---------- Forwarded message ----------
From: Jati Utomo Dwi Hatmoko <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Dec 11, 2006 10:16 PM
Subject: [dosen] Fwd: KELAS INTERNASIONAL YANG FULL AC DAN TOILET.
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected]


Bacaan menarik dari milis sebelah.

Barangkali ada bapak ibu yang punya pengalaman/pengamatan di kelas
internasional level universitas?

salam

Jati

---------- Forwarded message ----------
From: Satria Dharma <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Dec 8, 2006 8:29 AM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] KELAS INTERNASIONAL YANG FULL AC DAN TOILET.
To: Pembaca Kompas

KELAS INTERNASIONAL YANG FULL AC DAN TOILET.

Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah presentasi di acara Teacher
Club-nya Provisi seorang peserta bertanya bagaimana caranya merekrut
seorang guru biologi yang memiliki kemampuan untuk mengajar di
sekolah-sekolah yang memiliki kelas internasional. Rupanya sekolahnya
melaksanakan program kelas internasional dan kesulitan untuk merekrut
guru yang memiliki standar yang memadai untuk mengajar di kelas
internasional itu.  Saat itu Depdiknas memang sedang melemparkan
'uji-coba' pelaksanaan kelas internasional di berbagai sekolah unggulan
di tanah air dengan biaya pinjaman, katanya. Beberapa sekolah unggulan
yang dianggap memiliki kapasitas untuk menyelenggarakan kelas
internasional memang didorong untuk melaksanakan 'uji-coba' ini. Kelas
internasional ini diharapkan akan mengacu pada kurikulum Cambridge atau
IGCSE dan akan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.
Secara spontan saya langsung mengatakan bahwa program kelas
internasional adalah 'total failure guarantee program' sehingga membuat
suasana seminar sedikit ribut.  Maklum saja karena pernyataan tersebut
tentunya langsung menohok sekolah-sekolah yang sedang asyik-asyiknya
bermimpi untuk 'nginternasional'. Alasan saya sederhana dan justru
merupakan jawaban atas pertanyaan sang guru tadi, yaitu bahwa kita
memang tidak punya guru untuk program itu. Lha wong pengajaran bahasa
Inggris yang diajarkan oleh guru-guru bahasa Inggris yang dilatih
khusus selama 4 tahun (S1) untuk mengajar bahasa Inggris di LPTK saja
masih menggunakan bahasa Inggris yang berlepotan dalam menyampaikan
materinya je! Bahkan sebagian besar guru bahasa Inggris ditengarai
masih menggunakan bahasa Indonesia dalam mengajar. Mana mungkin
tiba-tiba kita punya guru-guru IPA yang fasih berbahasa Inggris dan
mampu menyampaikan materinya dalam bahasa Inggris dengan kurikulum dari
Cambridge? Secara logika saja sudah sulit untuk diterima. Makanya saya
berani menyatakan bahwa itu 'total failure guarantee program'. Tapi itu
ketika saya belum sempat masuk ke kelas dimana program ini dijalankan.

Beberapa waktu kemudian saya mendapat kesempatan untuk masuk ke kelas
internasional ini dan melihat apa yang terjadi di kelas dan bagaimana
program ini dilaksanakan. Saya mendapat kesempatan untuk mengadakan
observasi kelas di sebuah sekolah unggulan di sebuah propinsi yang maju
dan salah satu kelas yang saya observasi ya kelas internasional tadi.
Siswa-siswa yang ada di kelas tersebut adalah siswa pilihan dengan
nilai akademis yang tinggi. Karena kelas internasional maka beberapa
pelajaran inti (IPA) diberikan dalam bahasa Inggris.

Karena guru-guru mata pelajaran intinya belum bisa berbahasa Inggris,
padahal sekolah tersebut termasuk sekolah yang dijadikan sebagai pilot
project, maka mereka dikursuskan berbahasa Inggris secara internsif dan
diharapkan nantinya mereka akan bisa mengajar materi pelajaran mereka
dalam bahasa Inggris. Jadi ini proyek 'crash program' yang tidak masuk
akal. Bagaimana mungkin guru yang baru belajar bahasa Inggris (dari
dasar pula) akan diharapkan dapat mengajarkan materi pelajarannya dalam
bahasa Inggris secara memadai? Lagipula kursus bahasa Inggrisnya adalah
kursus bahasa Inggris umum dan bukan bahasa Inggris 'sepecial purposes'
untuk mengajar materi pelajarannya.

