Dear all:

Tulisan Bersihar Lubis, menarik sekali menyimak situasi seperti saat
ini sudah di rekam oleh penulis Rusia, Nikolai Gogol... kapan ya...
penulis Indonesia juga, gemas melihat situasi ini dan melahirkan
tulisan "masterpiece" soal ini... seperti Gogol dari Rusia....

moderator...


KOLOM BERSIHAR LIUBIS
Sabtu, 26 September 2009 , 13:41:00
Inspektur Gogol yang Palsu

http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=45983

SEANDAINYA si tokoh sejenis petugas Opstib (0perasi Tertib) – tokoh
Orde Baru yang dilakoni Sudomo – muncul lagi sekarang, menarik juga.
Ia datang melakukan inspeksi mendadak (sidak) tanpa memberi tahu lebih
dulu. Ia bergerak bagai siluman dan menyusup ke mana-mana tanpa bisa
diendus.

Saya bayangkan akan banyak abdi negara, mungkin pejabat kecil,
menengah dan besar, yang tertangkap basah karena melakukan berbagai
penyelewengan. Misalnya, tentang kebiasaan polisi dan petugas DLLAJR
melakukan pungutan liar, seperti terjadi di zaman Opstib. Kita tak
bermaksud main generalisasi, karena toh banyak juga aparat yang
bersih.

Orang pusat atau orang atas harus tahu keadaan yang sebenarnya di
lapangan. Silakan, turunlah diam-diam ke lapangan. Jangan beritahu
orang daerah agar mereka kelabakan. Ini bisa dilakukan oleh berbagai
departemen dan menertibkan jajarannya. Tinggal menindak sesuai kadar
kesalahannya. Jika berat, tinggal menyerahkannya ke tangan penegak
hukum.

Pembasmian korupsi bukan hanya tugas polisi, jaksa dan KPK, tetapi
semua kita, termasuk para atasan para birokrat di berbagai departemen.
Jangan sampai ada tuduhan bahwa jika para atasan malas menertibkannya,
justru karena telah mendapat setoran dari bawahan. Maklum, korupsi
berjamaah sudah sempat menjadi pameo.

Kisah Rusia
Saya terkenang kisah yang dilukiskan oleh Nikolai Gogol, pengarang
besar Rusia, dua abad yang silam. Lakon drama "Inspektur Jenderal"
telah membongkar kekerdilan para pejabat kota kecil di Rusia di zaman
Tsar, awal abad ke-19.

Mereka panik mendengar kabar datangnya "sidak" (inspeksi mendadak)
oleh inspektur jenderal dengan misi rahasia pula. Kota itu gempar.
Para pejabat kecut. Terbayang akan diseret ke meja hijau, lalu
menghuni tembok penjara yang dingin.

Desas-desus pun beredar bahwa sang inspektur sudah berada di antara
mereka dan sudah bersua borok-borok penyelewengan yang mereka lakukan
selama ini. Ending-nya, tamatlah awak kali ini. Berakhirlah segala
kenikmatan yang selama ini direguk sepuas-puasnya tanpa waswas seangin
pun.

Gawat, gawat! Tersiar cerita bahwa di sebuah losmen kecil, mungkin
kelas melati, adalah seorang anak muda yang gayanya rada metropolitan,
agak intelektual. Anehnya, ia bokek. Tak punya duit hanya untuk
membayar apa yang ia makan di losmen itu, meski terbilang murahan
saja.

Inilah yang membuat jantung para pejabat teras dag-dig-dug. Anehnya,
banyak pejabat yang main "lompat kesimpulan" tanpa usul periksa,
meyakini kalau si pemuda itu adalah sang inspektur yang ramai menjadi
gosip pada mulanya.

Tapi sang pejabat yakin bisa menaklukkan si pemuda yang bersandiwara
dan berlagak lagi bokek itu. Tenang-tenang ia datangi losmen itu, dan
eh, saat itu si anak muda sedang bertengkar habis-habisan karena tak
mau membayar sewa losmen dan biaya makan minumnya.

Seraya berdiplomasi, si pejabat bertanya mengapa pemuda yang
disangkanya inspektur itu tak menginap saja di hotel yang lebih
pantas. Eh, si pemuda menolak. Ia tak sudi menginap di hotel prodeo
(istilah penjara), jika itu yang sedang dijebakkan oleh si bapak
pejabat.

Uniknya, si pejabat salah tanggap. Ia membaca di balik ucapan itu,
bahwa si inspektur justru telah menyamar ke dalam penjara dan sudah
menemukan berbagai fakta penyelewengan. Lucu benar. Si Pak pejabat pun
mulai membujuk-bujuk agar ia dikasihani, dan berjanji tidak akan
macam-macam lagi.

