Pasca gempa. Loper koran saya masih rajin berkeliling dengan sepeda ontelnya.
"Pak, bagaimana kondisi panjenengan". "Saya di Bantul Pak. Saya tidak punya rumah lagi. Rubuh." "Hhhhh....turut berduka Pak. Bagaimana keluarga Bapak" Tak ada sahutan. Hanya matanya mulai berkaca. Diam. Dan berlalu dengan sepeda ontelnya. Saya dan istri terdiam. Terpaku. Esoknya. "Pak ini ada bantuan sembako. Bapak bawa dan ini ongkosnya". "Jangan Bu...kalau saya terima. Itu hanya untuk saya. Padahal banyak warga di tempat saya yang membutuhkan. Ibu bawa bantuan dan uang itu ke lokasi saja. Jangan diberikan kepada saya". ============================== SPONSOR LINK: Kirim SMS Gratis http://smscity.com/?rid=496265 ============================== Ah...betul-betul air di tengah kemarau. Di tengah banyak korban berteriak meminta bantuan. Sang loper koran dengan wajah lugunya, suara seraknya, tetap bertahan dengan idealisme sederhananya. Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih ada kejujuran di negeri kampung maling. Terimakasih Pak Paijo.