Karena para gurunya belum bisa berbahasa Inggris sedangkan program
tersebut harus sudah jalan maka sekolah tersebut mengontrak dosen dari
sebuah PTN yang mampu mengajar dalam bahasa Inggris. Dosen tersebut
tentunya pilihan dan dianggap benar-benar mampu menyampaikan materi
dalam bahasa Inggris. Entah apa kriterianya karena sang dosen ini
tentunya tidak/belum pernah menyampaikan mata kuliahnya dalam bahasa
Inggris kepada mahasiswanya, lha wong pertinya kelas nasional!,
sehingga sulit untuk menyatakan bahwa dosen tersebut  mampu mengajar
dalam bahasa Inggris dengan baik.

Guru kelas sebetulnya diharapkan ikut menjadi asisten dari para dosen
tersebut dan menemaninya sambil belajar dengan melihat bagaimana dosen
tersebut mengajar. Jadi sambil ngasisteni sambil menyerap ilmu sang
dosen. Tapi pada saat observasi saya guru kelas tersebut sedang ada
keperluan sehingga tidak datang dan dosen tersebut mengajar sendirian.
Sang dosen ini mengajar dengan menggunakan LCD, yang nampaknya
merupakan suatu tanda atau ciri dari pengajaran 'kelas internasional'
karena setiap kali pengajaran selalu menggunakan LCD. Meski demikian
sang dosen, nampaknya juga masih kesulitan untuk mengoperasikannya
karena harus mengutak-atiknya beberapa lama dengan siswa baru bisa
berjalan dengan pantulan yang miring ke dinding.

Pelajaran yang diberikan adalah fisika dengan materi tentang 'Rays'
atau cahaya dan pantulannya dan nampaknya materinya diambil dari sebuah
diktat atau referensi berbahasa Inggris untuk mahasiswa. Materinya
jelas dicomot langsung dari buku tersebut dan ditampilkan begitu saja
ke dinding. Sang dosen menjelaskan materinya dengan bahasa Inggris yang
sulit saya pahami dengan cara mengajar seperti perkuliahan di perti.
Saya tidak tahu apakah bahasa Inggrisnya yang sulit dimengerti atau
memang materinya yang sulit dipahami. Tapi saya melihat bahwa para
siswa juga tidak begitu memahaminya karena mereka bahkan tidak bisa
berkonsentrasi terhadap pelajaran yang diberikan. Sebagian berusaha
untuk berkonsentrasi tapi setelah beberapa waktu mereka akhirnya
menyerah dan harus berusaha keras untuk mendengarkan  'kuliah' sang
dosen.  Saya melihat beberapa siswa keluar dari kelas sebelum pelajaran
dimulai dan tidak kembali sama sekali. Tidak ada kegiatan lain dari
siswa selain mendengarkan sang dosen berkuliah dan mencatat hal-hal
yang mereka anggap perlu sampai akhir jam pelajaran. Tidak ada sesi
tanya jawab atau diskusi dan saya tidak melihat para siswa memiliki
materi yang diberikan tersebut baik berupa buku ataupun kopiannya.
Anyway, saya baru saja 'menikmati' sebuah kelas internasional.

Setelah pengajaran selesai saya menanyai salah seorang siswa kelas
tersebut tentang apa dan bagaimana kelas internasional tersebut dan apa
bedanya dengan kelas lainnya. Ia menjawab bahwa siswa-siswa kelasnya
dipersiapkan untuk dapat kuliah di luar negeri dan bersaing dengan
siswa-siswa dari negara manca. Tetapi ketika saya tanya apakah ia
memang merencanakan untuk kuliah ke luar negeri setelah lulus, ia tidak
tahu. Ia hanya menjawab kalau ada kesempatan untuk bisa kuliah ke luar
negeri maka ia ingin kuliah ke luar negeri. Nampaknya ia berharap agara
ada beasiswa khusus bagi siswa sepertinya untuk kuliah di luar negeri.

