--- On Wed, 3/6/09, Doddy <[email protected]> wrote:


From: Doddy <[email protected]>
Subject: [alumnimuslim21jkt] Doa dari Keranjang Tempe
To: "Alumni muslim 21" <[email protected]>, "Math Muslim" 
<[email protected]>, "Math nochenk" 
<[email protected]>, "Wida Wati" <[email protected]>, "Hendro T 
R" <[email protected]>, "Slamet Mercer" <[email protected]>, "Ahmad Saroni" 
<[email protected]>
Date: Wednesday, 3 June, 2009, 6:02 PM













Doa dari Keranjang Tempe 
  
Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, tempat tinggal seorang ibu 
penjual tempe . Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lakukan sebagai 
menyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari 
bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. 
  
"Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. 
" demikian dia selalu memaknai hidupnya. 
  
Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu 
tempat tempe , dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan 
di atas meja panjang. Tapi.......deg !! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia 
jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, 
belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus 
menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini 
pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang, 
yang akan dia olah kembali menjadi tempe. 
  
Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta 
kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, ditengadahkan kepala, dia 
angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu 
Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, 
jadikanlah kedelai ini menjadi tempe . Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..." 
  
Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan 
dan mampatkan daun pembungkus tempe . Dia rasakan hangat yang menjalari daun 
itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. 
  
Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih 
belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. 
Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang 
"memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan 
menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia.  Sambil meletakkan 
semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, 
aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada 
yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. 
Bantulah aku, kabulkan doaku..." 
  
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus 
tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari 
daun itu, dan... belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada 
perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. 
  
"Keajaiban Tuhan akan datang....pasti, " yakinnya. Dia pun berjalan ke pasar. 
Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "kehendak" Tuhan tengah bekerja untuk 
mematangkan proses peragian atas tempe tempenya. Berkali-kali dia dia 
memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan 
doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan 
keranjang-keranjang itu. 
  
"Pasti sekarang telah jadi tempe !" batinnya.  Dengan berdebar, dia buka daun 
pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak 
ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. 
Kecewa, airmata menitik di keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? 
Kenapa tempe ini tidak jadi? 
  
Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? 
Demikian batinnya berkecamuk.  Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah 
jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada 
keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa 
lapar... merasa sendirian. Allah telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya 
kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan 
dapat makan. 
  
Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama 
penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya 
mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak.  
Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak 
jadi. Tangisnya kian keras.  Dia merasa cobaan itu terasa berat. Di tengah 
kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, 
seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. 
  
"Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi 
mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya.  Ibu punya??" Penjual tempe 
itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si 
ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak 
ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah 
tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe ...." 
  
Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. 
"Jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe ...." 
"Bagaimana Bu ? Apa ibu menjual tempe setengah jadi ?" tanya perempuan itu 
lagi. Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya 
Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia 
buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca ?? 
Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi ! 
"Alhamdulillah! " pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada 
si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok 
Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?" 
  
"Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia 
ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum 
busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, 
sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu ?" 
  
Sahabatku, ini kisah yang biasa bukan ? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap 
berdoa.....dan "memaksakan" agar .....Allah memberikan apa yang menurut kita 
paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa 
diabaikan, merasa kecewa. Padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok 
untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sempurna.. 
  
Wallahu’alam Bishshawaab….. 

Source : Milis salman ITB
















      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke