DUNIA DALAM DOMPET

Anton Trianto





Seorang lelaki bergegas masuk ke dalam bilik ATM sebuah bank. Ia
kemudian mengeluarkan dompet dan mencabut kartu ATM-nya. Tak lama
berselang transaksi pun berlangsung. Ia menarik uang sejumlah dua ratus
ribu rupiah. Sesaat kemudian terlihat lelaki itu menghirup nafas
dalam-dalam ketika melihat struk yang tercetak keluar dari mesin
anjungan. Lama ia mengamati sisa saldo tabungannya yang tertera pada
struk itu. Akhirnya ia menyudahi seluruh transaksinya dengan mesin
tersebut dan menyimpan kembali kartu ATM-nya di dalam dompet..

"Hei, Bung! Bung! Tak bisakah kau menahan diri dahulu?" Sebuah
teriakan menegur lelaki itu. Namun lelaki itu tak mendengarnya.
"Setiap bulan kau selalu seperti ini. Begitu sering kau datang ke
ATM. Uangmu selalu cepat habis," lanjut suara kecil itu kepada
lelaki tersebut. Tapi ia tetap tak mendengar dan melangkah keluar dari
bilik anjungan.

"Hei, hei! Kamu ini kenapa sih? Biarkan saja ia mengambil uangnya.
Itu kan memang uang dia. Hasil kerja dia." Sebuah suara lain
terdengar gusar menanggapi suara sebelumnya.

"Ah, Kau tak perlu turut campur! Semua ini terjadi gara-gara
Kau!" sengit suara yang pertama.

"Lho, lho, lho… Kenapa pula Kau salahkan aku?" tanya suara
kedua heran.

"Iya. Gara-gara kartu kredit macam dirimu, lelaki itu banyak
kehilangan uang."

"Lho, bukankah uang adalah alat pemuas kebutuhan hidup? Hidup itu
harus dinikmati. Lelaki itu juga berhak menikmati hidup. Biarkanlah ia
menggunakan uangnya untuk memuaskan kehidupannya. Apanya yang
salah?"

"Iya. Tapi semenjak ada kau, semuanya jadi serba berlebihan dan
boros."

"Alah… Sudahlah, Kau tak perlu berpikiran macam-macam.
Seharusnya Kau senang dapat sering digunakan oleh lelaki itu. Artinya
Kau menjadi benda yang berguna bagi lelaki itu. Bukankah kita para kartu
sangat menyenangi jika kita dikeluarkan dari dompet pengap ini dan
digunakan sebagaimana fungsi kita.

"Kau berbeda dengan aku. Aku justru tak ingin terlalu sering
digunakan. Apakah kau tak melihat siapakah gerangan tuan pemilik kita
itu? Ia bukanlah seseorang dari kalangan yang berduit. Seharusnya ia
jauh lebih berhemat demi masa depannya."

"Kau sudah sadar bahwa tuan kita itu bukanlah orang yang berduit,
semestinya kau bahagia melihat wajahnya riang ketika bisa membeli
barang-barang yang ia inginkan. Barang-barang yang lumayan sulit
didapatkan oleh kebanyakan orang seperti dia. Terima kasihlah kepadaku,
Si Kartu Kredit, yang telah membuatnya bahagia."

"Puahhh…! Terima kasih kepadamu telah menenggelamkannya dalam
hutang! Tunggu sampai kau melihat dia mendapat musibah dan ia tak punya
simpanan uang yang cukup untuk mengatasinya. Apa nanti kau bakal melihat
wajahnya bahagia?"

"Nah, nah, nah… Sekarang siapa yang jahat? Siapa yang
menginginkan tuannya dapat musibah?"
"Kau yang jahat! Perhatikankah tiap bulan uangnya selalu habis
karena membayar cicilan-cicilan kredit. Sampai-sampai ia berhutang untuk
menutup kebutuhannya yang lain. Ia terbiasa boros menarik uangnya
semenjak kehadiranmu di sini."

"Sudah! Sudah! Kartu ATM, Kartu Kredit, sudah hentikan!" Suara
ketiga terdengar membentak mencoba melerai pertengkaran. "Kita di
sini semuanya menginginkan tuan kita bahagia. Namun kita tetap tidak
sama, masing-masing kita berbeda. Kau Kartu ATM, menginginkan tuan kita
itu menghemat uangnya agar ia dapat berbahagia di masa depan. Kartu
Kredit, kau menginginkan tuan kita berbahagia dengan kebebasan
berbelanja. Sementara aku, aku tidak ingin digunakan barang satu kali
pun oleh tuan kita, sebab jika aku ia gunakan maka ia pasti sedang jatuh
sakit. Aku tak mau ia sakit," lanjut suara ketiga mencoba
menenangkan.

"Buat apa kita bertengkar? Pertengkaran hanya menambah suasana tak
menyenangkan dalam dompet ini. Kita cuma kartu. Tak ada yang dapat kita
lakukan selain menjalani fungsi kita masing-masing." Kartu Ketiga
lantas diam sejenak. Kartu ATM dan Kartu Kredit juga bungkam setelah
mendengar ceramah Kartu Ketiga.

"Nasib kita lebih baik ketimbang teman kita yang sedang tidur di
sisi sebelah sana." Kartu Ketiga kembali melanjutkan kata-katanya
sambil menunjuk ke arah sebuah kartu lain yang sedang meringkuk tidur
pulas. "Setidaknya kita masih sering dianggap berharga ketimbang
dia," kata Kartu Ketiga lagi.

Kartu ATM dan Kartu Kredit serentak memalingkan pandangan mereka ke arah
kartu yang sedang meringkuk tidur itu.

"Sudah lama sekali ia tak pernah lagi digunakan oleh tuan kita.
Padahal geliat jiwa kartu itu akan senantiasa hidup jika ia
sering-sering digunakan oleh tuannya. Dahulu sesekali ia masih
digunakan, namun sekarang mungkin tuan kita tak punya waktu lagi untuk
membaca. Kini teman kita frustasi dan sekarang cuma bisa tidur
menghabiskan sisa waktunya. Tolonglah kalian jangan ribut lagi. Suara
kalian bisa menggangu tidurnya. Kasihan dia."

Kartu ATM dan Kartu Kredit menatap iba ke arah sang kartu yang tertidur.
Tanpa sadar mereka membatin hampir berbarengan, "Kasihan Kartu
Perpustakaan..."

Kartu perpustakaan akan terus tidur pulas meringkuk di salah satu sisi
dompet. Ia kecewa, frustasi. Tak mau lagi membuka mata. Lelah menanti.
Ia yakin ia mungkin tak kan lagi digunakan oleh tuannya. Apalagi kalau
Sang Tuan sadar bahwa masa berlaku Kartu Perpustakaan itu telah habis.
Nyawanya tidak akan diperpanjang dan segera berakhir di dalam kotak
sampah.





Sumber:

http://swara-alkaton.blogspot.com/2009/04/dunia-dalam-dompet.html


Kirim email ke