Dear All,

FYI, dari milis sebelah, semoga bermanfaat.

- ibp

Sobat muda , artikel ini Studia edisi 319/Tahun ke-7 (11 Desember 
2006). Edisi cetaknya insya Allah sudah beredar di Jadebotabek sejak 
hari Jumat kemarin. Selamat membaca...

*[Dapatkan juga edisi cetaknya di jaringan kami di berbagai kota 
besar lainnya: Aceh, Padang, Bengkulu, Palembang, Pangkalpinang, 
Bandarlampung, Serang, Sukabumi, Bandung, Sumedang, Cirebon, 
Indramayu, Yogyakarta, Solo, Semarang,Bangil, Pasuruan, Surabaya, 
Jember, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Kendari,dan Makasar]

Saran dan kritik, silakan kirim ke:
Redaksi: [EMAIL PROTECTED]
Penerbit: [EMAIL PROTECTED]
HP: 0856-1943803
Kunjungi situs kami di: http://www.dudung.net
Akses via HP: http://mobile.dudung.net (dan dapatkan arsip artikel 
sebelumnya.
Free!)

Ingin diskusi, ngasih info, ngasih masukan berupa kritik dan saran, 
gabung aja di tempat mangkal kita: http://buletinstudia.multiply.com

Untuk berlangganan edisi cetak, hubungi: 0813-81561253

Salam,
Redaksi Buletin Studia
Bogor
---
Bukan Cuma SmackDown!
STUDIA Edisi 319/Tahun ke-7 (11 Desember 2006)

Stasiun televisi Lativi memang akhirnya nggak menayangkan SmackDown 
sejak 29 Nopember 2006 lalu. Itu pun setelah gencarnya protes dari 
banyak kalangan. Selain Komisi Nasional Perlindungan Anak dan Komisi 
Penyiaran Indonesia yang melakukan protes, masyarakat juga gencar 
mengkampanyekan agar SmackDown dihapus dari daftar mata tayang 
stasiun Lativi.

Namun, langkah ini kayaknya masih belum efektif benar. Sebab, 
SmackDown udah terlanjur mewabah dalam bentuk video game dan VCD 
bajakannya karena program acara ini sudah ada sejak tahun 2000 lalu 
yang pernah ditayangkan oleh RCTI dan TPI.

Boys and gals, SmackDown emang ngajarin kekerasan. Meski tuh gulat
boong-boongan karena memang sekadar hiburan (bunyi gemeretak tulang 
patah pun adalah bagian dari efek audio), tapi ketika udah ditonton 
anak-anak, mereka nggak bisa bedain lagi soal sandiwara atau beneran 
ketika para petarungnya saling gebuk dan saling piting. Lha, kalo 
petarung SmackDown mah udah terlatih dan sangat boleh jadi adalah 
para stuntman, tapi tentu nggak banget dengan anak-anak TK dan SD 
yang meniru adegan John Cena dkk.

Adalah Vince McMahon, orang yang punya ide untuk bikin SmackDown. Di 
pikirannya yang terbayang hanyalah fulus dan popularitas saat 
memproklamasikan acara gulat pura-pura pada 29 April 1999 silam itu. 
Terbukti, dolar dan popularitas akhirnya benar-benar diraih oleh 
Vince McMahon yang pada tahun 1976 pernah mempertarungkan petinju 
Muhammad Ali versus pegulat Jepang, Antonio Inoki, itu.

SmackDown sebenarnya boleh dibilang terinspirasi dari tayangan World
Championship Wrestling (WCW) Thunder yang muncul di TV kabel TBS pada 
1988. Nah, baru deh pada 29 April 1999, World Wrestling Federation 
(WWF) meniru Thunder dengan membuat SmackDown. Untuk melengkapi 
kesuksesan SmackDown, pada Februari 2000, Toy Headquarters membuat 
sembilan seri game-nya. Sekadar tahu aja bahwa pada pertengahan 2003, 
pemilik SmackDown mengakuisi WCW.

