Sekedar Info ..............................    Andrea Hirata Tidak Suka 
Perpustakaan       
  Dunia perbukuan Indonesia belakangan ini dimarakkan oleh munculnya 
penulis-penulis baru yang berprestasi melahirkan karya-karya bestseller. Satu 
dari sekian penulis tersebut adalah Andrea Hirata, seorang pria asal Belitung 
yang mengisahkan  perjalanan  hidupnya dalam novel tetralogi Laskar Pelangi. 
Pada rabu, 31 November 2007, Andrea didaulat untuk membedah novel laris 
tersebut di Gedung Graha Pena, Makassar.
   
  Buku Laskar Pelangi merupakan karya fenomenal dari pria yang  mengaku belum 
pernah sekalipun menulis suatu karya sastra sebelumnya. Penjualan buku ini 
benar-benar mengagumkan. Sejak diterbitkan pertama kali pada September 2005 
sampai Oktober 2007, buku ini telah dicetak ulang sepuluh kali. 
   
  Acara bedah novel  itu tampaknya disambut hangat dan antusias oleh peminat 
buku di Makassar. Ini terbukti dari jumlah peserta yang  tidak kurang dari tiga 
ratus peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, 
karyawan, dan ibu rumah tangga memenuhi ruang pertemuan tempat acara tersebut 
berlangsung. Bahkan Ilham Arif Sirajuddin, walikota Makassar, diundang dan 
didaulat untuk membuka acara tersebut.
   
  “Acara ini sangat bagus dan sinergis dengan program Gerakan Makassar Gemar 
Membaca yang sedang dijalankan pemerintah daerah," kata Ilham dalam 
sambutannya.  Menurutnya, banyak sekali hal positif yang bisa didapat dari 
kegiatan membaca. Karena itu pemerintah sangat mendukung program seperti ini. 
Bahkan bagi penulis asal Makassar yang berkeinginan menerbitkan karyanya akan 
dibantu. Salah satu bukti  yang ditunjukkan  oleh Walikota adalah dengan 
membeli secara langsung seratus eksemplar  buku PANGERAN BERKUDA PUTIH DAN 
SUPIRKU, karangan Islah, seorang siswi asal SMA 5 Makassar. Pembelian ini 
dilakukan secara simbolis di hadapan ratusan peserta
   
  Selain penulis buku, acara ini juga dihadiri editor buku Laskar Pelangi, 
Salman Faridi, yang berasal dari penerbit BENTANG PUSTAKA Yogyakarta. 
Bersamanya, Andrea Hirata membedah bukunya dengan gaya yang santai. Sesekali 
Andrea menyegarkan suasana acara dengan lelucon-lelucon mengejutkan. Hal ini 
tidak mengherankan, mengingat ini adalah bedah buku ke 98 yang dia lakukan di 
seluruh Indonesia.
   
  Laskar Pelangi sendiri  mengisahkan kehidupan di sebuah SD yang hanya 
memiliki sepuluh murid, salah satunya adalah Andrea. Tragisnya, kondisi SD yang 
berada di daerah pedalaman Belitung tersebut sangat memprihatinkan karena  
hampir roboh.  Tapi berkat kegigihan murid-murid tersebut dan jasa Ibu 
Muslimah, satu-satunya guru di sekolah tersebut yang rela mengajar mereka 
bertahun-tahun tanpa digaji, mereka semua berhasil menjalani pendidikan.  
   
  Kisah Laskar Pelangi  sangat mengharukan dan mengandung nilai-nilai edukasi 
yang tinggi bagi pembaca. Walaupun sudah puluhan kali membedah bukunya, tampak 
sang penulis masih terdengar terharu saat menceritakan pengabdian Ibu Muslimah 
dalam mengajar mereka.  Salah satu yang dia ceritakan adalah di saat mereka 
bersepuluh sudah berada di dalam kelas untuk belajar dan ternyata Ibu Muslimah 
belum datang-datang.  Hujan yang deras memperburuk suasana saat itu. Bisa 
dibayangkan bagaimana perasaan anak-anak SD yang terkurung dalam suatu gedung 
reot di tengah hujan lebat tanpa ada orang dewasa di dekat  mereka. Di sini 
pengabdian Ibu Muslimah benar-benar terlihat. Ternyata guru tersebut tetap 
datang mengajar walaupun hanya dengan berpayungkan daun pisang. Disinilah 
terpatri niat dalam hati Andrea kecil untuk menuliskan pengabdian gurunya 
tersebut dalam suatu buku.
   
