Kamis , 04/01/2007 15:20 WIB
Catatan oleh Rama
Pertemanan di Internet, dari 'Friendster' sampai 'Sohib'

http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/01/tgl/04/time/152035/idnews/726887/idkanal/398

Penulis: Eko Ramaditya Adikara - detikInet

Jakarta, Pembaca, Anda tentu tak asing lagi dengan kata Friendster.
Nama tersebut telah lama melekat di benak pengguna internet, khususnya
mereka yang gemar mencari teman dan membangun jaringan pertemanan di
dunia maya. Demikian populernya, hingga mendorong berbagai content
provider untuk menghadirkan situs layanan serupa. Jadi, jangan heran
kalau saat ini Friendster sudah punya banyak "teman."

"Jangan ngaku anak gaul kalau nggak punya account di Friendster."
Begitulah kira-kira komentar para remaja yang telah menjadi anggota
Friendster.

Mungkin masih banyak komentar lain -- dengan gaya bahasa yang lain
lagi -- yang intinya sama; ada yang kurang kalau belum jadi anggota
Friendster. Sebagian dari Anda mungkin tidak setuju, namun mesti
diakui kalau Friendster adalah fenomena baru bagi pengguna internet,
yang dapat membentuk komunitas tanpa batas setelah e-mail, mailing
list, dan instant messenger.

Sebagai salah satu situs pertemanan, Friendster paling banyak diminati
di Indonesia. Sementara di Amerika Serikat, kawula mudanya lebih gemar
menjalin pertemanan di MySpace. Mari kita telaah layanan-layanan
tersebut satu-persatu. Kita mulai dari yang paling akrab dengan kita,
Frienster.

Sistem kerja Friendster hampir mirip Multi Level Marketing (MLM).
Kalau kita punya teman di Friendster, secara otomatis kita akan masuk
dalam jaringan teman kita tersebut. Terus seperti itu, hingga
terbentuk satu komunitas besar yang terus berkembang. Yang unik dari
Friendster ini, selain diskripsi diri lewat identitas dan foto,
layanan ini juga menyertakan testimonial yang diharapkan dapat
menggambarkan si empunya account dengan lebih obyektif.

Ngomong-ngomong, siapa sih orang di balik kesuksesan Friendster?
Friendster yang dikelola perusahaan Friendster Inc. didirikan pada
tahun 2002 berkantor pusat di Silicon Valley, California, Amerika
Serikat. Pendirinya adalah Jonathan Abrams, yang sekaligus kreator
dari Friendster. Jonathan sebelumnya adalah pendiri dan CEO HotLinks.
Ia pun pernah menjabat sebagai senior enginering pada perusahaan
internet terkenal Netscape dan Nortel. Abrams sendiri adalah lulusan
Computer Science dari McMaster University.

Ketika perkembangan Friendster memperlihatkan tanda-tanda kemajuan,
pengelolanya mendapat suntikan dana US$ 13 juta dari berbagai
investor. Lalu pada Juni 2004 Friendster merekrut seorang profesional
bisnis. Dia adalah Scott Sassa, mantan President stasiun televisi NBC
Entertainment.

Hingga 2006, pengguna Friendster diperkirakan mencapai 20 juta orang
dari berbagai belahan dunia. Namun menurut survei comScore Media
Metrix, tahun ini trafik pengunjung Frienster cenderung menurun. Kalau
bulan Oktober 2005 Friendster dikunjungi 1,7 juta pengguna internet
(unique visitor), maka pada bulan April 2006 pengunjungnya tercatat
hanya 1 juta orang.

Layanan Serupa

Maklumlah, kini Friendster tak sendirian lagi sebagai pembentuk
komunitas internet. Friendster sudah punya banyak saingan, salah
satunya Orkut (www.orkut.com) yang dikelola oleh perusahaan yang
mengelola Google. Teman Friendster yang lain, yang sering
disebut-sebut, bahkan dipublikasikan pengguna Friendster adalah
MySpace (www.myspace.com). Bentuk MySpace hampir serupa dengan
Friendster, hanya saja MySpace memberikan beberapa tambahan fitur,
seperti Blog, Free Email, Forum, Music, dan Game. Dari tampilan foto
dan banner di situs ini, tampaknya MySpace ditujukan untuk konsumsi
orang-orang dewasa.

Situs serupa yang juga dilengkapi banyak fitur juga disajikan Multiply
(www.multiply.com). Uniknya, pengguna Multiply bisa meng-invite secara
langsung teman-temannya di Friendster dan Orkut.

Ada lagi MeetUp (www.meetup.com). Bedanya dengan Friendster, situs ini
membagi penggunanya berdasarkan tempat tinggal dan minat
masing-masing. Begitu masuk situs ini, kita langsung ditanya negara
dan kota mana yang kita inginkan. Ketika penulis mengunjungi MeetUp,
member dari Jakarta sudah mencapai lebih dari 5000 orang.

Pembagian kategori berdasarkan minat seperti MeetUp juga menjadi
andalan Tribe.Net (www.tribe.net), temen Friendster yang lain. Bahkan
di halaman depan sudah ada pembagian member berdasarkan kategori minat
dan jumlahnya.

Bila Friendster membuka komunitas online dengan teman tanpa batasan,
beberapa situs lain membuka komunitas online berdasarkan kriteria
khusus. Linkedin (www.linkedin.com) misalnya, ingin membantu
penggunanya membuka komunitas online bagi profesional.

Artinya komunitas ini sangat berguna bagi kelancaran pekerjaan atau
bisnis masing-masing member. Lalu ada juga TheFaceBook
(www.thefacebook.com) yang membentuk komunitas online melalui jaringan
kampus. Jadi kita bisa mencari keberadaan temen-temen sekampus dulu
dan kini melalui jaringan TheFaceBook.

Terakhir ada juga jaringan komunitas online yang ditujukan bagi
pencari kerja, yaitu Monster (www.monster.com). Ternyata banyak member
Indonesia yang bergabung di situs yang dikelola Microsoft ini.

Di Indonesia

Layanan Friendster versi Indonesia pun belakangan banyak muncul. Yang
pertama adalah Temanster (www.temanster.com). Boleh dibilang situs ini
adalah foto copy Friendster yang berbahasa Indonesia. Sama persis.

Lalu yang kedua adalah Sohib (www.sohib.com). Ini juga sangat mirip
dengan Friendster, hanya desainnya lebih berwarna dengan pilihan
warna-warna pastel. Terakhir adalah Fupei (www.fupei.com) yang
desainnya sederhana, tapi banyak fitur tambahan seperti Jurnal (Blog),
Forum, dan Games.

Dari ketiga situs friendster Indonesia itu, Sohib memiliki paling
banyak member (9.000-an). Sedang Fupei memiliki 3.500 member dan
Temanster 3.000 member.

Mau ikut yang mana?



Penulis, Eko Ramaditya Adikara (Rama), adalah seorang tuna-netra yang
gemar menulis menggunakan komputer. Penulis tergabung dalam Yayasan
Mitra Netra (MitraNetra.or.id). Blog pribadinya dapat dibaca di alamat
www.ramaditya.com.

Kirim email ke