranya sangat kritis > yando, ente pertanyaannya banyak banget sih..kalau sempat saya jawab semua, > tapi kalau nggak..akan saya sambung lain kali..harap maklum, masih ada > kerjaan yang lain.. > > 1) thanks mas, bahwa kerangka paradigma saya itu menurut anda > sangat membantu ilmuwan mengetahui kerangka pikirnya sendiri..memang > demikian mas..akur..! dan temuan anda sama dengan temuan saya juga...ada > sebuah penelitian teman -maaf, kebetulan dari UI, tetapi bukan antrop- dia > awali kerangka teorinya dengan fenomenologi, tetapi > metodenya...kuesioner..weleh..weleh...mau jadi seperti apa > penelitiannya...silahkan bayangkan sendiri.. > > 2) menanggapi pendapat pak eka, memang benar dalam praktek pembangunan juga > ada paradigma, para perencana pembangunan mempunyai paradigma-paradigmanya > sendiri. dalam seni juga ada. barusan saya bilang ke kerabat bambang > widyanto lewat sms, bahwa dalam pembangunan tentu ada paradigma. kalau dalam > antropologi dalam paradigma ada etnografi, maka dalam pembangunan ada > program-program pembangunan sebagai gantinya. program pembangunan merupakan > salah satu elemen dari sebuah paradigma pembangunan. dalam seni, muncullah > karya-karya seni (seorang mahasiswa filsafat UGM telah menggunakan kerangka > paradigma saya itu untuk memahami karya seni seorang seniman di Solo, untuk > menulis disertasinya, dan ternyata sangat klop. dia lulus cum laude..tetapi > saya bukan pembimbingnya lhoo..)..oleh karena itu jangan heran, kalau dari > sudut pandang tertentu etnografi adalah juga karya seni... > > 2) paradigma memang menjadi batas dari pemikiran..nah, untuk dapat keluar > dari "batas" dan mengetahui keterbatasan sebuah paradigma itulah kerangka > paradigma yang saya buat itu ditujukan..mudah-mudahan tujuan tersebut > tercapai... > > 3) mengenai unsur-unsur paradigma...saya memang membahas dalam tulisan lain > mengenai kekurangan dari pendapat yang dilontarkan oleh Cuff dan Payne dan > juga pendapat Newton-Smith. Cuff dan Payne nggak membedakan metode > penelitian dan metode analisis, padahal menurut saya pembedaan itu sangat > penting. akibat dari tidak adanya pembedaan itu kita terjebak dalam > penelitian lapangan, dan melupakan tahap analisis data. akibatnya, kita > mungkin mahir (bahkan sangat mahir) penelitian lapangan (alias mengumpulkan > data..) tetapi sangat lemah dalam analisis..jangan heran kalau kita nggak > bisa menghasilkan teori-teori (bukan paradigma lhoo..), karena kita lemah > dalam analisis. kita nggak tahu caranya menghasilkan teori evolusi, teori > difusi kebudayaan yang pernah kita hapalkan...selain itu Cuff dan Payne juga > nggak menyinggung soal etnografi atau representasi. ntar deh, kalau sempat > saya kirim pidato pengukuhan saya yang memuat paparan saya itu... > > 4) paparan afid sama sekali tidak berbicara tentang unsur paradigma...maaf, > kesan saya paparan itu hanya terjemahan karya orang lain..dan kemudian > dimasukkan dalam buku itu..pikiran afid tentang paradigma nggak terlihat di > sana...maaf, buat pengagum pak afid, yang juga teman dekat saya.. > 5) bagaimana kalau unsur paradigma nggak lengkap? dengan sendirinya tidak > akan dapat digunakan untuk mempelajari dengan "baik" dan "benar" gejala yang > ingin dipelajari. saya sudah lama sekali merenungkan tentang unsur-unsur > tersebut, dan silahkan mengujinya kembali dengan menghilangkan salah > satunya.. misalnya bagaimana kalau paradigma fungsionalisme dalam > antropologi itu tidak ada unsur metode penelitiannya? apa bisa? bagaimana > kalau tidak ada asumsi-asumsinya? apa bisa? bagaimana kalau tidak ada metode > analisisnya? apa bisa? ternyata semua jawabnya adalah "tidak"...jadi, saya > berpendapat bahwa sembilan unsur itu adalah unsur minimal..tidak bisa > dikurangi lagi..kalau mau ditambah mungkin bisa, tetapi mungkin juga itu > mubazir..karena tidak sangat pokok...he..he..he.. > > 6) apakah itu merupakan implikasi pengembangan konsepsi paradigma dari > ranah ilmu alam ke ilmu sosial-budaya? mungkin sekali