Hampir semua temannya juga berharap yang sama katanya.
Yang mengejutkan adalah jawaban ketika saya tanya apa perbedaan antara
kelasnya dengan kelas 'nasional' yang ia jawab justru perbedaan
perlakuan, umpamanya, bahwa kelasnya kelak akan memakai AC sedangkan
yang 'nasional' tidak.  Mereka juga dijanjikan akan mendapatkan satu
komputer untuk setiap siswa sedangkan yang 'nasional' tidak. Tapi yang
paling membuat saya tercengang adalah katanya bahwa nantinya ruang
kelas 'internasional' akan dilengkapi dengan toilet khusus sehingga
siswa tidak perlu keluar sekedar untuk buang air. Toilet khusus akan
disediakan di ruangan kelas internasional tersebut! Saya hampir tidak
percaya mendengarnya dan langsung berasosiasi ke bis malam yang
menyediakan toilet di dalamnya.  Toilet di dalam kelas adalah ide yang
paling 'gila' yang pernah saya ketahui dan tidak tahu apa hubungannya
dengan internasionalisasi! Iseng-iseng saya tanyakan apakah memang ada
masalah dengan pengaturan toilet yang sekarang dan dijawab tidak oleh
para siswa. Terlanjur iseng saya tanyakan bagaimana perasaan mereka
jika mereka harus buang hajat dengan teman-teman mereka asyik belajar
di ruang sebelah. Mereka jadi ketawa dan nampak kaget dan baru sadar
betapa memalukannya situasinya nantinya.

Siswa kelas internasional ini ternyata mendatangkan kecemburuan dari
siswa yang 'non' dan jelas sekali menimbulkan diskriminasi. Mereka juga
menganggap siswa kelas internasional arogan dan sok pintar. Sementara
itu siswa kelas internasional menganggap perlakuan yang mereka terima
secara berbeda adalah wajar dan mereka berhak untuk mendapatkannya
karena kemampuan akademis yang mereka miliki. Sekolah yang mengajarkan
pada mereka. Lagipula orang tua mereka membayar lebih daripada siswa
yang non. Secara terencana sekolah telah memasukkan paham eksklusifisme
dan segregasi pada siswa. Siswa yang memiliki kelebihan kecerdasan
akademis diberi perlakuan yang berlebihan dan dianggap sebagai 'anak
emas' sekolah. Suatu praktek yang sangat bertentangan dengan tujuan
pendidikan itu sendiri.

Untunglah bahwa program kelas internasional ini tidak jadi dilaksanakan
dan telah dibubarkan (tapi baru-baru ini saya dengar ternyata berjalan
lagi). Saya tidak bisa membayangkan betapa amburadulnya program ini
kalau dipaksakan untuk dilaksanakan. Tapi anehnya, sekolah-sekolah yang
diminta untuk menjadi 'pilot project' program ini belum dberitahu bahwa
program ini telah dibatalkan! Mereka masih terus melaksanakan program
ini seperti sekolah yang saya observasi itu.

Terus terang saya jadi semakin bingung dengan Depdiknas. Kalau program
tersebut memang dibubarkan semestinya mereka menyampaikan hal tersebut
ke sekolah-sekolah yang pernah menjadi pilot projectnya agar
menghentikannya. Kalau dibiarkan maka tentunya sekolah-sekolah ini
masih terus akan bermimpi 'nginternasional' dengan membangun kelas 'bis
malam' yang 'full ac' dan toilet di dalam kelas tersebut.
Ini juga menunjukkan betapa miskinnya 'imajinasi' pendidikan kita.

Balikpapan, 11/4/06
Satria Dharma





____________________________________________________________________________________

Want to start your own business?
Learn how on Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/r-index


=====================================================
Pojok Milis FPK:

1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================

Yahoo! Groups Links






Kirim email ke