INTERNATIONAL SEMINAR
THE KNOWLEDGE CITY :
SPIRIT, CHARACTER AND MANIFESTATION
13-14 NOVEMBER 2007. DANAU TOBA CONVENTION HALL - MEDAN – INDONESIA

Perkembangan ilmu perencanaan kota (urban planning and urban design) 
dalam buku-buku teks dan seminar-seminar hampir tidak pernah 
membicarakan kota dari sudut pandang spiritual. Ini adalah sudut 
pandang yang melampaui segi-segi intelektual dan keteknikan semata, 
mengatasi aspek-aspek komersial dan ekonomis saja, serta melebihi 
apa yang sekadar material dan indrawi belaka. 

        Pendekatan spiritual berhubungan dengan makna, visi, dan 
nilai-nilai yang  dianut oleh semua orang yang terlibat dalam 
merencanakan sebuah kota dan khususnya bagi segenap warga yang kelak 
ditakdirkan bermukim di sana. Spiritualitas membuat manusia lebih 
kuat karena terhubungkan dengan elemen vital kehidupan ini, lebih 
visioner karena terkoneksi dengan dimensi kemuliaan alam semesta 
ini, lebih memiliki rasa cinta karena tergetarkan oleh kasih sayang 
sang pencipta--the great designer itu, dan lebih bijaksana karena 
terilhami oleh keagungan ciptaan-Nya yang terhampar luas memesona. 
Sekaligus, semua hal inilah yang membuat kita menjadi lebih humanis, 
dimana segenap warga kota akan mampu menghayati suatu rasa 
keterhubungan dan kebersatuan yang penuh makna dengan sesamanya, 
dengan lingkungannya, bahkan dengan yang lebih agung, kompleks, dan 
sakral namun terasa utuh di hati, holistik di jiwa, dan koheren di 
kalbu.

        Dalam sudut pandang ini, maka pekerjaan membangun kota – 
sama seperti profesi lainnya – adalah sebuah amanah suci dan 
panggilan ilahi, bukan sambilan asal-asalan, atau mereduksinya 
menjadi sekadar "proyek kejar tayang" semata.

        Kemiskinan spiritual telah membawa kota-kota kita masuk ke 
dalam perangkap egoisme dan komersialisme yang banal– yang pada 
gilirannya kemudian melahirkan kekerasan dan berbagai bentuk 
kejahatan urban lainnya. Banyak kota sangat berhasil dalam 
percepatan pembangunan khususnya peningkatan pendapatan daerah, 
tetapi sangat miskin dalam hal kualitas ruang, penghargaan terhadap 
warisan budaya, dan respek terhadap manusia. Membangun kota 
seringkali diidentikkan dengan sekadar menyusun rencana tata ruang, 
membangun pusat industri dan perdagangan, atau melakukan pemekaran 
dan reklamasi. Fenomena ini semakin menjadi-jadi tidak lain karena 
miskinnya pemahaman kita akan dimensi spiritual seperti yang disebut 
di atas.

        Pendekatan spiritual akan memberikan roh (ruh) kepada ilmu 
(knowledge) yang biasa kita gunakan dalam merancang kota. Kini, ia 
bukan sekadar knowledge yang berbasis pada kecerdasan matematikal 
saja tetapi knowledge yang mempertimbangkan bahkan mengadopsi konsep-
konsep filsafat dan kerohanian, rasa dan karsa, serta kebudayaan dan 
antropologi perkotaan. Di sini, ruh menjadi sesuatu yang 
transendental, tidak kasat mata, tetapi merupakan vital principle 
dan animating force yang mengilhami dan mendasari setiap desain yang 
berkarakter. Tegasnya, desain yang tidak memiliki ruh sesungguhnya 
tidak memunyai karakter. Cinta terhadap kehidupan sebagai anugerah 
Sang Pencipta, perhatian terhadap keseimbangan alam, kerahmahan 
terhadap semua wajah kemanusiaan, serta harmoni dengan lingkungan, 
adalah bagian integral dari knowledge ini. 

        Setelah memahami knowledge baru ini, barulah proses desain 
boleh dilanjutkan ke arah making, yaitu bagaimana kota dibuat dan 
diproduksi. Tanpa knowledge ini maka sebuah kota tidak akan mampu 
mengungkapkan atau membiaskan sesuatu yang berbudaya atau 
berkarakter, yakni yang memiliki nilai-nilai spiritual dan 
kemanusiaan. Sebuah kota mungkin saja berfungsi sebagai mesin, 
sebagai artefak, sebagai tempat berproduksi, atau sebagai arena 
sosial, tetapi lebih dari itu, kota juga seharusnya berkarakter dan 
bermartabat karena ia merupakan refraksi dari jiwa dan cita-cita 
manusia penghuninya. Lebih luas lagi, sebagai sebuah produk budaya, 
kota seharusnya memungkinkan bahkan menginduksi perilaku warganya 
untuk tumbuh dan berkembang ke arah kemuliaan sehingga cita-cita 
luhur spesies kita: Homo sapiens sapiens, yakni menjadi insan 
berakhlak mulia (akhlakul kharimah), sungguh-sungguh dapat menjadi 
kenyataan.

TOPICS
1.      City as a cosmic symbolism
2.      City as a spiritual manisfestation
3.      City as an abundant living biospehere
4.      City as a human development ecosystem
5.      City as an aesthetic creation mandala
6.      City as a productive working place
7.      City as an urban social diversity

SCHEDULE
Deadline for submission Abstract
•       Final receipt of abstract: June 15 th, 2007 
•       Notification of acceptance: June 30 th, 2007
Deadline for submission Full Paper
•       Receipt of final manuscript:
September 15th, 2007
Dates of Seminar 
•       November 13rd and 14th 2007


LANGUAGE
English and  Bahasa Indonesia is the working language of the Seminar 

ORGANIZERS
SP4 Program of Department Architecture University of Sumatra Utara 
(USU) Medan- Indonesia


All abstracts and papers should be sent to :

Cindy Valencia D, ST            
Email : [EMAIL PROTECTED]       




Kirim email ke