yando. sayangnya saya > tidak sangat tahu seperti apa sebuah paradigma dalam ilmu alam. tetapi saya > agak yakin bahwa paradigma yang dalam ilmu alam sebenarnya juga mengandung > unsur-unsur yang sama. sayangnya (atau untungnya..) mengenai unsur-unsur > paradigma dalam ilmu alam ini Kuhn pun tidak menjelaskannya..karena mungkin > dia tidak menganggap unsur-unsur atau paradigma sebagai sebuah konstelasi > konsep-konsep atau mungkin dia anggap itu bukan hal yang penting, mengingat > fokus pembicaraan dia adalah revolusi atau perubahan dalam ilmu > pengetahuan.. > > 7) betul sekali saya melakukan modelling tentang paradigma...bedanya dengan > model yang ada di dalam paradigma adalah bahwa model yang ada dalam > paradigma itu bersifat khusus, spesifik untuk sebuah paradigma. dan model di > situ saya katakan merupakan "analogi", perumpamaan. misalnya, kebudayaan itu > seperti organisme. ini adalah model yang ada dalam paradigma fungsionalisme. > atau, kebudayaan itu seperti bahasa. ini adalah model yang ada dalam > strukturalisme Levi-Strauss, dan sebagainya. > > sorry, berhenti di sini dulu yaa...mau sholat dan setelah itu menguji... > salam antrop... > h.s.ahimsa-putra > ------------------------------ > *From:* R. Y. Zakaria <[email protected]> > *To:* [email protected]; [email protected] > *Sent:* Sun, August 29, 2010 12:46:39 AM > *Subject:* Re: [referensi] Fw: [IKA-UI] Soal Paradigma & Ethnoscience > > > > Mas Heddy, Pak Eka, dan kerabat lain yb., > > Pertama, seperti kerabat yang lain juga, saya ingin mengucapkan terima > kasih dan penghargaan yang tinggi kepada MAs Heddy yang KEMBALI bersedia > menyumbang gagasannya untuk mendiskusikan sesuatu yang akan mencerdaskan > kita bersama ini. Seperti Mick bilang, ini mengantarkan kita ke nostalgia > masa-masa awal tahun 1980-an lalu. Sepertinya, memang, belum ada yang mampu > mengambil alih kedudukanmu mas...hehehe... > > Selanjutnya, sebelum kita lanjut pada diskusi yang lebih tematik, seperti > yang mulai didorong Idham, hehehe..., saya ingin konsentrasi dulu pada > paradigma itu sendiri. Menurut saya, terlepas dari apakah para si mbah > sudah/pernah memikirkan soal paradigma ini atau belum, rumusan mas Heddy > tentang paradigama ini saya kira akan sangat membantu para ilmuwan > (sosial-budaya) untuk memahami kerangka pikirnya sendiri, termasuk untuk > memeriksa apakah ia telah berfikir secara konsisten atau tidak. Pasalnya, > seperti yang dapat dilihat pada karya skripsi bahkan karya ilmiah yang lebih > tinggi dari itu, tidak jarang kita menemukan, sekedar contoh, di mana > masalah penelitian dirumuskan dalam logika yang kualitatif (terkait proses, > pemaknaan, dan seterusnya), namun, di metode penelitiannya malah bersifat > kuantitatif. Atau sebaliknya. Bahkan, seperti yang telah kita singgung alam > diskusi sebelum ini, hal yang sama pun terjadi dalam kasus kajian-kajian > yang dilakukan Pak Koen tentang Papua ataupun tentang 'orienasi nilai > budaya' bersama LIPI itu. > > Terkait dengan komentar Pak Eka di bawah, merujuk pada uraian mas Heddy > tentang asumsi dasar, maka memang bukan tidak mungkin paradigma berakar pada > praktek-praktek oleh birokrasi, terlepas asumsi dasar itu benar ataupun > salah. Apalagi dalam tradisi birokrasi di Indonesia, di mana (seringkali) > kebijakan sering kali diperlakukan sebagai suatu yang 'sakral' dan berlaku > umum, padahal tidak berdasar dan tidak kotekstual, maka praktek (baca: 'try > and error') menjadi praxis yang menyelamatkan birokrasi. > > Begitu pula, pada ukuran masa tertentu, paradigma memang bisa dilihat > sebagai 'batas pikir' manusia sebagaimana yang dimaksudkan mas Afid/Webster > itu, yang bsai saya dikoreksi dan begeser pda paradigma yang lain lagi apda > konteks waktu yang lainnya. Saya kira, padangan Pak Hendro dan MAs AFid itu > tidak sampai mengkoreksi rumusan 9 unsur paradigma yang dikemukakan mas > Heddy. > > Meski begitu, terkait dengan pemahaman dasar saya di atas, saya memiliki > beberapa pertanyaan, yang boleh jadi