Maraknya bisnis hewan kurban
 
Aroma khas kambing tidak lama lagi akan tercium di sejumlah titik di beberapa 
kawasan di Ibu Kota. Bau kurang sedap itu berasal dari kambing sembelihan 
kurban yang dijual seadanya di pinggir-pinggir jalan.

Tempat menjual binatang ternak untuk sembelihan kurban pada hari raya Iduladha 
itu sangat sederhana. Terbuat dari bambu yang masih bulat untuk pagar keliling 
dan tiang penyangga atap yang terbuat dari terpal plastik.

Sejumlah warga terlihat mulai membangun tenda biru yang berfungsi sebagai 
showroom untuk menjual kambing kurban. Aktivitas tersebut sudah terlihat 
sekarang ini di lahan kosong a.l. di kawasan Kuningan dan di Jalan Radio Dalam, 
Jakarta Selatan.

Namun, kebanyakan showroom kambing kurban yang biasanya sangat sederhana itu 
baru dibuat saat hewannya datang. Terbuat dari bambu bulat untuk pagar 
keliling, serta penyangga atap dan lantai apa adanya.

Tentu saja angin dapat leluasa menyebarkan aroma khas kambing atau sapi.

Walaupun aromanya kurang sedap, tetapi banyak orang menangguk untung dari 
bisnis musiman kambing kurban.

Romly, 27, misalnya, sudah dua kali lebaran Iduladha ini, pegawai negeri di 
salah satu instansi pemerintah pusat ini berbisnis kambing kurban. Keuntungan 
yang diperolehnya lumayan besar.

Dia mendapat pasokan kambing dari Banyumas, Jawa Tengah kemudian disebar ke 
beberapa tempat Jakarta dan Ciputat, Tangerang. Keuntungan bersihnya setelah 
dipotong biaya operasional dan transportasi mencapai Rp50.000-Rp100.000 per 
ekor.

Menjelang Iduladha ini, pengusaha musiman seperti Romly ini akan membanjiri Ibu 
Kota. Mereka biasaya dapat menjual lebih dari 100 ekor kambing yang berasal 
dari beberapa daerah di Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah.

Transaksi

Penjualan kambing dan sapi untuk sembelihan hewan kurban mulai marak terlihat 
di Jakarta sekitar 15 hari sebelum Hari Raya Haji, yang tahun ini jatuh pada 8 
Desember 2008. Bahkan 3 hari setelahnya masih saja ada transaksi.

Demikian pula halnya yang diiklankan di sejumlah media cetak dan radio. Bahkan 
sejumlah lembaga sosial menawarkan pelaksanaan pemotongan hewan dilakukan di 
daerah terpencil yang masyarakatnya sangat membutuhkan.

Harga jual daging kurban di tingkat konsumen untuk satu ekor sapi berbobot 
sekitar 300 kg atau satu ekor mencapai Rp8 juta-Rp9 juta, sedangkan untuk 
kambing ukuran 25-35 kg atau satu ekor sebesar Rp1 juta-Rp1,1 juta.

Adapun hewan kurban untuk kebutuhan warga Jakarta yang akan melaksanakan ibadah 
sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim yang kemudian disyariatkan kepada Nabi 
Muhammad itu diperkirakan mencapai sekitar 60.000 ekor kambing dan 20 ekor sapi.

Pemprov DKI sendiri juga menugaskan PD Dharma Jaya agar menyiapkan sedikitnya 
6.600 ekor hewan kurban yang terdiri atas 2.800 ekor sapi dan 3.800 ekor 
kambing. Jumlah ini akan ditingkatkan lagi bila ada permintaan konsumen.

Untuk itu, Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan DKI akan mengawasi secara 
ketat hewan kurban dari kota di Jawa Barat, Tengah dan Timur itu agar terjamin 
kesehatannya dan memenuhi syarat sahnya hewan kurban.

Dinas itu juga menyiapkan sekitar 200 orang tenaga medis dan para medis di 
sejumlah lokasi penampungan dan penjualan hewan ternak itu untuk mencegah 
jangan sampai ada yang terserang virus antraks.

Pelaksanaan transaksi hewan kurban akan berlangsung sesuai batas waktu 
pelaksanaan penyembelihan. Sesuai dengan tuntunan ajaran Islam dilaksanakan 
pada hari Tasyrik yaitu setelah salat Iduladha hingga hari ketiga atau tanggal 
11, 12 dan 13 Zulhijjah.

Tahap berikutnya adalah pembagian dagingnya. Pada tahap ini pengurus masjid 
atau lembaga yang menyelenggarakan kegiatan keagamaan tersebut harus 
memerhatikan mekanisme pembagiannya.

Mekanisme pembagian daging kurban tidak boleh menimbulkan kesan seperti unjuk 
kemiskinan. Lebih ironis jika antrean panjang permintaan daging kurban itu jadi 
kacau. Jangan sampai pembagian daging kurban menjatuhkan korban. 

Oleh Nurudin Abdullah




      

Kirim email ke