SmackDown bukan cuma terkenal di Indonesia, tapi hampir di seluruh 
dunia. Di Amerika, Eropa, dan Asia, SmackDown begitu populer dan 
nggak jarang penggemarnya (terutama anak-anak) ngikutin gulat gaya 
bebas tapi pura-pura yang diperagakan bintang-bintang SmackDown 
seperti John Cena, Rey Mysterio, Stone Cold, dan juga Kent.

Tayangan SmackDown boleh dibilang efektif merangsang insting 
binatangâ dari manusia. Pakar pendidikan Arief Rachman menuturkan 
adegan kekerasan yang ditayangkan televisi sangat efektif merangsang 
insting manusia yang paling rendah yang menyamai binatang. Insting 
ini yang paling berbahaya, katanya. (Koran Tempo, 29 Nopember 2006)

Sekadar tahu aja, anak-anak yang jadi korban gara-gara meniru adegan 
gulat gaya bebas SmackDown lumayan banyak. Beberapa di antaranya 
adalah: 
- Reza Ikhsan Fadillah, 9 tahun, siswa SD Cingcing 1 Ketapang, 
Soreang, Bandung (meninggal 16 Nopember 2006). 

- Angga Rakasiwi (11), siswa SD Babakan Surabaya 7 di Kiaracondong, 
Bandung (dijahit lima jahitan di kening). 

- Fayza Raviansyah (4 tahun 6 bulan), siswa TK al-Wahab di Margayahu, 
Bandung (luka, muntah darah).

- Ahmad Firdaus (9), siswa kelas III SD 7 Babakan Suraaya Selatan, 
Bandung (pingsan). 

- Nabila Amal (6 tahun 6 bulan), siswa kelas I SD Margahayu Raya 1,
Bandung (patah tulang paha). Mar Yunani, siswa kelas III SD Wates IV 
Kulonprogo, Yogyakarta (gegar otak). 

- Yudhit Bedha Ganang (10), siswa kelas V SDN 05 Duren Tiga, Jakarta 
Selatan (luka pada kepala dan kemaluan).

Okelah, mungkin tayangan kekerasan di televisi relatif berkurang 
dengan digusurnya SmackDown. Tapi, tentu bukan jaminan juga bagi 
kita, khususnya para orangtua untuk leha-leha. Sebab, video game 
SmackDown masih beredar dan dimainkan dengan penuh suka-cita oleh 
anak-anak. Pun VCD-nya sangat murah dan masih ada di pasaran meski 
mungkin sekarang sembunyi-sembunyi pas ngejualnya. Jadi, kekerasan 
masih mengintai kita. SmackDown belum berakhir. Waspadalah!


SmackDown nggak sendirian

Kekerasan yang ditayangkan televisi sejatinya bukan cuma SmackDown. 
Sebab, film bertema kekerasan pun kerap hadir di televisi. Berita-
berita kriminal yang dikemas seperti drama pun karena sering 
menampilkan adegan pengejaran atau penggerebekan polisi terhadap 
penjahat (termasuk di dalamnya reka ulang tentang adegan pembunuhan)
bukan tak mungkin pula akan menginspirasi individu masyarakat untuk 
berbuat yang sama atau minimal menganggap bahwa kekerasan
adalah hal yang biasa dan wajar. 

Pola kekerasan yang diajarkan televisi bisa juga lewat film kartun, 
lalu film dewasa yang kental dengan violence, dan seabrek tayangan 
lainnya yang menyisipkan kekerasan. Lihat aja film kartun macam Road 
Runner dan Tom and Jerry, di situ banyak banget adegan ketembak, 
digebuk, meledak sampai ketiban bongkahan batu sudah lumrah ada.

So, tayangan televisi memang sangat berpengaruh pada perkembagan 
penontonnya, apalagi usia penonton yang masih tergolong anak-anak dan 
remaja. Yang harus diakui bahwa mereka lebih mudah tergoda untuk 
melakukan hal-hal yang ada di televisi. Motifnya bisa beragam, 
mungkin ada yang cuma iseng alias mencoba-coba, ada juga yang lebih 
ke arah penyaluran untuk memenuhi pencarian jati dirinya. 

