Ibukota pindah 
Bung milisters ysh
Ibukota RI pindah ya pindah saja. Hanya saja harus dipikirkan konsepnya 
matang-matang, cermat, teliti, dan dengan pikiran jernih, hati bersih. Setahu 
saya (menurut babad) sejak jaman Pajajajaran sampai Mataram akhir, ibukota 
berkali-kali pindah meskipun kala itu hanya ada satu dua planolog lulusan 
setingkat padepokan asuhan Kyai Gringsing.
Saya simak wacana pemindahan ibukota selama ini masih pada tataran setuju dan 
tidak setuju, lebih banyak memikirkan ‘bengèknya’ tetapi yang di depan bengèk 
belum tersentuh, yakni konsep dan filosofinya pindah ibukota, dan jangan 
‘kepalang tanggung’. 

Saya sampaikan ini karena sepanjang menyimak wacana ini saya pun belum 
(barangkali tidak) mampu menemukan yang saya angan-angankan; rasanya ilmu di 
benak ini sudah ketinggalan jauh. Mudah-mudahnya adik-adik, anak-anak 
(barangkali malah cucu) ada yang mau berpikir ke sana. Mohon jangan dituduh 
bahwa saya menganggap wacana selama ini tak ada gunanya; sangat beguna, tetapi 
tolong mulai melangkah ke tataran yang saya tidak mampu ini. 

Saya sependapat dengan bung BTS bahwa Jakarta buka satu-satunya tujuan utama 
bermigrasi. Ketika ‘muda’ saya dan beberapa teman guru pernah 2 tahun mukim di 
Aceh Utara. Langganan kami tiap malam Minggu adalah mi Jawa plus brutu yang 
perjualnya (lupa namanya) berasal dari Wonosari. Di sana, kala itu, sudah ada 
ketoprak yang bahasanya campur aduk seperti ketoprak humor sekarang.
Terima kasih.
He, he, he, he; kakek-kakek yang bingung ikut nimbrung bicara ilmu luhung.
 
Wass
SW


      

Kirim email ke