Bagaimana ini, sudah harganya dinaikkan kini langka pula... rakyat
kecil memang selalu jadi korban.

- ibp

langka minyak: Rakyat Kecil Juga yang Dibikin Repot

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0611/25/UTAMA/3121527.htm

ester l napitupulu

Minyak tanah bagi kebanyakan warga masih menjadi bahan bakar utama.
Ketika minyak bersubsidi itu menghilang, repotlah mereka memburunya,
hingga antrean di pangkalan mengular.

Kedatangan pedagang minyak tanah keliling bagi warga Manggarai ini
sejak dua minggu belakangan seperti durian runtuh. Setidaknya warga
tak perlu berkeliling ke sana kemari untuk mendapatkan minyak tanah.

Informasi kemunculan pedagang minyak tanah itu dengan cepat menyebar
ke warga lain. Tak mau melepaskan kesempatan, warga tak puas hanya
membawa jeriken, tetapi juga ditambah beberapa botol bekas kemasan air
mineral berukuran 1 liter untuk wadah minyak.

"Cari minyak tanah sekarang susah. Ke pangkalan belum tentu ada.
Apalagi ke warung atau pedagang keliling," ujar Wati (20), pemilik
warung makan.

Selain di Manggarai, banyak warga Jakarta yang juga terpaksa
berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan. Itu pun belum tentu bisa
mendapatkan minyak.

Kalaupun ada, pembelian dibatasi hanya 5 liter. Padahal, banyak warga
datang dari tempat jauh.

Setiap hari Wati membutuhkan 15 liter minyak untuk berdagang minuman
dan makanan. Namun, sejak dua minggu belakangan ini dia hanya bisa
mendapatkan 10 liter. Untuk itu pun dia harus keliling hingga ke
Klender, Jakarta Timur.

"Sekarang juga saya sudah mulai pakai kayu bakar untuk merebus air.
Jika tidak begitu, saya tidak jualan," keluh Wati yang kemarin
berhasil mendapat 8 liter.

Tasroi (38), pedagang minyak tanah keliling, sebenarnya juga kasihan
terhadap para pelanggannya. Namun, apa boleh buat, ia sendiri hanya
bisa mendapat pasokan setiap lima hari sekali.

Jatah minyak jualannya dari pangkalan juga berkurang, hanya 300 liter
dari biasanya 400 liter per hari. Upaya untuk mencari ke pangkalan
lain sering kali sia-sia. "Saya juga jadi kehilangan pendapatan,"
ujarnya.

Kojin, penjual nasi goreng keliling di kawasan Kalianyar, Tambora,
Jakarta Barat, juga harus berkeliling mencari tambahan minyak tanah
yang dia butuhkan. Sebab, sudah dua pekan ini penjual minyak tanah
langganannya hanya mengirim 3 liter setiap hari dengan harga naik
sedikit menjadi Rp 2.600 per liter. Padahal, Kojin biasanya dikirimi 5
liter, sesuai dengan kebutuhannya setiap hari.

"Dua liter kekurangannya saya beli sendiri ke warung lain. Harganya
sekitar Rp 3.500 tiap liter," ucap Kojin.

Hari Rabu lalu, tutur Kojin, dia harus berjalan sekitar 1 kilometer ke
Grogol untuk mencari tambahan minyak.

Kurangi dagangan

Kelangkaan minyak tanah di Ibu Kota menyebabkan para pedagang kecil
yang mengandalkan minyak tanah terpaksa mengurangi dagangan.
Pendapatan mereka pun menjadi berkurang.

Iyan (41), pedagang gorengan di Cawang Baru, Jakarta Timur, terpaksa
menggoreng bermacam-macam dagangannya dalam jumlah banyak sekaligus
sehingga dagangannya menjadi dingin, tidak panas seperti biasa.
"Terpaksa Mbak. Untuk menghemat minyak," kata bapak dua anak itu
dengan nada kesal.

Biasanya ia hanya mengecilkan kompor kalau tidak sedang menggoreng.
Sekarang kompor langsung dimatikan begitu selesai menggoreng.

Modal dagangan yang biasanya Rp 170.000 per hari terpaksa dikurangi
hanya Rp 120.000 per hari. Sebab, minyak yang didapatnya hanya 4 liter
atau kurang 2 liter dari yang dibutuhkan.

"Harga bahan lainnya juga naik setelah Lebaran, sekarang minyak tanah
juga sulit didapat. Pedagang kecil semakin sulit saja cari duit," ujar
Iyan.

Kiat menghemat minyak juga dilakukan pedagang warung nasi di
Manggarai. Kali ini yang menjadi korban adalah pelanggannya yang hanya
mendapat jatah air minum segelas kecil.

Nasib lebih beruntung dialami Hadi, penjual roti kukus di Pasar Slipi,
Jakarta Barat. Hingga kemarin dia tetap mendapat kiriman 3 liter
minyak tanah dari pedagang keliling langganannya setiap hari meski
harganya naik menjadi Rp 3.000 per liter.

Kesulitan mencari minyak tanah juga masih dialami warga Petukangan
Selatan, Jakarta Selatan, dan Kreo, Kecamatan Larangan, Kabupaten
Tangerang. Sekelompok warga yang tengah antre membeli minyak tanah
dari pedagang keliling mengeluhkan kenaikan harga minyak hingga Rp
3.000 per liter yang dipasang Kadi, pedagang minyak tersebut. Ini jauh
lebih tinggi dari harga eceran tertinggi Rp 2.300 per liter.

"Mahal amat. Duitnya enggak cukup, orang biasa beli Rp 2.400 per
liter," ujar Tini, salah seorang pembeli, setengah jengkel karena
tidak bisa membeli 8 liter minyak tanah.

Kadi pun membela diri. Ia mengatakan kenaikan itu karena harga di
pangkalan juga naik. Selain itu, minyak yang didapatnya juga diambil
dari pangkalan yang lebih jauh.

Pasokan ke pangkalan juga berkurang

Kenapa minyak tanah di Ibu Kota seperti menghilang dari pasaran?
Itulah pertanyaan yang selalu menghantui rakyat kecil.

Daswi, pemilik pangkalan minyak tanah di Jalan Inpres Pinggiran X,
Palmerah, Jakarta Barat, mengaku belakangan hanya dikirimi minyak
tanah setiap dua hari sekali, masing-masing 5.000 liter. Padahal,
biasanya pengiriman itu dilakukan setiap hari. "Setiap saya bertanya
mengapa pengiriman berkurang, hanya dijawab dari sana memang seperti
itu," katanya.

Biasanya rakyat kecil yang masih butuh minyak tanah itu hanya bisa
terdiam mendengar penjelasan seperti itu. Mereka tidak tahu di
belakang itu ada soal itung-itungan subsidi antara pemerintah dan
Pertamina yang mungkin rumit untuk diselesaikan.... (NWO/TRI)

Kirim email ke