jadi apa hasilnya? cuman begini aja? hmmmmm ........??? apakah ada hal2 baru 
yang dihasilkan oleh munas isip2i? yang lain dari IPI atau perkumpulan 
pustakawan lain,,, yang begitu banyak ragamnya? ada IPI, FPPT, KPI 


----- Original Message ----
From: imambudi.rm <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, November 15, 2006 12:02:25 PM
Subject: [referensi_maya] Re: mohon info hasil munas isip2i

Mungkin tulisan Pak Putu - di ics bisa sedikit membantu:
- ibp

------------ --------- --------- --------- -
Cerita dari Bali 

Rekan-rekan,

Kuta seperti biasanya terik dan menyengat. Entah apa yang ada di benak
panitia ketika memilih tempat ini untuk bermusyawarah dan berkongres.
Musim libur belum tiba, dan keadaan di jalan masih dapat ditolerir.
Turis mancanegara belum banyak, sehingga justru yang lebih banyak
adalah taksi-taksi tak berpenumpang yang hilir mudik. Para sopirnya
tampak berwajah cemas -pasti risau memikirkan setoran.

Di tengah suasana seperti itu, dan di sebuah hotel megah, para
pustakawan Indonesia berkumpul untuk berkongres. Masuk ke hotel,
suasana langsung berubah: sejuk, mewah, orang-orang tersenyum. Makanan
dan minuman tampak enak (tentu kalau Anda bersedia membayar 45 ribu
untuk secangkir kopi dan 15 ribu untuk sekerat pisang goreng, semuanya
pasti enak!), air kolam renang tampak bening mengundang.

Kira-kira 30 menit perjalanan ke arah Selatan, ada tempat lain yang
juga dijadikan ajang berkumpul, yaitu kantor rektorat Universitas
Udayana. Musim kering menunjukkan wajahnya yang tidak ramah. Pohon
masih jarang, rumput menguning, dan tanah berkapur menambah gersang
pemandangan. Ruang pertemuannya bergema karena sistem akustik kurang
memadai. Berbeda sekali dengan tempat pertemuan para pustakawan di
hotel megah nun di pinggir pantai.

Di kampus yang (tidak sengaja dibuat) gersang, berkumpul sekitar 50
orang yang pasti menyandang gelar sarjana dari sana sini. Berbeda
dengan sekitar 500 orang yang di hotel megah sejuk, dan yang
sebagiannya memakai batik seragam. Di kampus berkumpul orang-orang tak
berseragam. Bahkan walaupun ada kelompok 15-an orang yang datang dari
satu institusi di Bandung, kelompok itu tidak memakai seragam. Hanya
saja ada persamaan di antara mereka dalam tersenyum. Ramah dan hangat.
Kata teman di sebelah saya, "Kompak banget ya mereka.."

Di Kuta, sudah sejak saya tiba, terdengar kasak-kusuk. Gosip,
pembicaraan serius, dan bisik-bisik tentang Sang Ketua. Di kampus, 
yang
ada cuma guyon. Pembawa acara terus berupaya kocak, dan upaya itu
memang seharusnya dihargai. Di Kuta para panitia berseragam, ada
puluhan banyaknya (berseragam pula!) berwajah serius, bertanya cermat
tentang nama, alamat, instansi (dan menagih uang pendaftaran) . Di
kampus, panitia cuma dua gelintir, ketawa-ketiwi, dan di akhir acara
sempat memperlihatkan rekapitulasi: Ternyata panitia tekor.

Di Kuta ada Event Organizer, ada poster dengan lusinan logo sponsor.

Di Kampus, cuma ada dua spanduk. Salah satunya dipasang sendiri oleh
satu-satunya profesor ilmu perpustakaan di nusantara ini.

Di Kuta para pimpinan dikerubungi anak buahnya yang tampak sigap
menyiapkan ini-itu. Saya berhayal, anak-buahnya itu pasti juga
menyiapkan sepatu dan kaos kaki para pemimpin mereka.

Beberapa Tokoh Penting melintas di Kuta, berjalan gagah, dan orang-
orang berebutan meminta salaman. Seorang artis tenar menebar 
pesonanya.
Orang-orang berebut berfoto dengan dia.

DI kampus, wakil rektor datang tanpa dasi. Ketua panitia cuma pakai
batik lebih rapi dari biasanya, dan di manakah para tukang urus sepatu
dan kaos kaki? Tidak ada.

Di Kuta sebuah institusi sedang menegaskan keinginannya untuk terus
hadir. Konon ada upaya revitalisasi (kedengaran keren, ya). Konon ada
juga upaya mempertahankan legitimasi (kedengarannya lebih keren lagi,
ya). Pokoknya - di Kuta ada kemapanan, entah yang dipaksakan atau yang
sudah niscaya. Apa lah bedanya jika sejak lama institusi itu memang
sejak awal bermaksud menjadi tunggal.

Di kampus sebuah institusi baru saja lahir. Seremoninya cuma diisi 
tawa
dan pemberian sebuah kenang-kenangan oleh kepala perpustakaan yang
mesam-mesem. Tepuk tangannya tidak megah, sebab hanya ada 50 pasang
tangan. Tetapi makan siangnya lumayan enak, lho.. Saya suka sekali
sayur pakis. Mengingatkan saya pada sayuran yang dirajang dan 
disiapkan
Nenek nun 25 tahun yang lalu.

Senja datang di Kuta seperti menyergap. Tiba-tiba saja hari menjadi
sejuk. Kampus pun kami tinggalkan.

Sebuah sejarah sudah terukir. Di kampus Universitas Udayana telah 
lahir
sebuah maksud untuk berhimpun. Komandannya seorang wanita yang 
berambut
pendek dan yang sebentar lagi akan menunaikan ibadah ke tanah suci.
Berkatilah Ya Tuhan, pemimpin kami ini.

Di Kuta perhelatan megah baru dimulai, ketika perhelatan sederhana di
kampus sudah usai.

Malam datang ke Kuta. Hari akan segera berganti. Menikmati makan malam
di Batan Waru (di bawah pohon waru), saya membatin: alam ini memang
adil dan selalu konsisten. Hanya ada satu yang tidak berubah, yaitu
perubahan itu sendiri.

Cheers,

Putu Pendit


--- In referensi_maya@ yahoogroups. com, "erni_bgt" <[EMAIL PROTECTED] .> 
wrote:
>
> Gimana ya hasil Munas isip2i yang dilangsungkan senin, 13 november 
di 
> Bali....siapa yang dapat bantu????
>





 
____________________________________________________________________________________
Sponsored Link

Don't quit your job - take classes online
www.Classesusa.com

Kirim email ke