Mas BTS ysh, Tentu saja gedung, ruang dan banyajk fasilitas yang telah dibangun di Jakarta tidak boleh dibiarkan mangkrak tak berguna. baik untuk kepentingan Jakarta maupun nasional, gedung, ruang dan fasilitas tsb harus tetap menjadi suatu aset produktif yang tetap berproduksi seperti semula. Hal ini juga akan menjadi suatu tantangan tersendiri dari skenario perpindahan ibukota apabila memang akan dipindahkan dari Jakarta. Namun, saya pikir, pemanfaatan selanjutnya terhadap gedung dan ruang tersebut bisa dilakukan dalam tingkat kepadatan yang lebih rendah namun lebih produktif. Mungkin kondisi tersebut bisa menajdi salah satu titik tolak bagi Jakarta untuk menjadi suatu kota jasa. Kuatnya infrastruktur Jakarta, baik infrastruktur fisik, ekonomi maupun infrastruktur sosial, dan adanya "suplay baru" dalam bentuk ketersediaan ruang-ruang kosong yang sudah matang terlayani infrastruktur tersebut, bisa menjadi salah satu modal dasar pengembangan Jakarta sebagai kota jasa dan komersial bagi kawasan Asia Tenggara. Suatu hal yang sangat menarik, menurut saya, apabila kita di milist ini juga bisa ikut serta memikirkan bagaimana sebaiknya pengembangan Jakarta pasca relokasi ibukota negara. Salam, Fadjar
--- En date de : Sam 4.9.10, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> a écrit : De: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> Objet: Bls: Re : Bls: [referensi] Re: Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota À: [email protected] Date: Samedi 4 septembre 2010, 20h26 Mas Fajar, terima kasih. Memang betul apabila semua kementerian dan lembaga (K/L) pindah dari Jakarta, maka akan mengurangi demand lalu lintas. Katakanlah ada 5000 kendaraan yang di-generate fungsi pemerintahan. Tapi ingat, dengan pindahnya K/L, maka ada properti atau ruang yang ditinggalkan, yaitu bekas-bekas kantor yang ditinggalkan. Apakah bekas kantor ini akan ngangkrak didiamkan? Tenu saja tidak. Ruang itu akan diganti fungsi produktif yang baru, apakah itu mal, pusat perbelanjaan, ruang pamer, hotel, pusat perkantoran, dan sebagainya. Nah fungsi baru ini tentu akan men-generate lalu lintas baru justru lebih banyak dari pada fungsi pemerintahan pusat, atau lebih dari 5000 kendaraan. Jadi menurut saya kalau ibukota pindah tidak mengurangi kemacetan di Jakarta ini, justru sebaliknya akan semakin bertambah. Thanks. CU. BTS. --- Pada Sab, 4/9/10, [email protected] <[email protected]> menulis: Dari: [email protected] <[email protected]> Judul: Re : Bls: [referensi] Re: Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota Kepada: [email protected] Tanggal: Sabtu, 4 September, 2010, 12:13 PM Mas BTS ysh, Kalau ibukota pindah dan kantor-kantor pemerintahan dan kantor-kantor lain yang terkait erat juga ikut pindah ke lokasi ibukota yang baru, maka itu bisa mengurangi jumlah demand pergerakan manusia dan barang di Jakarta. Saya tidak tahu persis berapa jumlah pegawai di kantor-kantor tsb. Tapi saya yakin jumlah pegawainya sampai beratus ribu, dan artinya itu bisa mengurangi volume pergerakan Jakarta sampai berjuta poergerakan orang per hari. Dampak pemindahan terhadap pengurangan demand ini saja sudah merupakan salah satu kaitan penting dari pemindahan ibukota dari Jakarta. Sementara itu, kemacetan merupakan suatu ketidak-seimbangan antara demand dan suplay transportasi. Jadi pemindahan ibukota juga akan berdampak kepada kondisi transportasi di Jakarta, menurut saya. Tapi ya itu, seperti yang saya bilang, asal pemindahan ibukota tsb dilakukan ke suatu tempat yang sangat jauh dari Jakarta, misalnya ke luar Jawa. Kalau pindahnya seperti ke Jonggol atau ke Cikampek, ya sami mawon dengan fenomena sebelumnya, yaitu gigantisasion Jakarta... Salam, Fadjar --- En date de : Sam 4.9.10, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> a écrit : De: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> Objet: Bls: [referensi] Re: Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota À: [email protected] Date: Samedi 4 septembre 2010, 13h41 Nyuwun semu Mas CA,..saya mengomentari logikanya bahwa pemindahan ibu kota tidak ada hubungannya dengan masalah kemacetan lalu lintas. Kalau mau pindahkan ibu kota, sebaiknya dicari landasan atau alasan lain, bukan kemacetan lalu lintas. Oke mungkin salah satu alasan pemindahan ibu