  Akan tetapi, niat tersebut ternyata tidak segera dia dapat wujudkan. Karena 
kesibukan setelah bekerja, niat tersebut sempat terlupakan. Musibah Tsunami 
Aceh 2004 menggugah kembali semangatnya. Saat dia jadi relawan di Serambi 
Mekah, dia mendapati begitu banyak sekolah-sekolah rubuh di kota itu. Yang 
paling menggetarkan perasaannya saat dia melihat spanduk yang bertuliskan  AYO 
SEKOLAH, JANGAN MENYERAH. Dia merasa sangat sedih dan segera teringat kondisi 
sekolahnya dahulu. Selepas pulang dari Aceh, Andrea segera menulis kisah 
hidupnya tersebut. Dan sungguh luar biasa, hanya dalam tiga minggu saja draft 
pertama novel setebal 700 halaman tersebut selesai.
   
  Awalnya pria yang bekerja di TELKOM Bandung ini sama sekali tidak ada niat 
untuk menyebarluaskan novel ini. Andrea hanya mencetak fotokopi untuk kalangan 
terbatas. Tapi seorang teman yang melihat prospek buku ini diam-diam mengirim 
ke penerbit Bentang atas nama Andrea. Fantastis, dalam hitungan minggu, novel 
ini laris manis hingga harus dicetak ulang.
   
  Begitu banyak komentar yang datang merespon kehadiran buku Laskar Pelangi. 
Kebanyakan bersifat memuji kehadiran buku yang lain dari yang lain ini. Hal ini 
memicu sang penulis melanjutkan menulis kisah hidupnya yang menarik hingga 
menjadi tetralogi. Baru tiga yang telah terbit yaitu Laskar Pelangi, Sang 
Pemimpi, dan Edensor. Semuanya telah berkali-kali cetak ulang.  Edensor sendiri 
yang edisi pertamanya terbit Mei 2007 telah mengalami empat kali cetakan. Buku 
terakhir dari rangkaian tetralogi yang berjudul Maryamah Karpov belum 
diterbitkan.
   
  Dalam bedah novel gratis ini, beragam peserta mengajukan pertanyaan kepada 
Andrea. Salah satunya Aan mengomentari bahwa dia sangat tidak setuju kalau  
cerita Laskar Pelangi difilmkan karena unsur-unsur literasi  dari buku akan 
hilang. Andrea dalam hal ini berkomentar bahwa dia akan ikut berjuang keras 
agar ceritanya ini benar-benar akan berjalan sesuai konteks novelnya dan tidak 
diseret arus kapitalis yang menyebabkan suatu karya menjadi tidak bermutu.
   
  Satu hal menarik yang terungkap dari bedah novel ini adalah pendapat Andrea 
yang mengatakan tidak setuju dengan konsep perpustakaan yang ada selama ini. 
Menurutnya konsep perpustakaan itu tidak akan memecahkan persoalan minat baca 
di Indonesia karena tidak meliput ke semua orang dan semua area. Banyak sekali 
orang yang tidak bisa mendatangi perpustakaan dan sebaliknya kualitas 
perpustakaan yang ada sering tidak membuat pengunjungnya meraih apa yang mereka 
butuhkan.
   
  Andrea lebih menyukai konsep learning centre dimana sumber-sumber pengetahuan 
seperti guru-guru langsung didatangkan ke daerah yang membutuhkan. Ini akan 
lebih tepat sasaran, menurut Andrea yang dalam bedah novel ini menantang  
kepada peserta untuk menjadi guru-guru tersebut. 
   
  Bedah novel ini diharapkan bisa merangsang minat baca dan menulis masyarakat 
makassar sehingga bisa bakat-bakat yang masih kuncup di kota Daeng ini bisa 
mekar mewarnai dunia perbukuan kita yang mulai menggelora.
   
  dr. Amrizal Muchtar, S. Ked
  www.penjelajahwaktu.blogspot.com
  www.geocities.com/roycomasako
   


imam budi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

          Uuupss... sorry, ada yang ketinggalan

P.S. Here is her (Asmara Letizia) blog:
http://www.miund.com/

-- 
Imam Budi P.
Referensi Maya Administrator
e-mail: [EMAIL PROTECTED]


                         



       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke