Brur BTS,
Seharusnya ada studi pembandingan antara advantages pembangunan Jembatan 
Selatan Sunda dgn pemecahan kemacetan Jakarta dsk. Dua2nya perlu biaya banyak. 
Coba exercise di forum ini.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 4 Sep 2010 10:25:04 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: Bls: Re : [referensi] Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan 
Ibukota

Emang nggak nyambung koq antara kemacetan lalu lintas di Jakarta dengan 
pemindahan ibu kota (fungsi pemerintahan pusat) ke luar Jakarta.
 
Thanks. CU. BTS.

--- Pada Sab, 4/9/10, [email protected] <[email protected]> menulis:


Dari: [email protected] <[email protected]>
Judul: Re: Bls: Re : [referensi] Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota
Kepada: [email protected]
Tanggal: Sabtu, 4 September, 2010, 1:53 AM


  



RRS ysh, 
Yg aku krng paham...khan persoalan utamanya adalah kemacetan kok bisa akhirnya 
ke ide pindahnya ibukota ya? Apakah tdk ada solusi memperbaiki sistem 
lalu-lintas / infrastruktur atau minimal pengaturan jam peak hour, anak sekolah 
sampai mhsiswa dibuat jam masuknya beda spt yg sdh dilakukan, PNS spt divisi 
marketing di perush swasta (krn tgs utamanya pelayanan) masuknya wkend dan ada 
libur di working day...dst utk yg lain. Dicobanya bertahap.... Memang sulit sih 
tp mestinya bisa ya...sembari lakukan pengereman pembangunan utk fasilitas 
commercial dan pemerataan utk fasilitas masy banyak. Bukannya lbh mudah, murah, 
dan feasible ya dibanding memindahkan ibukota. Sistem kehidupan kota bila tdk 
diatur baik ya akan menyebabkan kepadatan n kemacetan lg di ibukota yg baru 
(klo pun dipaksakan pindah), spt bom waktu jg. Bukannya ini merupakan perub 
mendasar?
Salam,
Oka 
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> 
Date: Sat, 4 Sep 2010 09:26:49 +0800 (SGT)
To: <[email protected]>
ReplyTo: [email protected] 
Subject: Bls: Re : [referensi] Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota

  






Kalaupun pindah ke Luar Jawa, perubahan mendasar akan sulit terjadi..
 
Thanks. CU. BTS.

--- Pada Jum, 3/9/10, [email protected] <[email protected]> 
menulis:


Dari: [email protected] <[email protected]>
Judul: Re : [referensi] Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 3 September, 2010, 3:23 PM


  






Belum ada indikasi bahwa ibukota mau dipindah ke luar Jawa...
Kalau tak ke luar Jawa, perubahan mendasar akan sulit terjadi...
 
Salam,
 
Fadjar
 


--- En date de : Ven 3.9.10, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> a 
écrit :


De: Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
Objet: [referensi] Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota
À: [email protected]
Date: Vendredi 3 septembre 2010, 21h54


  

Arah menuju perbaikan ketataruangan Indonesia semakin tampak. Dengan
pindahnya sebagian fungsi "pusat negara" ke daerah-daerah lain, maka
insya Allah Jakarta tidak macet lagi dan daerah-daerah lain pun akan
berkembang tanpa perlu "Kementerian Pemercepat Pembangunan" segala.
Sudah lama Jakarta maju sendiri dan daerah lain semakin tertinggal.

Demi keadilan dan pemerataan, ayo kita follow-up bersama!

Salam,
CA

Source: http://bit.ly/9vhxih

--begins--
Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota

Anwar Khumaini : detikNews

detikcom - Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya
buka suara soal wacana pemindahan Ibukota Jakarta yang akhir-akhir ini
mengemuka. Menurut SBY, Pemindahan ibukota memang merupakan salah satu
dari tiga opsi untuk mengatasi kemacetan yang makin menggila di
Jakarta.

"Kalau solusinya pertahankan Jakarta baik sebagai ibukota sekaligus
pusat pemerintahan, maka solusinya adalah mengatasi kemacetan Jakarta,
ini one option," kata SBY.

Hal tersebut dia katakan saat memberikan sambutan dalam buka puasa
bersama dengan pengurus dan anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
di Jakarta Convention Center, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Jumat
(3/9/2010).

Opsi kedua, menurut SBY, Indonesia bisa membandingkan dengan apa yang
dilakukan Malaysia. Ibukota Malaysia tetap berada di Kuala Lumpur,
tapi pusat pemerintahan berada di Putrajaya.

"Dipisahkan, cut off. Tetapi tentu ada komunikasi yang baik.
Berkembanglah PutraJaya," ujar SBY.

"Ketiga, sama sekali membangun ibu kota yang baru, the real capital,
the real govement center. Seperti Canberra, Brasilia, Ankara dan
tempat-tempat yang lain," sambung SBY.

Ketiga opsi tersebut, menurut SBY ada plus minusnya. Tapi harus
diputuskan. Kalau diputuskan, misalnya opsi kedua dan tiga, maka mau
tidak mau harus membangun pusat pemerintahan baru. Maka 10 tahun dari
sekarang baru bisa dilakukan berdirinya pusat pemerintahan yang baru
yang sudah terencana dengan desain yang bagus dan memenuhi
syarat-syarat sebagai pemerintahan yang baik.

"Saya sudah berpikir diam-diam, meskipun tidak setiap saat berbicara
di hadapn pers, karena ini fundamental itu diperlukan kesepakatan
bersama baik itu pemerintah, parlemen dan semua kalangan masyarakat,
mana yang kita pilih." terang dia.

Jika opsi kedua dipilih, misalnya menurut SBY, biarkan Jakarta
dipertahankan sebagai ibu kota, ekonomi, perdagangan dan semua
dibangun tempat yang baru sebagai pusat pemerintahan.

"Nah kalau kita membangun baru tentu well plan, well design, kemudian
kita hitung keindahan aspek lingkungan dan lain-lain. Kita barangkali
butuh waktu 5-7 tahun untuk membangunnya, itu by project," ungkap SBY.

SBY mencontohkan, pusat pemerintahan di Malaysia, Putra Jaya,
menghabiskan uang sekitar Rp 80 triliun. Jika Indonesia ingin
membangun seperti itu dengan cakupan yang lebih luas,  bisa saja.
Dananya bisa diambil dari APBN sebagian, sebagian partnership,
govement dengan publik, sebagian mungkin bisa melepas aset pemerintah
yang ada di Jakarta.

"Kemudian kita bangun yang baru. banyak opsi yang tersedia, tetapi
yang jelas. Kalau menjadi pilihan kita nanti saya akan  mendengar
masukan, rekomendasi dari semua pihak," papar SBY.

SBY berandai-andai, jika pemindahan ibukota benar-benar dilaksanakan,
tentunya 90 persen dibangun oleh pengusaha dalam negeri. Material yang
diimpor dibatasi tidak lebih 10 persen, selebihnya di dalam negeri.

"Oleh karena itu, ini masalah besar, masalah fundamental, jangan
berteriak tiap hari kemacetan-kemacetan tapi tidak berpikir besar.
Kita harus think big, kemudian melakukan sesuatu dengan seksama,"
harapnya.

"Saya mendengar sebulan ini silang pendapat entah kemana kita.
Kemananya nanti, yang penting konsepnya benar, idenya benar, desainnya
benar kita sepakat bahwa apa yang kita lakukan solusi untuk Jakarta ke
depan," tutup SBY disambut tepuk tangan hadirin.
--ends--

-- 
Sent from my mobile device










Kirim email ke