kota adalah aspek pemerataan pembangunan. Tapi ini saya perlu gugat, apa bisa dengan pemindahan ibu kota bisa mendorong pembangunan di lokasi ibu kota baru? Hemat saya kurang bisa karena fungsi pemerintahan pusat itu sangat lemah ikutan ekonominya. Khan banyak contoh di negara-negara lain yang memindahkan ibu kota di daerah baru (bukan pada kota lain yang juga maju) itu mampu mengungkit pertumbuhan ekonomi daerah, misalnya Canberra (Aus.) dan Putrajaya (Malaysia). Saya selaku Planner, tentu punya pemikiran adanya pemerataan pembangunan yang tidak hanya terpusat di Java atau Jakarta saja, tapi juga tumbuh di seluruh nusantara ini. Hanya saja masing-masing Planner atau peminat ilmu perencanaan punya pendekatan/ide berbeda. Misalnya Pak Aby lebih kepada penyebaran kota metro (kalau nggak salah gitu) di kawasan Timur, kalau Pak Risfan mungkin lebih pada Local Economic dan Partisipasi plus Kelembagaan (maaf Pak Risfan kalau kurang tepat), kalau Pak Nuzul mungkin pendekatan enerji dan sumber kelautan (mungkin begitu Pak Nuzul?), sedangkan Kementerian PU melalui RTRWN lebih pada pendekatan kawasan strategis, dan saya lebih suka pendekatan desentralisasi fiskal untuk menciptakan daya kompetitif daerah. Saya termasuk anti pemindahan ibu kota bukan karena tidak memikirkan pemerataan pembangunan, tapi saya anti pemborosan. Demikian Mas CA. Thanks. CU. BTS. --- Pada Sab, 4/9/10, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> menulis: Dari: Mohammad Andri Budiman <[email protected]> Judul: [referensi] Re: Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota Kepada: [email protected] Tanggal: Sabtu, 4 September, 2010, 5:40 AM Pak BTS yth, kok sepertinya Bapak tidak memikirkan pemerataan pembangunan di daerah lain? Mengapa yang Pak BTS komentari hanya kemacetan Jakarta atau "survival of the richest"? Salam, CA On 9/4/10, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote: > Emang nggak nyambung koq antara kemacetan lalu lintas di Jakarta dengan > pemindahan ibu kota (fungsi pemerintahan pusat) ke luar Jakarta. > > Thanks. CU. BTS. > > --- Pada Sab, 4/9/10, [email protected] <[email protected]> menulis: > > > Dari: [email protected] <[email protected]> > Judul: Re: Bls: Re : [referensi] Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan > Ibukota > Kepada: [email protected] > Tanggal: Sabtu, 4 September, 2010, 1:53 AM > > > > > > > RRS ysh, > Yg aku krng paham...khan persoalan utamanya adalah kemacetan kok bisa > akhirnya ke ide pindahnya ibukota ya? Apakah tdk ada solusi memperbaiki > sistem lalu-lintas / infrastruktur atau minimal pengaturan jam peak hour, > anak sekolah sampai mhsiswa dibuat jam masuknya beda spt yg sdh dilakukan, > PNS spt divisi marketing di perush swasta (krn tgs utamanya pelayanan) > masuknya wkend dan ada libur di working day...dst utk yg lain. Dicobanya > bertahap.... Memang sulit sih tp mestinya bisa ya...sembari lakukan > pengereman pembangunan utk fasilitas commercial dan pemerataan utk fasilitas > masy banyak. Bukannya lbh mudah, murah, dan feasible ya dibanding > memindahkan ibukota. Sistem kehidupan kota bila tdk diatur baik ya akan > menyebabkan kepadatan n kemacetan lg di ibukota yg baru (klo pun dipaksakan > pindah), spt bom waktu jg. Bukannya ini merupakan perub mendasar? > Salam, > Oka > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> > Date: Sat, 4 Sep 2010 09:26:49 +0800 (SGT) > To: <[email protected]> > ReplyTo: [email protected] > Subject: Bls: Re : [referensi] Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan > Ibukota > > > > > > > > > Kalaupun pindah ke Luar Jawa, perubahan mendasar akan sulit terjadi.. > > Thanks. CU. BTS. > > --- Pada Jum, 3/9/10, [email protected] > <[email protected]> menulis: > > > Dari: [email protected] <[email protected]> > Judul: Re : [referensi] Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota > Kepada: [email protected] > Tanggal: Jumat, 3 September, 2010, 3:23 PM > > > > > > > > > > Belum ada indikasi bahwa ibukota mau dipindah ke luar Jawa... > Kalau tak ke luar Jawa, perubahan mendasar akan sulit terjadi... > > Salam, > > Fadjar > > > > --- En date de : Ven 3.9.10, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> a > écrit : > > > De: Mohammad Andri Budiman <[email protected]> > Objet: [referensi] Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota > À: [email protected] > Date: Vendredi 3 septembre 2010, 21h54 > > > > > Arah menuju perbaikan ketataruangan Indonesia semakin tampak. Dengan > pindahnya sebagian fungsi "pusat negara" ke daerah-daerah lain, maka > insya Allah Jakarta tidak macet lagi dan daerah-daerah lain pun akan > berkembang tanpa perlu "Kementerian Pemercepat Pembangunan" segala. > Sudah lama Jakarta maju sendiri dan daerah lain semakin tertinggal. > > Demi keadilan dan pemerataan, ayo kita follow-up bersama! > > Salam, > CA > > Source: http://bit.ly/9vhxih > > --begins-- > Presiden SBY Respons Wacana Pemindahan Ibukota > > Anwar Khumaini : detikNews > > detikcom - Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya > buka suara soal wacana pemindahan Ibukota Jakarta yang akhir-akhir ini > mengemuka. Menurut SBY, Pemindahan ibukota memang merupakan salah satu > dari tiga opsi untuk mengatasi kemacetan yang makin menggila di > Jakarta. > > "Kalau solusinya pertahankan Jakarta baik sebagai ibukota sekaligus > pusat pemerintahan, maka solusinya adalah mengatasi kemacetan Jakarta, > ini one option," kata SBY. > > Hal tersebut dia katakan saat memberikan sambutan dalam buka puasa > bersama dengan pengurus dan anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) > di Jakarta Convention Center, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Jumat > (3/9/2010). > > Opsi kedua, menurut SBY, Indonesia bisa membandingkan dengan apa yang > dilakukan Malaysia. Ibukota Malaysia tetap berada di Kuala Lumpur, > tapi pusat pemerintahan berada di Putrajaya. > > "Dipisahkan, cut off. Tetapi tentu ada komunikasi yang baik. > Berkembanglah PutraJaya," ujar SBY. > > "Ketiga, sama sekali membangun ibu kota yang baru, the real capital, > the real govement center. Seperti Canberra, Brasilia, Ankara dan > tempat-tempat yang lain," sambung SBY. > > Ketiga opsi tersebut, menurut SBY ada plus minusnya. Tapi harus > diputuskan. Kalau diputuskan, misalnya opsi kedua dan tiga, maka mau > tidak mau harus membangun pusat pemerintahan baru. Maka 10 tahun dari > sekarang baru bisa dilakukan berdirinya pusat pemerintahan yang baru > yang sudah terencana dengan desain yang bagus dan memenuhi > syarat-syarat sebagai pemerintahan yang baik. > > "Saya sudah berpikir diam-diam, meskipun tidak setiap saat berbicara > di hadapn pers, karena ini fundamental itu diperlukan kesepakatan > bersama baik itu pemerintah, parlemen dan semua kalangan masyarakat, > mana yang kita pilih." terang dia. > > Jika opsi kedua dipilih, misalnya menurut SBY, biarkan Jakarta > dipertahankan sebagai ibu kota, ekonomi, perdagangan dan semua > dibangun tempat yang baru sebagai pusat pemerintahan. > > "Nah kalau kita membangun baru tentu well plan, well design, kemudian > kita hitung keindahan aspek lingkungan dan lain-lain. Kita barangkali > butuh waktu 5-7 tahun untuk membangunnya, itu by project," ungkap SBY. > > SBY mencontohkan, pusat pemerintahan di Malaysia, Putra Jaya, > menghabiskan uang sekitar Rp 80 triliun. Jika Indonesia ingin > membangun seperti itu dengan cakupan yang lebih luas, bisa saja. > Dananya bisa diambil dari APBN sebagian, sebagian partnership, > govement dengan publik, sebagian mungkin bisa melepas aset pemerintah > yang ada di Jakarta. > > "Kemudian kita bangun yang baru. banyak opsi yang tersedia, tetapi > yang jelas. Kalau menjadi pilihan kita nanti saya akan mendengar > masukan, rekomendasi dari semua pihak," papar SBY. > > SBY berandai-andai, jika pemindahan ibukota benar-benar dilaksanakan, > tentunya 90 persen dibangun oleh pengusaha dalam negeri. Material yang > diimpor dibatasi tidak lebih 10 persen, selebihnya di dalam negeri. > > "Oleh karena itu, ini masalah besar, masalah fundamental, jangan > berteriak tiap hari kemacetan-kemacetan tapi tidak berpikir besar. > Kita harus think big, kemudian melakukan sesuatu dengan seksama," > harapnya. > > "Saya mendengar sebulan ini silang pendapat entah kemana kita. > Kemananya nanti, yang penting konsepnya benar, idenya benar, desainnya > benar kita sepakat bahwa apa yang kita lakukan solusi untuk Jakarta ke > depan," tutup SBY disambut tepuk tangan hadirin. > --ends-- > > -- > Sent from my mobile device > > > > > > > > > > -- Sent from my mobile device

