Edisi 27 Oktober 2008
Kolom

PERPUSTAKAAN SEBAGAI RUANG PUBLIK
by: Hikmat Darmawan

http://www.ruangbaca.com/ruangbaca/ ?doky=MjAwOA= =&dokm=MTA=
&dokd=Mjc= &di\g=YXJjaGl2ZXM= &on=S09M& uniq=NzUy

Sebutkan perpustakaan terbaik di kota Anda. Kenapa itu jadi terbaik
menurut Anda?

Pilihan saya pribadi untuk perpustakaan di Jakarta yang terbaik selama
bertahun-tahun adalah Perpustakaan di Fakultas Sastra UI, perpustakaan
Kuningan, perpustakaan American Cultural Centre (ACC), perpustakaan
British Council, dan perpustakaan CSIS. Semua sudah berubah.

Fakultas Sastra UI kini jadi Fakultas Ilmu Budaya UI. Bukan sekadar
nama kampusnya yang berubah, tapi suasana atau akses terhadap
perpustakaannya juga berubah. Dulu, sampai akhir 1990-an, perpustakaan
ini terbuka untuk umum. Pengunjung bisa
memilih sendiri buku yang hendak dibaca. Walau peminjaman dibatasi
terutama hanya untuk mahasiswa, tapi mudah saja saya
membaca-baca, dan menulis. Ruangnya lebih terbuka.

Saya betah sekali di situ, karena banyak koleksi sastra dan teori
klasik, klasik-modern, atau kontemporer dari berbagai kawasan di
dunia. Saya pertama kali berkenalan dengan Carlos Fuentes dan José
Ortega Y Gasset, misalnya, dari rak salah satu kawasan negara Amerika
Latin di lantai atas perpustakaan itu. Karena di luar bahasa Indonesia
saya cuma bisa bahasa Inggris dan Betawi, saya terpaksa berkenalan
dengan mereka lewat terjemahan bahasa Inggris.

Padahal, karya-karya para sastrawan dan pemikir dunia ada di
perpustakaan itu dalam bahasa asli mereka. Saya pernah berjumpa dengan
edisi awal buku penelitian klasik Emile Durkheim dan Max Weber dalam
bahasa Jerman di rak Jerman. Buluk, tapi kan eksotik? Seeksotik saat
saya menemukan sebuah buku di rak Sejarah, dan ada tanda tangan Soe
Hok Gie! Juga kitab-kitab klasik filsuf Islam klasik, ensiklopedia,
hingga sebuah kitab besar atlas kuno di lantai bawah.

Masuk ke perpustakaan fakultas Sastra di Depok itu seperti memasuki
gua garba peradaban. (Maaf, saya tak bisa menampik godaan memuji
secara superlatif begini. Maklum, ada sedikit nostalgia di sini.) Coba
pikir, siapa sangka saya bisa mengulik saripati peradaban modern
justru di balik hutan karet Depok?

Perpustakaan itu jadi tempat favorit juga karena ada suasana
"kepenulisan" di situ. Membaca bisa tenang, sesekali bisa
diskusi, dan sela-sela sunyi rak menambah keasyikan penemuan harta
karun peradaban. Saya tak tahu seperti perpustakaan FIB sekarang.
Katanya sudah banyak berubah, dan pernah saya sambangi 2-3 tahun lalu,
kok rasanya lebih tertutup, ya?

Perpustakaan lain pun begitu: berubah dengan agak menyedihkan.
Perpustakaan ACC dan Kuningan telah tutup. Perpustakaan Kuningan di
jalan H. Rasuna Said itu kini berubah jadi Perpustakaan Nyi Ageng
Serang --salah satu perpustakaan terbaik di Jakarta, semata karena ia
punya koleksi buku lama lumayan lengkap dan buka sampai pukul 8 malam
termasuk pada Sabtu dan Minggu. Perpustakaan British Council tutup,
koleksinya dialihkan ke perpustakaan Diknas. Perpustakaan CSIS, saya
dengar, sudah
tutup pula. Secara keseluruhan, perubahan-perubahan itu tak sepenuhnya
kemestian zaman: itu tak lebih penegasan bahwa perpustakaan bukanlah
sesuatu yang dipentingkan dalam pembangunan Jakarta.

Padahal, perpustakaan- perpustakaan yang saya sebut itu jauh dari
sempurna. Bandingkan saja, misalnya, Perpustakaan Nasional kita dengan
Perpustakaan Kongres di Amerika. Menurut Alberto Manguel (History of
Reading), pada 1996 saja koleksi perpustakaan itu telah lebih dari 100
juta item. Perpustakaan ini pada 1800 hanya didanai $ 5.000, buka
hingga malam, menghimpun koleksi buku antik hingga komik murah dari
1940-an hingga kini.

