Dear All:

FYI, bagaimana ya generasi muda Indonesia y.a.d kalau hal ini tidak dihentikan?

- ibp

Gerakan Syahwat Merdeka Mengepung Indonesia
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=276485&kat_id=3

Seorang bule bertubuh tinggi besar bergegas ke luar ruangan Teater
Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Raya, Jakarta Pusat.
Langkahnya acuh saja. Sembari berjalan lurus, dia kemudian mendekati
penyair Taufiq Ismail yang tengah dirubung banyak orang. Setelah
sampai di dekat Taufiq, ia menyalaminya.

''Selamat ya. Pidato kebudayaan Anda bagus sekali. Tapi ingat, media
massa Indonesia juga banyak sampahnya. Lihat siaran televisi Anda.
Bayangkan kalau di Amerika tayangan itu diputar pada pukul 03.00 pagi,
di sini malah diputar pada prime time,'' kata si bule sembari memegang
tangan Taufiq. Yang disalaminya pun membalas dengan senyum simpul.
''Terima kasih Tuchrello. Memang demikian adanya. Maaf, kalau banyak
mengambil contoh negara Anda,'' jawab Taufiq.

Sesaat dia lantas menerangkan sahabatnya itu adalah Will Tuchrello,
direktur Perpustakaan Kongres AS Perwakilan Indonesia. ''Bayangkan,
mereka saja resah atas menggejalanya budaya bebas tanpa batas itu.
Tapi, kok kita tidak ya?'' ujar penulis lirik lagu-lagu hits Bimbo
ini.

Taufiq, Rabu (20/12) malam, melalui pidato kebudayaannya di depan
kalangan Akademi Jakarta mengguncangkan kesadaran publik untuk kembali
menengok nurani pada hilangnya rasa malu orang Indonesia. Bahkan,
Taufiq lugas menyebutkan hilangnya rasa malu itu telah mulai
meruntuhkan bangunan bangsa.

Tagihan rekening reformasi, menurut Taufiq, ternyata mahal sekali.
Indonesia dikepung gerakan 'Syahwat Merdeka'! ''Gerakan syahwat
merdeka ini tak bersosok organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri
sendiri. Tapi, bekerja sama bahu-membahu melalui jaringan mendunia,
dengan kapital raksasa mendanainya. Ideologi gabungan yang
melandasinya, dan banyak media massa cetak dan eletronik menjadi
pengeras suaranya,'' kata Taufiq dalam pidatonya.

Ketika mendengar 'kesaksian' Taufiq, sesaat ruangan Teater Kecil yang
penuh dipadati puluhan pengunjung mendadak berubah. Ketua Umum PP
Muhammadiyah, Din Syamsuddin, misalnya, segera membuka buku kecil yang
memuat pidato Taufiq Ismail.

Dari arah bangku belakang, kemudian terdengar lenguhan panjang.
Seorang ibu berguman. Penulis skenario film senior, Misbach Yusa
Biran, menggeleng-gelangkan kepala. Pemusik kontemporer Slamet Abdul
Syukur tepekur di kursinya.

Ruangan teater pun terus senyap. Suhu udara berpendingin kini mulai
terasa merambahi kulit. Taufiq kemudian meneruskan pidatonya dengan
menjelaskan mengenai siapa saja yang menjadi komponen 'syahwat
merdeka' itu.

Paling tidak ada 13 pihak yang menjadi pendukung fanatik gerakan ini.
Pertama adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok
seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi.
Kedua, para penerbit majalah dan tabloid mesum yang telah menikmati
tiada perlunya SIUPP. Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklan
televisi.

''Semua orang tahu betapa ekstentifnya pengaruh layar kaca. Setiap
tayangan televisi rata-rata 170 juta pemirsa. Untuk situs porno kini
tersedia 4,2 juta di dunia dan 100 ribu di internet Indonesia. Untuk
mengaksesnya malah tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San
Fransisco, maupun Klaten,'' tegasnya.