sudah mas Heddy bahas dalam bab yang > lain (mengingat hal ini akan dibahas dalam sebuiah buku yang tengah > dipesiapkan). Pertama adalh soal 'pekembangan jumlah unsur'. Mengapa > unsur-unsur yang dikemukan oleh Cuff dan Payne itu dianggap belum cukup? > Persoalan 'kebenaran' (asumsnya, sebuah paradigama ingin mengungkap/memahami > suatu kebernaran terentu) apa yang terjadi jika sebuah paradigma hanya > diungkap melalui sejumlah unsur yang tidak lengkap itu? Mengapa unsur-unsur > itu perlu dilengkapi dengan sejumlah unsur yang lain? Apa yang hendak > dicapai dengan unsur-unsur yang dianggap lebih lengkap itu? Apakah ini HANYA > implikasi dari pengembangan konsepsi (tentang paradigma) yang sejatinya di > jalur ilmu alam.pasti ke ranah ilmu-ilmu sosial (dan budaya) saja? Sekali > lagi, saya mohon maaf jika hal ini sudah mas Heddy bahas dalam tulisan yang > lain. Jika memang begitu, bolehlah dishare lagi di forum ini. > > Kedua, pencabaran paradigma ke dalam sejumlah unsur ini, kesan saya, mas > Heddy seperti sedang melakukan modelling (tentang kerangka berfikir). Apa > bedanya dengan model yang disebut sebagai salah satu unsur paradigma itu? > > Ketiga, meskipun setiap unsur adalah terbuka untuk dilekatkan dengan > kualitas yang bagaimanapun (karena, menurut saya, dalam makalah ini mas > Heddy belum masuk pada pilihan paradigma terentu), pemodelan paradigama ini, > jika dapat dikatakan begitu, membawa saya pada kesimpulan bahwa rumusan ini > mengandung cara berfikir yang deduktif, yang rawan terhadap perangkap cara > berfikir yang positifistik, sekaligus mempersempit ruang cara berfikir yang > dealetik-fenomelogis. Bagaimana kita menghindar dari jebakan yang demikian? > Mungkin, lebih tepatnya, bagaimana seharusnya kita memperlakukan rumusan > paradigma yang mas Heddy tawarkan ini? > > Keempat, ini lebih bersifat saran, jika saja kesembilan unsur ini dapat mas > Heddy ilustrasikan secara lebih 'membumi', misalnya merujuk pada fenomena > sosial-budaya yang lebih mudah dikenali, atau contoh-contoh sebagaimana yang > bisa dirujuk pada karya ilmiha tertentu, saya kira uraian tentang paradigma > ini akan jauh lebih mudah dipahami. > > Demikian dulu mas. Mohon maaf atas kelancangan saya. Saya setuju dengan apa > yang dikemukakan mas Lask, "nyang > perlu tandang gawe nulis etnografi nyang konsiten dari akar-akar pencarian > kebenarannya sampai tuntas-tas berargumen". Tetapi, seperti telah saya > sebut tadi, pemahaman yang benar tentang apa yang disebut paradigma itu > membantu ilmuwan berfikir secara konsisten, tidak menjadi 'ujug-ujug'. > > Salam, > ryz > > > ----- Original Message ----- > *From:* - ekadj <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Saturday, August 28, 2010 11:18 PM > *Subject:* Re: [referensi] Fw: [IKA-UI] Soal Paradigma & Ethnoscience > > > > Pak Yando ysh. Saya coba dalami sedikit tulisan Prof Heddy dan sepakat > dengan pengembangan pengertian paradigma yang disampaikan, berangkat secara > epistemologis sehingga menentukan unsur-unsur: (1) *asumsi-asumsi dasar*; > (2) *nilai-nilai*; (3) *masalah-masalah yang diteliti* (4) *model*;* *(5) > *konsep-konsep*; (6) *metode penelitian*; (7) *metode analisis*; (8) *hasil > analisis** *atau *teori *dan (9) *etnografi** *atau *representasi (dari > tulisan "Paradigma - sebuah pandangan" (2009) Heddy Shri Ahimsa-Putra)*. > Saya kira masih berangkat dari Kuhn karena meletakkannya dalam tradisi > akademis. > Saya ingin menyandingkan dengan pendapat Pak > Hendro<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/11022>, > kalau 'paradigma' (pembangunan perkotaan di Indonesia) justru dikembangkan > oleh birokrat, dengan kata lain pengembangan praktek dan praktis juga mampu > menghasilkan 'paradigma'. > Saya ingin menyandingkan juga dengan pendapat Pak AFedyaniS, merujuk > Webster, kalau paradigma itu adalah 'limit', atau batas-batas yang mampu > dipikirkan oleh manusia pada suatu ketika, jadi bernilai relatif. > Sementara demikian. Salam. > > -ekadj > > > > > >

