Dear all
Dalam rangka memperingati 60 Tahun Duham, Komnas HAM mengadakan
serangkaian kegiatan diantaranya adalah Parade Film HAM 2008. Kegiatan ini
meliputi pemuataran film-film HAM dan refleksi.
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Senin dan selasa
15-16 Desember 2008
Waktu : 13.00 s.d 17.00
Tempat : Blitzmegaplex
Grand Indonesia, 8th floor
Jln. MH. Thamrin No. 1
Jakarta
Untuk konfirmasi dan pemesanan tiket dapat menghubungi Sdr.Andre
(08161807712/021-3925230 Ext.311/email: [EMAIL PROTECTED])
atau Sdri. Indah (081908777091/021-3925230 Ext.225/email:[EMAIL PROTECTED])
Terlampir di bawah ini jadwal pemutaran film Ham berikut
sinopsisnya.Atau info lebih lengkapnya silahkan klik:
www.komnasham.go.id
http://www.komnasham.go.id/portal/id/content/parade-film-ham-2008
Atas perhatian dan partisipasinya kami ucapkan terimakasih
salam,
(Tim Parade Film HAM 2008)
http://www.komnasham.go.id/portal/id/content/parade-film-ham-2008
----------------------------------------------------
JADWAL PEMUTARAN FILM
PARADE FILM HAM 2008
15-16 Desember 2008
blitzmegaplex, Grand Indonesia, Jakarta
15 Desember 2008
---------------------------------------------------
13.10 s.d 13.20 WIB -à Yang Belum Usai
Director : Ucu Agustin
Perjalanan Ibu Sumarsih, ibunda dari Wawan salah seorang mahasiswa yang
tertembak mati sepuluh tahun silam masih berlanjut. Entah kapan ia dan
sejumlah orangtua lainnya bisa memperoleh keadilan. Setiap Kamis, Ibu
Sumarsih bersama para orangtua lainnya mengadakan aksi Kamisan, tanpa
peduli keadaan cuaca. Akankah saatnya tiba baginya untuk menghentikan
perjuangan?
----------------------------------------------------
13.20 s.d 15.05 WIB --> May
Director : Viva Westi
Act.: Jenny Chang, Yama Carlos, Jajang C. Noer, Lukman Sardi, Niniek L. Karim,
Tutie Kirana, Ria Irawan
Antares dan May mereka saling mencintai walaupun warna kulit mereka
berbeda. Semua berawal pada bulan Mei 1998, mereka terpisah dan tidak
pernah lagi bertemu. May memutuskan untuk tinggal luar negeri untuk
melupakan kepedihannya. Suatu ketika ia diperkosa sekelompok orang, Jika
saja Antares bukan seorang wartawan yang sedang bekerja meliput kerusahan
Mei, May berfikir dia pasti tidak akan jadi korban pemerkosaan keji
tersebut.
15.15 s.d 17.00 WIB --> Menyemai Terang Dalam Kelam
Director : IGP Wira Negara
Tragedi kemanusiaan 1965-1966, menyisakan tidak hanya luka bathin tapi
juga sisa-sisa pergulatan untuk tetap menjadi manusia di bawah penindasan
militerisme sebagai ujung tombak Orde Baru. Sketsa-sketsa percik terang
orang yang ditahan, dikejar-kejar dan mereka yang ditinggalkan oleh orang
tuanya, suaminya, istrinya, karena dipenjarakan atau dibunuh. Seorang
penyair mempertanyakan kepada jendral-jendral tentang keabsahan sejarah
yang mengandung fitnah. Saksi mata bercerita tentang fitnah Tarian Harum
Bunga dan Congkel Mata di Lubang Buaya. Pengakuan salah seorang anak DN.
Aidit yang bertemu dengan Letjen (Purn) Sarwo Edhi Wibowo, juga
diungkapkan dalam film ini. Masih banyak kisah-kisah lainnya seperti
paparan seorang sejarahwan dan praktisi hukum.
16 Desember 2008
13.20 s.d 13.40 -à Kartini Bernyawa 9
Director : Ucu Agustin
Kekerasan terhadap perempuan, perdagangan perempuan dan kasus-kasus
diskriminasi ras adalah permasalahan yang selalu dialami perempuan di
Indonesia. Menjadi perempuan di Indonesia bukanlah hal yang mudah,
terlebih menjadi perempuan dengan HIV/AIDS. Stigmatisasi dan diskriminasi
yang dialami oleh perempuan dengan HIV/AIDS lebih berat daripada laki-laki
dengan masalah yang sama. Film ini berusaha menunjukkan aspek gender dari
persoalan HIV/AIDS.
13.40 s.d 14.26 Bunga Dibakar
Director : Ratrikala Bhre Aditya
Bunga Dibakar, film ini menceritakan perjalanan hidup Munir sebagai
seorang suami, ayah, dan teman. Munir dibunuh di era demokrasi dan
keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia
cita-citakan mulai berkembang. Semangat inilah yang ingin diungkapkan
lewat film ini. Namun bunga indah itu kini telah dibakar
14.45 s.d 16.17 -à Shadow Play
Dir.: Chris Hilton
Prod.: Walter Slamer&Lexy Rambadeta
Film ini adalah kisah yang ingin disembunyikan oleh banyak kalangan yang
diuntungkan, yaitu blok barat dan militer Indonesia. Film ini mengisahkan
mengenai dampak perang dingin untuk Indonesia, penjatuhan Soekarno,
pembunuhan massal ratusan ribu masyarakat Indonesia, puluhan ribu tahanan
politik tanpa pengadilan. Film ini bercerita mengenai sejarah peristiwa
1965 yang dibelokkan oleh Orde Baru