MASJID IBNUL KHOTHTHOB
   
  Pada suatu hari seorang ‘alim berkunjung ke sebuah masjid. Dia merasa aneh 
dengan nama masjid itu, mengapa diberi nama “Ibnul Khoththob”. 
   
  Kemudian ia bertanya pada ustadz yang biasa memberikan pengajaran agama di 
sana. Ustadz tersebut memberikan penjelasan bahwa masjid ini didirikan oleh 
para preman yang jumlahnya ratusan orang. Di masjid itulah mereka yang telah 
insyaf itu menimba Ilmu Agama.
   
  Sang ‘alim berpikir, alangkah hebatnya orang (ulama) yang telah mampu 
mengajak ratusan orang preman kembali kepada Islam, agama yang pada mulanya 
hanya sebagai status “muslim”. 
   
  Ternyata, para preman itu tidak disadarkan oleh ulama. Tetapi, oleh salah 
seorang dari golongan mereka sendiri yang mendapatkan hidayah dari Allah 
Subhanahu wa Ta’ala.
   
  Pada mulanya, seorang preman kelas menengah mendengarkan kajian di sebuah 
sekolah menengah. Saat itu dia merasakan bahwa menjadi preman itu tidak enak, 
ke mana-mana selalu dijauhi dan ditakuti orang. Kemudian, ketika berpikir 
seperti itu, dia mendengarkan nasihat agama yang sungguh menarik hatinya di 
belakang tembok sekolah. 
   
  Semakin lama semakin tertarik ia dengan isi pengajan tersebut. Sangat ingin 
hatinya untuk masuk ke dalam kelas. Namun, ia melihat dirinya, ternyata adalah 
seorang preman. Jika masuk, nanti dianggap sebagai orang jahat yang akan 
berbuat jahat di dalam kelas itu. Sedangkan ia sebenarnya ingin dapat mendengar 
lebih jelas nasihat-nasihat agama yang nampaknya mengobati kegelisahan hatinya 
tersebut.
   
  Dengan hidayah Allah ‘Azza wa Jalla, akhirnya preman tersebut sadar. Karena 
ia adalah seorang pemimpin, maka ia memiliki pengaruh terhadap preman-preman 
yang lain. Ia mengajak anak-anak buahnya untuk belajar agama. Untuk teman-teman 
yang selevel dengan dia, diapun mengajak pula untuk kembali kepada jalan yang 
benar hingga banyak sekali preman-preman yang setuju dan mengikuti ajakan 
tersebut.
   
  Kemudian mereka bersepakat untuk mendirikan masjid sebagai tempat mereka 
menuntut ilmu agama dengan perasaan nyaman. Mereka memilih untuk memberi nama 
Masjid itu dengan “Ibnul Khoththob”, diinspirasi dari sahabat Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Umar bin Khoththob r.a. 
   
  Sebenarnya siapakah Umar bin Khoththob r.a tersebut?
   
  Sebelum masuk Islam, Umar bin Khoththob r.a ditakuti oleh banyak orang pula 
karena memiliki sifat yang keras. Namun, semenjak ia memeluk Islam kaum 
muslimin seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah 
mereka berani sholat dan thowaf di ka'bah secara terang-terangan. Para preman 
tersebut tentunya berharap dapat berubah dari seorang preman yang ditakuti 
banyak orang menjadi hamba Allah yang bersemangat dalam membela Islam.
   
  Umar bin Khoththob r.a. adalah seorang yang waro', ia sangat teliti dalam 
mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari surah Al-Baqarah selama 10 tahun, ia 
kemudian melapor kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, "Wahai 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, apakah kehidupanku telah mencerminkan 
Surah Al-Baqoroh? Apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah 
berikutnya". 
   
  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, "Sudah...". 
   
  Umar bin Khoththob r.a. mengamalkan agama sesuai dengan kehendak Allah 
Subhanahu wa Ta’ala. Karena kesungguhannya inilah maka banyak ayat di Al-Qur'an 
yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan kehendak yang ada pada 
hatinya, seperti mengenai pengharaman arak, ayat mengenai hijab, dan beberapa 
ayat Al-Qur'an lainnya. 
   
   
  



       
---------------------------------
Choose the right car based on your needs.  Check out Yahoo! Autos new Car 
Finder tool.

Kirim email ke