21 Sep 2007 15:54:02 / 9 Ramadhan 1428 Ramadhan di Kampung Gempa BENGKULU Hingga tulisan ini diturunkan, Desa Kota Agung, Air Besi, Bengkulu Utara, masih gelap gulita di malam hari. Berbeda dengan Kecamatan Lais yang aliran listriknya sudah hidup sejak beberapa hari lalu. Selain gelap di malam hari, masyarakat masih tidur di tenda-tenda darurat dekat puing-puing rumahnya yang luluhlantak.
Di Dusun Penyangkak, Kota Agung misalnya, 90 persen rumah hancur total. Satu-satunya masjid di dusun itu, juga rebah ke tanah. Meski kerusakan total, namun bantuan yang datang amat sedikit. Dampaknya, terjadi rebutan bantuan di mana-mana. Bahkan, di beberapa titik, warga memaksa kendaraan yang membawa bantuan untuk berhenti dan menurunkan muatan. Di tengah suasana yang kurang baik ini, Dusun Penyangkak seolah menjadi oase. Meski seluruh rumah porak poranda, nuansa emosi masyarakat terkendali. Adem dan tertib. Di posko utama BAZNAS dan Dompet Dhuafa ini, masyarakat sepakat dalam kegotong-royongan dan merajut rasa dalam apa yang disebut "posko berbasis komunitas". Gubernur Bengkulu, Agusrin, pada Jumat malam (14/9), mengunjungi posko ini dan memberikan apresiasinya atas kebersihan dan ketertiban pengelolaan posko. Menurut Agusrin, sebagaimana diungkapkan Ketua Posko, Hamdan, Gubernur melihat posko Penyangkak ini sebagai posko yang tertib, rapi, punya manajemen, dan kepengurusan yang jelas. Hamdan mengaku, sejak posko berdiri, bantuan yang masuk dapat didistribusikan dengan adil dan tertib. "Hari kedua gempa kami dibimbing Dompet Dhuafa cara membuat posko. Mereka bahkan tinggal langsung dengan kami. Sebelumnya kami mencegat bantuan sendiri-sendiri", kata Hamdan. Koordinator Lapangan dari BAZNAS dan Dompet Dhuafa, Iman Surahman menandaskan, dalam setiap bencana, lembaga concern pada membangun posko berbasis komunitas. Dengan cara ini, permasalahan mendasar dari korban bencana dapat diketahui dan dicarikan solusinya secara bersama-sama. "Posko harus dibuat dengan suasana yang ramah dan tertib. Masyarakat juga jangan menunjukkan temperamennya, agar orang yang akan memberikan bantuan merasa dihargai dan tidak takut", tandas Iman. Suasana haru, juga menyelimuti malam-malam Ramadhan di Penyangkak. Masjid yang hancur, tak melalaikan sebagian warga untuk meninggalkan kewajiban sholat dan puasa. Masjid darurat dari terpal, dibangun untuk sholat Jumat minggu pertama pasca gempa. Malamnya, sholat tarawih berjamaah tetap berlangsung di bawah terpal. Selepas tarawih, sebagian jamaah melakukan tadarus Al Quran dengan penerangan lampu petromak. Agar suara membaca Al Quran mengumandang ke seluruh kampung, pengeras suara dihidupkan dengan tenaga batu baterey. Saat hujan turun, beberapa kali atap terpal bocor tak mampu menahan air. Sajadah pun basah. Tetapi jamaah tak luluh untuk tetap sholat dan tadarus. Sejak, dua hari ini, warga Penyangkak merasa cukup tenang. BAZNAS dan Dompet Dhuafa sudah membangun masjid Nurul Ikhsan itu semi permanen dari bahan kayu beratap seng. Juga menggunakan penerangan genset. Program ini, mendampingi aksi kemanusiaan BAZNAS dan Dompet Dhuafa lainnya, meliputi tanggap darurat; bantuan logistik, siaga medis dan pengobatan keliling dengan LKC, pendampingan anak, pesantren Ramadhan, dan posko komunitas. Di tengah puing-puing rumah yang hancur dan bantuan kemanusiaan yang tak sepadan, warga Penyangkak tetap sabar, berdoa, dan berharap. Dalam serba kekurangan itu, warga berusaha membuat Ramadhan tetap semarak di Penyangkak. DD membuka Dompet Gempa untuk membantu saudara-saudara kita korban gempa. salurkan donasi anda melalui rekening : BCA 237.300.6343 (Cab. Pondok Indah) Atas nama Dompet Dhuafa Untuk informasi lanjutan dapat menghubung Mia 081315859800 atau 021 7416050 atau klik www.dompetdhuafa.or.id