Eh, entah ilham dari mana, si pemuda mulai paham persoalan, bahwa ia
dianggap sebagai inspektur dan Pak Bupati itu ketakutan rahasianya
dibongkar dan berujung di meja hijau. Akhirnya, ia pun bepura-pura
berlagak bagai inspektur yang sebenarnya, seperti diduga banyak
pejabat di daerah itu.

Luar biasa. Bapak Pejabat itu melunasi semua hutang si pemuda. Malah
diberi duit segepok lagi. Dan, astaga, bahkan dipersilakan dengan
hormat agar menginap saja di rumah kediaman Pak Bupati.

Sang pejabat melakukan itu karena ia percaya dengan pelayanan maksimal
itu akan membuat kasusnya ditutup. Meski ia sebenarnya bersalah. Ia
seorang koruptor.

Ya Tuhan, keberuntungan sedang melanda si pemuda. Bayangkan saja, jika
berduyun-duyun pejabat daerah itu datang sowan. Biasalah. Ada yang
minta petunjuk, atau entah ada instruksi baru agar daerah itu bersih
dari manipulasi. Ada juga yang menawarkan jasa lain, jika si inspektur
membutuhkannya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Si pemuda minta uang walau dengan janji akan
digantinya setelah pulang ke ibukota. Tentu saja tak ada yang mau
uangnya diganti. Lalu, bergiliranlah mereka memberikan
"kenang-kenangan". "Ini bukan suap, Pak," kata mereka.

Sandiwara berlangsung mulus. Si pemuda tersenyum-senyum dalam hati.
Akal bulusnya malah kian menghebat. Ia berkoar-koar bahwa hubungan
internasionalnya juga punya bargaining tinggi. Ia malah dekat dengan
Menteri Anu dan Polan. Ia kenal dengan presiden. Tak pelak,
pejabat-pejabat daerah itu menyangka pastilah si pemuda punya posisi
penting di ibukota.

Namanya juga fiksi, bahkan si pemuda meminang putri Pak Pejabat
menjadi calon istrinya. Si pejabat dan istrinya kontan setuju. Ia
terbayang kelak akan meloncat menjadi pejabat yang lebih tinggi.
Artinya, semua pengeluaran uang untuk si pemuda kelak akan terganti
bila ia dipromosikan. Hatinya berbunga-bunga.

Namun siapa yang menduga, topeng si inspektur gadungan itu tersibak
ketika Kepala Kantor Pos membuka surat si pemuda itu kepada seorang
temannya. Benar. Betul-betul bajingan! Ternyata ia seorang yang
berlagak menjadi seorang inspektur, meski sebetulnya cuma seorang
pemuda yang lagi bokek.

Daerah itu geger bin gempar. Semua marah karena merasa terkecoh. Tapi,
meskipun si inspektur palsu ditangkap, dalam suasana itu pula
terdengar kabar bahwa sang inspektur jenderal yang sebenarnya sudah
datang dari ibukota. Ia menginap di Hotel Anu. Akibatnya, bisa kita
bayangkan, bergerbong-gerbonglah oknum pejabat yang jadi korban sidak,
serta berurusan dengan meja hijau.

Berlomba-Lomba
Gogol mungkin jengkel melihat Rusia di masa itu. Siapa tahu penegak
hukumnya mirip si inspektur gadungan yang dengan mudah disogok. Lalu
ia membuat satir yang menyindir keadaan. Toh di ending kisah, ia
tampilkan inspektur yang sebenarnya.

Bagaimana keadaan kita di Indonesia? Tak separah versi Gogol itu,
agaknya. Meskipun lumayan juga kasus penegak hukum nakal, seperti
sudah ditulis oleh media massa. Itu yang ketahuan. Bagaimana dengan
yang belum ketahuan?

Tapi setidaknya, kita semua merindukan inspektur yang sebenarnya.
Apakah itu bernama polisi, jaksa dan KPK. Nah, di tengah-tengah
polemik tentang rivalisasi antara polisi dan jaksa di satu pihak,
serta KPK di pihak lain, kita musti berseru pada ketiga pihak itu
untuk berlomba-lombalah unjuk prestasi.

Cara itu akan melahirkan citra, dan akhirnya kepercayaan publik.
Sebab, jika publik kehilangan kepercayaan, alamat pemberantasan
korupsi akan gagal di negeri ini. (*)


------------------------------------

"Where is the wisdom we have lost in knowledge?
Where is the knowledge we have lost in information?"
--T.S. Elliot (1888-1965)Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi_maya/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi_maya/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke