FYI
Dari milis sebelah...

IBP

---------- Forwarded message ----------
From: wonk yudy <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/11/24
Subject: [toolib] RB Zhaffa di Media Indonesia #3
To: [EMAIL PROTECTED]

Berikut artikel ke 3 Rumah baca Zhaffa di Rubrik Tentang Media
Indonesia Minggu (23/11)

Minggu, 23 2008 00:03 WIB

Gerakan Membaca Jangan Cuma Seremonial

Baca Juga di
http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDU4MjI=


RENDAHNYA budaya membaca yang disebabkan kurangnya akses terhadap
bahan bacaan mengakibatkan kita tidak mengalami budaya membaca atau
menulis. Ada banyak faktor yang membuat budaya membaca tidak begitu
berkembang di negeri ini.

Hampir semua orang sepakat bahwa buku merupakan jendela dunia. Dunia
perbukuan Indonesia cukup berkembang terbukti setiap diadakan pesta
buku atau pameran buku, banyak penerbit mengeluarkan buku-buku baru.
Memang tidak ada data yang pasti berapa jumlah buku yang diterbitkan
di Indonesia setiap tahunnya. Tetapi bisa dikatakan juga bahwa para
penerbit dan toko buku besar lebih banyak terkonsentrasi di kota
besar, terutama Pulau Jawa. Maka, penyebaran informasi melalui buku
pun tidak merata. Kalaupun ada yang menjangkau daerah atau luar Jawa,
harga buku sudah sangat jauh melambung.
Upaya pemerintah menganggap persoalan budaya baca ini begitu penting.

Ajakan untuk membudayakan membaca ini hampir semua presiden
melakukannya. Dari mulai presiden pertama kita Soekarno hingga
presiden kita sekarang Soesilo Bambang Yudhoyono.

Ada yang mencanangkan gerakan Tahun Kunjungan Perpustakaan, Hari
Aksara Nasional atau Gerakan Membaca Nasional serta Pemberdayaan
Perpustakaan. Meskipun begitu, budaya membaca ini masih begitu sangat
jauh dari yang diharapkan.

Gerakan membaca hanya menjadi gerakan seremonial saja. Oleh karena itu
perlu ada upaya konkret yang dilakukan untuk membudayakan baca di
Indonesia. Perpustakaan yang didirikan pemerintah hanya menjangkau di
tingkat pemerintah daerah atau kabupaten saja. Belum menyentuh lapisan
masyarakat bawah. Seharusnya pemerintah membuat perpustakaan hingga ke
pelosok-pelosok negeri seperti halnya gerakan KB yang sampai jauh ke
bawah.

Partisipasi masyarakat
Beberapa individu dan komunitas masyarakat akhirnya merasa prihatin
dan terpanggil dengan susahnya masyarakat terhadap akses bahan bacaan.
Tumbuhlah sekarang yang dinamakan taman bacaan-taman bacaan
independen. Menurut beberapa literatur, perkembangan taman bacaan
mulai terlihat aktif sekitar 2001. Dan pergerakannya dimulai di
Bandung dengan adanya Tobucil, Toku Buku Kecil, milik Tarlen
Handayani.

Tobucil menggunakan sebagian pendapatannya untuk mendanai taman bacaan
gratis. Taman bacaan ini juga melakukan berbagai kegiatan-kegiatan
aktivitas yang mendukung kegiatan membaca, seperti klub baca atau juga
klub menulis. Tokoh inspirasi bagi kalangan taman bacaan adalah Dauzan
Farook dan 'Mabulirnya' (majalah dan buku bergilir). Keprihatinan juga
dirasakan sebuah komunitas yang berawal dari milis
[EMAIL PROTECTED] Komunitas yang berdiri pada tahun 2002 ini
berkeinginan mewujudkan harapan anak-anak terhadap ketersediaan
bahan-bahan bacaan yang berkualitas.

Mereka mengumpulkan buku-buku dari individu-individu dan
perusahaan-perusahaan lalu mendistribusikan buku-buku tersebut ke
berbagai taman bacaan yang membutuhkan. 1001buku juga sering
mengadakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan taman bacaan yang sudah
bergabung di jaringannya.

Bisa dikatakan hampir semua taman bacaan independen yang berdiri
pernah merasakan tangan-tangan mulia para relawan 1001buku. Di milis
ini merupakan tempat berkumpulnya para pecinta buku yang peduli
terhadap akses bacaan.
Gola Gong, yang memiliki nama asli Heri Hendrayan Haris juga merupakan
salah satu orang yang membantu perkembangan budaya baca di Indonesia.
Di tempat tinggalnya di Banten, dia mendirikan Rumah Dunia. Sebuah
wadah interaksi sosial bagi warga Banten. Tempat berkumpulnya para
penulis-penulis muda kreatif.

Dengan latar belakang jurnalisme, dia memberikan pelatihan-pelatihan
menulis buku kepada anak-anak. Ada pelatihan mendongeng, sastra, dan
puisi. Moto Rumah Dunia adalah "Rumahku adalah rumah dunia, aku
membangunnya dengan kata-kata."

Walau pergerakan mereka informal, tidak seperti perpustakaan
pemerintah, kontribusi taman bacaan yang ada di masyarakat sangat
besar terhadap tumbuhnya kesadaran pentingnya membaca. Jadikan rumahmu
sekolah bagi anakmu!

Rumah Baca Zhaffa.

Kirim email ke