Malah tak mustahil bila ada yang betul-betul terobsesi menjadi 
seperti pelakunya dalam tayangan tersebut. Bila dibiarkan, bahaya 
besar, Bro! 

Yup, SmackDown memang nggak sendirian mengajarkan kekerasan bagi 
penontonnya, tapi mungkin ikut menambah daftar panjang sebagai 
teladan yang jelek bagi pemirsanya dalam soal mengajari kekerasan. 
Saatnya kita nyadar untuk mikirin dan terus bertindak agar kekerasan 
nggak terus diekspos di televisi sebagai media komunikasi massa yang 
paling efektik menyampaikan pesan. Ayo, hentikan diam kita!


Bahaya selain SmackDown

Korban SmackDown mungkin saja masih terus berjatuhan. Sebab, yang 
nggak tercatat karena nggak melaporkan kejadian gara-gara meniru 
adegan gaya gulat pura-pura itu sangat boleh jadi jauh lebih banyak.

Tapi, bahaya selain kekerasan fisik yang diperagakan gulat hiburan 
rekaan Vince McMahon ini, ternyata masih ada hiburan lain yang 
pengaruhnya boleh dibilang nggak bisa dianggap enteng. Kalo John 
Cena, Rey Mysterio dan kawan-kawannya berakting menyuguhkan kekerasan 
fisik, maka selebritis di dunia sinetron dan film berlomba memberikan 
hidangan gaya hidup yang permisif dan hedonis abis.
Khususnya sinetron yang mengajarkan tentang percintaan dan pergaulan 
bebas antara cowok-cewek, termasuk seks bebas di dalamnya. Nggak 
ketinggalan para musisi yang getol menggarap lagu bertema cinta dalam 
berbagai jenis musik ikut menyumbang pembentukan karakter individu 
dan masyarakat sesuai dengan tema yang dibuat.

Film remaja seputar cinta dan pergaulan bebas secara tidak langsung 
memberikan visualisasi untuk menginspirasi pemirsanya dalam melakukan 
hal yang sama seperti di film. Meski mungkin tujuan dibuatnya film 
sebagai media penyadaran masyarakat dengan menampilkan realitas yang 
terjadi di masyarakat. Tapi, kenyataannya yang terjadi adalah bias. 
Sebab, sangat tipis bedanya antara membeberkan fakta dengan
ngajarin. Tul nggak seh?

Sobat muda muslim, harus kita akui bahwa pengaruh budaya seperti ini 
sudah lama kita rasakan. Bukti bahwa masyarakat kita secara umum udah 
rusak bisa dilihat dari gaya hidupnya. Meski mengaku-ngaku sebagai 
Muslim, tapi gaya hidupnya sama sekali nggak mencerminkan sebagai 
Muslim. Nampak kemuslimannya hanya ketika berada di masjid atau di 
acara peringatan hari besar Islam. Eh, begitu berada di luar masjid 
gaya hidupnya juga berubah. Persis bunglon tuh. Di masjid tampak
alim dan berserah diri memohon kepada Allah Swt. dengan berdoa hingga 
berlinang air mata. Tapi begitu keluar dari masjid, malah melakukan 
beragam kegiatan yang dilarang agama. Waduh tulalit banget ya?

Ya, sebab dalam kondisi kehidupan yang didominasi sekularisme ini, 
nggak ada jaminan juga kalo orang yang baik tuh bisa selamanya baik. 
Sebab, gimana pun lingkungan masyarakat dan negara bakalan 
mempengaruhi individu. Kasus beredarnya rekaman video adegan mesum 
seorang oknum anggota DPR RI dari sebuah partai dengan penyanyi 
dangdut baru-baru ini adalah satu dari sekian ribu kejadian
akibat pengaruh gaya hidup sekularisme. Sekian ribu kejadian? Ya. 
Coba deh baca di koran yang getol memberitakan kasus perselingkuhan, 
ampir tiap hari ada. Bedanya hanya dalam soal menyedot perhatian 
publik. Kalo masyarakat biasa yang ngelakuin perselingkuhan dianggap 
cemen lah. Tapi kalo pejabat atau orang terkenal lainnyaâ€"karena 
mereka jadi sorotan publikâ€"maka jadi luar biasa dan
bikin heboh. Padahal, yang dilakukannya sama aja kok. Sama-sama 
melanggar aturan
agama.

Sobat, sekularisme emang udah menggiring manusia untuk bersikap 
mendua. Bukan hanya bagi kaum Muslimin, tapi bagi pemeluk agama lain 
dan manusia secara umum. Tuhan hanya ditempatkan di ruang ibadah, 
tapi hilang dalam kehidupan sehari-hari di luar tempat ibadah. 
Menyedihkan banget.

Tumbuhnya kesadaran kita untuk mengubah kondisi ini bukan cuma ketika 
ada tayangan di media massa yang pengaruhnya bisa dirasakan secara 
fisik dengan banyaknya jatuh korban akibat menirukan gaya SmackDown, 
misalnya. Nggak sesederhana itu. Sebab, tayangan perusak kepribadain 
juga telah menyulap masyarakat kita menjadi hedonis (menjadikan 
materi dan kenikmatan jasadi sebagai tujuan) dan permisif (serba 
boleh dan bebas nilai).

So, jangan cuma rame-rame protes saat ada sebuah tayangan di televisi 
yang pengaruhnya dirasakan secara fisik, tapi juga kita kudu ambil 
bagian dan bergerak untukâ€"minimal memprotesâ€"beragam tayangan yang 
merusak cara pandang dalam berpikir dan bertingkah laku. Sebab, 
sangat boleh jadi bahaya yang ditimbulkannya jauh lebih besar dan 
dahsyat. Buktinya, mungkin saja tayangan SmackDown, hanya berpengaruh 
pada anak-anak aja, golongan lain nggak mempan
.
Tapi tayangan yang menyebarkan gaya hidup sekularisme, bisa 
mempengaruhi banyak kalangan dalam berpikir dan berbuat. Contoh udah 
banyak, Bro. Benar-benar tragedi.

Hmm... media massa dalam sistem Kapitalisme-Sekularisme ini emang 
parah banget. Sebab, media massa, khususnya televisi selalu 
menjadikan rating sebagai ukuran kalo acara itu diminati. Kalo 
ratingnya tinggi, maka bisa dijadikan modal untuk menjerat pemasang 
iklan di program tersebut. Itu pula yang terjadi dengan tayangan 
SmackDown. Karena tingginya rating menunjukkan besarnya minat dan 
jumlah pemirsa terhadap acara tersebut. Padahal, acara tersebut 
mengajarkan kekerasan. Ini artinya, media massa lebih mengedepankan 
tayangan yang diinginkan sebagian pemirsa. Bukan tayangan yang 
seharusnya dibutuhkan oleh pemirsa pada umumnya.

Sobat, kita pantas untuk bersedih dan kesal hidup di bawah naungan 
sekularisme. Sebab, televisi lebih banyak dijubeli dengan tayangan 
yang merusak cara pandang kita dalam berpikir dan bertingkah laku. 
Sementara tayangan religius (khususnya Islam) sekadar tempelan aja. 
Itu pun disimpan pada jam dimana orang banyak nggak nonton. Yakni di 
pagi hari saat orang masih terlelap atau sedang pergi ke masjid 
menunaikan sholat subuh, dan di malam hari ketika orang sudah 
terlelap tidur. Mengenaskan sekali.

Jadi, tunggu apa lagi? Ayo sadar dan bergerak untuk belajar Islam. 
Pahami Islam sebagai akidah dan syariat alias ideologi. Mulai 
sekarang yuk kita ngaji sambil terus mengkampanyekan penerapan Islam 
sebagai ideologi negara agar beragam problem ini bisa dituntaskan. 
[solihin: [EMAIL PROTECTED]

link: http://buletinstudia.multiply.com/journal/item/65
--

Kirim email ke