Dan, ah, banyak sekali perpustakaan dunia yang jadi impian saya. Tapi,
saya harus memuaskan diri dengan yang ada. Apalagi, sekarang sudah ada
Internet --salah satu sahabat terbaik penulis. Sejak saya pertama kali
berkenalan dengan Internet pada pertengahan 1990-an, saya sudah
mencicipi hidangan (di tahap awal, waktu itu) perpustakaan maya yang
wah seperti Project Guttenberg. Apalagi sekarang.

Teman saya mengenalkan pada Gigapedia. Juga banyak situs yang
menghimpun buku-buku klasik maupun baru, resmi maupun bajakan, eh,
"versi open source", dan semuanya membuat saya lemas, mengetahui
betapa banyak yang saya tak tahu. Lemas, tapi bahagia. Betapa
membahagiakan mengetahui bahwa masih banyak hal yang harus kita
pelajari --hidup jadi tak membosankan, bukan?

Tiba-tiba saya sadar, hey, lantas bagaimana dengan perpustakaan yang
berbentuk gedung itu sendiri? Ternyata memang berubah. Berubah, karena
zaman memang bergerak. British Library mendefinisikan perpustakaan
sebagai "tempat mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi; tempat
menciptakan akses agar pengetahuan jadi lebih demokratis; dan
menyimpan ide-ide yang
terekam untuk generasi masa depan." Definisi ini, kata keterangan di
www.bl.uk., adalah definisi "tradisional" .

Menghadapi era digital, fungsi kultural British Library lebih
ditekankan dan diluaskan. Artinya, karena lalulintas dan penyimpanan
informasi tak lagi harus bersifat fisik, tapi bisa sepenuhnya bit dan
maya. Dalam kondisi itu, perpustakaan yang berupa bangunan menjadi
tempat berkumpulnya manusia, sebuah potensi fungsi kebudayaan yang
lebih kental.

British Library kini mendefinisikan diri sebagai pemangku "ingatan
bangsa" (national memory). Berapa banyak perpustakaan kita yang
mendefinisikan diri seperti ini? Lebih penting lagi, seberapa banyak
kita atau pemerintah menyadari fungsi ini? Dalam fungsi ini, dalam
kesadaran bahwa perpustakaan adalah sebuah lembaga kultural,
perpustakaan menjadi sebuah ruang publik yang sebenarnya --entah dalam
pengertian tata kota, maupun bahkan dalam pengertian filosofis ala
Habermasian.

Artinya, perpustakaan menjadi sebuah wahana membangun kesadaran publik
--sesuatu yang secara gawat sedang hilang di kehidupan bermasyarakat
kita. Saat ini, orang masih terjebak dalam oposisi biner lama, yakni
tawar-menawar antara individu dan negara. Dalam oposisi lama ini,
tentu saja, individu jadi sesuatu yang sakral bagi sebagian orang.
Negara diminta tahu diri, mundur, jangan mengganggu kiprah sang
individu. Dan itulah yang mendasari, misalnya, berbagai penolakan,
terhadap RUU

Pornografi kemarin. Lihat, misalnya, argumen Nia Dinata pada acara
debat di TVOne, Rabu, 22 Oktober 2008.
Nia bilang, tak perlu ada UU Pornografi, karena ia bisa mengurusi
sendiri anaknya untuk tidak mengonsumsi atau jadi korban pornografi.
Nia bicara tentang individu, sementara RUU (apa pun) adalah sebuah
produk  kebijakan untuk publik. Di tingkat publik, Nia sebetulnya tak
bisa mengasumsikan semua orang tua punya kemampuan dan keluangan waktu
untuk mendampingi anak mereka terus-menerus. Berpikir dalam sudut
pandang publik berarti berpikir melampaui batas-batas kepentingan
individu
--(sebisa mungkin) tanpa mengorbankan individualitas.

Perpustakaan adalah tempat unik, menarik, dalam hal relasi antara
individu dan publik. Membaca adalah laku sangat individual, tapi
perpustakaan mutakhir adalah laku kebudayaan yang bersifat publik.
Dalam pengertian mutakhir, dalam lingkup gagasan masyarakat sebagai
entitas cerdas, perpustakaan menjadi salah satu lembaga penting untuk
membangun "yang publik".

Sayang, gagasan ini tampak tak terlalu muncul dalam kebijakan publik
Jakarta (dan banyak kota lain di Indonesia): perpustakaan sendiri
sering  diabaikan, dan tak tampak diurusi. Konon, aturan tata kota
kita mengharuskan ada perpustakaan setiap 6.000 penduduk. Mestinya,
ada kurang lebih 2.000 perpustakaan di Jakarta saja. Kita belum bicara
kelayakannya, atau yang idealnya, tapi jumlahnya saja. Sudahkah itu
terpenuhi? Atau masihkah jauh panggang dari api?

Kirim email ke