Pendukung keempat adalah penulis, penerbit, dan propagandanis
buku-buku sastra dan bukan sastra. Di Malaysia, penulis yang
mencabul-cabulkan karyanya adalah penulis pria. Di Indonesia
sebaliknya. Penulis yang asyik menulis wilayah 'selangkangan dan
sekitarnya' mayoritas perempuan. ''Dalam hal ini ada kritikus Malaysia
berkata, 'Wah Pak Taufiq, pengarang Indonesia berani-berani. Kok
mereka tidak malu?'' ungkap Taufiq Ismail.

Kelima, penerbit dan pengedar komik cabul. Keenam, produsen VCD/DVD
porno. Ketujuh, pabrikan alkohol. Kedelapan, produsen, pengedar, dan
pengguna narkoba. Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan pengisap rokok.
Hal ini dilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat permisif,
interaksi antara seks, narkoba, dan nikotin akrab sekali. Sukar
dipisahkan.

Selanjutnya, komponen ke-10 adalah para pengiklan perempuan dan
laki-laki panggilan. Ke-11, germo dan pelanggan prostitusi. Ke-12
adalah dukun dan dokter praktisi aborsi.

''Bayangkan data menunjukan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,2
juta setahun. Maknanya, setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu
tempat di negeri kita meninggal di suatu tempat akibat dari salah satu
atau gabungan faktor-faktor di atas,'' tandas Taufiq Ismail.

Menurut Taufiq, kehancuran hilangnya rasa malu itu kemudian tecermin
dalam gemuruh gelombang penolakan RUU Pronografi dan Pornoaksi. Ini
adalah pihak ke-13. Pada satu sisi memang ada kekurangan. Dan salah
satu kekurangan RUU ini, yang perlu ditambah dan disempurnakan adalah
perlindungan terhadap anak-anak yang jumlahnya 60 juta.

Perbandingannya, kalau di Indonesia masih nihil perundangan
perlindungan anak, di AS anak-anak di sana paling tidak kini
dilindungi enam undang-undang.

Sastra ganjil
Mengomentari keresahan Taufiq, pengarang perempuan NH Dini menyatakan,
saat ini memang ada yang ganjil dalam dunia sastra. Entah mengapa
tiba-tiba ada sekelompok penulis perempuan yang giat menulis cerita
bergaya pornografi. Mereka memang tidak merasa risi atau malu. Entah
sengaja atau tidak, mereka sudah menyalahartikan erotisme menjadi sama
saja dengan pronografi.

''Beberapa waktu lalu, ketika tinggal di Prancis, saya dikirimi
mendiang Ramadhan KH sebuah novel Indonesia yang mendapat penghargaan
karya sastra. Ramadhan, karena tidak 'kuat' membaca, meminta saya
membaca novel tersebut. Dan benar, saya hanya kuat baca beberapa
lembar saja.'' ''Saya kemudian berpikir, apa bagusnya novel ini, kok
sampai mendapat penghargaan? Malah lebih terkejut lagi, ketika bertemu
dengan seorang rohaniwan, dia malah memuji novel itu. Akhirnya, saya
semakin tidak mengerti,'' tutur NH Dini.

Budayawan Riau, Al Azhar, menyatakan, apa yang dikatakan Taufiq itu
memang kenyataan yang kini terjadi. Beberapa penulis memang
menghasilkan karya yang 'tidak masuk akal' karena hanya membahas soal
selangkangan. Dominasi ide hanya memaparkan idealisme hedonis.
Realitas kehidupan rakyat yang berbudi diabaikan.

''Entah apa yang dipikirkan generasi hedonis itu. Mutunya sangat jauh
bila dibanding karya Pramudya Ananta Toer atau Ahmad Tohari. Terjadi
penurunan mutu karya yang serius. Generasi syahwat merdeka memang kini
mengepung kita,'' tandas Al Azhar.

( muhammad subarkah )

Kirim email ke